Kamis, 07 Juni 2012

Dewi Durga



Durga adalah  dewa yang paling di puja di India dan berbagai pelosok dunia pada saat ini, beliau  terkenal dengan nama-nama Dewi, Dewi Ma, Dewi Mata, Durga Ma dan lain sebagainya. Seluruh Purana dan Dewi Bhavatham didedikasikan kepadanya, demikian juga halnya dengan karya shahstra suci  yang disebut Dewi Mahatmyam. Dewi Durga disebut juga sebagai  Dewi Durga  Saptasati atau Candi, dan hadir secara penuh  hormat di dalam karya suci yang disebut Markandeya Purana, kitab ini dianggap sangat sakral dan setiap sloka dianggap sebagai sebuah mantram, setiap mantram ini mampu menghasilkan  pengharapan, hasrat dan  permohonan kita.
Durga juga  bisa berarti “sulit untuk didekati”, karena beliau adalah personifikasi berbagai kesaktian dan gabungan kekuatan para dewa-dewi, namun sebagai bunda jagat-raya beliau adalah  ibu yang penuh kasih sayang yang tidak terhingga. India dan Indoesia penuh  dengan berbagai  candi demi pemujaan  yang pernah jaya-raya (di Indonesia), namun pada saat ini konsep  yang terkembang  di Indonesia adalah konsep salah-kaprah, Dewi Durga  dianggap dewinya  setan dedemit, semua ini adalah propaganda agama lain  yang pernah mengalahkan  kerajaan-kerajaan Hindu di masa oknum-oknum lalu, dengan menjelek-jelekkan peranan Dewi Durga yang sesungguhnya, padahal candi Prambanan dan Candi Sewu terang-terang didedikasikan kepada kebesaran Sang Pertiwi, Maheswari ini. Demikian juga konsep Ratu Kidul, laut selatan, adalah personifikasi Dewi Sri (berbaju hijau dan ungu, lambang Vishnu) yang sengaja diselewengkan oleh oknum-oknum agama lain dimasa lalu,  ternyata kaum Hindu sendiri banyak terkecoh dan termakan oleh isu-isu itu.
Batari Durga adalah penakluk para asura dan sekaligus bunda utama jagat-raya ini, beliau  adalah insti-sari Gayatri itu sendiri. Dengan  hilangnya pemujaan kepada Durga di Indonesia, maka  pemujaan kepada Ganeshya pun sirna,  dan perihal ini merupakan kehilangan  besar bagi Hindu  Jawa yang  pada saat artikel ini berada dalam posisi kebimbangan, mau memuja  secara Hindu Bali atau Hindu Jawa, mau berorientasi  ke India, rasanya  peninggalan leluhur  demikian agung tetapi  tidak  berjejak. Sebenarnya Hindu Jawa mungkin harus kembali ke filosofi agung Bhagavat-Gita, melalui pemujaan Vishnu, Shiwa, Durga dan Ganeshya, disertai Buddha, dengan demikian  kembali ke ajaran leluhur  yaitu gabungan Vaisnawa-Shiva-Buddha, ke Yang Maha Tunggal, Yang Maha Esa, yang sudah tersirat oleh  Pancasila, yang dicetuskan oleh Bung Karno dianggap titisan Raja Brajawijaya oleh Hindu-Jawa, dianggap titisan Prabu Siliwangi oleh penganut beliau di Jawa Barat dan dianggap wali kesebelas untuk Hindu dan Islam oleh pengamat alairan kepercayaan.

Hindu Jawa seharusnya menuntut kembali hak-hak pemujaan dan pemeliharaan atas warisan candi-candi kita di Jawa, demikian juga dengan golongan Hindu lainnya yang terbesar di berbagai  kepulauan di Indonesia, walaupun kita minoritas namun tanpa peninggalan agama, candi dan tata budaya nenek moyang  kita, maka Indonesia bukan apa-apa, jadi hak  pengelolaan candi-candi harus kita  lestarikan, KTP (Kartu Tanda Penduduk) harus bersifat universal seperti bangsa-bangsa  lain yang beradab, yaitu  tidak mencantumkan golongan-agama, dengan demikian  sesuai dengan piagam hak-hak azasi manusia yang sudah diratifikasi oleh pemerintah kita.
Kembali ke Dewi Durga, ada konsep lain mengenai  sang Dewi yang mulia ini, yaitau konsep Dewi Yoganindra (Meditasi-tidur) adalah yang terutama. Tidur diibaratkan dengan masa istirahatnya  Sri Vishnu  diantara dua mas apenciptaan, semacam  revitalisasi (recharger) jiwa-raga kita sehari-hari  setelah letih bekerja. Itulah  sebabnya sehari-hari dewi ini  mendapatkan tugas untuk melestarikan  kehidupan kita secara sempurna dari masa tidur ke masa sadar. Kemudian mempersiapkan pralaya  (kiamat) dan membangunnya kembali. Beliau diwujudkan  dalam gambaran yang misterius namun memancarkan simbol-simbol  kebijaksanaan, ilmu-pengetahuan dan memori (daya-ingat). Beliau berwajah cantik  mempesona, pada saat  yang sama  terkesan “ganas”. Hanya  beliau yang sanggup menguasai  kedua sifat ini, beliau bersenjatakan busur, panah, pedang, cakra dan trisula.
Kemudian ada aspek Dewi Durga lainnya yang disebut Mahisasuramardini; konon  suatu saat kekejaman  asura yang bernama Mahisasura sampai ke puncaknya, maka Sang Trimurti (Brahma-Vishnu-Shiwa) pun  bereaksi keras. Dari kemarahan mereka lahirlah sang dewi ini, disusul oleh kemarahan semua dewi-dewi lainnya. Berbagai kesaktian dari dewa-dewa utama membentuk organ-organ utama dewi ini, berbagai kesaktian dewa-dewi minor  dan madya membentuk organ-organ  tubuh lainnya, jadi seluruh  buana agung bereaksi membentuk yang satu ini. Dilengkapi dengan berbagai senjata dan keskatian para  dewa-dewi ini, maka sambil duduk di atas seekor singa  yang galak, beliau sanggup mengalahkan  Mahisasura. Biasanya kisah dewi ini dilanjuti dengan  berbagai mantram-mantram suci yang indah dan puitis, (Seluruh upacara-upacara untuk dewi ini masih diselenggarakan diIndiasampai kini dan dapat  diakses di web-site …..www.india.com….. atau melalui  satelit digital (decorder dan parabola) yang diarahkan keIndia, khususnya kea rah  chanel-chanel TV di India Selatan seperti Tamil-Nadu, Kerela dan sebagainya. Film-Film Hindhu dharma  bahkan sudah  ditayangkan secara  regular di Bali TV, melalui digital decorder, yang bisa diterima lewat frekuensi; tranfordr: 6 H, center frekuensi RF:3926 MHz, L-Band: 1224 MHz, Symbol Rate: 4.208 MSPS, FEC =3/^/)
Pada suatu saat yang lainnya,  para dewa dikuasasi oleh dua Asura yang bernama Sumbha dan Nisumbha. Para dewa yang kalah  dan ketakutan berhamburan  keHimalaya  memohon  bantuan sang dewi lagi, beliau dipuja dengan doa-doa yang disebut “Aparajitastotra”, puji-puji mulia bagi  dewi yang agung ini, penakluk yang tak terkalahkan. Beliau, kemudian mengabulkan permohonan  para dewa ini, dan muncul  dari raga Sang Parwati dalam wujud  Kausiki Durga, kemudian  berubah menjadi Kali. Ternyata kecantikan  sang dewi mempesona kedua asura tersebut dan mereka berdua meminangnya  untuk dijadikan istri mereka masing-masing. Beliau setuju asal suaminya  harus berupa asura  yang paling sakti digjaya diantara para asura, akibatnya banyak kepala asura yang  menggelinding  karena saling bunuh untuk mendapatkan sang dewi. Sang Kali kemudian  memenggal kepala asura yang bernama Canda dan Munda,  beliau kemudian disebut  juga sebagai  Camunda. Kali kemudian  menjilat darah  asura Raktabija sehingga habis total, dengan lidahnya yang panjang dan akhirnya saru per satu asuras ini dapat ditumpas termasuk Nisumbha dan Sumbha.
Kemenangan ini  dirayakan para dewa-dewi dengan puji-puji yang disebut Narayanistuti, puja khusus bagi bunda suci nan mulia ini. Beliaulah bentuk fisik alam-semesta ini, beliaulah  kesaktian penuh misteri Sang Vishnu (Vaisnawi-Shakti), penghancur apa saja yang bersifat asurik. Dengan memuja Batarai Durga dalam wujud yang  sebenarnya sebagaimanifestasi Tuhan Yang Maha Esa, maka pemuja  tersebut akan mendapatkan emansipasi spiritual. Selain hal tersebut  berbagai ilmu pengetahuan sains dan spiritual  juga hadir dari sang dewi ini, beliau juga adalah daya intelek (budhi) dalam diri manusia beserta unsur-unsur  kebajikan. Beliau senantiasa  melindungi anak-anaknya secara sama  rata tanpa henti-hentinya. Demikianlah berbagai aspek dan wujud Sang  Dewi dalam bentuk, Kali Sapta-markas, kalau sedang berbahagia beliau memberi tak terhingga, kalau arah beliau menumpas sampai tuntas. Beliau dipercaya  sebagai unsur  kebenaran sejati yang hadir tersirat  di dalam berbagai  karya-karya shahstra suci.

Adajuga  wujud-wujud lainnya  dari Dewi Durga ini yang sesuai dengan daerah dan latar  belakang pemujaannya seperti Vibdhawasini (asal daerah Vindhyas), kemudian Raktadanta (yang bergigi merah), Sataksi (yang bermata seratus), Sakambhari (pemeliharan tumbuh-tumbuhan dan sayur-mayur), Durgama (pembasmi asura Bhima, bukan Bimanya Pandawa), juga disebut Bhramari atau Bramaramba (berbentuk lebah).
Sang dewi memiliki tiga aspek utama, yaitu  Mahakali, Mahalaksmi dan Mahasaraswati, namun jangan samakan berbagai aspek ini dengan yang ada  di dalam Purana seperti Parwati, Laksmi dan Saraswati, karena sesungguhnya beliau adalah manifestasi  dari Maheswari yang maha  sakti, berdasarkan  tiga bentuk gunas (tamas, rajas dan satvas). Aspek  pertama adalah Mahakali, dengan sepuluh kepala dan sepuluh kaki, berkulit biru tua, ibarat  mutiara Bilamani; beliau  dihiasi dengan berbagai ornament dan bersenjatakan berbagai senjata seperti pedang, cakra, gada, anak panah, busur,  pentungan, cambuk (cemeti), tempurung kepala manusia (asura dan kerang peniup. Dalam aspek Tamasiknya beliau adalah Yoganidra yang  sanggup membuat Batara Vishnu tertidur, dan itu dapat berlaku juga di dalam diri kita. Kemudian datanglah Sang Brahma yang memohon agar Sang Vishnu dibangunakan dari tidurnya agar dapat mengalahkan asura-asura yang bernama Madhu dan Kaitabha.
Beliau juga  adalah aspek Prakriti yang dikenal dengan nama Sang Maya, kesaktian dan kekuatan ilusif sang Vishnu. Tanpa kehendak beliau maka unsur-unsur  Tamasik seseorang tidak akan hilang dan Sang Atman dalam diri kita akan terjaga dari ilusinya, inilah intisari  pemujaan Sang Dewi Durga, berdasarkan legenda mengenai  peperangan antara Dewa Brahma versus  Madhu dan Kitabha. Pada hakikatnya  tanpa kesadaran duniawi, tanpa dunia ini, tanpa Sang Maya atau Dewi Durga ini, kita tidak mungkin  sampai ke Tujuan Agung, yaitu Tuhan Yang Maha Gaib yang  tak mungkin mampu dijabarkan dan diwujudkan  oleh siapapun juga termasuk para dewa ataupun malaikat. Dunia inilah jalan untuk mencapai  tujuan ini, bukan sebaliknya!
Aspek kedua  beliau adalah Mahalaksmi yang berunsur Rajasik dan sang dewi digambarkan berwarna merah seperti koral, bertangan delapan belas, masing-masing memegang tasbih, kampak perangm anak-panah, halilintar, bunga teratai, busur, pot (guci) air, cemeti, gada, pedang, tameng, kerang peniup, genta, cangkir arak,  trisula, dan Sudarsana cakra, serta dua senjata  lainnya. Lahir dari berbagai  kekuatan  para dewa maka  ia berwarna  merah (lambang  kemarahan para dewa), warna darah, warna peperangan. beliau  inilah yang menewaskan asura Mahisasura, asura yang  berbentuk kerbau jantan. Berarti arca yang ada di Prambanan kemungkinan adalah wujud ini, karena digambarkan menginjak lembu jantan (sapi jantan) yang menyiratjan hukum rimba yang  kadangkala memang  bisa benar. Asura ini sedemikian saktinya sehingga bahkan para dewa tidak sanggup mengalahkannya, karena pada saat tersebut para dewa tidak menggalang persatuan,  maka sewaktu  mereka berhasil mempersatukan diri mereka  maka lahirlah Sang Dewi ini yang juga disebut sebagai Mahisasumardini ini (penakluk Mahisa). Tersirat  bahwasanya, untuk melawan berbagai rintangan dan unsur-unsur iblis di dalam diri kita, maka terlebih dulu seluruh  indriyas kita harus  disatukan dulu, baru melangkah maju. Ini juga berlaku untuk melawan unsur-unsur lainnya, yaitu periksa dulu, apakah seluruh persiapan dan sarana sudah tergalang penuh baru melawan adharma.
Aspek ketiga adalah Dewi Mahasaraswati, yang berunsur  Satvik, beliau bersinar ibarat rembulan  dimusim gugur, bertangan delapan, masing-masing memegang genta, trisula, bajak, lakon atau  kerang tiup, cakra, anak panah  dan busur, dan sebagainya. Karena tercipta dari raganya Sang Parwati beliau juga disebut  dengan nama Kausiki Durga. Beliau  menyiratkan raga  yang sempurna, kecantikan  tiadatara,  kekuatan kerja,  disiplin dan ketrampilan  berorganisasi. Beliau  adalah penghalau dan penumpas berbagaijenis asuras seperti yang  disebut-sebut di atas yaitu, Dhumralocana, Canda, Mundu, Raktabija, Nisumbha dan Sumbha. Semua ini adalah bentuk-bentuk  ego yang  ada di dalam diri manusia.
Berbagai aspek Durga di Puranas dan Agamas adalah: Sailaputri, Kusmanda, Katyayani, Kesemankari, Harasidhih, Vanadurga, Vindhyvasini, Jayadurga, dan lain sebagainya.
Kata Kali berasal  dari kata  Kala, sang waktu. beliau adalah  inti kekuatan  yang terkandung  di dalam sang waktu ini, yang dapat menghancurkan  apa saja yang tidak abadi termasuk  seluruh jajaran dewa-dewi di suatu saat yang tepat. Jadi dewa-dewi tidak bersifat abadi, beliau-beliau adalah  petugas-petugas  Yang Maha Esa senantiasa akan abadi.
Kali biasanya digambarkan  dengan  latar belakang  perkuburan ataumedanperang penuh mayat dan darah, dengan dewa Shiwa, sang suami sendiri  yang “mati” terinjak olehnya. Beliau dilukiskan tidak berbusana namun  bagian pinggangnya dilingkari oleh  jajaran tangan-tangan, sambil  mengenakan kalungan  tempurung tengkorak kepala yang berjumlah 50 buah, dengan rambut yang  kocar-kacir, bermata tiga dan brtangan empat. Salah satu  tangan memegang  kepala seorang  asura  yang baru ditebasnya, dan tangan yang lainnya  memegang pedang perangnya. Kedua tangannya  bermudra dalam bentuk Abhaya dan Varada, wajahnya merah dan lidahnya menjulur keluar panjang sekali. Gambaran ini  menyiratkan kehancuran unsur-unsur  asura, baik secara universal (buana agung) maupun secara buana alit di dalam raga kita.
Tuhan Yang Maha Esa menciptakan seluruh jagat-raya  dan isinya, lalu beliau memasuki setiap ciptaan Beliau (baca Taittiriyopanishad dan Upanishad lainnya), jadi alam semesta dan  isinya bersifat suci; sewaktu alam dan isinya di rusak atau dinodai, maka kesucian yang hadir itu akan “sirna”, itulah  yang tersirat dala makna Sang Kali,  yang telanjang bulat tanpa busana, nama lain beliau adalah  Digambara (terbungkus oleh antariksa), yang tak terukur batas-batasnya. Beliau  berwarna gelap  dan pekat karena harus melahap kekotoran tanpa henti-hentinya, (tamas  produk kita semua). Warna gelap  juga bermakna  waktu, ruang hampa (antarisa) dan hukum karma,  itulah sebabnya  beliau digambarkan berwarna biru pekat, Kalungan tangan-tangan yang  melingkari pinggang beliau adalah  berbagai bentuk  bakti yang dipersembahkan kepada beliau dan berbagai  pahala-pahalanya, yang akan diingat dan dibalas olehnya sesuai  sang waktu yang tepat. Tangan-tangan ini juga  bermakna  energi kinetik yang sangat potensial,  yang dapat bermanifestasi  setiap saat. Rambut yang kocar-kacir  menandakan  kebebasan  sang waktu yang terurai tanpa batas. Kemudian kelima puluh  tengkorak yang  menjadi kalungan  leher beliau, melambangkan lima puluh  alfabet  Sansekerta, serta bentuk-bentuk swara (sabda), secara umumnya  berlaku di masyarakat  Hindhu Dharma dan hadir di alam semesta ini. Pada saat pralaya  beliau akan menerima  semua ini sebagai persembahan dalam bentuk kalungan bunga (suatu bentuk kehormatan yang besar sekali,  atas jasa-jasa sang waktu ini). Walaupun  sang “pelumat” ini berwujud  sangat menyeramkan dan  menakutkan, namun kalau diperhatikan maka mudra-mudranya  adalah simbol kasih saying seorang ibu sejati yang seakan-akan bersabda “jangan takut dan jangan khawatir, aku  adalah ibumu yang  tersayang”. Melalui Varada Mudra, setiap  bakta yang tulus memujanya dan akan diberkahi oleh  beliau pada saat yang tepat. Kata bunda atau ibu dalam bahasa dIndiaselatan disebut “mariaman”. Beliau dipuja sebagai Mariaman yang suci dan mulai. Di Timur Tengah  kata ini disingkat  oleh orang-orangJudeadan Kristiani menjadi Miriam, dan oleh orang-orang Arab menjadi Mariam. Kata “ma” dalam Fatimah, jelas berasal dari  pengaruh Mariaman yang sudah diadaptasi ke bahasa setempat dan juga berarti  ibu atau bunda. Di India dan di dunia Barat kata atau nada mah, ma adalah panggilan  untuk ibu, yang kemudian  di dunia barat menjadi mother (baca mather), kemudian mama dan mami, dan lain sebagainya. Di Indonesia  menjadi mak. Kata bapak  berarti ayah yang mulia, ditujukan khusus untuk  panggilan ke dewa-dewa utama seperti  Ganeshya dan Trimurti, contoh: Bapa Ganapati dan Ganapati Bapa.
Konon setelah  mengalahkan  mengalahkan berbagai  asuras, sang dewipun menari-nari secara menakutkan, karena kegirangan. Seisi jagat-raya ketakutan menyaksikan fenomena ini. Sang Shiwa kemudian  secara pribadi memohonnya  untuk berhenti menari karena  dunia sudah tidak mampu lagi menyaksikannya, namun  tidak diacuhkan oleh Kali, lalu Shiwa menyamar menjadi salah satu mayat yang terhampar dilokasi tari tersebut  agar terinjak oleh Sang Kali (lambang toleransi seorang suami kepada  istri yang lupa daratan). Pada saat terinjak  itulah barulah sang dewi sadar  akan kebablasannya  (over-acting, mabuk kepayang), dan beliaupun menjulurkan lidahnya  karena malu (adat atau reaksi wanita-wanita setempat, kalau malu, maka akan  menjulurkan lidahnya).
Shiwa Mahadewa  adalah wujud manifestasi  dari Sang Brahman, Yang Maha Absolut yang  jauh dari segala wujud, atribut dan bentuk aktifitas, ini disimbolkan  sebagai sawa (mayat), Kali adalah energinya  yang menari-nari, yang bekerja secara aktif. Inilah makna lukisan yang  menyeramkan dari Sri Kali yang menginjak Dewa Shiwa, suaminya sendiri dari mana  ia berasal.  Seorang suami di dalam Hindhu Dharma sewaktu menikah akan  diperingatkan oleh sang pendeta  bahwa istrinya  bisa bersikap  sangat aneh dan  destruktif pada saat-saat tertentu, demikian juga dengan sang suami,  kalau kedua pasangan  pengantin mau menerima  fenomena ini,  maka pernikahan  (vivah) yang berarti kemenangan  sanga dharma akan dilangsungkan dengan melingkari  Sang Agni tiga kali,  kalau tidak setuju maka vivah tersebut  tidak akan  dilanjutkan, saksinya semua tamu yang  hadir. Dan semenjak  itu tidak ada dan tidak dikenal perceraian karena apa yang sudah  disatukan oleh Hyang Maha Esa (Swami dan Shaktinya) tidak boleh  diceraikan atau dipisahkan baik oleh  ego, ahankara dan gunas yang  menyertai  pernikahan tersebut. Upacara ini  ternyata hadir secara  mirip di kalangan saudara-saudara kita umat Katholik. Tidak mengherankan  karena Yesus Kristus adalah figure  yogi agung yang kita akui keberadaannya beserta seluruh  aktifitas  avatara  dan yagnanya yang bermakna simbolis, yaitu salib (Swastika). Titik diantara dua palang  kayu adalah titik mata  ketiga, pusat  meditasi kita  yaitu di mana Shiwa akan hadir  dalam bentuk taraf meditasi yang paling tinggi yang disebut tahap  Thuriya (tahap sang Shiwa) yang tidak mudah dijabarkan, dan  tahap itu baru mampu dicapai seseorang dengan pengorbanan diri  seperti yang  diperlihatkan oleh Kristus  yang  penuh dengan  disiplin dan pengorbanan tanpa pamrih. Sayang  saudara-saudara kita ini sebagian besar sudah lupa  akan faham ini, walaupun  mereka juga memiliki Mariam (Maria, sang ibu dan Roh Kudus (Atman) dan Kristus, Sang Pembimbing domba-domba bodoh yang tersesat.
Kembali ke visualisasi lukisan Kali dan Shiwa, maka kekuatan Kali pada akhirnya akan menciptakan penciptaan baru, itulah sebabnya beliau di puja dalam wujud Maharatri, yang senantiasa  mendorong Shiwa untuk menciptakan  jagat-raya yang agung ini setelah mengahncurkan yang lama. Shiwaratri adalah wujud pemujaannya yang sarat sekali  secara simbolis, namun sayang sebagian besar umat Hindhu Dharma lebih senang  tidak tidur semalaman dan bersuka-ria,  tanpa mau mengintrospeksi dirinya dengan kisah hikayat suci  sarat makna ini. Sang Kali adalah alat dari Tuhan Yang Maha Esa, yang sulit dijabarkan secara terperinci, karena demikian  gaibnya  cara dan  mekanisme Sang Maya (Kekuatan Ilahi) ini. Sri Krishna mengisyaratkan  dalam bahasa misterius dalam Bhgavat-Gita, bahwasanya Beliaulah  sesungguhnya Sang Kala  yang  melebur semua ciptaan ini.
Dari segi mitos  kelahiran Durga sebagai tokoh penting, yaitu kristalisasi dari semua dewa, yang menempati posisi sentral yang  dikelilingi empat bangunan yang  ditujukan pada Sangkara, Brahma, Surya, Wisnu. Mitosnya di mana Brahma hadir di hadapan Siwa dan Wisnu yang  menyampaikan para dewa diganggu  oleh Mahesasura, mendengar  laporan seperti itu, Siwa dan Wisnu marah, sehingga mengeluarkan cahaya panas dari mukanya, di samping itu  pula dewa-dewa lainpun ikut marah dan memancarkan  cahaya panas, dan akhirnya cahaya tersebut  menjadi satu yang menyerupai gunung yang bergemerlapan dan akhirnya berubah menjadi dewi cantik dengan sebutan Dewi Durga. Dialah yang ditugaskan untuk menghancurkan Mahesasura, dan akhirnya  berhasil  sehingga Durga diberi sebutan Durga Mahesasura. Durga ini digambarkan dengan kepala tiga, mata membelalak, taring  mencuat keluar  hidung, dan badan berbulu serta kasap. Korawasrama menggambarkan Durga bertubuh besar, tampilan  mengerikan, dengan nafas busuk, rambut lengket, bibir tebal, taring tajam dengan suara bergaung seperti harimau. Sedangkan Durga pada jamanHindu, digambarkan dewi yang cantik dan lemah lembut. Dimana Durga yang mengerikan sangat cocok  dengan jaman pada Bali  modern saat ini, dimana Durga muncul  di Jawa Timur berupa raksasi, sehingga Durga yang ada pada saat sekarang ini bisa di jumpai pada Pura-pura Dalem yang ada di Bali.

 sumber :: http://puramedangkamulan.wordpress.com

1 komentar:

  1. Om Suastiastu,
    Suksma atas penjelasannya tentang Pemujaan Durga,

    BalasHapus