Tampilkan postingan dengan label Awatara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Awatara. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Juni 2012

Kegemilangan Filsafat Advaita

Kegemilangan Filsafat Advaita


SANKARA DIGVIJAYA ~ Kegemilangan Filsafat Advaita.
Filsafat Sankara menguasai alam pikir para vedantin paska beliau dengan diawali cara-cara yang unik. Beliau mengadakan sebuah perjalanan suci yang gilang-gemilang ke seluruh pelosok India. Beliau bertemu dengan para pemimpin, ketua dari berbagai perguruan kefilsafatan. Beliau meyakinkan mereka melalui berbagai argumentasinya, dan memantapkan kembali supremasi serta nilai-nilai luhur kebenaran sejati yang terkandung dalam ajaran-ajaran agama yang beliau komentari serta kembangkan.
Beliau mengunjungi semua kediaman dari ilmu-ilmu pengetahuan suci yang telah dikembangkan. Beliau menantang para cerdik-pandai untuk berdiskusi, beradu argumentasi dengannya, dan berhasil mengkonversikan mereka pada pandangan-pandangan dan opini-opini kefilsafatan beliau.
Beliau menundukkan Bhatta Bhaskara dan menggugurkan Bhashya (komentar atau ulasannya)-nya terhadap Sutra-sutra Vedanta. Kemudian beliau menemui Dandi dan Mayura dan mengajarkan kepada mereka tentang falsafah yang beliau anut. Dalam suatu argumentasi, beliaupun menundukkan Harsha, penggubah Khandana Khanda Kadya, dan juga Abhinavagupta, Murari Misra, Udayanacharya, Dharmagupta, Kumarila dan Prabhakara.

Runtuhnya Mimamsa, akar dari Vedanta Ortodoks.

Sankara lalu melanjutkan perjalanan beliau menuju Mahishmati. Mandana Misra adalah pimpinan Pendeta (Pundit) di Mahishmati. Mandana tertarik pada dan menganut Karma Mimamsa (ajaran Veda yang sangat mengutamakan upacara-upacara — pen.), ia berjuang keras dan mengadakan perlawanan kuat, karena amat membenci kehidupan sebagai seorang Sannyasin. Ia sedang melaksanakan sebuah upacara Sraaddha, tatkala Sankara secara kebetulan tiba disana. Serta-merta Mandana Misra menjadi amat geram. Mandana Misra melontarkan kata-kata yang tidak menyenangkan kepada para Brahmin – rombongan Sankara, yang datang kesana untuk makan malam, secara langsung bertemu dan bertatap muka.
Sankara lalu menantangnya untuk mengadakan perdebatan religius. Mandana menyetujuinya. Bharati, istri dari Mandana Misra yang cantik dan berpendidikan tinggi, disetujui oleh kedua-belah pihak sebagai juri dalam perdebatan tersebut. Telah disepakati sebelumnya, bila Sankara kalah, beliau bersedia menikah dan hidup berumah-tangga sebagai Grehastin; sebaliknya bila Mandana yang kalah, ia harus bersedia menjadi seorang Sannyasin dan menerima jubah ke-sannyasin-annya langsung dari tangan istrinya yang jelita dan cerdas itu.
Perdebatan tingkat tinggi pun berlangsung dengan sengit, dengan teratur baik selama berhari-hari, terus-menerus tanpa interupsi. Bharati tidak duduk dan mendengarkan perdebatan, seperti pada umumnya seorang juri. Ia hanya meletakkan dua butir biji jagung di bahu masing-masing pedebat itu, seraya mengatakan:
“Ia yang bijinya jatuh duluan, dianggap kalah”. Setelah itu, iapun meninggalkan tempat perdebatan dan melanjutkan tugas-tugas kerumah-tanggaannya betapa mestinya. Pertarungan berlangsung selama tujubelas hari-tujubelas malam. Dan….biji-biji jagungnya Mandana Misra-lah yang duluan jatuh. Mandana Misra menerima kekalahannya dan memasrahkan dirinya untuk menjadi seorang Sannyasin pengikut Jagatguru Sankara.

Sankara Acharya, Sang Awatara Dewa Siwa

Sankara Acharya, Sang Awatara Dewa Siwa


Sankara Acharya adalah Penjelmaan Dewa Siwa, Penerus Misi Buddha Gautama
Umat Hindu umumnya telah akrab dengan konsep penyatuan Atman dengan Brahman (Moksa). Juga terhadap konsep “Tat Tvam Asi” Namun, tidak banyak yang tahu bahwa konsep itu diajarkan oleh Adi Sankara Acharya, yang diyakini sebagai penjelmaan Dewa Siwa. Sankara, begitu beliau lebih dikenal secara luas, mengemban misi besar untuk mengembalikan ajaran Weda yang seolah tenggelam karena berkembangnya agama Buddha yang diajarkan oleh Buddha Gautama. Benarkah Atman dapat menyatu dan lenyap ke dalam Brahman?
Apa artinya “moksa”? Kalau pertanyaan itu, diajukan pada orang Hindu, sebagian pasti akan menjawab : “Moksa adalah bersatunya Atman dengan Brahman. Moksa adalah keadaan di mana diri kita kembali bersatu dengan Tuhan“ Bersatu dengan Tuhan? Apanya yang bersatu, diri kita? Artinya, suatu saat “diri” kita akan lenyap dan “merger” dengan Tuhan? Jadi, roh akan berhenti mengalami punarbhawa (reinkarnasi) setelah ia “menjadi” Tuhan?
Sepertinya, tidak banyak di antara kita yang pernah mempertanyakan lagi kebenaran konsep moksa yang satu ini. Kita seolah sudah merasa nyaman dan pede memberikan jawaban yang telah baku dan memang populer itu. Apalagi, logika pemahaman moksa dalam artian penyatuan antara atman dan Brahman itu didukung oleh contoh-contoh rasional yang konkret. Atman diibaratkan sebagai air sungai yang mengalir ke laut, sedangkan Brahman diumpamakan sebagai lautan. Ketika air sungai telah berhasil mencapai lautan, maka terjadilah penyatuan keduanya.
Kita tidak akan bisa lagi membedakan, mana yang air sungai dan mana yang air laut. Begitulah, saat mencapai moksa, sang atman tidak akan dapat dibedakan lagi dengan brahman, …..seperti halnya air sungai yang “merger” dengan air laut itu. Roh akan “lenyap” dan “menyatu” dengan Tuhan.
Sekilas, perumpaan air sungai dan air laut itu memang memadai untuk menggambarkan apa yang dialami oleh roh setelah ia moksa. Tetapi, contoh itu hanya tepat bagi seorang awam, yang tidak memahami seluk beluk atom, molekul dan persenyawaan kimia!
Memang benar, secara kasat mata, air sungai dan air laut itu “kehilangan identitasnya” masing-masing setelah mereka bersatu. Namun, orang yang memahami konsep persenyawaan antara berbagai molekul zat akan melihat kenyataan lain. Ia akan tahu, bahwa molekul air sungai terdiri dari atom-atom Hidrogen dan atom-atom Oksigen. Rumus molekul air adalah H2O. Artinya, satu atom oksigen mengikat dua atom hidrogen untuk membentuk satu molekul air. Begitupun air laut memiliki unsur-unsur penyusun yang sama.
Ketika air sungai bertemu air laut, terjadilah reaksi antara atom-atom hidrogen dan oksigen air sungai, dengan atom-atom hidrogen dan oksigen air laut. Mungkin dua atom hidrogen air sungai akan berikatan dengan satu atom oksigen air laut dan membentuk molekul baru. Bisa pula, satu atom oksigen air sungai mengikat dua atom hidrogen air laut. Dan seterusnya, dan seterusnya. Tetapi, jangan lupa bahwa masing-masing atom itu tidak pernah kehilangan “identitasnya”. Kalau kita tandai masing-masing atom itu, akan tampak atom hidrogen air sungai tidak berubah menjadi atom hidrogen air laut. Begitupun sebaliknya. Mereka hanya berikatan satu sama lain, tapi tidak ada pihak yang kehilangan “jati dirinya.” Artinya, jati diri atom-atom air sungai tetap ada, tidak lenyap, meskipun ia “menyatu” dengan atom-atom air laut.
Begitu pula dengan Atman dan Brahman. Kalau memang benar bahwa Atman dapat “menyatu dan lenyap” ke dalam Brahman, hal itu akan bertentangan dengan sifat-sifat sang roh (atman) yang diuraikan dalam kitab-kitab Weda.
Weda menjelaskan bahwa sang roh adalah energi atau daya hidup yang kekal. Penjelasan seperti itu sangat sesuai dengan Hukum Kekekalan Energi dalam ilmu fisika. Bahwa energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, energi hanya dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Dengan demikian, roh tidak bisa musnah, tidak bisa lenyap atau kehilangan sifat individualitasnya. Ia hanya berpindah dari satu badan jasmani ke badan jasmani lainnya, sesuai dengan karmanya.
Dalam Kitab Bhagavad-gita 2.23 dan 2.24 Sri Krishna memperkuat penjelasan di atas, dengan menyatakan sebagai berikut:

Awatara Dewa Wisnu

Awatara Dewa Wisnu

Dewa Wisnu, Dewi Laksmi dan Garuda
Awatara atau Avatar dalam agama Hindu adalah inkarnasi dari Tuhan Yang Maha Esa maupun manifestasinya. Tuhan Yang Maha Esa ataupun manifestasinya turun ke dunia, mengambil suatu bentuk dalam dunia material, guna menyelamatkan dunia dari kehancuran dan kejahatan, menegakkan dharma dan menyelamatkan orang-orang yang melaksanakan Dharma/Kebenaran.
Agama Hindu mengenal adanya Dasa Awatara yang sangat terkenal di antara Awatara-Awatara lainnya. Dasa Awatara adalah sepuluh Awatara yang diyakini sebagai penjelmaan material Dewa Wisnu dalam misi menyelamatkan dunia. Dari sepuluh Awatara, sembilan diantaranya diyakini sudah pernah menyelamatkan dunia, sedangkan satu di antaranya, Awatara terakhir (Kalki Awatara), masih menunggu waktu yang tepat (konon pada akhir Kali Yuga) untuk turun ke dunia. Kisah-kisah Awatara tersebut terangkum dalam sebuah kitab yang disebut Purana.
1. Matsya Avatar
Matsya Awatara
Dalam ajaran agama Hindu, Matsya adalahawatara Wisnu yang berwujud ikan raksasa. Dalam bahasa Sanskerta, kata matsya sendiri berarti ikan. Menurut mitologi Hindu, Matsya muncul pada masa Satyayuga, pada masa pemerintahan Raja Satyabrata (lebih dikenal sebagai Maharaja Waiwaswata Manu), putra Wiwaswan, dewa matahari. Matsya turun ke dunia untuk memberitahu Maharaja Manu mengenai bencana air bah yang akan melanda bumi. Ia memerintahkan Maharaja Manu untuk segera membuat bahtera besar.
Kisah dengan tema serupa juga dapat disimak dalam kisah Nabi Nuh, yang konon membuat bahtera besar untuk melindungi umatnya dari bencana air bah yang melanda bumi. Kisah dengan tema yang sama juga ditemukan di beberapa negara, seperti kisah dari penduduk asli Amerika dan dari Yunani.
Dalam diri manusia "ikan" adalah lambang sebuah benih. Atau sel sperma dan sel telur. Sel seperma tidak akan mengalami pembuahan jika tidak ada sel telur yang bagus. Untuk menampung pertemuan tersebut dalam organ tubuh wanita disebut dengan rahim ( perahu dari raja Manu). Jaman Satya Yuga jika dalam diri manusia adalah ketika masih dalam kandungan hingga berumur 3 tahun.
Pada kehidupan di bumi = ikan merupakan binatang air. Pada awal terbentuknya dunia yang ada adalah kehidupan satwa air. Jaman Ordovisium (500 - 440 juta tahun lalu) Zaman Ordovisium dicirikan oleh munculnya ikan tanpa rahang (hewan bertulang belakang paling tua) dan beberapa hewan bertulang belakang yang muncul pertama kali seperti Tetrakoral, Graptolit, Ekinoid (Landak Laut), Asteroid (Bintang Laut), Krinoid (Lili Laut) dan Bryozona. Koral dan Alaga berkembang membentuk karang, dimana trilobit dan Brakiopoda mencari mangsa. Graptolit dan Trilobit melimpah, sedangkan Ekinodermata dan Brakiopoda mulai menyebar. Meluapnya Samudra dari Zaman Es merupakan bagian peristiwa dari zaman ini. Gondwana dan benua-benua lainnya mulai menutup celah samudera yang berada di antaranya.