Selasa, 26 Juni 2012

Rwa Bhinneda : Memeluk seluruh dualitas dalam kehidupan dengan damai

MEMELUK SELURUH DUALITAS DALAM KEHIDUPAN DENGAN DAMAI

Kebanyakan orang gagal memulai evolusi bathinnya di jalan dharma karena dia dalam hidupnya “menendang”. Mengeluh, tidak puas, marah, protes, menentang atau menyalahkan. Kita baru akan bisa memasuki gerbang dharma, kalau dimanapun kita berada, apapun yang terjadi, kita bisa melihat semuanya dengan positif dan penuh rasa syukur.

Umumnya dalam hidup orang mencari kebahagiaan dan menolak kesedihan-kesulitan. Kita mau dan ingin kelebihan tapi kekurangan kita tolak, kita mau bahagia tapi sengsara kita tolak, kesucian kita hormati kegelapan kita benci. Tentu saja ini tidak salah. Sayangnya sifatnya kebahagiaan seperti ini selalu sementara, sebab sudah hukum semesta setelah kebahagiaan datang akan disusul oleh kesedihan, kekecewaan atau kesulitan. Kebahagiaan yang lebih terang, sejuk dan tahan lama adalah, ketika bathin kita berhenti diguncang oleh dualitas kebahagiaan-kesedihan. Pergerakan bathin menuju kebebasan dari dualitas terjadi, ketika kita belajar mendidik diri menerima apapun dan siapapun sebagaimana adanya, tanpa menyalahkan siapa-siapa, termasuk menyalahkan diri kita sendiri. Itulah titik balik menuju "penyembuhan" bathin.

Karena cahaya dalam bathin baru bisa menyala ketika kita bisa menerima secara sama kelebihan dan kekurangan, bahagia dan sengsara, baik dan buruk, salah dan benar, suci dan gelap. Inilah yang dimaksud dalam teks-teks Hindu sebagai Dvandas dan yang dimaksud tetua kita di Bali sebagai Rwa Bhinneda. Dimana ada siang, disana ada malam. Dimana ada orang baik, disana ada orang jahat. Dimana ada sukses, disana ada gagal. Dimana ada kesucian, disana ada kegelapan. Dimana ada laki-laki tampan, disana ada laki-laki jelek. Gunung yg tinggi jurangnya juga dalam, dimana ada kelebihan disana ada kekurangan.




MEMBEBASKAN BATHIN DARI DUALITAS PIKIRAN

Salah satu sebab manusia bathinnya berguncang dan sengsara, karena mau kelebihan tidak mau kekurangan, mau yang positif tidak mau yang negatif. Bagi orang kebanyakan, keduanya terlihat berbeda [kebahagiaan dikejar kesedihan ditolak, kesucian dipuja kegelapan dicaci-maki]. Itu sebabnya orang kebanyakan bathin dan hidupnya berguncang. Kalau mau memasuki jalan dharma, tetua kita mengatakan “peluk kedua dualitas dengan tingkat kemesraan yang sama”. Dalam bathin yang menyadari hakekat rwa bhinneda, tidak ada bahagia yang bertentangan dengan sengsara, tidak ada rasa hormat yang bertentangan dengan benci, tidak ada kesucian yang bertentangan dengan kegelapan, melainkan semuanya dipeluk dalam harmoni. Dalam rwa bhinneda : kebahagiaan-kesedihan, suci-gelap, tinggi rendah, keduanya berbeda sekaligus sama.

Ciri-ciri bathin yang diguncang dualitas : ketika dipuji kita senang, ketika dihina kita menangis. Punya uang banyak kita bahagia, punya uang sedikit kita mengeluh dan protes. Ketemu bupati hormat sekali, ketemu orang miskin menoleh saja kita enggan. Dll. Pikiran harus berhenti melakukan pembedaan-pembedaan dan perbandingan-perbandingan berbahaya. Karena dimana ada kelebihan, disana ada kekurangan, dimana ada terang disana ada gelap, dimana ada bahagia disana ada sengsara. Sumber dualitas dalam bathin kita ini adalah serakah [lobha], hanya mau yang baik dan tidak mau yang buruk.

Dalam kehidupan semua orang melewati bahagia dan sengsara, pernah dipuji & direndahkan, melewati sakit & sehat, pernah sukses dan gagal, dll. Karena demikianlah kehidupan, selalu ada Rwa Bhinneda. Pesan tetua kita dalam Rwa Bhinneda : menolak kesedihan adalah kesengsaraan, mengejar kebahagiaan adalah malapetaka. Ketika bathin kita kita berhenti diguncang oleh dualitas, kehidupan menjadi indah dalam bathin yang damai dan bahagia. Disinilah bathin kita bisa memasuki wilayah-wilayah Rwa Bhinneda. Pikiran yang tenang-seimbang [upeksha]. Pikiran, perasaan dan ekspresi kita tetap damai tatkala menghadapi segala macam dualitas keadaan.

Simboliknya bisa kita lihat dalam kisah-kisah pertapaan jaman dulu. Dimana dalam meditasi [tapa], yang pertama datang adalah bidadari-bidadari cantik telanjang [hal-hal yang menyenangkan]. Kalau lulus disini, datanglah hal berikutnya yaitu mahluk-mahluk sangat seram yang jahat [hal-hal yang tidak menyenangkan]. Hanya ketika bathin tetap sejuk, damai dan tenang-seimbang ketika bertemu dengan kedua dualitas [bahagia-sengsara, senang-tidak senang, baik-buruk, dll] ini, barulah sang pertapa bisa bertemu dengan cahaya kesadaran yang terang. Demikian juga sebenarnya dalam kehidupan kita sehari-hari.

PARAMASHANTI [MENDIDIK DIRI DAMAI DALAM SETIAP KEJADIAN]

Puncak dari segala persembahan dan persembahyangan adalah paramashanti [damai sempurna], Aum Shanti Shanti Shanti. Itulah bekal bathin dari pura yang kita bawa pulang, semua arah adalah arah yang damai. Makan enak damai, makan tidak enak juga damai. Lagi beruntung damai, lagi sial juga damai. Punya banyak uang damai, tidak punya uang juga damai. Sehat damai, sakit juga damai. Itulah tirta amertha [air suci kehidupan] yang memurnikan jiwa.

Kalau kita setiap hari menangis, setiap hari marah-marah, setiap hari menyalahkan [orang lain atau diri sendiri], setiap hari merasa hidup ini tidak adil, setiap hari protes-protes, setiap hari penuh dengan hawa nafsu dan keinginan, kita masih jauh dari paramashanti. Karena apapun boleh terjadi dalam kehidupan [bahagia-sengsara, sukses-gagal, sehat-sakit, dihormati-dicaci, dll], tapi ingat, ciri manusia yang bathinnya sudah siap memulai evolusi bathinnya di jalan dharma adalah apa yang selalu kita ucapkan pada puncak dari segala persembahan dan persembahyangan, aum shanti shanti shanti [damai damai damai].

Bisa damai saat istri sayang dan memanjakan kita itu biasa, tapi bisa tetap tenang-damai saat istri marah-marah atau selingkuh, itulah manah shanti. Bisa damai saat anak-anak patuh dan menurut itu biasa, tapi bisa tetap tenang-damai saat anak-anak nakal dan bandelnya minta ampun, itulah manah shanti. Bisa damai saat dipuji atau dihormati orang itu biasa, tapi bisa tetap tenang-damai saat difitnah atau dicaci maki orang, itulah manah shanti. Semua arah dan semua kejadian disambut dengan bathin yang damai, tenang-seimbang, Paramashanti.

PENUTUP

Hidup ini penuh dengan berbagai godaan. Sehingga kapan saja kita digoda kemarahan, kapan saja kita digoda kesedihan, kapan saja berbagai godaan lainnya [baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan] datang, anjali mudra [cakupkan tangan] dan bisikkan ke dalam relung bathin kita yang terdalam : tidak saja sembahyang itu mebakti, tapi kesabaran yang tidak terbatas juga adalah mebakti. Tidak saja meditasi itu yoga, tapi kesejukan, kedamaian dan ketenangan bathin juga adalah yoga. Inilah jalan saya "pulang" menuju realitas diri yang sejati. Aum Shanti Shanti Shanti Aum.



Rumah Dharma – Hindu Indonesia
14 Desember 2010

sumber ::  http://www.facebook.com/rumahdharma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar