Tampilkan postingan dengan label Terjemahan Lontar Usada Bali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terjemahan Lontar Usada Bali. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Juni 2013

LONTAR PURWO BUMI KAMULAN


LONTAR TATTWA PURWA BUMI KAMULAN

Purwa Bhumi Kamulan termasuk kelompok lontar Tattwa.

Lontar ini berisi ajaran tentang penciptaan dunia yang diuraikan secara mitologis. Seluruhajarannya bersifat Siwaistik. Pokok-pokok ajarannya sebagai berikut :oBhatara Bhatari adalah dua sumber kekuatan yang mula-mula ada. Darikekuatan yoga Bhatari terciptalah Dewata, Panca Resi, dan Sapta Resisebagai isinya dunia.o Pada tahap berikutnya barulah diciptakandunia. Gangga tercipta dari cucuran keringat. Samudra tercipta darigaram yang keluar dari badan. Prathiwi tercipta darigaram yangkeluar dari badan. Selanjutnya Sanghyang Dharma menciptakan"Mahapadma", Matahari, Bulan, Panca mahabutha dan Catur Pramana.oSetelah itu, Bhatari Uma merubah wujudnya sebagai Durga. Bulu-bulubadannya diciptakan sebagai Kala sumber kejahatan didunia. Dengankekuatan yoganya, Durga menciptakan semua isi samudra (ikan dsb.nya).oBhatari Guru kemudian turun ke bumi sebagai Bhatara Kala karenatertarik oleh kekuatan pandang Bhatari Durga. Dan dengan kekuatanyoganya Bhatara Kala menciptakan Kala. Manusia adalah santapan BhataraKala. Manusia yang disantap adalah :o Orang yang lahir pada wuku carik (wuku wayang).o Kadana Kadani (kembar siam)o Bersaudara Limao Tunggak Wareng (tus tunggal)o Unting-unting (?)o Uduh-uduh rare bajang (?)oSelanjutnya Bhatara Kala turun ke dunia membuat tempat pemujaan. Begitupula Brahma, Wisnu dan Iswara diperintahkan turun ke dunia. Brahmasebagai Brahmana. Wisnu sebagai Bhujangga. Iswara sebagai Resi.oBrahmana, Bhujangga dan Resi diberi tugas oleh Bhatara Kalamenghaturkan sesaji kepada dirinya dan Bhatari Durga dan meruwatsepuluh jenis kekotoran (manusia).o Itulah permulaan manusia memujaTuhan. Bhatara Kala dan Bhatari Durga tidak lagi menyantap manusia.Rupanya yang mengerikan kembali seperti semula sebagai Guru dan Uma,kembali ke Siwapada.

TERJEMAHAN

Om, Purwa Bhumi Kamulan (awal mula dunia).Yang Mulia Bhatari Uma, lahir dari pergelangan kaki Bhatara Guru.

Mula-mulayang ada adalah Bhatari, sebagai permaisuri Bhatara . BeryogalahBhatara dan beryoga pula Bhatari. Lahirlah para dewata, panca resi,sapta resi; Kosika, Sang Garga, Maitri, Kurusya, Sang Pratanjala Kosikapandai dalam hal padyargha, (dankemudian) dikutuk oleh Bhatara; Sanghyang Kosika lahir dari kulit. (Kemudian)Sang Garga lahir dari daging. Sang Maitri lahir dari otot. Sanghyang Kurusyalahir dari tulang. Sang Pratanjala lahir dari sumsum. Maka lengkaplah isinyadunia (Bhuwana), sebab telah diisi. Kemudian Bhatara dan Bhatari disuruhmembuat dunia, kemudian ia dinobatkan dan namanya sangat terkenal, dan kemudiandi kutuk oleh Bhatara.

Kosikapergi ke timur, berubah menjadi dengen. Sang Garga pergi ke selatan ,berubah menjadi harimau. Sang Maitri pergi ke barat berubah menjadiular. Kurusyapergi ke utara berubah menjadi buaya. Pratanjala pergi ke tengah , berubahmenjadikura-kura besar. Sang Pratanjala diutus turun membuat dunia. Berjalandengan tanpa teman, (karena) diutus oleh Bhatari (Uma), maka turunlahSang Pratanjala. Lalu menyembah dan mohon diri (ke hadapan) Bhatara danBhatari. Berdirilah ia di antara langit yang kosong. Tidak ada sesuatuyang tampak, tidak ada sesuatu yang bersuara. Maka pikiran Bhatarimenjadi hening, lalu mengeluarkan mentra-mentra untuk menciptakandunia, beserta isinya dunia, bersama dengan sang Pratanjala.

Keringatmengalir dengan deras membasahi badan. Kemudian jatuh menimpa Bhatari(Gangga), maka keluarlah Bhatari Gangga. Pada awal mulanya ketika itu,keringat Bhatari mengering, maka keluarlah garam dari badan yangrasanya sepat dan asin, jatuh menimpa Bhatari Gangga, lalu kelurlahBhatari Samudra; dilihatnyabadan Bhatari, keluarlah tanah dari badan, jatuh menimpa Bhatari Samudra,(maka) keluarlah Bhatari Prthiwi; (kemudian) dataran bumi menjadi melebar,berpayungkan hamparan langit yang lebar. Padaawal mulanya ketika itu, beliaukembali beryoga, mengucapkan mentra untuk membuat dunia.Dari yoga Sanghyang Dharma, keluarlah maha-padma, sebagai pelengkap dunia.Kemudian keluarlah matahari dan bulan sebagai penerang dunia; keluar gugusanbintang-bintang, sebagai hiasan pada dunia. (Kemudian) keluar Panca MahaBhuta,sebagai jiwanya dunia; (kemudian) keluar catur pramana (antara lain) apah,teja, bayu dan akasa. (Sehingga) jiwa anda bhuwana menjadi lengkap dan kuat;dan sekarang ketiga dunia (menjadi sempurna), oleh yoga beliau. Dipandanglah BhatariUma, setiap yang disentuh oleh Bhatari, ada putih, ada merah, ada kuning danada yang hitam.

Kamis, 07 Juni 2012

Lontar Usada Kurantobolong

 

                               Lontar Usada Kurantobolong


 


Halaman 1b 

Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai Siwa, semoga kami tidak menemukan rintangan. Inilah yang dinamakan Usada Kurantobolong, yakni tentang pengobatan bayi (anak-anak), berkat anugrah Bhatara Wisnu, yang demikian sangat ampuhnya, dalam menciptakan kesejahteraan dunia, yang bisa menyelamatkan bayi (anak-anak), dan dapat menyebabkan umur panjang, terhindar dari penyakit, dan kematian. Caranya adalah berwaspadalah dalam menangani pengobatan bayi (anak-anak). Inilah yang dinamakan dharma bakti bagi seorang dukun dalam mengobati bayi (anak-anak). Sarana obat untuk bayi menderita sakit nguwus terdiri atas daun canging yang di tengah-tengah 11 lembar, alang-alang 11 lembar, diramu dengan bawang dan adas, dipakai pupuk

 
Halaman 2a 

untuk menutupi ubun-ubun bayi. Adapun sarana untuk bedak tubuhnya terdiri atas daun canging yang di tengah-tengah 7 lembar, alang-alang 7 lembar, diramu dengan adas 7 biji. Sarana obat sakit nguwus, terdiri atas daun sirih tua dan daun temurose 3 lembar, diberi tulisan gaib Ang Ung Mang, lalu dipakai menutup ubun-ubun pasien dan dipakai bedak. Sarana obat untuk bayi menderita nguwus, terdiri atas daun canging yang di tengah-tengah 3 lembar, kencur jantan 3 iris, alang-alang 3 lembar, ditumbuk hingga hancur, dipakai obat tetes. Sarana obat untuk bayi menderita sakit bolong, terdiri atas kulit tribulus, kepiting batu jantan, jamur kuning, daun kangkang yuyu 7 lembar, semua sarana itu dibakar, abunya diambil, ditorehkan berbentuk tanda tambah pada bagian tubuh yang bocor. Sarana obat

 
Halaman 2b 

pengunci untuk anak-anak menderita sakit nguwus, terdiri atas tunas pohon nagasari, sulatri, dan camplung masing-masing 7 lembar; sularih merik dan alang-alang masing-masing 9 lembar, diramu dengan klabet 9 biji, dipakai menutup ubun-ubun pasien. Adapun sarana obat untuk pupuk dan bedak dahi terdiri atas tunas nagasari, sulatri, kecapi, dan emben canging diramu dengan klabet 11 biji. Sarana untuk bedak tubuh terdiri atas serpihan kulit pohon dedap yang masih muda dan gamongan kedis. Sarana obat bedak kaki terdiri atas buah sirih dan mesui. Sarana obat untuk bayi menderita sakit kasaban, gerah dan sawan, terdiri atas tunas uku-uku 3 batang, diramu untuk obat tetes mata pasien. Dan

Lontar Usada Pamugpug




                              Lontar Usada Pamugpug 


Halaman 1b 

Semoga tiada halangan Ini adalah " Pamungkah Bhatara Guru". Media atau sarananya berupa: air tawar yang bening dimasukkan ke dalam tempayan (jun ) dari tanah liat, rajangan daun kemoning, satu buah sajen sesantun yang lengkap, yaitu berupa: beras satu liter, sebutir telur itik, sebutir buah kelapa yang dikupas bersih, kemiri, pangi, sebutir buah pisang, sirih yang telah ditata/ base tampen, pancha phala, bija ratus, benang putih satu gulung kecil, dan buah pinang beserta uang kepeng sebanyak 1700 kepeng. Japa mantranya: " Iki pamungkah Bhatara Guru, saking swargan, pinaraga aku Sang Empu Pradhah, ingiring aku dening Cambra Brag, sakti wisesa, Cambra Brag layahnya rengreng, iniring dening sona satus wulu, blang huyang muser gantung, mapuyang-puyangan, ring hangkon-hangkon, nguniweh blang kuning wlengker, sukunya huyang-huyangan, ki tampak meles arane, nguniweh kiptaka sapta arane layahmu bebed, yan tukar pancasona sakti iki iniring dening babekelan, pancasona padha sapulung, panca ambek lin tigang likur, kari ajeng si pancasona sakti, aken amburu bhuta amburu dengen, amburu wong andesti, anluh asnranjana

Halaman 2a 

amburu wong amasang papendemen, acep-acepan, umik-umikan, sasawangan, angadakaken panes bhara, rarajahan, ya ngko padha binuru, dening sona satus wulu, manglup alesu tan pagalih. Tan kawasa tumindaka, dungkut sukumu, kukuh tanganmu, bga cangkemmu, beseh atinmu, sawdhang kitanmu, bingung karepmu, sidha punah papaksanmu, waya kita blas, kita tan paksa, i leyak katon dene padha-padha nmu janma, tan kawasa kita masiluman, wus waya nama swaha. Ong sarining puja ya namah, amatenin desti tluh taranjana, amatenin palwasan hili-hili. Ong Gangga Saraswati ya namah. Ong Sadhasiwa ya namah, tutur jati ya namah, sawanekang namah, buru bhuta putih, kala-kali, yaksa-yaksi, pamala-pamali, sampulung.

Halaman 2b 

Darah, si kundala si kundali, mwah sakwehing dngen preksa kabeh padha ingiring dening sona satus walu, bengbeng balanira, I Rangdeng Jirah, Ni Calon Arang, Ni Calon Kuning, Ni Balung Kuning. I Macan Angreng, Ni Lenda, Ni Lendi, Ki Balung Kurung, Ni Buta Cremi, Ni Bhuta angadang-adang ring dalan agung, Ni Mahisa Wdhana, padha ngeb tan kawasa tumindakaken sukune, tangane tan kawasa lumimbeyan, socane tan kwasa tuminghal, karnane tan kawasa angrenga, irunge tan kawasa angungas, cangkeme tan kawasa angucap, tan pakarika mayawakta, lesu lipya lumah atinmu tan pangen-angena, uwug layahmu, bhaddisu tuli, kadi tunggak padhamu. Ong Sijabhahi, tan kwasa kita maranin, apan ko anuh desti, anluh awakmu dewek, anranjana awakmu

Lontar Usada Kacacar




                                  Lontar Usada Kacacar


Pengantar dan pembukaan 
 
Halaman 1b 

Mudah-mudahan tiada rintangan. Ini kurban sering kematian, sarana upakaranya, satu buah panjang ilang, 11 butir telur, 11 buah kewangen, satu buah daksina, disertai perlengkapannya, diisi uang kepeng sesuai bilangan utama bagi kaum sudra sebanyak 1700 kepeng disertai mantra sebagai berikut, bhuktyantu bhuta kalara, bhuktyantu pisaca wicitram, bhuktyantusarwa bhuta kala nama swaha, pukulun sang bhuta karimpus, iti tadhah sajinira, panjangilang, ajak rowang ira kabeh, wus ira amukti caru, mantuk sira ring kayanganira swang-swang, ong durgga ya nama swaha . Ini tentang pertolongan seorang dukun kepada seorang penderita sakit kecacar, bila si penderita diperkirakan akan menemui ajalnya, agar segera dibuatkan upacara penebusan berupa upakara uang sebanyak 118 kepeng. Uang tersebut ditempatkan pada sebuah tamas, disertai samsam daun


Halaman 2a 

temen, daun dapdap, serta beras berwarna lima macam, kemudian disaat menaburkan dilakukan seperti menabur sakarura, dilakukan berputar ke kiri sebanyak 3 kali, disertai mantra sebagai berikut; dhuh sira bhtara kala, dhuh nini bhagawan gayatri, haywa wineh wadwanira angrusuhin tatepetaningsun apan ingsun madana-dana artha, ring sarwwa bhuta bhumi, mwang ingsun tan lampetan ring margga agung, den sang bhuta lampet jalan, tananang ngringin, Ong sarwwa bhuta ya nama swaha. Ini kurban orang sakit kacacar, bila penyakitnya keras dikira akan menjumpai kematian, upakaranya, 1 buah tumpeng brumbun, dialasi dengan daun andong merah, dialasi dengan sengkwi yang berekor, diisi seekor daging ayam brumbun, dibelah dari punggungnya, isi jajeronnya masih utuh, hanya dibelah dalam keadaan masih mentah, disertai ketupat sidapurna, diisi telur bakasem 1 butir,

 
Halaman 2b 

serta 11 buah kewangen, yang 3 buah diisi uang jepun masing-masing 1 kepeng, yang delapan buah lagi diisi uang kepeng yang biasa saja, serta canang gantal, canang, rokok, serta canang lengawangi buratwangi, panyeneng, tulung, pras, dan satu buah daksina dengan perlengkapan secukupnya, kurban tersebut diisi uang kepeng sebanyak 175 kepeng, ketupatnya diisi uang 33 kepeng, canangnya diisi uang 11 kepeng, masing-masing 3 tanding (buah), daksina tersebut diisi uang 225 kepeng, dipersembahkan kepada panghulun kuburan, disanalah memohon keselamatan hidup, setelah selesai dipersembahkan, kurban tersebut diperuntukan orang yang sakit, daksina tersebut ditaruh diatas tempat tidurnya, setelah selesai dipersembahkan lalu kurban itu dibuang di perempatan jalan raya, demikian pula bila ada orang sakit kecacar, bila tubuhnya sedikit panas, serta denyut jantungnya kadang-kadang cepat dan kadang-kadang lemah,

Lontar Usada Tiwang


                                 Lontar Usada Tiwang


Halaman 1b 

Ya Tuhan semoga tiada rintangan. Beginilah akibat kematian yang timbul bagi orang sakit, sembilan hari tenggang waktunya, sembilan bulan lamanya, sembilan tahun lamanya pada bulan Sakara kematiannya. Bila pada sakara datangnya sakit, delapan hari tenggang waktunya, delapan bulan lamanya, delapan tahun lamanya, pada bulan Wiyanyana kematiannya. Bila Wiyanyana datangnya sakit, lima hari tenggang waktunya, lima bulan lamanya, enam tahun lamanya pada Namarupa kematiannya. Bila pada Sadayatama datangnya sakit, lima hari tenggang waktunya, lima bulan lamanya, lima tahun lamanya, pada Sparsa kematiannya. Bila pada waktu Sparsa datangnya sakit, enam hari tenggang waktunya, lima hari lamanya, delapn tahun lamanya, pada Wedana kematiannya. Bila pada Wedana datangnya sakit, dua hari tenggang waktunya, sepuluh hari lamanya, dua bulan lamanya, delapan bulan lamanya, delapan tahun lamanya

 
Halaman 2a 

pada Tresna kematiannya, bila Tresna datangnya sakit, sepuluh hari tenggang waktunya, tiga bulan lamanya, empat bulan lamanya, delapan tahun lamanya, pada Upadana kematiannya, bila pada Upadana datangnya sakit, sembilan hari tenggang waktunya, dua bulan lamanya, sembilan tahun batas waktunya, pada Sparsa kematiannya. Bila pada Bhawa datangnya sakit, satu hari lamanya, delapan bulan lamanya, sembilan tahun batas waktunya, pada Jati kematiannya. Bila pada Jati datangnya sakit, lima hari lamanya, sembilan bulan lamanya, sepuluh tahun batas watunya pada Janamerana kematiannya. Bila pada Janamerana datangnya sakit, dua hari lamanya, sembilan bulan lamanya, pada Awidya kematiannya. Ini disebut dengan Prathithi Samut Pada , pada bulan ke-6, disebut Awidya , pada bulan ke-5 disebut Janamerana , Pada bulan ke-4 disebut Jati, pada bulan ke-3 disebut Bhawa , pada bulan ke-2 disebut Upadana , pada bulan ke-1 disebut Tresna , Saddha disebut Wedana . Bulan Destha

 
Halaman 2b 

disebut Sparsa , bulan ke-10, disebut Sadayatana , bulan ke-9 disebut Namarupa , bulan ke-8 disebut Wiyanyana , bulan ke-7 disebut Sakara disesuaikan pada bulan terang hari pertama. Ini adalah akibat pengaruh prathithi , sebagai berikut, bila menuju bulan terang pada hari, 1, 8, 15, 8, 9, 1. Bila menuju bulan mati pada hari, 3, 13, 4, 15, gerakannya kebelakang. Bhawa, Upadana, Tresna, Wedana, Sparsa, Sadayatana, Namarupa, Wiyanyana, Sakara, Awidya yang tersebut diatas dan bedaknya. Pada hari minggu penyakit pandangan hampa yang timbul, disebut Samaya lake Kabuyutan , bedaknya, bunga waluh tekta , akar paspasan , pangkal kasa, beras putih, bawang, digiling sampai lembut, dan lumuri. Hari senen, datangnya sakit, aliran darah tak lancar dia sakit akibat janji, kena kutukan , bedaknya, air kasimbukan, akar ilalang,

Lontar Usada Dalem




                                 Lontar Usada Dalem 


Halaman 1b 

Ya Tuhan Semoga terhindar dari segala rintangan. Tanda- tanda kematian pada orang yang akan meninggal, ini Wariga Dalem , (bersumber) dari pengetahuan sejati, tersebut sejak semula dalam tubuh manusia terdapat kandungan alam semesta, sebab sumber penyakit senantiasa melekat, setelah Sanghyang Atma meninggalkan badan baru dia akan pergi. Dan lagi jika sudah merasakan dan memahami tanda-tanda (tentang) penyakit , itu hendaknya diketahui oleh manusia. Ini di antaranya ilmu tentang pengobatan. Inilah tanda-tanda tentang penyakit, di antaranya, jika nafas hampir meninggalkan raga, upas tahunan menyakiti, sarana, buah jeruk, gula, isinrong (rempah-rempah), dilumat, airnya diminum. Jika kukunya (tampak) kuning, krikan gangsa , (sumber) penyakitnya, sarana,

 
Halaman 2a 

air kencing bebek, kunyit warangan , di minum. Jika matanya kuning kemerah-merahan, upas dewek yang menyakiti, sarana, kulit mangga hijau, asam yang direbus, air bayam puring , diminum. Jika mata kukunya tampak kemerahan, upas Hyang yang menyakiti, sarana, akar paku nasi, adas, bawang yang dipanggang, diminum. Mata merah, seakan hendak keluar, senantiasa gelisah, pelipis mata bagai ditusuk, kuku (tampak) biru, racun yang menyebabkan, hendaknya diobati. Gigi goyah dan gatal, itu terkena racun warangan , dikumur dengan air hangat, menggigil kedinginan, dan batuk

 
Halaman 2b 

yang terus menerus, terkena raratus (campuran racun), sarana, daun kembang sepatu putih termasuk akar, daun dan kulitnya, diminum, dimantrai dengan mantra penawar, borehnya daun ketepeng, ditetesi boreh dahuti , kasisat putih, sari kuning, klembak, kasturi , teteskan, jika pergelangan tangannya terasa gemetar, itu terkena c\'ebtik (racun), teteskan, hendaknya diobati. Jika terkena c\'ebtik (racun) upasmat , sarana, cendana digosokkan pada dulang, tahi \'f1lati (sari-sari tanah), kulit pohon bengkel , kulit pohon kendal , semua dipanggang tanpa dibalik, dilumatkan, air saringan airnya, diminum, mantra , ong hayu gumi, kewu hana janma manusa,

Lontar Usada Cukildaki


                                 Lontar Usada Cukildaki


Halaman 1b 

Ya Tuhan semoga tiada halangan, semoga tujuan tercapai. Inilah mantra untuk segala jenis caru (kurban), mantra, Om dew\f1\'e2\'a1rcana upatyante,\'e2\'a8\'a1sttia \u283?r\'a8\'a7pti narante, bho\'e2an\'a8\'a1 la\'eesan\'a8\'a9ti\'eeyukt\'a8\'a9, Ong ngka\'e2a \'e2ew\'a8\'a1 t\'ee\'a1rpapan\'a8\'a9. Bhukti\'e2ni suksm\'a8\'a1 karani, antiasti purus\'e2 mantri\f2\'aaiw\f1\'e2\'a1 am\u283?\'a8\'a7ti, sannggara dharma laksa\f0 , selesai, dan mantra untuk kurban, semua golongan mahluk halus , mantra, Ong bhuktiantu durgga katari, bhuktiantu kala mocani, bhuktiantu pisaco waci, bhuktiantu sarwa bhutani. Om durgg\f1\'e2 loke bhoktu yen\'e2mah, kala loke bhokta yen\'e2mah, pisac\'e2 loke bhokta yen\'e2mah\f0 , selesai. Ini sakit yang tidak berhasil disembuhkan dengan obat, agar dibuatkan kurban, dengan sarana batang tumbuhan yang merambat, memakai alas daun andong, sampian yang bahannya dari daun andong, sebut nama bhuta bhanaspati , melaksanakan kurban di halaman rumah. Ini hendaknya diketahui bila orang terserang penyakit, pada waktu musim wabah penyakit, karena para dewa ba-


Halaman 2a 

nyak yang melepaskan mahluk halus, ada kurban penangkal, bila sakit badan gemetar kedinginan, barong rentet yang membencanai, buatkan kurban nasi segenggam, disertai dengan telor mentah, kibaskan ke arah penderita. Lagi bila terserang sakit desentri, barong macan yang membencanai, buatkan kurban, nasi segenggam, berisi bagian rongga perut babi yang mentah, kibaskan ke arah penderita. Bila menderita sakit perut, sang kebo yang membencanai, dibuatkan kurban nasi tlompokan , diisi dengan bagian rongga perut babi yang mentah, disertai dengan campuran lima macam palawija, karena kurban untuk mengusir penyakit, disertai dengan mantra penolak bencana, dan mantra segala penangkal, hendaknya waspada. Inilah upacara kurban bagi orang sakit, yaitu, satu biji tumpeng, diberi alas nasi yang diberi warna, disertai dengan buah-buahan, diisi dengan bermacam-macam (binatang) yang berbisa, disertai dengan sesajen ( canang ), tiga porsi, diisi, dupa, disertai dengan ucapan mantra, penjaga jiwa, tempatkan pada bagian kaki penderita, bila belum saatnya meninggal, akan segera dapat berbicara dan menjadi sembuh. Ada lagi

 
Halaman 2b 

cara perlakuan terhadap orang yang menderita sakit bertahun-tahun, sulit sembuh, buatkan kurban ayam brumbun (merah), sasayut pangambeyan , diisi pras panyeneng , dan buah-buahan, karena sakit sangat keras, tenangkan dengan ucapan mantra, jika sudah pulih, baru kemudian diberi obat. Inilah kurban bagi orang terkena bebai (roh jahat yang menyebabkan orang menjadi gila), juga terkena penyakit, bhicari , akan sembuh olehnya, kurban persembahan berupa tumpeng tiga biji, merah hitam kuning, diberi alas nasi berwarna, diisi dengan telur yang hampir menetas, beralaskan kulit sasayut , buah-buahan dan geti-geti. Inilah pembuat dukun agar ampuh, perlengkapan sesajennya beras, tiga genggam, tiga jemput, kelapa, sebiji, sesisir pisang, satu biji gula merah, pada saat memuja memegang linting (api dengan sumbu dari kapas dan diberi tangkai), minyaknya harum, setelah mengucapkan mantra, si sakit diobori, sebanyak tiga kali, kurban persembahan itu kemudian dibuang di jalan simpang tiga, jangan menoleh. Juga kurban persembahan untuk penolak sakit, sasayut , tumpeng satu biji, dialasi dengan kulit sasayut , berisi buah-buahan

Lontar Usada Buduh


                               Lontar Usada Buduh


Halaman 1b 

Ini pengetahuan segala penyakit gila. Obat segala macam penyakit gila, sarana. Air putih yang baru, bunga kamboja, 11 biji beras galih (beras yang tidak patah), peras dan masukkan ke dalam sibuh ( bagian dari tempurung kelapa kecil), setelah dipuja, dipercikkan, diraupkan, dan diminum 3 kali, sisanya usapkan pada orang yang sakit. Pada saat membacakan mantranya, mata tertuju ke air itu, pujalah Sang Hyang Tiga, satukan rwa bhineda (dualistis) itu, di ujung grananta (hidung), dengan sungguh-sungguh, jika terlihat terang seperti awun-awun namanya, luruskan dengan pasti, pertaruhkan tenaga kita. Namanya. Demikianlah keadaannya, mantra: Ih Babu Kamulan ingsun anyaluk tetamban lara edan, babune si anu maor usuasa, karusakena panone si anu salah oton, pangelipur ring ati, muwaras, 3, sidi mandi sapanku maring si anu, muwaras.

 
Halaman 2a 

Obat penyakit orang gila dengan ciri bernyanyi-nyanyi dan menyebut-nyebut nama Dewa. Sarana: Kunir (Curcuma domistica VAL) yang warnanya kemerah-merahan, ketumbar, garam bercampur arang, dipakai jamu, masukkan setetes ke hidung dan mata. Setelah itu kembali diminumkan air kelapa muda dari jenis kelapa mulung (kulitnya hijau, sabut di bawahnya berwarna merah). Obat orang gila dengan ciri menangis siang malam sambil menyebut-nyebut nama seseorang. Sarana: putik kelapa nyuh mulung dan akarnya yang masih muda, pantat bawang dua biji, adas (Foeniculum Vulgare MILL) dua biji, dan ketan hitam, minumkannya. Obat orang gila dengan ciri suka pergi kesana-kemari. Sakit itu namanya edan kabinteha. Sarana: ketumbar 25 biji, asam tanek (asam dikukus), gula enau, santan kane (kental) minumkannya. Sebagai bedaknya, sarana: kelor munggi (Moringga Oleifera LAMK) setangkai, setangkai kesawi , pala, tri ketuka (bawang merah, bawang putih, dan jerangan), air cuka. Inilah mantra obat dan borehnya, Mantra: Ong


Halaman 2b 

asta astu ya nama swaha, ala-ala ilili swaha, sarwa bhuta wistaya,sarwa guna wini swaha, ah astu ya astu, 3. Obat orang gila dengan ciri suka tertawa dan melucu, sarana: Paria lempuyang (sb Zingiber), ketumbar, tri ketuka, air cuka, minumkannya. Lagi borehnya semua, sarana-sarana kelor munggi,intaran bersama kulitnya, liligundi ( vitele trivolia ) 9 pucuk daun, Ramuan-ramuan umbi gadung (dioseoria hirsuta ), air cuka teri ketuka, Mantra : Ong edan-edan a nama swaha waras. Obat orang gila yang suka bermain kotoran ( tinja ). Sarana-sarana setangkari sulasih, ginten hitam dan buyung-buyung ( sejenis perdu bunganya seperti lalat ), bersama daunnya. Setelah diulek remasi sidem (semut hitam ) dan semut tungging teteskan di mata sampai telinganya . Obat sakit gila dengan ciri suka berkata aneh dan suka turun . Sarana: kelor munggi , kesawi, bawang

Lontar Usada Ila

                                    Lontar Usada Ila



Halaman 1b 

Ya, Tuhan semoga tiada halangan. Inilah perawatan penyakit ila (lepra), waspadailah warnanya. Apabila putih warnanya, ila lungsir namanya; bila merah rupanya, ila brahma namanya; bila putih dan berbintik-bintik, ila kangka namanya; bila merah dan tebal, ila dedek namanya; bila merah dan melingkar-lingkar dengan pinggir putih, ila kakarangan namanya; bila merah padat bertumpuk-tumpuk, ila buta namanya. Dukun tidak berani mengobati penyakit itu. Penyakit itu meradang di dalam tubuh. Pemunahnya di dalam jantung. Nama penyakit itu adalah gering agung katemran. Lagi pula apabila ada penyakit ila sampai melewati leher, naik ke wajah, jenis penyakit ila itu dinamakan ila anglangkar gunung. Itu besar biayanya. Patut dipunahkan penyakit itu. Pemunah semua penyakit ila, kategori upacaranya terdiri atas kecil, menengah, dan besar. Untuk kategori kecil, jumlah uangnya 2500, yang menengah uangnya 5500,


Halaman 2a 

yang besar uangnya 10.700. Upacaranya juga dilengkapi dengan periuk tanah yang baru 1 buah, dilingkari benang satu gulung dengan uang 225, dan tiga macam air, yaitu air palungan, air pande besi, dan air pancuran. Air itu diisi irisan daun kayu tulak, dedap, waribang, temen, kamurugan, dan tujuh jenis kembang. Upacara dilaksanakan di depan sanggar kamulan, dengan sesajen canang rebong 2 buah, masing-masing diisi uang 111 dan 66, disertai caru ayam merah diolah dalam bentuk sesajen bangun urip, diisi lawar merah-lawar putih, disuguhkan dalam lima porsi berbentuk sengkwi, serta dilengkapi dengan sesajen peras, tulung sesayut, pengambian, panyeneng, dan daksina selengkapnya. Setelah selesai memohon, air tersebut dipercikkan kepada pasien 9 kali. Setelah dipercikkan, sisanya dipakai memandikan pasien. Sesajen caru itu dipersembahkan untuk keselamatan pasien. Setelah selesai, caru itu ditaruh

 
Halaman 2b 

di perempatan jalan untuk disuguhkan kepada Sang Kama Sunya, dengan mantra: "O÷ sang kamà kala sunya, iki gañjaran sira, buktiaknà, mantuk ring unggwanta, poma, poma, poma". Uang persembahannya diserahkan kepada dukun. Ada lagi mantra penawar penyakit ila: "O÷ tulak sambo endah, guóa-guóa jawa endah mandi, guóa sabrang, guóa mlayu mu endah mandi, guóa bun, guóa lombok mu endah mandi, guóa sasab, guóa bali mu endah mandi, guóa suódha, guóa pangaruh he mu endah mandi, guóa papasangan, acêp-acêpan, mu endah mandhi, guóa tatujon mu endah maódhi, têka punah ta ko dengku, keðêp siddhi mantranku, maódhi, maódhi, maódhi. O÷ iðêp aku sanghyang brahmà tiga úakti, anganggo pangolih-olih