Kegemilangan Filsafat Advaita
SANKARA DIGVIJAYA ~ Kegemilangan Filsafat Advaita.
Filsafat Sankara menguasai alam pikir para vedantin paska beliau dengan diawali cara-cara yang unik. Beliau mengadakan sebuah perjalanan suci yang gilang-gemilang ke seluruh pelosok India. Beliau bertemu dengan para pemimpin, ketua dari berbagai perguruan kefilsafatan. Beliau meyakinkan mereka melalui berbagai argumentasinya, dan memantapkan kembali supremasi serta nilai-nilai luhur kebenaran sejati yang terkandung dalam ajaran-ajaran agama yang beliau komentari serta kembangkan.
Beliau mengunjungi semua kediaman dari ilmu-ilmu pengetahuan suci yang telah dikembangkan. Beliau menantang para cerdik-pandai untuk berdiskusi, beradu argumentasi dengannya, dan berhasil mengkonversikan mereka pada pandangan-pandangan dan opini-opini kefilsafatan beliau.
Beliau menundukkan Bhatta Bhaskara dan menggugurkan Bhashya (komentar atau ulasannya)-nya terhadap Sutra-sutra Vedanta. Kemudian beliau menemui Dandi dan Mayura dan mengajarkan kepada mereka tentang falsafah yang beliau anut. Dalam suatu argumentasi, beliaupun menundukkan Harsha, penggubah Khandana Khanda Kadya, dan juga Abhinavagupta, Murari Misra, Udayanacharya, Dharmagupta, Kumarila dan Prabhakara.
Runtuhnya Mimamsa, akar dari Vedanta Ortodoks.
Sankara lalu melanjutkan perjalanan beliau menuju Mahishmati. Mandana Misra adalah pimpinan Pendeta (Pundit) di Mahishmati. Mandana tertarik pada dan menganut Karma Mimamsa (ajaran Veda yang sangat mengutamakan upacara-upacara — pen.), ia berjuang keras dan mengadakan perlawanan kuat, karena amat membenci kehidupan sebagai seorang Sannyasin. Ia sedang melaksanakan sebuah upacara Sraaddha, tatkala Sankara secara kebetulan tiba disana. Serta-merta Mandana Misra menjadi amat geram. Mandana Misra melontarkan kata-kata yang tidak menyenangkan kepada para Brahmin – rombongan Sankara, yang datang kesana untuk makan malam, secara langsung bertemu dan bertatap muka.
Sankara lalu menantangnya untuk mengadakan perdebatan religius. Mandana menyetujuinya. Bharati, istri dari Mandana Misra yang cantik dan berpendidikan tinggi, disetujui oleh kedua-belah pihak sebagai juri dalam perdebatan tersebut. Telah disepakati sebelumnya, bila Sankara kalah, beliau bersedia menikah dan hidup berumah-tangga sebagai Grehastin; sebaliknya bila Mandana yang kalah, ia harus bersedia menjadi seorang Sannyasin dan menerima jubah ke-sannyasin-annya langsung dari tangan istrinya yang jelita dan cerdas itu.
Perdebatan tingkat tinggi pun berlangsung dengan sengit, dengan teratur baik selama berhari-hari, terus-menerus tanpa interupsi. Bharati tidak duduk dan mendengarkan perdebatan, seperti pada umumnya seorang juri. Ia hanya meletakkan dua butir biji jagung di bahu masing-masing pedebat itu, seraya mengatakan:
“Ia yang bijinya jatuh duluan, dianggap kalah”. Setelah itu, iapun meninggalkan tempat perdebatan dan melanjutkan tugas-tugas kerumah-tanggaannya betapa mestinya. Pertarungan berlangsung selama tujubelas hari-tujubelas malam. Dan….biji-biji jagungnya Mandana Misra-lah yang duluan jatuh. Mandana Misra menerima kekalahannya dan memasrahkan dirinya untuk menjadi seorang Sannyasin pengikut Jagatguru Sankara.

