Tampilkan postingan dengan label Pancaran Bhagavata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pancaran Bhagavata. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Juni 2012

Lolosnya Takshaka

                                                        Bab 18 - Lolosnya Takshaka



Ketika Wyasa bersedia memenuhi permohonannya, Parikshit yang memperhatikan dengan seksama, menjawab dengan suara tersendak penuh emosi, “Maharesi, Nanda tidak tahu dengan jelas apa sebabnya kakek Nanda menghancurkan Hutan Khandawa dengan kobaran api. Ceritakan pada ananda bagaimana Sri Krishna menolongnya dalam hal itu. Buatlah ananda bahagia dengan menceritakan kejadian ini kepada nanda.” Parikshit bersujud di kaki Wyasa dan mohon agar
hal ini diceritakan kepadanya. Wyasa memujinya dan berkata, “Baiklah, Nanda mengajukan permohonan yang menambah reputasi Nanda. Akan saya kabulkan.”

Kemudian dilanjutkannya, “Suatu kali ketika Krishna dan Arjuna sedang beristirahat dengan riang di pasir di tepi sungai Yamuna, tanpa menyadari dunia dan segala keruwetannya, datanglah seorang brahmin lanjut usia mendekati mereka dan berkata, “Nak, saya hampir mati kelaparan. Berilah saya sedikit makanan untuk meredakan rasa lapar saya, jika tidak, saya tidak
mampu lagi bertahan hidup.” Mendengar perkataan ini, tiba-tiba mereka sadar bahwa orang yang datang ini aneh. Walau secara lahiriah tampak wajar, ada cahaya kedewataan di sekelilingnya yang memperlihatkan bahwa ia bukan manusia biasa. Sementara itu Krishna datang dan menyapanya, ‘Brahmin yang agung, tampaknya anda bukan manusia biasa. Anda tidak akan puas dengan
makanan yang lumrah, itu dapat saya duga. Katakan kepada saya, makanan apa yang anda inginkan, pasti akan saya berikan kepada Anda.’ Arjuna berdiri di
kejauhan mengawasi dan mendengarkan percakapan ini dengan sangat heran. Didengarnya Sri Krishna yang memuaskan rasa lapar segala makhluk di seluruh

Mengenang Hari-hari Yang Telah Lampau

                                 Bab 17 - Mengenang Hari-hari Yang Telah Lampau



Maharaja Parikshit mengadakan kunjungan kenegaraan ke seluruh jasirah India, berusaha mempelajari keunggulan administratif dalam pemerintahan para kakeknya dan hubungan unik yang telah mereka jalin dengan Bhagawan Sri Krishna yang pada waktu itu turun ke dunia sebagai manusia. Maharaja mendengarkan pengalaman banyak orang suci serta cendikiawan yang hidup pada masa tenang dan bahagia itu, kemudian ia melanjutkan perjalanan sambil merenungkan kenangan menggembirakan tersebut. Sering ia dilanda penyesalan bila memikirkan bahwa ia tidak hidup pada masa itu, ketika para kakeknya menikmati kebahagiaan surgawi.

Ketika Parikshit sedang tenggelam dalam kegembiraan mengenang sejarah para kakeknya dan kemuliaan masa yang silam bersama Krishna, tiba-tiba secara tidak terduga munculah Resi Agung Weda Wyasa di hadapannya. Ia menyambut beliau dengan sangat takzim dan mempersilahkan Beliau duduk di kursi kehormatan. Maharesi memuji pemerintahan Parikshit dan berkata bahwa ia teringat pada masa pemerintahan Pandawa. Maharaja yang masih muda itu mendengarkan pembicaraan Beliau dengan penuh hormat. Setelah beberapa waktu Wyasa berkata, “Nak, sekarang saya harus pergi.” Parikshit berkata, “Ini seperti meletakkan sepiring hidangan lezat di hadapan orang yang kelaparan dan tepat pada waktu ia mengulurkan tangannya, makanan itu ditarik serta dijauhkan dari jangkauannya. Kisah Maharesi mengenai kepahlawanan para kakek ananda dan tentang kemuliaan Sri Krishna ibarat permata berharga yang ditebarkan di hadapan ananda, tetapi Maharesi menyebabkan ananda sangat kecewa karena tidak memberi ananda kesempatan untuk memilikinya. Kepergian Maharesi meninggalkan ananda sekarang ini membuat ananda sangat sedih.”

Penghormatan Kepada Krishna

                                            Bab 16 - Penghormatan Kepada Krishna



Bila Parikshit mengunjungi wilayah mana saja, para penguasa dan raja wilayah itu siap menyambutnya dengan penuh semangat, dengan penghormatan sipil dan militer yang sesuai. Mereka menyatakan selalu siap mengabdi dengan setia, apapun juga jenis pelayanan yang dikehendakinya dari mereka. Parikshit menjawab bahwa ia tidak memerlukan pelayanan mereka bahwa ia hanya ingin agar mereka mengembangkan kebahagiaan dan kesejahteraan rakyat yang dipercayakan kepada mereka. Ia menasehati mereka agar memberi perhatian khusus pada perlindungan bagi kaum brahmin serta wanita dan agar merka dilindungi dari marabahaya. Ia menghimbau agar mereka membantu mengembangkan ibadat kepada Tuhan di seluruh wilayah kekuasaan mereka. Hanya itulah permintaan yang diajukannya kepada para raja taklukannya.

Di beberapa wilayah yang penting dalam kemaharajaannya, penduduk mempersembahkan pertunjukan lagu-lagu rakyat yang mengisahkan kemasyhuran dan keperkasaan nenek moyangnya; mereka menyanyikan keberanian dan keunggulan Pandawa bersaudara. Kidung ini menyanjung-nyanjung belas kasih dan rahmat yang dilimpahkan Sri Krishna kepada Pandawa bersaudara dan hormat bakti serta kepercayaan Pandawa kepada Sri Krishna sepanjang waktu. Mereka juga memainkan drama rakyat, memerankan Pandawa serta Kaurawa dengan Krishna di antaranya, mengungkapkan kisah yang telah Beliau rencanakan dengan mereka sebagai alatnya.

Ketika Parikshit mendengar nyanyian ini dan menyaksikan pementasan tersebut, air mata mengalir di pipinya, walau ia berusaha keras mengendalikan emosinya. Para penyanyi, penutur cerita, aktor dan penyelenggara pertunjukan semuanya mendapati bahwa maharaja mereka hanya terpikat pada drama dan nyanyian yang memiliki tema-tema ini, maka mereka tidak lagi mencari bahan-bahan pertunjukan yang lain dan hanya memusatkan perhatian pada sejarah Dinasti Parikshit serta rahmat luar biasa Sri Krishna yang menyelamatkannya pada setiap langkah. Maharaja mendengarkannya dengan penuh hormat dan duduk dengan penuh minat hingga pertunjukan selesai. Rasa terimakasihnya juga diperlihatkannya dengan berbagai cara lain. Parikshit amat senang; para menteri dan sesepuh menegaskan bahwa cerita pertunjukan itu benar. Mendengar pernyataan itu, kepercayaan serta baktinya meningkat; ia lebih sering lagi mencari kesempatan ini dan lebih menikmatinya. Ia memperlakukan para penyelenggara pertunjukan dan pemain musik dengan penuh kasih sayang dan menghormati mereka dengan hadiah yang melimpah.

Masa Pemerintahan Maharaja Parikshit

                                      Bab 15 - Masa Pemerintahan Maharaja Parikshit

Pandawa berjalan terus dengan pandangan lurus ke depan, menanti saat robohnya tubuh mereka karena kelelahan, dan kematian menyelesaikan karir mereka di dunia. Hati mereka penuh pada emosi yang berkisar pada Sri Krishna, permainan dan senda gurau Beliau; mereka tidak mempunyai pikiran atau perasaan yang lain.

Draupadi, permaisuri mereka, menyeret dirinya hingga agak jauh, tetapi ia menjadi terlalu lemah untuk melanjutkan perjalanan. Ketika ia berseru memanggil-manggil dan memohon, junjungannya tidak berpaling. Draupadi yang sangat cerdas dan berbakti segera sadar bahwa Pandawa bersaudara sedang melakukan nazar yang amat keras dan berat; ia mengerti bahwa ikatan yang
menghubungkan dirinya dengan mereka selama ini telah lepas dan ia harus menghadapi ajalnya. Draupadi jatuh pingsan; ia menghembuskan napas terakhir dengan pikiran terpusat pada Krishna.

Pandawa bersaudara pun berjalan terus dengan disiplin yang ketat dan satu demi satu menemui ajalnya pada waktu dan tempat yang telah ditakdirkan bagi mereka masing-masing untuk meninggalkan raganya. Tubuh mereka menjadi debu, tetapi jiwanya manunggal dengan Krishna. Mereka mencapai kekekalan, lebur dalam hakikat Krishna yang abadi.

Dari takhta kemaharajaan Bharat, Parikshit memerintah wilayah kekuasaannya dengan mengikuti prinsip-prinsip keadilan dan moralitas. Ia membantu mengembangkan kesejahteraan rakyatnya dengan penuh kasih dan mengayomi serta menjaga mereka dari bahaya dengan perhatian dan kasih sayang kebapakan. Apapun tugas yang akan dilaksanakannya, Parikshit tidak akan maju
selangkahpun tanpa mengingat Sri Krishna serta kakek-kakeknya dan berdoa agar mereka memberkatinya dengan keberhasilan. Ia berdoa kepada mereka setiap pagi dan sore, mohon agar dibimbing mengikuti jalan kebajikan yang benar. Ia merasa seakan-akan ia adalah jantung rakyatnya dan mereka adalah tubuhnya.

Kepergian Pandawa Bersaudara

              Bab 14 - Kepergian Pandawa Bersaudara

Sungguh pemandangan yang menyedihkan. Parikshit, anak laki-laki yang mengenakan mahkota, mendekati kakeknya serta saudara-saudara kakeknya dengan mengiba-iba. Ia memegang erat-erat kaki mereka dan memohon agar agar diijinkan ikut pergi ke hutan menyertai mereka. Ia akan makan akar-akaran dan buah-buahan dengan senang hati, melakukan upacara suci, dan merasa bahagia. “Percayakanlah kemaharajaan ini kepada beberapa menteri yang baik dan ijinkan saya menyertai kakek supaya saya dapat melayani kakek dan membuat hidup saya berati “ demikian ia memohon. Orang-orang di sekitarnya dalam pendapa itu menitikan air mata, terharu melihat kesedihannya karena akan ditinggalkan. Batu-batu cadaspun pasti akan luluh dalam simpati seandainya mereka mendengar kesedihannya.

Dengan usaha keras Dharmaraja berhasil menekan emosinya. Diangkatnya anak laki-laki itu, didudukannya di pangkuannya, kemudian dicurahkannya kata-kata hiburan dan keberanian di telinganya. “Nak, jangan berhati lemah seperti ini. Engkau adalah putera yang lahir dalam dinasti Bharata; dapatkah biri-biri lahir dalam dinasti singa? Ayah, Ibu dan kakek-kakekmu semuanya penuh keberanian, mereka adalah pembela kebenaran yang gagah perkasa dan nama mereka termashur di seluruh dunia. Karena itu, tidak pantaslah jika engkau menangis seperti ini. Mulai sekarang para brahmin ini adalah kakekmu, orang tuamu. Taatilah nasehat mereka dan perintahlah negara ini sesuai dengan bimbingan mereka. Hiduplah sesuai dengan keagungan dan kemuliaan namamu. Jangan sedih menangisi kami.”

Anak itu penuh kasih, tapi tidak mau menyerah walaupun para sesepuh berusaha menasehati dan membujuknya. Ia meratap, “Kakek, saya terlalu muda sehingga permohonan saya tidak meyakinkan kakek. Saya mengerti, tapi cobalah dengar; sebelum lahirpun saya sudah kehilangan ayah saya. Kakek membesarkan saya dengan penuh perhatian dan kasih sayang yang pasti akan dicurahkan kepada saya oleh ayah seandainya beliau masih hidup. Dan sekarang, ketika saya masih senang bernyanyi, bermain dan bepergian bersama teman-teman saya, kakek membebankan negara besar ini pada kepala saya. Dapatkah ini dibenarkan? Adilkah ini? Daripada meninggalkan saya sendirian dalam kesedihan, Kakek dapat berangkat setelah memenggal kepala saya dengan pedang Kakek. Aduh! Kesalahan apa yang telah saya lakukan pada Kakek sehingga Kakek menghukum saya seperti ini? Mengapa Kakek tidak menghabisi saya dalam rahim ibu pada waktu ayah saya gugur? Apakah tubuh saya yang tidak bernyawa dihidupkan kembali agar Kakek dapat membebankan tugas ini kepada saya?” Sampai lama Parikshit terus menyesali diri dan suratan takdirnya dengan nada seperti ini.

Parikshit Dinobatkan

                           Bab 13 Parikshit Dinobatkan



Kunti Dewi mengikuti jalan yang ditempuh Shyamasundara (Sri Krishna). Yang tertinggal hanyalah tubuh tanpa nyawa. Arjuna menangis keras-keras, “Kakanda! Apa yang akan saya katakan? Kita telah kehilangan ibu kita.” Dharmaraja yang berdiri di sebelahnya terguncang hebat oleh kejutan itu; ia melangkah mendekati tubuh ibunya dan berdiri terpaku ketika melihat wajahnya yang memucat.

Para dayang di luar pintu mendengar perkataan Arjuna, mereka lalu mengintip ke dalam kamar. Tubuh Kunti Dewi terbaring di lantai. Arjuna meletakan kepala jenasah pada pangkuannya dan menatap wajah ibunya lekat-lekat dengan mata berkaca-kaca. Para dayang keraton saling menyampaikan berita ini; mereka masuk dan menyadari sang Ibu Suri telah meninggalkan mereka, tidak mungkin kembali lagi. Mereka menangis keras-keras ketika mengetahui malapetaka yang meremukan hati ini.

Sementara itu berita tersebut terdengar oleh para ratu di ruang dalam. Dalam beberapa detik berita duka itu tersebar ke seluruh Hastinapura. Para ratu diliputi kesedihan. Mereka masuk tertatih-tatih sambil memukuli dada mereka dalam duka yang mendalam. Para penghuni istana datang melawat ke tempat tinggal Ibu Suri bagaikan aliran kesedihan yang tiada akhirnya. Bhima, Nakula, Sahadewa dan para menteri diliputi duka cita.

Suasana diliputi kepedihan yang tidak terhingga. Tidak seorangpun dapat percaya bahwa Kunti Dewi yang beberapa menit sebelumnya menunggu-nunggu Arjuna, puteranya, dengan penuh kerinduan, ingin mendengar kabar yang dibawanya dari Dwaraka, tiba-tiba meninggal demikian mendadak. Mereka yang datang dan melihat, berdiri diam terpaku. Tangisan para dayang, ratapan para ratu, dan duka cita putra-putranya meluluhkan hati yang paling tegar sekalipun.

Zaman Kali Dimulai

                            Bab 12 - Zaman Kali Dimulai



Bhima berkata, “ketika di istana Dhritarastra Krishna ditanya oleh Duryodhana, Dussasana, dan lain-lainnya, mengapa Beliau menjadi penengah dalam pertengkaran keluarga antara Kaurawa serta Pandawa dan lebih menyayangi pihak yang satu daripada pihak yang lain seakan-akan Pandawa merupakan kerabat yang lebih dekat dengan Beliau daripada Kaurawa, apakah jawaban Sri Krishna. Sekarang berusahalah mengingat jawaban itu. Bayangkanlah kejadian itu di hadapan Kakanda, Beliau berjalan hilir mudik seperti anak singa dan mengaum, “Apa yang Anda katakan? Apakah Kaurawa sama dekatnya kepada saya, seperti Pandawa? Tidak, mereka tidak akan pernah berada pada tingkat yang sama. Dengar akan saya beritahukan kepada kalian pertalian keluarga yang mengikat saya pada Pandawa; untuk badan saya ini, Dharmaraja dapat diibaratkan dengan kepala, Arjuna dapat iibaratkan dengan bahu dan kedua tangan; Bhima seperti tubuh; Nakula dan Sahadewa ibarat kedua kaki. Bagi badan yang tersusun seperti itu, Krishna adalah jantungnya. Anggota tubuh bergerak dengan kekuatan jantung; tanpa jantung mereka tidak bernyawa.”

“Apakah arti pernyataan ini bagi kita? Itu berarti kita Pandawa tidak akan hidup karena jantungnya tidak berfungsi lagi. Kita akan menghadapi kehancuran. Bhagawan yang merupakan pengejawantahan waktu berusaha melebur kita ke dalam Beliau. Kita harus siap menjawab panggilan Beliau.”

“Ini sudah cukup sebagai bukti bahwa Zaman Kali sudah tiba. Pada hari Krishna meninggalkan dunia ini, hari itu juga pintu zaman Dwapara tertutup dan gerbang Zaman Kali terbuka. Jika tidak, dapatkah kekuatan jahat dan berbagai pikiran busuk berkeliaran tanpa kendali? Dapatkah Arjuna yang tidak pernah melupakan ritus mantra untuk setiap panah bertuah yang dilepaskan dari busurnya bahkan di tengah pertempuran yang berkecamuk dengan ganas dan serba cepat, tiba-tiba dapat lupa sama sekali dalam keadaan yang demikian gentingnya ketika suku bangsa barbar menyerang kaum wanita dan anak-anak? Pasti semangat Zaman Kalilah yang telah menyebabkan malapetaka dahsyat ini.”

Pada waktu itu Nakula ikut berbicara. Katanya, “Kakanda sekalian, langit di Timur memperlihatkan datangnya fajar. Marilah kita memberitahu para ratu dan ibu kita mengenai perkembangan ini. Mari kita putuskan langkah berikutnya yang harus kita ambil, tanpa ditunda lagi. Tubuh tidak langsung hancur begitu nafas meninggalkannya bukan? Tentu saja hidup telah meninggalkan kita pada saat Krishna berpulang, tetapi anggota-anggota badan masih akan hangat untuk sementara waktu. Hari ini atau besok, kitapun harus pergi ke kehadiran Sri Krishna. Janganlah kita membuang-buang waktu dalam duka dan kesedihan. Lebih baik kita memikirkan langkah yang selanjutnya harus kita tempuh dan mempersiapkan diri untuk perjalanan itu.” Semua saudaranya menyetujui saran bijak yang dijiwai semangat ketidakterikatan ini.

Kesedihan Pandawa

                           Bab 11 - Kesedihan Pandawa



Mendengar perkataan Arjuna, Dharmaraja yang tenggelam dalam renungan dan sedang mengingat-ingat pertolongan, rahmat, kasih serta simpati yang telah mereka peroleh dari Sri Krishna, tiba-tiba menegakkan kepalanya dan bertanya, "Arjuna? Apa yang Adinda katakan! Malapetaka apa yang Dinda alami di jalan? Ceritakan selengkapnya kepada kami Adik terkasih!", dan
perlahan-lahan diangkatnya dagu Arjuna ketika menanyakan hal itu. Arjuna menatap wajah kakaknya sambil berkata, "Kakanda, segala keahlian dan
kemampuan saya telah meninggalkan saya bersama dengan Sri Krishna. Sekarang saya tidak memiliki kesaktian apa-apa, tidak mampu berprestasi lagi, lebih
lemah daripada yang paling lemah, sungguh, saya tidak memiliki daya hidup lagi."

"Kakanda, dengarlah. Orang yang amat sial ini tidak mendapat kesempatan mendampingi Bhagawan Waasudewa ketika Beliau mangkat ke akhirat walaupun pada waktu itu Beliau berada di Dwaraka. Saya belum memperoleh
cukup pahala untuk mendapatkan kesempatan itu. Saya tidak dapat memperoleh darsan ayah surgawi kita sebelum beliau pergi. Setelah itu, Daruka, kusir
Beliau, menyampaikan kepada saya amanat yang telah Beliau berikan untuk saya ketika akan berpulang. Dalam amanat itu Beliau menulis sendiri sebagai berikut."

Sambil berkata demikian, dari lipatan pakaian dikeluarkannya sepucuk surat yang dianggapnya lebih berharga dari hidupnya sendiri karena berasal dari Sri Krishna dan Beliau tulis sendiri. Diletakkannya surat itu di tangan kakaknya. Dharmaraja menerimanya dengan hormat dan sigap bercampur rasa cemas. Ditekannya surat itu pada matanya yang berkaca-kaca; ia berusaha
membaca dan mengartikannya melalui genangan air matanya, tetapi tidak berhasil.

Misteri Krishna

                              Bab 10 - Misteri Krishna



Bhima berhasil mengumpulkan keberanian. Katanya, “Kakanda, berilah saya izin, maka saya akan segera pergi ke Dwaraka lalu kembali lagi dengan cepat. Saya akan membawa informasi selengkapnya tentang segala yang telah terjadi untuk melenyapkan rasa takut Kakanda.” Pada waktu Bhima berlutut memohon izin, matahari terbenam dan pelita mulai berkelip kelip di berbagai tempat memancarkan cahayanya yang temaram.

Sementara itu seorang pengawal di gerbang utama berlari masuk memberitahukan bahwa Arjuna telah datang dan sedang menuju tempat kediaman raja. Setiap orang bangkit seakan-akan hidup lagi secara mendadak; mereka bergegas menemui Arjuna ingin sekali mendengar kabar dari Dwaraka. Arjuna masuk, muram, amat sedih dan putus asa, sedikitpun tiada kegembiraan yang tersirat pada roman mukanya. Tanpa menatap wajah saudara-saudaranya, ia bersujud di kaki Dharmaraja.

Dharmaraja melihat tanda-tanda yang menguatkan kekhawatirannya dan ingin sekali minta keterangan lebih lanjut. Ia menanyakan kesejahteraan teman-teman dan sanak keluarga di Dwaraka. Arjuna tidak mampu mengangkat kepalanya ataupun menggerakkan kepalanya. Saudara-saudaranya melihat kaki Dharmaraja dialiri air mata Arjuna dan mereka begitu terkejut hingga diam terpaku. Dharmaraja tidak dapat mengendalikan pikirannya lagi. Ia berusaha mengangkat Arjuna, mengguncang-guncang bahunya, dan berseru dengan amat sedih di telinganya, “Adinda! Apa yang telah terjadi? Apa yang telah terjadi pada kaum Yadawa? Beritahukan hal itu kepada kami. Hati kami sudah hampir meledak. Selamatkan kami dari kesedihan yang tidak terhingga ini.”

Arjuna tidak menjawab. Ia tidak mampu bangkit atau mengucapkan sepatah kata pun. Meskipun begitu Dharmaraja terus menghujaninya dengan pertanyaan, menanyakan tentang kesejahteraan kaum Yadawa dan lain-lainnya, menyebutkan nama-nama mereka, dan menanyakan setiap orang dari mereka secara khusus. Terhadap berondongan pertanyaan yang diajukan dengan putus asa ini pun Arjuna tidak beraksi. Ia tidak memberi tanggapan. Ia tidak mengangkat wajahnya untuk menatap kakaknya.

Kenaikan Sri Krishna

                         Bab 09 - Kenaikan Sri Krishna

Dharmaraja yang amat sedih atas kepergian paman dan bibinya, Dhritarastra dan Gandhari, tertimpa penderitaan lain yang tidak tertahankan bagaikan jarum yang ditusukkan di dalam kuku. Kemanapun berpaling, ia mulai melihat berbagai pertanda buruk dalam kerajaannya. Ia melihat noda-noda kebohongan, kekejaman, dan ketidakadilan dalam perbuatan orang-orang di sekitarnya. Pertanda buruk menghadang setiap langkahnya dan mengacaukan pandangannya.

Akibatnya, ia dicekam kesedihan yang tidak dapat dijelaskan. Parasnya memucat dirongrong kekhawatiran. Ia selalu resah dan cemas. Adik-adiknya melihat hal ini dan karena mereka sendiri juga menjadi gelisah maka Bhima, Nakula dan Sahadewa menemui kakaknya yang tertua dan mengutarakan keinginan mereka untuk mengetahui penyebab kemurungannya yang aneh. Mereka berdiri di hadapannya dengan tangan tertangkup dan bertanya, “Raja dan junjungan! Dari hari ke hari kami lihat roman muka Kakanda makin suram; tampaknya Kakanda tenggelam dalam kesedihan yang tidak dapat diduga, tenggelam makin lama makin dalam dengan berlalunya waktu. Kakanda menjadi terlalu lemah untuk berdiri tegak. Jika ada diantara kami yang telah menyedihkan hati Kakanda, mohon beritahukan kepada kami; kami akan berhati-hati agar tidak mengulangnya lagi dan kami nohon agar diampuni. Jika semua kesedihan ini disebabkan oleh hal lain, Kakanda hanya perlu memberitahukannya kepada kami, kami bersedia korban jiwa untuk memperbaiki keadaan dan memulihkan ketenangan hati Kakanda. Bila Kakanda memiliki pahlawan-pahlawan yang patuh seperti kami untuk mengoreksi siapa saja yang bersalah betapapun tinggi kedudukannya dan betapapun besar kekuasaannya, tidak layaklah Kakanda bersedih hati. Beritahukanlah sebabnya kepada kami dan perintahkanlah apa yang harus kami perbuat.” Demikian mereka memohon.

Dharmaraja menjawab, “Apa yang dapat saya katakan kepada Adinda, adik-adikki terkasih? Dimana-mana saya melihat berbagai alamat buruk. Dari rumah penduduk biasa hingga ke pertapaan orang-orang suci dan kaum arif bijaksana, kemanapun saya melayangkan pandangan, saya hanya melihat hal-hal yang tidak baik, kesialan, kemalangan, dan tiadanya kegembiraan. Saya menghibur diri bahwa ini hanyalah akibat imaginasi saya yang kacau dan saya berusaha sekuat tenaga mengumpulkan keberanian serta kepercayaan pada diri sendiri. Saya tidak suka menjadi korban rasa takut saya sendiri. Tetapi saya tidak berhasil. Mengingat-ingat hal itu hanya membuat rasa takut saya makin bertambah.”

Kesedihan saya menjadi lebih parah karena saya juga melihat beberapa kejadian yang bertentangan dengan moralitas dan dahma yang telah ditetapkan. Hal ini tidak hanya saya saksikan sendiri, sidang pengadilan di kerajaan in pun telah menerima berbagai permohonan dan tuntutan berkenaan dengan kejahatan, ketidakadilan, kebengisan, dan pelanggaran yang membuat saya amat sedih.”

Dhritarastra Berubah

                         Bab 08 - Dhritarastra Berubah



Dhritarastra dan Gandhari tiba di hutang bersama dengan Widura. Widura mencari tempat yang sesuai untuk melakukan tirakat. Ia juga memberi mereka petunjuk tentang cara-cara terbaik untuk mencari kesadaran diri sejati. Mereka melewatkan hari demi hari dalam pergaulan serta pikiran yang suci.

Sementara itu di Hastinapura begitu matahari terbit, Dharmaraja bangun, menyelesaikan ritual pembersihan diri, lalu melakukan upacara pemujaan pada api keluarga. Ia memberikan sedekah harian kepada orang-orang miskin seperti biasanya. Setelah itu ia berjalan ke istana Dhritarastra, kakak ayahnya, seperti biasa, karena ia tidak pernah memulai tugas harian tanpa terlebih dahulu bersujud di kaki pamannya.

Ia tidak menemukan raja dan ratu dalam kamar mereka, maka ia menunggu sebentar dengan harapan mereka akan kembali ke kamar itu. Sambil menanti kedatangan mereka dengan cemas, ia juga mencari mereka di berbagai tempat. Merkipun demikian, ia mendapati bahwa tempat tidur emreka masih rapi, pada bantal-bantalnya tidak ada bekas yang menunjukkan bahwa alas kepala itu sudah digunakan, perabot kamar juga tampak tidak berubah. Mula-mula ia mengira bahwa mungkin ada yang mengatur dan merapikan kembali kamar itu setelah digunakan, tetapi tidak. Ia dicekam rasa takut bahwa mereka telah pergi meninggalkannya, maka ia bergegas menuju ke kamar Widura untuk mendapati bahwa paman inipun telah raib, tempat tidurnya tidak digunakan.

Para nelayan melaporkan bahwa orang bijak itu tidak kembali lagi ke kamarnya setelah menemui raja dan ratu atau siapapun yang dikunjunginya. Begitu mendengar hal ini, Dharmaraja terkejut dan amat terguncang. Ia kembali lagi ke istana dan memeriksa setiap kamar dengan sangat teliti. Apa yang dicemaskannya menjadi kenyataan. Tangan dan kakinya gemetar karena putus harapan, lidahnya mengering dan ia tidak mampun berbicara. Ia jatuh ke lantai seakan-akan hayat telah meninggalkan raganya. Ketika sadar, ia menggumamkan kata-kata yang tidak jelas. Ia memanggil-manggil Widura beberapa kali sehingga para pejabat istana di sekelilingnya mengkhawatirkan keadaannya. Setiap orang berlari kesitu dan bertanya, “Apa yang terjadi?” , karena merasa bahwa telah terjadi suatu bencana. Mereka berdiri membentuk lingkaran di sekelilingnya, menanti perintah junjungan mereka.

Nasihat Widura

                                Bab 07 - Nasihat Widura



Widura melanjutkan peringatannya kepada Dhritarashtra, “kakanda telah mencapai usia selanjut ini, tetapi tetap saja kakanda menempuh hidup seperti anjing tanpa merasa malu atau ragu. Mungkin Kakanda tidak merasa malu mengenai hal itu, tetapi saya malu. Cih, tidak tahu malu! Cara kanda melewatkan hari-hari Kanda lebih jelek daripada burung gagak.”

Dhritarashtra tidak dapat menahannya lagi. Ia berseru, “Oh, cukup, cukup. Berhentilah. Adinda menyiksa saya sampai mati. Ini bukanlah kata-kata yang layak dikemukakan di antara saudara sendiri. Mendengar ucapan Adinda, saya merasa Adinda bukan Widura adik saya. Ia tidak akan menegur saya demikian kejam. Sekarang saya tinggal dengan Dharmaraja, apakah ia orang yang tidak dikenal? Apakah saya berlindung pada orang asing? Apa yang Adinda katakan ini? Mengapa begitu kasar? Dharmaraja merawat saya dengan kasih sayang dan perhatian besar, bagaimana Adinda dapat menyatakan saya menempuh hidup seperti seekor anjing atau gagak? Berdosalah bila Adinda memiliki gagasan semacam itu. Memang nasib saya begini, itu saja.” Dhritarashta menunduk dan mengeluh.

Widura tertawa dan mengejek. Katanya, “Tidak malukah Kakanda berbicara seperti itu? Mungkin karena kebaikan hatinya Dharmaraja merawat dan memperhatikan Kakanda lebih daripada ayahnya sendiri. Mungkin ia memelihara dan mengurus Kakanda dengan kasih yang lebih besar daripada anak-anak Kakanda sendiri. Ini hanya cerminan keluhuran budinya. Itu hanyalah penjelasan dan penjabaran arti nama yang disandangnya. Tetapi, apakah Kakanda tidak merencanakan masa depan Kakanda sendiri? Satu kaki Kakanda sudah berada di liang kubur, tetapi Kakanda tetap membabi buta mengisi perut Kakanda dengan segala kelezatan dan bergelimang dalam kemewahan. Renungkan sejenak bagaimana Kakanda menyiksa Dharmaraja dan adik-adiknya untuk menuruti maksud jahat anak-anak Kakanda yang keji dan busuk, bagaimana Kakanda merencanakan tipu muslihat untuk menghabisi mereka. Kakanda tempatkan mereka dalam rumah lilin lalu kakanda bakar bangunan itu, Kakanda mencoba meracuni mereka. Kakanda menghina permaisuri mereka secara amat memalukan di depan sidang yang besar. Kakanda dan anak-anak Kanda yang busuk dan menjijikkan menimpakan kesengsaraan demi kesengsaraan pada para putra Pnadu, adik Kakanda sendiri. Buta, tua renta, dan tebal muka, Kakanda duduk di singgasana sambil terus menerus bertanya pada orang-orang di samping Kanda, “Apa yang terjadi sekarang? Apa yang terjadi sekarang? Bagaimana Kakanda dapat tinggal di tempat ini menikmati kebaikan hati Dharmaraja sambil mengingat lagi berbagai kejahatan yang telah Kanda lakukan untuk membinasakannya? Ketika Kakanda merencanakan untuk menghabisi mereka, apakah mereka berhenti menjadi kemenakan Kanda? Atau apakah hubungan kemenakan ini baru timbul sekarang, ketika Kakanda datang untuk ikut tinggal bersama mereka? Tanpa merasa malu sedikitpun, bahkan dengan bangga Kakanda mengatakan kepada saya bahwa mereka memperlakukan Kakanda dengan baik.”

Kunjungan Widura

                             Bab 06 - Kunjungan Widura



Di dalam istana Widura menanyakan kesejahteraan setiap sanak saudaranya. Kemudian Kunti Dewi, ibu suri, masuk dan memandangnya dengan rasa sayang sambil berkata, “Akhirnya kami dapat melihat anda, oh Widura!” Ia tidak dapat berbicara lagi.

Setalah beberapa waktu dilanjutkannya “Bagaimana anda dapat tinggal demikian lama di tempat yang jauh, mengabaikan anak-aak yang telah anda asuh dengan penuh kasih dan saya sendiri serta orang-orang lain yang demikian menghormati anda? Karena doa restu andalah, maka anak-anak saya sekarang menjadi penguasa negeri ini. Dimana mereka akan berada kini seandainya dahulu anda tidak menyelamatkan mereka dalam berbagai keadaaan genting? Kami telah menjadi sasaran berbagai malapetaka, tetapi bencana yang terbesar adalah kepergian anda jauh dari kami. Itulah yang paling mempengaruhi kami. Bahkan kami sudah tidak mempunyai harapan untk bisa melihat anda lagi. Kini hati kami bersemi kembali. Harapan dan hasrat yang dicerai berikan oleh keputusasaan telah terhimpun kembali. Hari ini sempurnalah kegembiraan kami. Oh, alangkah membahagiakanya hari ini!” Kunti duduk sebentar menyeka air matanya.

Widura memegang tangan Kunti, tetapi tidak dapat menahan air matanya sendiri. Ia mengenang kembali berbagai peristiwa masa lalu dalam kelompok Pandawa dan Kaurawa. Katanya, “Ibu Kunti Dewi, siapa yang dapat mengalahkan ketentuan nasib? Apa yang harus terjadi pasti terjadi. Perbuatan baik dan buruk yang dilakukan manusia harus menghasilkan kebaikan dan keburukan. Bagaimana manusia dapat dikatakan bebas bila ia terikat oleh hukum sebab dan akibat ini? Ia merupakan boneka di tangan hukum ini, talinya ditarik, maka ia bergerak. Rasa suka tak suka kita tidak ada artinya. Segala sesuatu adalah kehendak Tuhan, rahmat-Nya.” Ketika Widura memaparkan kebenaran spiritual mendasar yang menguasai kehidupan manusia, Pandawa bersaudara : Dharmaraja, Bhima, Nakula, dan Sahadewa duduk di dekatnya, mendengarkan dengan penuh perhatian.

Yajna dan kedatangan Widura

                         05 - Yajna dan kedatangan Widura



Dharmaraja menerima nasihat Waasudeva (Sri Krishna) dan restu Wyasa. Diutusnya saudara- saudaranya beserta bala tentara untuk mengambil emas yang telah dibuang oleh para brahmin. Mereka berangkat setelah menyucikan diri dengan makan hidangan yang telah dipersembahkan kepada Tuhan. Mereka menemukan timbunan emas yang dahulu telah dihadiahkan oleh Maharaja Marut kepada para pendeta pada penutupan upacara pengurbanan. Emas itu telah dibuang oleh para pendeta di sepanjang sisi jalan yang mereka lalui ketika pulang. Bala tentara Pandawa mengumpulkan emas ini dan mengirimkannya dengan unta, gajah, kereta dan gerobak. Mereka memerlukan waktu beberapa hari untuk sampai ke Hastinapura dengan seluruh muatan itu. Mereka membongkar emas itu di tengah sambutan dan sorak-sorai rakyat.

Warga kerajaan mengagumi keberhasilan ekspedisi tersebut; mereka memuji-muji kemujuran Pandawa. Mereka menyambut para pangeran yang kembali ke kota membawa emas tersebut dengan berseru, “Jaya, jaya,” hingga suara mereka serak, sambil meloncat-loncat dan menari dengan sangat gembira. Mereka saling membicarakan kebesaran dan keindahan upacara pengurbanan yang akan diselenggarakan dengan emas tersebut.

Hari itu juga dimulailah persiapan untuk mendirikan altar upacara dan tambahan lain yang diperlukan di tepi Sungai Gangga. Wilayah suci itu luasnya beberapa kilometer persegi. Tanahnya diratakan dan dibersihkan. Panggung didirikan dan berbagai bangunan yang indah ditegakkan di wilayah yang luas itu. Serambi yang terpisah dan beranda juga ditambahkan.Hiasan aneka bendera serta karangan bunga memperelok bangunan tersebut.

Ketika hari suci telah mendekat, para kepala desa, brahmin, cendekiawan dan para resi berdatangandari segala penjuru menuju ke tempat suci itu, saling mendahului dalam semangat mereka untuk sampai secepat mungkin. Mereka tinggal di perumahan yang dibagikan kepada mereka sesuai dngan status dan kebutuhannya. Mereka melewatkan malam itu sambil menghitung menit-menit yang berlalu, dengan gembira menanti (dimulainya) yajna yang amat indah dan berdayaguna yang akan meraka saksikan bila fajar menyingsing di keesokan harinya.

Yajna untuk menebus dosa

                     

                       Bab 04 - Yajna untuk menebus dosa




Upacara pemberian nama sang pangeran menimbulkan kegembiraan yang besar pada warga kerajaan, penghuni istana, dan anggota keluarga raja. Tetapi Yudhistira, sang sulung diantara Pandawa bersaudara, merasa bahwa ia harus melakukan sesuatu lebih dari itu; ia tidak merasa puas dengan sekadar pesta yang meriah. Sore itu juga ia memanggil para sesepuh, cendikiawan, pendeta, para raja bawahannya, dan tokoh-tokoh masyarakat agar datang menghadiri rapat; ia mohon agar Sri Krishna memimpin pertemuan itu dan menganugerahkan kegembiraan kepada semuanya. Maharesi Wyasa dan Resi Kripa juga hadir.
Yudhistira datang ke ruang sidang, berdiri diam beberapa saat di hadapan hadirin, kemudian bersujud di kaki Bhagawan Krishna dan Maharesi Wyasa. Setelah itu ia berpaling kepada para raja, cendikiawan, dan tokoh-tokoh masyarakat sambil berkata, “Saya telah berhasil mengalahkan musuh dengan pertolongan, kerja sama, dan doa restu Anda sekalian, maupun dengan rahmat Bhagawan yang hadir disini, serta berkat restu para resi dan kaum bijak yang telah menyemayamkan Bhagawan dalam hati mereka. Dengan kemenangan ini kita dapat memperoleh kembali kerajaan kita yang hilang. Juga dengan rahmat dan berkat ini cahaya harapan telah bersinar dalam hati kita yang digelapkan oleh rasa putus asa memikirkan kelangsungan dinasti ini. Garis keturunan Pandawa akan diteruskan oleh pangeran yang hari ini oleh Bhagawan dinamai Parikshit.
“Sementara semua ini membuat saya senang, saya harus menyatakan di hadapan Anda sekalian bahwa saya dilanda kesedihan bila merenungkannya dari segi yang lain. Saya telah melakukan dosa yang tidak terhitung lagi, membunuh sanak saudara sendiri. Saya merasa bahwa saya harus melakukan suatu penebusan untuk hal ini; jika tidak, tidak akan ada kebahagiaan bagi saya, bagi dinasti saya, atau rakyat saya. Karena itu, saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk mohon nasihat Anda sekalian mengenai hal ini. Diantara Anda sekalian banyak yang telah mengetahui kenyataan sejati dan mencapai brahmajnana; Maharesi Wyasa juga hadir disini. Saya berharap Anda menyarankan suatu acara penebusan agar saya dapat membebaskan diri dari timbunan dosa yang menggunung amat besar yang terkumpul akibat peperangan ini.

Bocah Parikshit dan ramalan tentang dirinya

      Bab 03 - Bocah Parikshit dan ramalan tentang dirinya



“Aduh! Apakah akhirnya ia harus mengalami nasib yang tragis ini? Apakah ini merupakan ganjaran bagi segala kebaikan yang kelak dilakukannya? Setelah menempuh hidup yang bajik selama bertahun-tahun, dapatkan akibatnya tiba-tiba berubah menjadi kematian yang malang ini? Ada dikatakan bahwa mereka yang mati tenggelam, mereka yang menemui ajal karena jatuh dari pohon, dan mereka yang meninggal karena digigit ular, tidak baik kehidupannya di akhirat kelak. Semua ini dianggap ebagai kematian yang sial, mereka yang menemui ajalnya seperti itu akan menjadi hantu dan akan menderita, demikian kata orang. Mengapa anak ini harus mengakhiri hidupnya seperti itu? Oh, alangkah mengerikan. Oh, alangkah tidak adilnya semua ini!” , ratap Yudhistira sambil menggigit bibirnya menahan sedih.
Para brahmin segera menghiburnya. “Maharaja!”, seru mereka, “Tidak ada alasan untuk bersedih hati. Tokoh yang demikian agung tidak akan mengalami tragedi semacam itu. Tidak. Setelah mengkaji posisi planet-planet dalam horoskop anak ini, kami dapat melihat dengan jelas adanya dua kombinasi baik yang menunjukkan vajrayoga dan bhaktiyoga, keduanya kuat sekali dan berpengaruh baik. Karena itu, begitu tahu perihal kutukan tersebut, ia akan meninggalkan kerajaan, istri, serta anak-anaknya, kemudian menyepi di tepi sungai Bhagirathi yang suci dan memasrahkan diri kepada Tuhan. Resi Suka yang agung, putra Vyasa, akan datang kesana dan mendiksanya dalam atmajnana dengan menceritakaan kemuliaan Sri Krishna serta menyanyikan pujian bagi Beliau. Dengan demikian ia akan melewatkan hari-hari akhirnya di tepi Sungai Gangga yang suci dan menghembuskan napas terakhir dengan kasih yang mendalam dan bakti kepada Tuhan. Bagaimana mungkin tokoh semacam itu mengalami tragedi dan bencana? Ia tidak akan lahir lagi karena melalui bhaktiyoga ia akan manunggal dengan Tuhan. Mendengar penjelasan ini, lenyaplah kesedihan Yudhistira dan ia merasa senang. Katanya, “Kalau begitu, ini bukan kutukan melainkan anugerah yang unik.”
Dengan ini setiap orang bangkit. Para brahmin diberi penghormatan sesuai dengan tingkat ilmu dan tapanya. Mereka dianugerahi permata serta pakaian sutera dan raja mengatur agar mereka diantar pulang. Yudhistira dan saudara-saudaranya kembali ke istana masing-masing, tetapi mereka melewatkan waktu berjam-jam membicarakan aneka kejadian hari itu dan tentang kekhawatiran yang akhirnya hilang terhapus. Mereka senang sekali oleh perubahan yang akhirnya berlangsung dalam ramalan.

KELAHIRAN SEORANG BHAGAVATA

                  Bab 02 - Kelahiran seorang Bhagavata




Maharaja Parikshit adalah putra Abimanyu yang telah mencapai surga para pahlawan. Ketika Parikshit masih berwujud janin yang tumbuh di rahim Uttara, ia melihat anak panah tajam yang dilepaskan oleh Aswathama meluncur ke arahnya. Senjata itu memancarkan percikan keganasan dan teror, siap membinasakannya, tetapi pada saat itu juga tampaklah tokoh yang cemerlang dan sangat mempesona bersenjatakan cakra yang dahsyat. Beliau menghancurkan panah maut itu menjadi seratus keping. Janin ninggrat itu diliputi kekaguman dan rasa terimakasih.

Ia memikirkan identitas penyelamatnya secara serius. “Siapakah Beliau? Pastilah Beliau juga tinggal dalam rahim ini bersamaku karena Beliau dapat melihat anak panah itu pada saat aku melihatnya! Tetapi Beliau demikian pemberani dan cekatan sehingga dapat menghancurkan panah itu sebelum mencapai aku. Apakah Beliau saudara kembarku? Bagaimana Beliau dapat membawa cakra itu? Bila Beliau dikaruniai cakra, mengapa aku tidak memilikinya? Tidak, Beliau bukan manusia biasa.” Demikianlah ia berdialog lama dengan dirinya sendiri.

Ia tidak dapat melupakan wajah itu, wujud itu. Beliau tampak sabagai anak laki-laki yang mulia dan cemerlang bak sejuta matahari. Beliau ramah, penuh kebahagiaan, dan biru bagaikan langit yang jernih. Setelah menyelamatkannya secara dramatis, Beliau menghilang. Wujud itu selalu terbayang dalam ingatan bocah Parikshit karena ia ingin melihat Beliau lagi. Siapapun yang dilihatnya, diamati dan diperiksanya dengan seksama untuk diselidiki apakah wujud itu mirip dengan wujud yang telah diukirkannya dalam benaknya dengan penuh rasa hormat.

Demikianlah ia tumbuh di dalam rahim sambil merenungkan wujud (Sri Khrisna). Renungan itu mengubahnya menjadi bayi yang perlu kecemerlangan. Pada akhir masa kehamilan, ketika ia lahir ke dunia, ruang bersalin diterangi oleh cahaya yang gaib. Para wanita yang membantu Uttara tercengang melihat kecemerlangan itu. Mereka bingung dan takjub.

Setelah pulih dari keheranannya, Subhadra, ibu Abimanyu menirim kabar untuk memberitahukan kelahiran itu kepada Yudhistira yang sulung diantara Pandawa. Bukan main senangnya Pandawa bersaudara ketika mendengar kabar gembira yang telah mereka nantikan. Meraka memerintahkan agar band memainkan musik dan senjata didentumkan untuk menghormati peristiwa itu karena seorang putra yang bakal mewarisi takhta Pandawa telah lahir dalam keluarga raja.

Bhagavata

                                   Bab 01 - Bhagavata



Sebutan Bhagavata dapat digunakan untuk setiap kisah pengalaman orang-orang yang telah menjalin hubungan dengan Tuhan dan dengan mereka yang saleh (Bhagawan dan bakta). Tuhan mengambil berbagai wujud dan memerankan berbagai kegiatan. Nama Bhagavata diberikan pada uraian pengalaman orang-orang yang telah menyadari Tuhan dalam aneka wujud tersebut dan juga pada kisah pengalaman mereka yang telah memperoleh karunia Beliau serta terpilih menjadi alat Beliau.

Karya agung yang terkenal ini (Bhagavata) dihormati oleh para ahli Weda. Kitab ini merupakan obat mujarab yang menyembuhkan berbagai penyakit fisik, mental, dan spiritual. Bhagavata sarat dengan kemanisan nektar dan bersinar dengan kecrmelangan serta keindahan Tuhan.

Prinsip Avatar atau turunnya Tuhan ke dunia, mengejawantahnya yang tidak berwujud dan mengambil wujud untuk menolong meningkatkan kesadaran moral serta spiritual semua makhluk; inilah fakta utama yang membuat Bhagavata benar dan dapat dipercaya. Bhagavata juga berarti orang-orang yang memiliki keterikatan kepada Tuhan, mereka yang mencari persahabatan dengan Tuhan. Kitab Bhagavata sangat berharga bagi orang-orang semacam itu, bak napas hidup mereka. Berada diantara Bhagavata itu akan membantu mengembangkan bakti kita. Jika engkau tidak gemar mengarahkan pikiran kepada Tuhan, engkau tidak akan memperoleh kebahagiaan dari hal itu. Untuk menimbulkan kegemaran itu, Bhagavata menceritakan aneka kisah mengejawantahan Tuhan kepada mereka yang benar-benar ingin mengetahuinya. Kemudian akan timbulah kerinduan untuk menghayati getaran Tuhan melalui segala tingkat kesadaran. Orang yang memiliki kerinduan mendalam ini dapat menjadi Bhagavata sejati.

Banyak yang mengira bahwa pengejawantahan Tuhan hanya berlangsung untuk dua tujuan yaitu : menghukum yang jahat dan melindungi yang baik. Tetapi ini hanya menggambarkan salah satu aspek tugas Beliau. Menganugerahkan kedamaian, kebahagiaan, dan rasa pemenuhan kepada para pencari kebenaran yang telah lama berjuang (melakukan usaha kerohanian), inipun merupakan tugas Beliau.

Avatar atau “pengejawantahan Tuhan” hanyalah perwujudan para pendamba kesunyataan. Beliau adalah perwujudan keindahan dan kemanisan bakti para sadhaka yang saleh. Tuhan yang tidak berwujud mengambil wujud demi para sadhaka dan pencari kesunyataan ini.