Rabu, 06 Juni 2012

Kisah Leak 10 - Garuda Anglayang

Garuda Anglayang merupakan salah satu wujud yang bisa dicapai oleh orang yang belajar ilmu leak. Dalam wujud ini dia bisa berubah menjadi burung garuda yang mampu terbang dan menyerang bila ada musuh didekatnya.

Kisah berikut merupakan pengalaman dari Dadong R dalam menemani suaminya, Pekak R, melakukan perjalanan kedesa desa. Pekak R merupakan tokoh spiritual yang mumpuni pada jamannya dan tinggal di perbatasan Klungkung Gianyar.

Pekak R suka melakukan perjalanan jauh meinggalkan rumahnya untuk sekedar mencari ikan dengan cara menjala atau memancing. Suatu saat Pekak R dan istrinya tidak menyadari bahwa mereka sudah sangat jauh meninggalkan desanya karena terlalu asyik dalam berburu ikan. Mereka kekurangan bahan makanan, kebetulan mereka melihat ada sawah yang ditanami pohon cabai.

Dengan maksud untuk membuat bumbu buat membakar ikan, maka mereka memetik cabai tersebut secukupnya (sekitar 10 biji), karena pemilik sawah tersebut mereka tidak mengetahuinya maka mereka tidak minta ijin terlebih dahulu.

Saati asyk mereka membakar ikan, tiba-tiba datanglah pemilik sawah seorang ibu setengah baya. Melihat Pekak R dan istrinya mengambil cabainya, maka ibu-ibu tersebut menjadi sangat marah. Mengetahui kesalahan yang dibuat maka Pekak R segera mohon maaf atas segala perbuatannya dan menjelaskan bahwa mereka tidak bermaksud mencuri cabai, cuman minta untuk bikin bumbu ikan karena mereka lapar dan jauh dari rumah. Situasi saat itu sekitar hari menjelang malam.

Ibu pemilik sawah tidak mau terima begitu saja alasan Pekak R dan istrinya dan menantang untuk mengadu ilmu. Pekak R mulanya tidak mau melayani karena tetap merasa bersalah akan hal yang telah terjadi. Tapi Si Ibu tetap marah dan menantang terus untuk adu kesaktian.


Karena tidak ada jalan lain maka Pekak R dengan segala kerendahan hati menerima tantangan dari Ibu pemilik sawah tersebut. Mereka sepakat untuk adu ilmu malam itu juga di tempat yang sama. Si ibu kemudian pulang ke rumah.

Dadong R sangat ketakutan dan mengajak suaminya untuk segera pergi, tapi Pekak R tetap pada pendiriannya untuk mengadu ilmu dengan Ibu tersebut. Untuk melindungi istrinya maka Pekak R membuat lingkaran dan menyuruh agar istrinya berdiri di tengah lingkaran tersebut dan mewanti-wanti jangan sampai ke luar lingkaran.

Tepat tengah malam, terdengar suara angin yang sangat gemuruh diikuti oleh suara burung berkoak-koak, tiba-tiba dari arah selatan terlihat burung garuda yang sangat besar dan ganas segera menyatroni mereka berdua dan melalukan sengan dengan cara menyambar-nyambar.

Dadong R sangat ketakutan akan melihat hal itu. Pekak R dengan tenang segera ngeregep, menyatukan bayu sabda idep dan melakukan serangan balasan penolak Garuda tersebut. Dari tangannya segera keluar lontaran-lontaran api yang diarahkan ke burung garuda tersebut.

Burung tersebut yang tadinya dengan ganas melakukan penyerangan sekarang menjadi kerepotan untuk menghindari lontaran-lontaran pukulan api dari Pekak R. Tiba-tiba burung itu pergi.

Kemudian dari arah yang lain datang lagi burung garuda yang sama melakukan penyerangan kepada mereka berdua. kembali Pekak R melayaninya dengan lontaran-lontaran pukulan api yang diarahkan ke burung tersebut. Kembali burung tersebut melarikan diri.

Hal itu terjadi berulang-ulang, mungkin karena kelelahan maka suatu saatu burung garuda tersebut terkena lontaran api yang dikeluarkan Pekak R. Akhirnya burung itu terjatuh, dan berubah menjadi Ibu pemilik sawah tersebut.

Ibu itu segera mohon maaf atas kesombongan yang telah dilakukan terhadap Pekak R dan minta agar nyawanya diampuni. Karena memang tidak bermaksud untuk berperang maka Pekak R mengampuni si Ibu tersebut.

Moral dari cerita ini adalah agar kita jangan sombong, di atas langit masih ada langit.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar