Tampilkan postingan dengan label Cerita Dan Legenda Umat Hindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Dan Legenda Umat Hindu. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juni 2012

Legenda Siwa Lingga


Legenda Siwa Lingga

Legenda Siwa Lingga Legenda Siwa Lingga atau Lingodbhavamurthy adalah sangat terkait dengan Mahashivaratri.  Legenda menceritakan kisah pencarian sia-sia dengan Brahma dan Wisnu untuk menemukan Aadi (permulaan) dan Antha (akhir) Dewa Siwa.  Legenda demikian membuktikan supremasi Tuhan Mahadeva lebih dari Dewa Hindu lain dan menjelaskan mengapa lingam diyakini menjadi salah satu lambang yang paling ampuh dalam cita-cita Hindu.  Kisah ini dinyatakan dalam tiga Purana Kurma Purana, Vayu Purana dan Siwa Purana 
 
The Legend
. Menurut Purana, setelah dua lainnya triad Dewa Hindu, Brahma dan Wisnu yang memperebutkan kecakapan masing-masing.  Ngeri pada intensitas pertempuran, dewa-dewa lain bertanya Siwa untuk campur tangan.  Untuk membuat mereka menyadari kesia-siaan perjuangan mereka, Tuhan Siwa diasumsikan bentuk Lingga menyala di antara Brahma dan Wisnu dan menantang keduanya dengan meminta mereka untuk mengukur Lingga raksasa (simbol phallic Dewa Siwa

Terpesona oleh besarnya, Brahma dan Wisnu memutuskan untuk menemukan salah satu ujung masing-masing untuk mendirikan supremasi atas yang lain.  Bhatara Brahma mengambil bentuk angsa dan pergi ke atas sementara Lord Wisnu diasumsikan bentuk Varaha - babi dan pergi ke bumi terhadap lahan bawah. Kedua mencari ribuan kilometer tetapi tidak dapat menemukan akhir.

Rabu, 06 Juni 2012

Ramalan Sabdo Palon

Ramalan Sabdo Palon

Ramalan Sabdo Palon

( Terjemahan bebas bahasa Indonesia )

1. Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang negara Mojopahit. Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh Punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong.


2. Prabu Brawijaya berkata lemah lembut kepada punakawannya: “Sabda Palon sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu? Lebih baik ikut Islam sekali, sebuah agama suci dan baik.”

3. Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa. Sudah digaris kita harus berpisah.
4. Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Budha lagi (maksudnya Kawruh Budi), saya sebar seluruh tanah Jawa.
5. Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.
6. Lahar tersebut mengalir ke Barat Daya. Baunya tidak sedap. Itulah
pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda (Kawruh Budi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widhi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.

Kumbakarna dan Wibisana

Kumbakarna dan Wibisana

Kumbakarna
Satu cerita tentang kebenaran dan sebuah pilihan, antara kakak beradik Arya Kumbakarna dan Gunawan Wibisana dari kerajaan Alengka. Alkisah pada wiracarita Ramayana, Kumbakarna dan Wibisana ini adalah saudara kandung Rahwana, sang raja Alengka. Masih ada satu orang saudara wanita bernama Sarpakenaka. Rahwana, Kumbakarna dan Sarpakenaka berwujud raksasa sedangkan Wibisana berwujud manusia. Karena pengetahuan dan kebijaksanaannya, Rahwana menjadikan Wibisana sebagai penasihat utama kerajaan.
Suatu hari Rahwana jatuh cinta pada Sinta, permaisuri Rama, raja Ayodya. Dia berusaha dengan segala macam cara untuk mendapatkan Sinta, hingga suatu hari dia menyamar menjadi seekor rusa, menyelinap ke hutan di kerajaan Ayodya dan menculik Sinta. Ia ditaruh di istana milik Wibisana, ditemani oleh Trijatha, putri Wibisana.



Rama yang marah karena istrinya diculik, mengirim Hanoman untuk memata-matai negara Alengka. Ia berhasil masuk dan menemukan Sinta dalam kondisi yang menyedihkan karena merasa tidak bahagia (ya siapa juga yang ditawan malah bahagia). Sebelum kembali ke Ayodya, Hanoman membuat keributan dengan membakar istana Alengka.

Kumbakarna Yang Suka Tidur

Kumbakarna Yang Suka Tidur

Kumbakarna Tertidur
Ada cerita menarik yang terdapat dalam Utara Kanda bagian dari epos Ramayana, Dalam cerita tersebut dikisahkan, Dewi Saraswati  bersemayam secara gaib di lidah Kumbakarna sehingga dunia terhindar dari kekacauan. Alkisah Resi Waisrawa beristri Dewi Kaikaisi. Pasangan Resi ini berputra empat orang, tiga orang laki dan seorang perempuan. Putra sang resi yang pertama bernama Dasa Muka (Rahwana), kedua Kumbakarna, ketiga bernama Dewi Surpanaka dan yang terkecil bernama Gunawan Wibhisana.


Sang Resi menugaskan putra laki-lakinya supaya bertapa di gunung Gokarna. Ketiga putra Resi Waisrawa itu kemudian membangun tempat pertapaan yang terpisah-pisah di gunung Gokarna. Bertahun-tahun mereka bertapa dengan teguh dan tekunnya. Karena ketekunannya itu, lalu Dewa Brahma berkenan memberikan anugrah.

Pertama-tama Dewa Brahma mendatangi Rahwana. Dewa Brahma menanyakan tentang apa yang diharapkan dalam tapanya ini. Rahwama mengajukan permohonan dapat kiranya Dewa Brahma menganugrahkan kekuasaan di seluruh dunia. Semua dewa, gandarwa, manusia dan seluruh makhluk di dunia ini tunduk padanya. Permohonan Rahwana ini dikabulkan.

Kisah Singkat Kelahiran Hanoman

Kisah Singkat Kelahiran Hanoman

Sang Hanoman
Alkisah Hiduplah seorang Raksasha bernama Rahwana. Raksasha itu menjadi sangat sakti karena ia keturunan raja dari para Raksasha dan seorang Rishi yang suci. Bersama saudara-saudaranya dan anak-anaknya ia membuat sebuah kerajaan yang kuat yang bernama Alengka Dirja (Sri Lanka Sekarang), dan siap melebarkan sayap kerajaannya.

Tetapi kekuatan bala pasukannya masih kalah kuat dengan kekuatan Kartavira Arjuna (Arjuna Sasrabhawu), raja dari para manusia yang dikenal sebagai avatara Vishnu bertangan seribu. Selama ada Kartavira Arjuna,
Rahwana tidak bisa berbuat apa-apa.Tetapi peruntungan segera beralih. Kartavira yang ditakuti akhirnya tewas terbunuh oleh Parashu Rama yang notabenenya juga Avatara Vishnu. Maka kini Rahwanaleluasa melebarkan sayap kerajaannya bahkan hingga menyerang kerajaan para dewa!

Kocar-kacir dikalahkan telak oleh para raksasha, para dewa lari ke hadapan Sri Vishnu, memohon agar membantu mereka membinasakan
Rahwana. Vishnu bersedia membantu, asalkan Siwa juga mau membantunya, karena Rahwanaadalah seorang pemuja Siwa. Maka Siwa pun juga bersedia menurun ke dunia membantu penjelmaan Vishnu di dunia. Nah dari sinilah sebenarnya Ramayana dimulai. Begitu juga dengan kelahiran Hanoman bagi sebagian orang.

Sebelum itu, di suatu tempat yang lain, seorang wanita berwujud seekor kera melakukan tapa brata dengan sangat tekun. Dia terus memuja Siwa. Setelah sekian lama, Siwa pun berkenan menunjukkan wujudnya di depan si wanita.

“Aku sangat senang dengan tapasya mu. Aku akan memberkatimu. Katakanlah apa keinginanmu devi?”
 
Dengan spontan si wanita menjawab, “Hamba ingin agar Engkau menjadi anak hamba.” “Maka jadilah demikian”

Alkisah diutuslah Dewa Bayu untuk terbang membawa api. Maka terbanglah Dewa Bayu membawa api itu dan memasukkannya ke rahim si wanita. Maka sesaat kemudian si wanita yang bernama Dewi Anjani, menjadi hamil. Beberapa bulan kemudian, pada purnama di bulan Chaitra (Sekitar pertengan Maret), lahirlah bayi seekor kera putih.

Konon pada saat si bayi lahir, bumi berguncang dengan dahsyatnya. Batu tempat si ibu melahirkan anaknya terbelah menjadi dua. Pada saat si bayi lahir, bayi itu sudah bisa bicara, ia terus berkata, “Lapar... lapar... lapar....”
“Devi, engkaukah ibuku? Katakanlah, dimana aku bisa memperoleh makanan ibu?”
Dijawab oleh Dewi Anjani,  
“Carilah buah-buahan yang berwarna merah menyala di sebelah timur” 

DHARMA GANDUL / KI SABDOPALON


                    DHARMA GANDUL

Kisah Berdirinya Negara Islam di Demak dan Mundurnya/Surutnya Negara Majapahit, serta Duduk Perkaranya Orang Jawa Meninggalkan Agama Ciwa-Budha lalu Memeluk Agama Islam

Disalin ulang oleh Preti-Bunga tahun 2003, teks asli berbahasa Jawa Tengahan. Babon/induk asli peninggalan “K.R.T.Tandanagara” Surakarta cetakan yang ke-3 tahun 1957 toko buku “Sadu Budi” Solo (dengan bahasa Jawa Tengahan).
 
Pada suatu hari Dharmagandul bertanya kepada Klamwadi: demikian: “Asal mulanya itu bagaimana sih, orang Jawa meninggalkan Agama Budha dan masuk Agama Islam? Maka jawab Ki Klamwadi: “saya sendiri juga tidak begitu mengerti, akan tetapi saya sudah pernah diwejang/diberitahu oleh guruku; yang jelas dapat dipercaya tentang ceriteranya, orang Jawa meninggalkan Agama Budha berganti Agama Rasul”. Dharmagandul menyela: lalu bagaimana ceriteranya? Ki Klamwadi menyambung: “masalah itu memang perlu untuk diutarakan agar semua orang mengetahuinya serta memahami, begini kisahnya.

Pada jaman dahulu kala, negara Majapahit itu nama aslinya adalah Majalengka, maka sebutan Majapahit itu adalah nama sindiran/peribahasa, bagi yang belum mengetahui duduk perkaranya dan kisah didalamnya dianggap nama Majapahit itu nama yang sebenarnya padahal bukan di Negara Majalengka yang bertahta sebagai raja terakhir bergelar Prabu Brawijaya yang ke-5. Pada waktu itu Sang Prabu sedang gundah gulana/bimbang karena Sang Prabu beristrikan putri dari Cempa/Indo Cina/Vietnam yang mana putri Cempa tersebut beragama Islam; disaat memadu kasih dengan sang prabu, wanita tersebut selalu membujuk kepada beliau tentang keluhuran Agama Islam dan menguraikannya secara luwes dilakukan terus menerus yang akhirnya sang prabu bersimpati kepada ajaran Agama Islam tersebut.

Pada suatu saat keponakan dari pada Putri Cempa yang bernama Raden Rakhmat datang berkunjung ke Majalengka serta mohon ijin kepada raja, agar diperbolehkan menggelar agama Rasul/Islam; tanpa pikir panjang beliau meluluskan permintaan Sayid Rakhmat, yang walhasil-Sayid Rahmat berdukuh di desa Ngampeldenta wilayah Surabaya. Tak terkisahkan lagi maka banyak orang Jawa yang masuk Islam, terutama para pendatang dari luar sebagian besar para ulama Islam menghadap sang prabu agar dapat bertempat tinggal di bagian pesisir/pantai bagian utara pulau Jawa. Kesemuanya itu diluluskan permintaannya tanpa memperhitungkan apa akibatnya dikemudian kelak. Mereka berkembang secara sporadis makin lama menguasai daerah pantai utara Pulau Jawa.

Konon tersebut nama Sayid Kramat yang menurut pengakuannya adalah masih keturunannya Nabi Mohammad dari Arab yang bercokol di daerah ini pula yang bernama desa Benang daerah Tuban, spontanitas mengangkat dirinya sebagai guru dari orang Islam yang ada di Jawa, wilayah mereka dari Blambangan sampai ke barat di daerah Banten. Agama Budha di Jawa sebenarnya sudah berakar, akan tetapi karena pengaruh mereka dari segi provokasi sangat mendasar, maka dapat mekikas serta mempengaruhinya sehingga misi mereka sangat berhasil.

Kendati agama Budha telah berkembang di Pulau Jawa ± 1000 tahun, dengan pedoman atau hakekat menyembah Budi-Hawa, yang artinya adalah Budi itu zat Hyang Widhi. Hawa itu kehendak, manusia itu tidak dapat berbuat apa-apa, hanya bersifat melaksanakan kodratnya dan budi yang menggerakkan begitulah pedoman bagi orang Jawa yang beragama Budha.

Kisah Singkat Dewa Ruci dan Sang Bima

Kisah Singkat Dewa Ruci dan Sang Bima

Dewa Ruci dan Bima
Cerita ini terjadi saat Pandhawa bersama saudara-saudara sepupunya  Kurawa, yangsedang bersama sama menimba ilmu pada guru yang sama yakni Resi Durna atau Kumbayana. Kurawa yang amat menyadari bahwa tahta kerajaan Astina yang saat itu diduduki ayah mereka, Destrarastra, adalah sekadar titipan dari ayah Pandhawa, Pandu Dewanata yang mati muda. Kalaulah nanti Pandhawa telah dewasa, tahta itu harus dikembalikan kepada mereka. Dan para saudara Kurawa yang berjumlah seratus itu, bakal lontang-lantung jadi preman. Karena itu, sejak awal, Kurawa dengan berbagai jalan berusaha keras untuk melenyapkan Pandhawa,
halus ataupun kasar. Sebenarnya juga para Kurawa yang muda, berangasan  dan pendek akal itu tidak mampu merancang tindakan, tanpa bantuan sang pemikir, Harya Sangkuni, atau Arya Suman, adik ibunya Gendari, yang diangkat jadi Patih kerajaan Astina . Wajar saja, sang Paman juga sangat berkepentingan akan kelangsungan kekuasaan keponakannya. Kalau saja Pandhawa dapat menguasai kerajaan, maka ia tidak akan mendapat jatah di dalam kerajaan. Dengan akal jenius, Patih Sangkuni berhasil membujuk Resi Durna untuk membantu program Kurawa itu. Melenyapkan Pandhawa! Sasaran utamanya adalah Raden Wrekudara alias Arya Bimasena dan Raden Janaka alias Harjuna, 2 orang Pandhawa yang kesaktiannya menyundul langit itu. Kalau bima dan arjuna sudah tersingkirkan, maka yang lainnya akan dianggap remeh saja. Untuk saat ini, skala prioritasnya adalah Sang Bimasena, yang punya posisi strategis di Pandhawa, sebagai Palang Pintu.


Sang Bima yang memang sudah menyelesaikan sesi latihan ragawinya kemudian diutus sang Guru Resi Durna untuk mencari “Tirta Prawitasari”, air kehidupan, guna menyucikan bathinnya demi kesempurnaan hidupnya. Tirta itu, harus dicari di hutan Tibaksara di gunung Reksamuka. Ketika menghadap ibunya, Dewi Kunthi, saudara-saudaranya yang lain mengingatkan bahwa mungkin ini hanya jebakan Sangkuni  Karena hutan itu sudah terkenal sebagai  “alas gung liwang liwung, sato mara, sato mati” (hutan raya tak tertembus, mahluk yang mencoba masuk 99,99% akan mati).


Tapi Bima berambisius, perintah Guru tidak mungkin ditolaknya meskipun karena itu dia harus menyerahkan jiwanya. Melihat keteguhan hati anaknya, sang Ibu akhirnya merestuinya. Sang Bima pun akhirnya berangkat menjalankan tugas gurunya. Seluruh hutan sudah dijelajahinya, tapi yang dicari tak ada, malah membangunkan 2 raksasa penunggu hutan Rukmuka dan Rukmakala yang lagi enak-enak tidur. Perkelahian segera terjadi dan 2 raksasa itu terbunuh oleh Sang Bima. Menyadari bahwa yang dicarinya tidak ada, Sang Bima kembali menghadap gurunya. Gurunya yang semula kaget, mengapa Sang Bima bisa keluar hidup-hidup dari hutan Tibaksara itu, lalu menyuruh untuk melakukan yang lebih sulit. Tirta Prawitasari itu harus dicari di kedalaman lautan! Tanpa banyak bertanya apalagi meragukan perintah sang Guru, Sang Bimasena pun langsung berangkat.


Cerita Kebo Iwa

Cerita Kebo Iwa

Patung Patih Kebo Iwa
Di desa Bedahulu wilayah kabupaten Tabanan, Bali pada zaman dahulu, hiduplah sepasang suami istri. Mereka kaya, hanya  saja mereka belum mempunyai anak. Bagi penduduk Bali pada masa itu, manusia yang belum mempunyai keturunan adalah manusia yang siasia hidupnya.


Suatu hari mereka pergi ke Pura Desa. Mereka memohon kepada Yang Maha Kuasa agar diberi keturunan.  Ki Patih Kebo Iwa adalah keturunan Arya Karang Buncing di Blah Batuh-Gianyar yang lahir dari padipaan disaat sira Arya Karang Buncing memohonketurunan dihadapan Hyang Penguasa Alam Semesta,  begitu lahir sudah mampu makan ketupat kelan ( 6 biji ) setelah dewasa Ki Kebo Iwa mempunyai tubuh yang sangat besar dan kekar diluar ukuran orang biasa ( +_7 M ) dan memiliki kesaktian yang
dimiliki dibawa dari lahir, kesaktian dan kekuatan tiada yang menyamai diseantero jagat. Setiap hari anak itu makan makin banyak dan makin banyak.


Anak itu tumbuh menjadi orang dewasa yang tinggi besar. Karena itu ia dipanggil dengan nama Kebo Iwa, yang artinya paman kerbau. Kebo Iwa makan dan makan terus dengan rakus. Lama-lama habislah harta orang tuanya untuk memenuhi selera makannya. Mereka pun tak lagi sanggup memberi makan anaknya. Dengan berat hati mereka meminta bantuan desa. Sejak itulah segala kebutuhan makan Kebo Iwa ditanggung desa. Penduduk desa kemudian membangun rumah yang sangat besar untuk Kebo Iwa. Mereka pun memasak makanan yang sangat banyak untuknya. Tapi lama-lama penduduk merasa tidak sanggup untuk menyediakan makanan. Kemudian mereka meminta Kebo Iwa untuk memasak sendiri. Mereka cuma menyediakan bahan mentahnya. Bahan-bahan pangan tersebut diolah oleh Kebo Iwa di Pantai Payan, yang bersebelahan dengan Pantai Soka.Danau Beratan merupakan tempat dimana , Kebo Iwa biasanya membersihkan, walaupun jaraknya cukup jauh namun dengan tubuh besarnya jarak tidak menjadi masalah baginya, dia bisa mencapai setiap tempat yang diinginkannya di wilayah Bali dengan waktu singkat.

Kebo Iwa memang serba besar. Jangkauan kakinya sangat lebar, sehingga ia dapat bepergian dengan cepat. Kalau ia ingin minum, Kebo Iwa tinggal menusukkan telunjuknya ke tanah. Sehingga terjadilah sumur kecil yang mengeluarkan air.

Walaupun terlahir dengan tubuh besar, namun Kebo Iwa adalah seorang pemuda dengan hati yang lurus. Suatu ketika dalam perjalanannya pulang dariDanau beratan, Tampak segerombolan orang dewasa yang tidak berhati lurus, Dari kejauhan para warga desa merasa sangat cemas. Tampak seorang dari mereka tersita perhatiannya pada seorang gadis cantik. Laki-laki itu menggoda gadis ini dengan kasar, gadis ini menjadi takut dan enggan berbicara. Laki-laki itu semakin bernafsu dan tangan-tangannya mulai melakukan tindakan yang tidak senonoh. Tiba-tiba Kebo Iwa muncul di belakang gerombolan tersebut, mencengkeram tangan salah seorang dari mereka, nampak kegeraman terpancar dari wajahnya, laki-laki itu menjerit kesakitan, gerombolan itu sangat terkejut melihat Kebo Iwa yang begitu besar, ketakutan nampak dari raut muka gerombolan tersebut. Gerombolan tersebut lari tunggang langgang.
Demikianlah Kebo Iwa membalas jasa baik para warga desanya dengan menjaga keamanan di mana dia tinggal. Tubuh yang besar sebagai karunia dari Sang Hyang Widi dimanfaatkan dengan sangat baik dan benar oleh Kebo Iwa.