Kamis, 07 Juni 2012

Dewa Ganesha


Dewa Ganesha
Ganesa (Sansekerta गणेश ganea dengarkan) adalah dewa ilmu pengetahuan. Dalam pewayangan disebut Batara Gana, merupakan salah satu putra Batara Guru (Siwa). Gana diwujudkan berkepala gajah dan berbadan manusia. Dalam pewayangan ia tinggal di kahyangan istananya disebut Glugu Tinatar.
Oleh orang-orang bijaksana, Ganesha diberi gelar Dewa pengetahuan, Dewa pelindung, Dewa penolak sesuatu yang buruk, Dewa keselamatan, dan lain sebagainya. Dalam ukiran-ukiran di candi, patung-patung dan lukisan, Beliau sering dilukiskan:
  • berkepala gajah
  • bertangan empat
  • berbadan gemuk
  • menunggangi tikus
Bermuka gajah melambangkan Dewa Ganesha sebagai perintang segala kesulitan, bagaikan gajah merintangi musuhnya dengan gading yang tajam dan belalai yang panjang. Bertangan empat melambangkan filsafat “empat jalan menuju kebahagiaan”. Berbadan gemuk sebagai lambang orang berbadan besar yang sanggup mengalahkan musuh-musuhnya. Dewa Ganesha menunggangi tikus sebab tikus melambangkan keragu-raguan dalam menghadapi suatu hal, maka dari itu Ganesha berusaha merintangi segala kesulitannya.
Ganesa juga dikenal  dengan nama Vinayaka, dewa yang paling terkenal secara universal dan dipuja di mana saja di dunia ini, popular sekali di dunia barat, karena merupakan  lambang ilmu-pengetahuan duniawi, spiritual dan sains, dan sekaligus menggambarkan manusia dengan segala peri-kemanusiaan, peri-kebinatangan dan peri kedewaannya secara utuh. Lambangnya hadir di agama Budha dalam bentuk Swastika merah, sebagai salib dalam  kepercayaan Nasrani,  dan dibalik oleh  kaum Zionis (menjadi lambang istri  Ganeshya yang bersifat iblis). Jangan sekali-sekali  memuja lambang  swastika  berwarna hitam secara terbalik, iblis cepat sekali datang menyesatkan anda.
Tidak ada suatu upacara apapun juga di dalam Hindhu Dharma yang dapat dimulai tanpa  memuja Dewa Ganeshya dulu, karena para dewa-dewi pernah melakukan kesalahan dalam menjaga kelestarian  jagat-raya ini, maka mandate sepenuhnya dari Yang Maha Esa diwakilkan seluruhnya kepada Ganeshya, termasuk orang-tuanya  harus tunduk kepada sabda Tuhan ini. Beliau juga adalah Vigneswara (penetralisir)  dan Vighnaraja (pengusir bala atau bencana). Namun bentuknya yang aneh sering  mengundang tanda tanya.
Sesungguhnya  berbagai mantram-mantram menyiratkan Ganeshya pada awal mulanya telah  hadir di Rig-Veda (2.33.1) dan (10.112.9), sebagai  konsep paling dini, yang kemudian lambat laun berkembang menjadi Ganeshya  masa kini. Ganapati-Brahmanaspati (konsep Rig-Veda) lambat laun mengalami evolusi spiritual dan menjadi Gajavadana-Ganeshya-Vighneswara. Di Rig-Veda  beliau  juga disebut  sebagai Brhaspati dan Vasaspati (wujud cahaya). Beliau sering  dilukiskan berwarna merah keemas-emasan dan  kampak perang kecil adalah  senjatanya yang paling ampuh, tanpa  karunia dan persetujuan  beliau semua ritus-ritus agama  menjadi sia-sia, beliau tidak menerima caru dalam bentuk daging atau makanan berjiwa, namun selalu dalam bentuk manis-manisan saja, seperti buah dan berbagai sesajen  buatan tangan sendiri. Beliau  selalu didampingi para gana (grup penyanyi dan penari),  beliau juga hadir sebagai penuntun para dewa selain manusia, dan senantiasa  menuntun kita  semua ibarat bundanya Durga dan Parwati ke arah kebajikan. Selain Subramaniyam, kakaknya yang amat terkenal  kesaktiannya, beliau juga  bersaudarakan para Marut (Marut-gana) yang pada saat ini kurang popular.

Mitologi tentang Dewa Ganesa Kenapa Beliau berkepala gajah

Dalam kitab Siwa Purana dikisahkan, suatu ketika Dewi Parwati (istri Dewa Siwa) ingin mandi. Karena tidak ingin diganggu, ia menciptakan seorang anak laki-laki dan diberi nama Ganesa. Ia berpesan agar anak tersebut tidak mengizinkan siapapun masuk ke rumahnya selagi Dewi Parwati mandi dan hanya boleh melaksanakan perintah Dewi Parwati saja. Perintah itu dilaksanakan Ganesa dengan baik.
Alkisah Dewa Siwa hendak masuk ke rumahnya, namun Beliau tidak dapat masuk karena dihadang oleh anak kecil yang menjaga rumahnya. Ganesa melarangnya karena ia melaksanakan perintah Dewi Parwati. Dewa Siwa menjelaskan bahwa ia suami dewi Parwati dan rumah yang dijaga ganesa adalah rumahnya juga. Namun Ganesa tidak mau mendengarkan perintah Dewa Siwa, sesuai dengan perintah ibunya untuk tidak mendengar perintah siapapun.
Akhirnya Dewa Siwa kehabisan kesabarannya dan bertarung dengan Ganesa. Pertarungan amat sengit sampai akhirnya Dewa Siwa menggunakan Trisulanya dan memenggal kepala Ganesa.
Ketika dewi Parwati selesai mandi, ia mendapati putranya sudah tak bernyawa. Ia marah kepada suaminya dan menuntut agar anaknya dihidupkan kembali. Dewa Siwa tersadar akan perbuatannya dan ia menyanggupi permohonan istrinya.
Atas saran Dewa Brahma, Beliau mengutus abdinya, Gana, untuk memenggal kepala makhluk apapun yang dilihatnya pertama kali yang menghadap ke utara. Ketika turun ke dunia, Gana mendapati seekor gajah dengan kepala menghadap utara. Kepala gajah itu pun dipenggal untuk mengganti kepala Ganesa.
Akhirnya Ganesa dihidupkan kembali oleh Dewa Siwa dan sejak itu diberi gelar Dewa keselamatan. Menyelamatkan seseorang sebelum ia memulai pekerjaanya, dengan memuja-muja Beliau
Adabeberapa versi  kelahiran dewa Ganeshya ini:
  • Suatu saat, para dewa dalam keadaan yang sulit memutuskan bahwasanya mereka membutuhkan seorang pemimpin baru guna mengakhiri  berbagai rintangan, kemunduran Dewa Shiwa berinkarnasi melalui Dewi Parwati dan lahir sebagai Ganeshya.
  •  Suatu waktu secara iseng, karena marah kepada suaminya Dewi Uma membuat  sebuah boneka kecil berkepala gajah (ada yang mengisahkan  berkepala seorang pemuda tampan, ada beberapa  versi dari kisah ini  sendiri) dan  melemparkannya ke sungai Gangga, dan kemudian lahirlah dewa berkepala gajah yang disebut juga Dvaimatura (yang beribu dua).
  • Konon suatu hari, Dewi Parwati  membuat sebuah boneka kecil dari selendangnya, dan memberikan nafas kehidupan kepada boneka ini. Setelah menjelma menjadi seorang pemuda  kecil yang tampan,  putra ini mendapatkan tugas  menjaga pintu rumah  Parwati dan menghadang siapapun  yang masuk,  karena beliau ingin menyendiri  memuja Yang Maha Kuasa. Konon Dewa Shiwa yang serba tahu kembali ke rumahnya,  dan ternyata  sang putra tidak mengenalinya karena memang tidak diberi tahu oleh ibunya, maka beliaupun dihadang masuk  oleh  dewa kecil ini, yang  mengaku putra Parwati. Dalam kemarahannya maka Shiwa sebagai Rudra langsung menebas  kepala anak ini, dan langsung saja kepala tersebut  dimakan habis oleh  para gunasnya dewa Shiwa. Dewi Parwati sedih sekali akan perihal ini, dan minta anak  tersebut dihidupkan kembali. Shiwa yang  menyesal minta maaf kepada putranya dan mencarikan kepala baru  yang sesuai dengan kodrat dan misinya berbentuk kepala  gajah. Gajah  yang sedang mengobrak-abrik  sebuah desa ini dipenggal kepalanya untuk diletakkan  di atas kepala Ganeshya, yang kemudian mendapatkan  sebuatan Ganapati, bentuk Rudra yang keras. Ganeshya  sendiri adalah bentuk lembut Sang Parwati.
  • Ganeshya  lahir dari unsur  ether  dewa Shiwa, karena teramat tampan, ia kemudian  menyebabkan dewi Parwati mengutuknya menjadi buruk rupa.
  • Ganeshya adalah Sri Krishna dalam bentuk manusia, sewaktu Sani, seorang dewa planet memandang ke arah Sri Kreshna ini, tiba-tiba kepala Sri Krishna terbang ke Goloka tempat kediaman Sri Krishna (Kreshna), raga tanpa  kepala tersebut kemudian diganti dengan kepala gajah.
Konon ada 36 kisah lebih mengenai kelahiran Ganeshya ini, di dalam salah satu kisah  tersebut, Ganeshya kehilangan ujung gadingnya yang patah melawan  Parasurama, kemudian gading patah  tersebut dipergunakan untuk menulis Mahabrata  yang didiktekan kepada Resi Vyasa. gading patah juga menjadi simbol  tidak ada ilmu-pengetahuan manusiawi yang abadi, yang abadi hanyalah ilmu-pengetahuan sejati akan Tuhan Yang Maha Esa (simbolnya gading utuh). Jadi arca Ganeshya memang  gadingnya patah satu.
Adajuga kisah  bagaimana ia mengalahkan kakaknya Skanda, dengan mengelilingi kedua orang  tuanya, dengan demikian mendapatkan hadiah berupa dua orang putrid Riddi (Ridhi, dharma) dan Siddhi (kesesatan, adharma) sebagai istri-istrinya. Tentu saja kisah ini sarat simbol,  karena Skanda Kakak Sri Ganeshya sebenarnya adalah seorang  panglima perang, namun sangat emosional  dan kurang suka berpikir panjang, sebalinya  Ganseha sangat cerdas. Dalam kontes yang  dimaksudkan untuk menguji kedua anak-anak mereka Shiva dan Parwati ingin menguji kecerdasan mereka, dalam  perlombaan  ini  barang siapa  mampu mengelilingi  bumi sebanyak tiga kali lebih cepat  dari yang lainnya, maka akan  memenangkan perlombaan ini. Sewaktu  Skanda  terbang melesat  memutari bumi, Ganeshya dengan  santai saja memutari ayah-ibunya karena teringat sebuah  sabda suci di dalam sebuah karya shashsta, bahwa  barang siapa   memutari ayah-ibunya penuh  hormat tiga  kali akan  berpahala  sama dengan memutari bumi sebanyak tiga kali, dengan demikian menanglah  Ganeshya dalam perlombaan ini. Ganeshya dengan demikian juga bermakna kecerdasan dan bakti  yang penuh dengan kesadaran.
Bentuk Ganeshya  yang umum adalah  kemerah-merahan, berbadan manusia yang gemuk  pendek dengan  berkepalakan  gajah yang berkuping lebar sekali. Bertangan empat dengan salah satu   gadingnya patah, bisa kiri bisa kanan. Keempat  tangan masing-masing  menggenggam  Pasa dan  Ankusa (kerang-kerang suci),  berperut buncit  (simbol kekotoran manusia yang ditampungnya setiap hari),  mengenakan ikat pinggang  berbentuk ular, juga mengenakan tali suci (yajnopavita). Duduk di atas singgasana  emas dalam bentuk Padmasana, kadang-kadang duduk di atas  bunga Padma.  Kadangkala salah satu kakinya menjulur ke bawah, busananya  senantiasa anggun  walaupun bagian  atas tidak mengenakan jubah  seperti lazimnya  dewa-dewa pria lainnya dan bermahkota gemerlapan. Beliau duduk  dengan memadang ke satu arah, dapat ke kanan maupun ke kiri  dan  gemar menyantap  berbagai manisan dan buah-buahan, beliau  adalah simbol  vegetarian sejati. Sesajen favorit  beliau  diIndiaadalah  semacam onde-onde yang disebut Modaka. Seekor tikus kecil (lambang pencuri) senantiasa menjadi tunggangannya. Kalau anda ingin berhenti merokok, berjudi, bertajen, ingin menjadi vegetarian atau ingin melepaskan diri dari suatu dosa tertentu, maka  duduklah dengan  tulus di depan  sebuah arca Ganeshya, dapat dilakukan dirumah, dengan meletakkan  sesajen buah atau manisan sedikit secara sederhana, disertai dupa dan bunga sedikit,  lalu diletakkan di atas rokok sisa terakhir, atau uang judi atau secara simbolis kebiasaan buruk anda, dan mohon  kepada beliau agar  semua yang berasal dariNya dikembalikan kepadaNya sesuai dengan kehendakNya. Bacalah mantra “OM NAMO GANESHYA NAMAH HA”, tiga kali, minumlah  tirta suci yang telah anda  siapkan sebelumnya, makanlah sesajen yang telah anda persiapkan sedikit, kemudian bagikan sisanya kepada yang lain-lainnya. Berpuasalah  hari itu, atau pada hari-hari  selanjutnya seperti Purnama dan Tilem, maka seandainya anda tulus, permintaan akan langsung terpenuhi saat itu juga. Bagi  yang ragu-ragu dan ingin mencoba-coba sebaiknya tidak melakukan sembahyang ini, khusus untuk yang ingin berobat saja. Selanjutnya kalau terpenuhi dan terhapus kebiasaan buruknya, teruskan  dengan yoga meditasi seperti  yang tertera di Bab VI, Bhagawat-Gita. Silahkan mencoba, semoga sukses.
Kembali ke Gansehya yang bermata sipit (lambang meditasi  yang berkesinambungan), dengan  mata ketiga  terposisi di tengah-tengah kedua matanya dalam bentuk horizontal. Kepalanya bisa bertembah sampai menjadi lima pada waktu-waktu tertentu, sebuah  bentuk Rudra yang menyeramkan  karena berkalungkan tngkorak-tengkorak, simbol kematian adharma, pada saat tersebut dengan sepuluh tangnnya  mak ajumlah  senjatanya  bisa menjadi total  sepuluh buah atau lebih.Paraistri  sering dilukiskan duduk dipangkuannya di kiri dan sebelah kanan. Sedikit penjelasan tambahan untuk simbol-simbol ini: Kata Gana berarti kategori, sebuah wujud kategori yang maha utama dan tinggi, yang dikhususkan  untuk Hyang Maha Esa itu sendiri. Gaja berarti gajah, gajanana atau Gajamukha berarti wajah gajah, adalah sebuatn-sebutan lain beliau. Gaja juga mengandung arti khusus sekali, yaitu tujuan akhir kehidupan alam-semesta, baik anda sadari  ataupun tidak. Jadi arti  lain dari gaja adalah: “DARI DIA ! UNTUK DIA! DAN KEMBALI KE DIA!”.
Beliau adalah tuntunan kita ke Kesadaran yang Tertinggi, dan berupa simbol dari buana alit dan buana agung (Suksmanda dan Brahmananda), dua  dalam satu, atau satu  adalah kedua-duanya. Kepala beliau  melambangkan makro-kosmos dengan kata lain dari makro kosmos ke mikro kosmos  dan sebaliknya adalah siklus kehidupan ini. Raga beliau adalah  simbol dunia, mikro kosmis ini  yang serba gemerlapan ditandai demi pemuasan berbagai nafsu. Kedua unsur  tersebut adalah  lambang duniawi dan spiritual, satu dalam dua dan  sebaliknya. Ganeshya  dengan ini menyiratkan  dengan pasti inti sari Tat-Twam Asi, kata para Resi Upanishad!.
Beliau juga disebut  sebagai Vighneswara, Vighnaraja (dewa penghalau berbagai rintangan), namun beliau juga  dapat merintangi jalan spiritual kita dengan mengirimkan istrinya adharma untuk menjegal  berbagai yagna dan upaya yang kurang tulus dan penuh pamrih duniawi dan  materi, jadi berhati-hatilah  dalam memujanya, jangan sampai salah. Di Indonesia kini, mulai  lagi pemujaan kepada beliau ini, berbagai pura di Jawa-Bali mulai mengembalikan  arca beliau ke Padmasari dan berbagai pura sakral. Syukurlah kalau eling begitu.
Beliau adalah  juga simbol Vidya dan avidya (gading sempurna dan gading patah), sekali lagi istri-sitrinya adalah simbol dharma dan adharma, jadi beliau  juga memiliki ilmu hitam dan putih. Unsur hitamnya di kenal dengan  nama Saktiganapati atau Ucchistaganapati, namun yang lebih dikenal di India adalah unsur  putihnya yang disebut Nrttaganapati, di unsur  ini beliau disimbolkan sedang menari-nari, yang menyiratkan  juga bahwa beliau adalah penguasa musik dan seni tari,  berkat karunia dewa Brahma yang senang kepadanya.
Adabentuknya yang bersifat brahmacari dan di sebut Varasiddhi Vinayaka. Bentuknya yang  feminin disebut Ganesani, Vinayaki, Sarpakarni, Lambhamekhala, dan berbagai sebutan lainnya. Ingat, semua dewa (unsur cahaya) berasaskan unsur Lingga-yoni, setengah pria dan setengah wanita, setengah keras dan setengah wanita.
Ganeshya  dipuja dalam berbagai wujud seperti lukisan, linggas, salagramas, yantras dan Kalasas (guci-guci air suci). Salagram adalah benda yang teramat langka. Swastika adalah simbol  beliau, swastika yang lengkap dan ampuh adalah  yang bertitik empat ditengah-tengah setiap lekukan, ditambah  dua garis masing-masing di kiri-kanan swastika yang melambangkan dharma dan adharma secara seimbang. Di Bali dilambangkan dengan kotak-kotak hitam-putih. Banyak  pemeluk Hindhu di Bali dan Jawa, juga saudara-saudara  umat lainnya yang tidak sadar bahwasanya penjor adalah  simbol lambang  belalai gajah, diBalimalahan maknanya sudah lain sekali. Belalai Ganeshya menandakan bahwa di lokasi tersebut ada upacara. Di India, masih  berlaku di beberapa  tempat dan upacara penjor-penjor yang terbuat dari  kain warna-warni ataupun hiasan janur beserta kelapa bermakna  seperti ini. Penjor merah berarti ada upacara  pernikahan atau yang  berhubungan dengan kejayaan dan ekonomi-sosial. Penjor putih melambangkan duka-cita kematian, penjor kuning melambangkan simbol upacara sakral, demikian juga dengan makna payung. Di Indonesia  tradisi  ini masih hidup, namun penjor untuk  duka cita  telah menjadi bendera serta berwarna kuning   bagi  yang non-Hindhu, makna kuning  saat ini kurang jelas, mungkin  hanya  mengikuti  adat yang sudah ada semenjak dulu saja, namun kurang  menguasai makna sesungguhnya.
Kuil bagi Ganeshya bertebaran di seluruhIndonesiadanIndiapada zaman dahulu bersatu dengan pemujaan  Shakti Durga dan Shiwa. Demikianlah sejarah dan peninggalan  candi-candi  di Indonesia  danIndiamembuktikannya. Melihat bentuknya yang setengah manusia, setengah hewan  namun adalah dewa yang tertinggi, maka beliau  adalah simbol dari  tiga unsur  tersebut (vidya-avidya-kesadaran akan Yang Maha Esa), suatu bentuk  yang amat bermakna. Dari hewan ke manusia baru ke tahap dewa, sebuah bentuk evolusi yang sempurna. Beliau juga sering digambarkan  menggenggam  daun-daun  ranting  tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat pengobatan. Inilah faktor  yang menyebabkan  seluruh jajaran  dewa-dewi termasuk orang-tuanya  menghornmati dewa  atau unsur  ilmu-pengetahuan tertinggi ini, karena dizaman Kali ini yang dibutuhkan adalah kesadaran total  akan  hakikat kehidupan ini,  dan kemana kita akan berevolusi  sesudah ini, seluruh alam semesta  menanti eksplorasi manusia, para dewa akan menuntun, karena sudah  menjadi tugas mereka. Namun di Bali, insanBalihanya sibuk saling berperang dengan sesama saudara, dan banyak  perihan nonsense menjadi ajang pertarungannya  di samping avidya seperti judi,  mecaru, melupakan puasa dan tapa-brata. Kalau Ganeshya  tidak dikembalikan  dengan segera, mungkin saja pulau  dewata akan berupa  menjadi pulau asura, tanda-tanda  sudah jelas  ke arahsana. Pariwisata harus dikembalikan lagi, namun  pariwisata spiritual  yang merakyat dan bukan dengan menjual asset-aset religius kita  kepada turis dengan mengorbankan adat-budaya dan kesakralan pemujaan kita.  Terkutuklah  manusia Bali, kalau para dewata marah, dan anak-anak  kita berpaling  ke agama lain yang lebih praktis sepintas lalu. Penuh dengan karunia Bali dan Jawa ini seandainya  pemujaan ke Hyang Maha Esa, Hyang Widhi Wasa diarahkan  secara tepat sesuai dengan kaidah Veda, Bhagavat Gita dan Upanishad yang semuanya adalah Ganeshya itu sendiri.
Kalau Ganeshya-Ganapati terkenal secara universal, bahkan terpuja dan dipuja oleh Kaum Hindhu, Buddhis dan Jains, dan sekarang oleh manusia Barat, maka kakak beliau terkenal di India Selatan, Malaysia, Singapura, Sumatera Utara dan Jakarta. Beliau yang bernama Subramaniyam atau Skanda ini adalah  salah satu dewa tertuam dan sudah dipuja  jauh sebelum ada  faham akan  Ganeshya. Beliau  bahkan sudah dilukiskan di uang-uang logam kira-kira abad 1 s/d abad 5 A.D.,  di India Utara, basis permulaan wangsa  Dravidian yang berkulit hitam sebelum mereka hijrah ke India Selatan. Tanggal enam setiap bulan  kalender Syaka India, adalah hari pemujaan kepada dewa ini sampai sekarang. Shaktinya disebut  Valliama. Burung merak adalah tunggangannya, kuil-kuil  baginya dibangun  di atas bukit  termasuk di Malaysia. Beliau juga  disebut dewa ular dan pepohonan  (tumbuh-tumbuhan). Upacara  beliau yang  paling shakti adalah upacara Thaipussam yang terkenal  dan menjadi ajang promosi pariwisata di Malaysia dan Singapura. Di zaman  orde baru  upacara ini dilarang diselenggarakan  oleh pemerintahan Soeharto, sekarang telah semarak kembali di Jakarta,  Tanggerang dan Sumatera Utara, khususnya di Meda, Binjai dan Pematang Siantar dimana banyak  berdomisili kaum Hindhu turunan Tamil. Upacara ini  unik karena mereka-mereka yang  merasa hidup dan kaulnya berhasil,  mengorbankan diri mereka denganmenghujamkan jarum-jarum panjang keseluruh tubuh mereka dalam keadaan kesurupan. Guru penulis telah melakukan  upacara ini  secara kecil  pada tahun 1988 kepada penulis, namun  karena mantram  yang diberikan sangat  ampuh maka kami  tidak kesurupan, namun jug atidak  merasakan sakit sewaktu lidah kami ditusuk dengan  tombak kecil dewa ini. Setelah dicabut, tidak setetes darahpun  yang mengalir keluar, seandainya  ada darah maka upacara ini dianggap tidak berhasil. Umumnya  seberat apapun, tidak pernah  ada setetes darahpun yang mengalir keluar. Inilah kehebatan dan kesakralan  dharma yang tidak dimiliki oleh aliran-aliran lainnya, mereka lebih sibuk  berblack magic dari pada berdharma. Ternyata upacara  ini diikuti oleh kaum Katholik di Eropah dan Filipina dalam bentuk memanggul salib dan di paku di salib  tersebut  sebagai peleburan dosa. Namun masih ada tanda paku  di tangan dan kaki, pada upacara Tahipussam ini, tidak  terlihat tanda-tanda bekas dihujam jarum-jarum panjang ini, ataupun bekas terpotong golok  tajam yang sengaja dinaiki sewaktu trans.
Wujud lain  beliau adalah  sebagai Skanda yang terkenal, lalu Sanmatura (beribu enam orang), ada kisahnya yang tersendiri, kemudian beliau juga dikenal dengan sebutan sakral  seperti Kartikeya, Brahma-sasta, Gangeya (putra Gangga) dan Swaminatha (pewaris ayahnya). Beliau selalu dilukiskan sebagai bocah cilik mirip rishna di masa anak-anaknya, dan teramat piawai dalam menumpas para asuras. Sering juga  dilukiskan berkepala enam, simbol indriyas yang seandainya  mampu  dikendalikan oleh otak yang  sadar akan  membentuk seseorang  menjadi superman, sama seperti seluruh indriyas masuk ke dalam  trans total dan hanya sang jiwa yang berperan di bawah bimbingan Sang Atman,  inilah maksud  pembersihan upacara Thaipussam ini. Biasanya para bhakta  yang telah  menjalani upacara sakral  ini akan berubah total cara hidupnya.
Sesuai dengan  ajaran  Yoga meditasi yang sakral, maka terdapat  enam titik pusat  energi di dalam raga  yang disebut juga energikesadaran, energi listrik atau motor, yang dikenal dengan  nama cakras. Dimulai  oleh cakra Muladhara, yang terletak di antara anus dan  kemaluan laki-laki, kemudian  Svadhistana (dibawah  organ seks), Manipura (pusar), Anahata (jantung), Visuddaha (tenggorokan), Ajna (diantara kedua alis mata) dan Sahasrara (di atas kepala). Sewaktu seseorang berhasil menaikkan energi raganya dari cakra  yang paling bawah  sampai ke yang paling atas maka ia akan berhasil mendapatkan Shiwa-shakti.
Untuk  manusia awam yang  sehari-harinya  tidak melakukan kegiatan yoga plus meditasi, maka kekuatan raganya  hanya terpusat pada tiga cakra yang berada di posisi terbawah sesuai  dengan aktifitasnya sehari-hari. Bagi seorang yogi,  maka seluruh sistim cakra-cakranya akan  berfungsi secara sempurna, Dewa Subramaniyam adalah pengejawantahan dar tahap  kesadaran  spiritual ini. Mantram shakti beliau  tertulis di setiap lukisan beliau, dan harus  diturunkan oleh  seorang guru suci  yang handal  demi bangkitnya Kundalini, bukan seperti yang dijual dalam  seminar yoga yang komersil. Banyak guru  yoga di Bali dan di Jakarta, kami perhatikan  sakit berat  dan gemuk-gemuk karena yoga meditasinya salah kaprah padahal promosi mereka  termasuk kegiatan  mengajar  mereka tinggi sekali. Bagaimana mungkin nama-nama  beken ini yang  sering muncul di TV bisa menuntun umat  ke meditasi, kalau mereka sendiri sakit berat dan tidak memiliki mantram  dewa Subhramaniyam yang satu-satunya  telah ditunjuk  jadi gurunya  Raja Yoga? (Ada yang teramat unik  antara kisah dan simbol dewa yang satu ini dengan  legenda Nabi Daud dan Goliath (David and the Goliath)  yang ada di dalam  agama dan kepercayaannya wangsa Yahudi, yaitu baik  Dewa Subramaniyam  maupun Daud  berperawakan kecil  namun mampu  mengalahkan asura atau  iblis yang berbadan raksasa dengan ketapel mereka. Kedua-duanya  memiliki Yantra atau simbol  bintang dengan  enam sudut  berbentuk piramid yang dijadikan  lambang bintang David di Israel, dan lambing  Dewa Skanda (Dewa Peperangan)  di India. Bedanya di Israel, bagian kosong di dalam bintang Daud ini dibiarkankosong, namun di India, sampai kini berisikan enam huruf mantram  Skanda atau Subhramaniyam yang sakti sekali, yang harus diturunkan  oleh seorang guru  suci kepada  muridnya  untuk membangkitkan  Kundalini dan perang melawan  dharma. Karena  wangsa Israel  telah menghapus  mantramnya, maka mereka akan berperang terus sesama wangsa dan saudara-saudara mereka di Timur-Tengah ataupun di mana saja, akibat penghapusan  mantram  tersebut. Pemuda-pemudi Israel  sekarang banyak  yang kembali ke India untuk mempelajari fenomena ini, namun Yesus Kristus  yang sadar akan hal tersebut kembali mempelajari Dharma di India selama belasan tahun dan kembali untuk menyadarkan wangsanya  malahan disalib, karena  dianggap  ingin menyesatkan  wangsa ini. Sebenarnya menurut para resi-resi suci kita, maka Tuhannya wangsa Israel  yang mreka sebuat Jehovah  adalah personifikasi  dewa Brahma  yang gemar marah-marah dan mengutuk  kian kemari dengan berbagai  bencana-bencana  yang diturunkannya. Seluruh kitab  perjanjian lamanya wangsa Israel  adalah replika  dari Vedanta dan puranas nenek moyang  kita. Kata  Sabda (Omkara) menjadi Sabbath bagi  mereka, hari jumaat (Jumah) nya orang Hindhu yang merupakanhari Sang Narayana  tidur beristirahat setelah mengayomi  alam raya  menjadi hari  suci mereka. Dahulunya  hari Jumaat ini  adalah hari  libur resmi kaum Hindu, pada hari tersebut,  semua orang mati-geni dan tidak keluar rumah seharian,  memakan makanan dingin yang  telah dibuat sehari sebelumnya, dan boleh  memakan hasil laut  namun tidak daging lainnya. Hari Minggu tidak  dikenal sebelum dipopulerkan  oleh umat Nasrani dari Eropah. Ternyata  anda mungkin  merasa heran pada saat ini, apakah benar  sejarah dan fakta ini, Menurut  hikayat-hikayat  di dalam  Smritis (legenda kuno) seperti Mahabrata dan sebelumnya  Ramayana, maka pengaruh raja-raja  di zaman-zaman tersebut telah  sampai ke Timur-Tengah melalui dua jalur. Jalur pertama  capat  lebih efisien  yaitu melalui  sungai Saraswati  yang dilalui oleh  kapal-kapal besar  dan jalur lambat  yang memakan ratusan atau seribu tahun lebih  yaitu jalan darat dari India ke Timur-Tengah  melalui perkembangan wangsa-wangsa seperti Afganistan, Turkesnistan, dan sebagainya yang dahulunya adalah  kelanjutan  dari negara Bharata  itu sendiri.  Peninggalan Hindu  bahkan masih  bisa  ditemui dinegara-negara  Eropah Timur, Mesir dan sebagainya. Raja-raja Mesir adalah  anak cucu Rama, oleh karena itu  disebut Ramses, sampai di Thailand  di sebut Raja Rama sampai sekarang ini, sedemikian luasnya pengaruh  dan penyebaran wangsa Bharata ini sehingga mendirikan India baru di Indonesia, bukan  sebagai  jajahan tetapi sebagai sister-country. Dalam perjalanan ke Indonesia  (disebut Jambu atau Jawa Dwipa) melalui sungai Sawaswati ini, maka  kapal-kapal besar  ini menurunkan  orang-orang Candala  (kafir, terkutuk, buangan, pemakan anjing, yang tidak disentuh) dengan  keluarga mereka di teluk  Arab ini. Orang-orang buangan ini  kemudian dibekali dengan  buku-buku suci, onta berpunuk satu,  keledai, anjing, itik, ayam,  benih-benih gandung dan  benih-benih lainnya , juga dibekali buku-buku  suci dan alat-alat upacara  agar merubah diri mereka. Sebagian dari mereka  menjadi nenek moyang  wangsa Arab  yang di zaman itu  dikenal kurang beradab (Zahiliyah)m sebagian berbaur dengan wangsa gunung-gunung  di Israel. Yesus Kritus  adalah sepertiga  turunan campuran ini, karena  bundanya Maria adalah  setengah penduduk  lokal dan setengah  orang buangan ini, ayah Yesus  adalah wangsa Israel,  demikian yang kami  dapati dalam pustaka-pustaka  yang kami pelajari. Tiga  orang Majus yang menanti kelahiran Yesus Kristus adalah sebagai kecil dari resi  yang berhasil  mencapai Jazirah Timur-Tengah setelah menjalani  dan mengikuti bintang Andromeda yang menandakan  sang Avatara  akan turun jauh  dari India, jadi segala persiapan  spiritual   telah dipersiapkan. Hebatnya lagi, bukan  saja seluruh  kisah kelahiran Yesus mirip dengan kelahiran Krishna, namun jumlah jajaran nabi-nabinya Israel  dan Arab (kecuali Nabi Muhammad S.a.w.) dari Manu sampai ke Abraham ada dan hadir dengan nama-nama  lain di dalam legenda-legenda  kuno kami, jauh sebelum bangsa-bangsa India demikian juga, adat-budaya, budaya dan makanan beserta  gen mereka. Yang  membedakan mereka  adalah mereka  gemar berprang  kemungkinan karena topografi  yang ganas dan  juga mereka adalah  pemakan daging, sedangkan wangsa India adalah penganut  ahimsa).
Manusia  hanya berlengan-tangan dua, namun kemampuan intelektual dan intelegensia dan otak manusia mampu menemukan berbagai ilmu dan alat-alat canggih yang sekilas nampaknya  mempermudah  pekerjaan kita,  di samping  juga menjauhkan diri dari kehidupan alami dan  menimbulkan dampak stress yang lebih berat. Dewa Subhramaniyam dengan kedua belas tangannya  secara simbolis  mewakili kekuatan  dan kapasitas manusia ini. Gabungan antara enam kepala (cakras) dan dua belas tangan  (kekuatan intelegensia) melambangkan manusia sempurna secara lahir dan batin (spiritual), yang bukan  saja hadir sebagai seorang super-yogi namun sebagai seorang pekerja atau pemikir dan penemu ulung.
Dewa ini beristri dua, yakni  Valli dan Devasena. Istri yang  pertama adalah putri  seorang kepala suku sederhana yang berlatar  belakang kehidupan  agrikultur dan seni pahat kayu. Istri kedua adalah putri Dewa Indra, rajanya  para dewa, keduanya  menyimbolkan persamaan derajat,  dan sang dewa mencintai  kedua-duanya secara sama rata. Maksud sebenarnya adalah  sebuah hasil pemikiran  yang  menakjubkan  yang sudah ada semenjak zaman dahulu yaitu, seandainya agrikultur  dan industri digabung dengan kehidupan indra (sepiritual ke Yang Maha Kuasa), digabung  dengan pertahanan negara, maka akan  dihasilkan suatu masyarakat yang beradab dan sejahtera secara lahir dan batin, secara ekonomi, sosial dan tata negara, gemah ripah  lohjinawi. Prinsip  ini ternyata sudah sangat dihayati oleh nenek-moyang kita di Nusantara ini.
Sang dewa memiliki senjata  berbentuk tombak yang ujungnya mirip mata pena, merupakan penghancur  berbagai musuh-musuhnya. Senjata ini  menyiratkan  ilmu-pengetahuan dan kedigjayaan dalam menumpas  unsur-unsur adharma, dalam diri kita sendiri. Burung merak adalah wahananya, dengan seekor ular yang selalu hadir  diantara kedua kaki sang merak yang telah mengalahkan di ular (simbol dari sang waktu). Dengan mengendarai merak ini, sang dewa  ingin menyiratkan  bahwasanya ia  berada di luar jangkauan sang waktu,  beliau berada jauh dari dua fenomena alam yang saling beroposisi (dwandas), yaitu: dingin-panas, kaya-miskin, besar-kecil dan sebagainya.
Seandainya  ular menyiratkan  nafsu, mak amerak menyiratkan  kehidupan selibat (brahmacari). Demikianlah dewa yang disebut  juga Skanda ini menyiratkan  dua faktor tersebut. Merak juga  melambngkan penciptaan, dan bulunya menjadi penghias  mahkota Sri Maha Vishnu, Narayana dan Krisna,  karena  dianggap sangat sakral dan simbolis mewakili unsur cahaya yang dilapisi warna-warni lainnya, jadi bukanlah  seperti Ganeshya, maka Skanda adalah wakil langsung Sang  Pencipta (Shiwa) itu sendiri. Inilah  versi  Shiwaistis yang diterima oleh pengikut Vaisvanawas dan lainnya di India secara lapang dada.
Ganesa merupakan  putra Siwa dengan Dewi Uma, dimana di India dalam suatu upacara  tampa diawali dengan pemujaan Ganesa, upacara  tersebut dianggap  tidak sah. Di Indonesia  Ganesa menempati tempat-tempat yang angker  seperti pertemuan dua buah sungai, perempatan jalan, tebing-tebing yang curam, goa-goa dan di tempat angker lainnya. Di samping  itu Ganesa juga ada pada candi-candi  yang menempati ruang  belakang seperti  yang terdapat pada candi Prambanan, candi Gebang, Candi Sambisari, candi Singosari, candi Jawi dan lainnya.
Dalam mitos  kitab Korawasrama Ganesa sebagai pelebur  dosa (peruwat) yang memiliki dua lontar Linggaptanala, sedangkanpada  dalam Gana Stava Ganesa ditampilkan sebagai  pengusir bala (rintangan) dengan ciri  bermuka gajah, badan gemuk/cebol, memakai  jatamakuta, nagovapita, memegang  danta, pasa dan angkuda dengan  perut besar, jumlah tangan empat  membawa danta, aksamala, parasu, mangkok yang berisi air (ganesa India), Indonesia kosong (tanpa air).
Pada Bali modern bentuk Ganesa banyak variasinya, ada yang duduk, berdiri, tangan dua / empat, dengan atribut dana, parasu, cepupu, cemara, pustaka, dan aksamala. Dalam mitos lain, ada  Ganesa menginjak  tunas kelapa, dan ada pula Ganesa didampingi seorang bocah


sumber ::: http://puramedangkamulan.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar