Kisah Berdirinya Negara Islam di Demak dan Mundurnya/Surutnya Negara Majapahit, serta Duduk Perkaranya Orang Jawa Meninggalkan Agama Ciwa-Budha lalu Memeluk Agama Islam
Disalin ulang oleh Preti-Bunga tahun 2003, teks asli berbahasa Jawa Tengahan. Babon/induk asli peninggalan “K.R.T.Tandanagara” Surakarta cetakan yang ke-3 tahun 1957 toko buku “Sadu Budi” Solo (dengan bahasa Jawa Tengahan).
Pada suatu hari Dharmagandul bertanya kepada Klamwadi: demikian: “Asal mulanya itu bagaimana sih, orang Jawa meninggalkan Agama Budha dan masuk Agama Islam? Maka jawab Ki Klamwadi: “saya sendiri juga tidak begitu mengerti, akan tetapi saya sudah pernah diwejang/diberitahu oleh guruku; yang jelas dapat dipercaya tentang ceriteranya, orang Jawa meninggalkan Agama Budha berganti Agama Rasul”. Dharmagandul menyela: lalu bagaimana ceriteranya? Ki Klamwadi menyambung: “masalah itu memang perlu untuk diutarakan agar semua orang mengetahuinya serta memahami, begini kisahnya.
Pada jaman dahulu kala, negara Majapahit itu nama aslinya adalah Majalengka, maka sebutan Majapahit itu adalah nama sindiran/peribahasa, bagi yang belum mengetahui duduk perkaranya dan kisah didalamnya dianggap nama Majapahit itu nama yang sebenarnya padahal bukan di Negara Majalengka yang bertahta sebagai raja terakhir bergelar Prabu Brawijaya yang ke-5. Pada waktu itu Sang Prabu sedang gundah gulana/bimbang karena Sang Prabu beristrikan putri dari Cempa/Indo Cina/Vietnam yang mana putri Cempa tersebut beragama Islam; disaat memadu kasih dengan sang prabu, wanita tersebut selalu membujuk kepada beliau tentang keluhuran Agama Islam dan menguraikannya secara luwes dilakukan terus menerus yang akhirnya sang prabu bersimpati kepada ajaran Agama Islam tersebut.
Pada suatu saat keponakan dari pada Putri Cempa yang bernama Raden Rakhmat datang berkunjung ke Majalengka serta mohon ijin kepada raja, agar diperbolehkan menggelar agama Rasul/Islam; tanpa pikir panjang beliau meluluskan permintaan Sayid Rakhmat, yang walhasil-Sayid Rahmat berdukuh di desa Ngampeldenta wilayah Surabaya. Tak terkisahkan lagi maka banyak orang Jawa yang masuk Islam, terutama para pendatang dari luar sebagian besar para ulama Islam menghadap sang prabu agar dapat bertempat tinggal di bagian pesisir/pantai bagian utara pulau Jawa. Kesemuanya itu diluluskan permintaannya tanpa memperhitungkan apa akibatnya dikemudian kelak. Mereka berkembang secara sporadis makin lama menguasai daerah pantai utara Pulau Jawa.
Konon tersebut nama Sayid Kramat yang menurut pengakuannya adalah masih keturunannya Nabi Mohammad dari Arab yang bercokol di daerah ini pula yang bernama desa Benang daerah Tuban, spontanitas mengangkat dirinya sebagai guru dari orang Islam yang ada di Jawa, wilayah mereka dari Blambangan sampai ke barat di daerah Banten. Agama Budha di Jawa sebenarnya sudah berakar, akan tetapi karena pengaruh mereka dari segi provokasi sangat mendasar, maka dapat mekikas serta mempengaruhinya sehingga misi mereka sangat berhasil.
Kendati agama Budha telah berkembang di Pulau Jawa ± 1000 tahun, dengan pedoman atau hakekat menyembah Budi-Hawa, yang artinya adalah Budi itu zat Hyang Widhi. Hawa itu kehendak, manusia itu tidak dapat berbuat apa-apa, hanya bersifat melaksanakan kodratnya dan budi yang menggerakkan begitulah pedoman bagi orang Jawa yang beragama Budha.