Tampilkan postingan dengan label Veda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Veda. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Juni 2012

BRAHMA – GYANAWALI

                                                                
  Oleh SRI SHANKARA ACHARYA

asango’ham  asango’ham  asango’ham  punah punah
saccidananda  rupo’ham  ahamewahamawyayah
 “Tak terikat, tak terikat  Aku ini, lagi dan lagi; Aku bersifat Pengetahuan dan Karunia Nan Abadi; Aku adalah satu-satunya. Itu adalah Aku, yang tak dapat dikurangi, abadi tak terbinasakan, unsur yang tak pernah berahkir.”

Nitya suddha wimokto’ham  nirakaro’hamawayayah
Bhumanada swarupo’ham ahamewahamawyayah
 “Abadi, senantiasa murni, senantiasa bebas adalah Sang Aku, tak berwujud adalah wujud-Ku semata, Aku bersifat Maha Hadir, Ananda Karunia Ilahi dalam kesatuan yang tak ter hingga; Aku adalah satu-satunya; Itu adalah Aku, yang tak terkurangkan, abadi tak terbinasakan, unsur yang tak pernah berakhir.”

nityo’ham  nirawdyo’ham  nirakaro’hamacyutah
paramanandarupo’ham  ahamewahamawyayah
 “Abadi, tak terhitung jumlahnya, tak berwujud tak terkurangkan adalah Aku, bersifat Karunia Ilahi adalah Aku; Satu-satunya adalah Aku.  Itu adalah Aku, yang tak terkurangkan, abadi tak terbinasakan, unsur abadi yang tak pernah berakhir.”

Suddhacaitanyarupo’ham  atmarramo’hamewa ca
Akhandanandarupo’ham  ahamewahamawyayah
 “Aku bersifat cahaya murni dan Aku  menikmati di dalam (melalui) Jati Diriku sendiri; Aku adalah Ananda yang tak pernah terpecah-pecah; Aku adalah satu-satunya. Itu adalah Aku, yang tak terkurangkan, abadi tak terbinasakan,unsur yang tak pernah berakhir.”

Senin, 18 Juni 2012

TAITTIRIYA UPANISHAD

OM
Semoga Mitra  memberkahi kami dengan shanti,
Semoga Varuna  memberkahi kami dengan shanti,
Semoga Aryama  memberkahi kami dengan shanti,
Semoga Indra  dan Brihaspati memberkahi kami dengan shanti,
Semoga Vishnu  yang maha hadir memberkahi kami dengan shanti,
Puja-puji kami haturkan kepada Hang Brahman,
Puja-puji kepadaMu, Dikau sumber dari segala kekuatan.
 
Dikau adalah Hyang Brahman nan hakiki. Aku akan berwacana tentangMu.
Dikau kan kunyatakan sebagai yang murni di dalam jalan pikiranku
Dikau kan kunyatakan sebagai yang murni melalui bibirku. Ini.
 
Semoga kebenaran melindungiku, semoga kebenaran melindungi guruku,
Semoga kebenaran melindungi kita berdua. Semoga cahaya Sang Brahman bersinar di dalam diri kami berdua.
 
Dikau adalah Hyang Brahman, yang manunggal dengan aksara OM, yang hadir di dalam semua shastra-shastra suci . . . aksara yang maha kuasa, ibu dari semua jenis swara.
SudiKah Dikau meneguhkan diriku ini dengan kebijaksanaan nan murni.
Bolehkah aku, wahai Tuhan, menyadari akan Keabadian. Semoga ragaku tegar dan utuh; semoga lidahku terasa manis; semoga telingaku hanya mendengar puja-puji bagimu semata.
Aksara OM adalah sebenar-benarnya gambaran semata-mata. Melalui aksara ini Dikau dapat dicapai. Dikau berada jauh dari jangkauan intelek (budhi). Semoga aku tidak melupakan sesuatu apapun yang kupelajari di berbagai kitab-kitab suci.
 
Dikau adalah sumber dari seluruh bentuk-bentuk kebahagiaan dan kekayaan.
Sudilah bertamu (datang) kepadaku ibarat sang dewi kemakmuran dan mengkaruniakan berkahMu.
 
Semoga para pencari kebenaran mengerumuniku,
Semoga mereka datang dari arah manapun juga, agar dapat kuajarkan kepada mereka mengenai hakekat akan AksaraMu.
 
Semoga aku  berbentuk kebesaran diantara insan-manusia.
Semoga aku lebih “kaya “ dari “yang terkaya”
Semoga aku mampu memasukiMu, wahai Tuhan; semoga Dikau menghadirkan DiriMu kepadaku. Suci bersih aku jadinya oleh sentuhanMu, wahai Tuhan yang bermanifestasi dalam bentuk beraneka-ragam.
 
Dikau adalah tempat berlindung bagi  mereka yang menyerahkan diri mereka kepadaMu. Perlihatkanlah Diri-Mu kepadaku. Jadikanlah diriku ini milikMu. Aku mempasrahkan  diriku di bawah perlindunganMu.
 
Dikau adalah Tuhan, Yang Maha Abadi, Bercahaya senantiasa dari DiriMu Sendiri secara gilang-gemilang (keemas-emasan), di dalam teratai yang terletak di dalam hati sanubari setiap insan. Di dalam sanubari ini Dikau menampakkan DiriMu bagi mereka yang mencariMu.
 
Barangsiapa menyatu denganMu akan berubah ibarat seorang raja yang menguasai dirinya sendiri. Ia akan berubah menjadi pemimpin dari kata-katanya dan berbagai indriyasnya sendiri. Ia akan menjadi pemimpin di atas budhinya sendiri (yang menguasai budhinya sendiri).
 
Dikaulah Hyang Brahman, yang berwujud, ibarat ether; Yang Jati Dirinya adalah Kebenaran. Dikau adalah shanti yang sempurna dan keabadian, intisari kehidupan yang membahagiakan jalan pikiran. Bolehlah aku memujaMu?
 
OM adalah Hyang Brahman. OM adalah semuanya. Barang siapa bermeditasi ke OM akan mencapai Hyang Brahman.
 
Setelah mencapai Hyang Brahman, seorang  resi suci menyatakan :
 
“Aku adalah kehidupan. Keagunganku ini ibarat puncak sebuah gunung. Aku terkukuhkan  di dalam kemurnian Hyang Brahman.
Aku telah mencapai tingkat kebebebasan Hyang Jati Diri. Aku adalah Hyang Brahman, bercahaya sendiri; kekayaan yang teramat terang-benderang. Aku terliput oleh kebijaksanaan.
Aku adalah kebijaksanaan; Aku adalah Keabadian, yang tak terbinasakan.”

OM Shanti-Shanti-Shanti.

MUNDAKOPANISHAD

BAB I
  BAGIAN 1  
1.“Wahai para dewa sekalian, perkenankan kami senantiasa mendengarkan melalui telinga kami, hal-hal bersifat suci dan bersih; Wahai para dewata yang (kami) puja, perkenankan kami melihat hal-hal yang bersifat suci dan bersih. Perkenankan kami hidup sepanjang hidup kami yang telah ditentukan ini dengan sehat penuh ceria, dengan senantiasa memanjatkan doa puja-puji bagimu. Semoga Indra yang terkenal berasal dari kurun waktu nan silam, semoga Pushan (surya) yang mengetahui semuanya, semoga Vayu (bayu) dewa yang bergerak secara kilat, menyelamatkan kami dari berbagai bencana dan semoga Brihaspati yang melindungi harta spritual di dalam diri kami …. Mengkaruniai kami dengan kekuatan intelektual (budi) agar kami mampu memahami skripsi-skripsi suci dan dengan penuh semangat mempelajari ajaran-ajaran ini .” 
OM     SANTIHI ….. SANTIHI ….. SANTIHI 
Keterangan : Demikian karya sastra Mundakopanishad ini, yang konon kabarnya merupakan sebuah naskah kuno yang berasal dari zaman sebelum Ramayana dan Mahabrata ini dibuka dengan sloka mantra di atas. Para resi di zaman yang lampau selalu membuka sebuah ajaran kepada para sishyanya dengan memanjatkan doa-doa puja-puji kepada Yang Maha Esa atau dewa-dewi yang berhubungan dengan ajaran tersebut, agar diberi tuntunan, pengertian (budi, budhi) dan semangat yang membara demi memahami ajaran yang dianggap suci ini. Di era tersebut Yang Maha Esa di kenal sebagai Indra Yaitu Maharajanya para dewa-dewa di Swargaloka, beliau adalah Dewa Halilintar merangkap Dewa Api, juga sering berbentuk Surya yang dianggap mata Tuhan yang serba melihat dan tahu akan keadaan yang berlangsung di sekitarnya termasuk di bumi dan di jagat raya. Pada waktu itu Tuhan juga dikenal sebagai Vayu (Bayu) karena tanpa udara tentunya kita tidak mungkin hidup di dunia ini. Di berbagai bagian lainnya di India, Tuhan dimanifestasikan sebagai Baruna (dewa air), sebagai Shiva (pemilik setiap jiwa, pendaur ulang setiap jiwa), sebagai Brahma sebagai pencipta,sebagai Gayatri, Laksmi, Durga, Gangga, Saraswati, dan lain sebagainya. Pada kurun waktu yang berjalan ribuan tahun sebelum konsep Tuhan yang manunggal diabadikan, manusia-manusia dari berbagai belahan bumi di India memuja tuhan sesuai dengan budaya, nalar, fenomena alam dan budhi mereka sesuai dengan topografi, cuaca, produk-produk di daerah masing-masing yang mereka diami. Tidak mengherankan kalau wujud Yang Maha Esa di kenal dengan berbagai manifestasinya di permulaan asal muasal peradaban dharma, yang tanahnya kemudian di kenal dengan nama tanah Barata, asalnya di sebut bhumi. Mereka yang tinggal di sekitar Himalaya sesuai dengan lingkungannya bertuhankan Shiva dan Shaktinya, yang dekat dengan sungai Gangga memujaNya sebagai Gangga Dewi, yang makmur tanahnya memuja Beliau dalam bentuk Laksmi (Dewi Sri) dan sebagainya. 
Akhirnya suatu waktu kemudian semua ajaran ini diturunkan dalam berbagai bentuk Veda, Upanishad, Puranas dan sebagainya dan membaur, menyatu konsep Hindu Dharma yang kita kenal sekarang, yaitu kebinekaan dalam suatu kesatuan dan kesatuan dalam kebinekaan. Kata Santihi (shanti atau santih) adalah doa puja-puji para resi di zaman-zaman yang lampau yang masih kita gaungkan hingga kini karena bersifat suci bersih dan abadi, kata ini ditujukan ke Bhur, Bwah dan Swah dan segala isi dan manifestasinya yang beraneka ragam rupa, bentuk dan fenomena-fenomenanya (aneka rupa) yang dikenal sebagai Adi daivika, Adi bhantika dan Adi yatmik dengan menyandang berbagai sifat-sifat alami seperti Satva, Rajas dan Tamas. 
Tanpa para resi dan sishya maka sia-sialah berbagai ajaran suci dan agung ini, dan bayangkan bagaimana etika dan moral manusia di belantara kehidupan yang makin lama makin rumit dan biadab ini. India disebut sebagai craddle of civilization (asal-muasal peradaban umat manusia), dan sebenarnya kalau semua mau jujur juga adalah asal-muasal seluruh ajaran agama dan kepercayaan di dunia ini, dari berbagai ilmu pengetahuan, budaya, teknologi, kedokteran. Mungkinkah dunia modern seperti ini tanpa partisipasi India?  Pertanyaan ini selalu menggoda sanubari kami pribadi.

Minggu, 17 Juni 2012

MANDUKYA UPANISHAD


BAB I
 Kehidupan seseorang manusia dibagi-bagi dalam tiga keadaan (tahap) yaitu masing-masing alam-sadar, alam-mimpi dan alam-tidur tanpa mimpi. Namun di atas ketiga tahap ini masih ada sebuah alam lain yang bersifat kesadaran yang tertinggi . . . alam ini disebut sebagai yang Keempat.”
Mandukya Upanishad

 MANDUKYA  &  KARIKA
 “Wahai para dewata, semoga kami senantiasa mendengarkan apapun yang bersifat suci dan murni: wahai para dewata yang kami puja-puji, semoga kami senantiasa melihat apapun yang bersifat suci dan murni. Semoga kami senantiasa menjalani kehidupan kami secara sehat dan sejahtera, sambil senantiasa memanjatkan doa-doa kami ke arahMu semua. Semoga Indra yang Kuna dan terkenal, Pooshan (Surya) yang serba mengetahui; Bayu, dewata yang berkecepatan tinggi yang senantiasa menyelamatkan kita dari segala bencana, dan Brihaspati yang menjaga kekayaan spiritual  kita semua dengan kekuatan  budhi agar kita dapat memahami skripsi suci ini, dan semoga kami dapat mengikuti ajaran ini.”
 Om Santhi-Santhi-Santhi
Keterangan : Demikianlah caranya dimasa lampau, para resi memulai ajaran mereka, dengan melantunkan shanti-mantra di atas, bersama-sama para sishya mereka sebelum memulai sesuatu ajaran Upanishad yang dianggap suci. Mantra ini juga disebut Shantipat. Upanishad yang satu ini dianggap  yang tertinggi diantara 108 Upanishad lainnya, walaupun hanya berisikan 12 sloka mantra saja, namun Karika (tafsir ditambah berbagai keterangan dan ajaran lain-lainnya) cukup panjang dan melelahkan bagi kaum awam.
Kata kita dan kami di mantra tersebut di atas, dapat diartikan sebagai berikut di dalam bahasa Inggris. We all = kita; we = kami. Demikian agar tidak rancu dalam pemahamannya.
Sebelum memulai dengan ajaran ini, sebaiknya kita menyimak dulu Upanishad yang satu ini, yang terkesan sangat khusus, yang selain berisikan 12 mantra inti, juga Karika yang sulit dipahami oleh kaum awam dan sebagian para resi sekalipun.  Karika ditulis dan diajarkan oleh seorang resi agung bernama Sri Gaudapada, dari aliran Sri Shankara Acharya, Bapak agama Hindhu modern. Ajaran Karika ini telah diterima umat Hindhu sebagai pedoman yang handal untuk Upanishad yang satu ini.
Karika ini sendiri bukan sembarang ulasan yang bersifat biasa, tetapi lebih bersifat ulasan memorial dalam bentuk metrikal agar mudah dipahami oleh sishya. Berbagai mantra dan sutra-sutra juga ditambahkan agar lebih mudah pemahamannya. Agar memori para murid dan pembaca terjaga  dengan agak baik, banyak sekali mantra seloka terkesan diulang-ulang, dan agak membosankan, namun sangat bermanfaat dikala kita lupa akan intisari ajaran ini, yang seharusnya dihayati sedikit demi sedikit dan tidak perlu dibaca sekaligus. Yang seharusnya diperhatikan adalah mempelajari ilmu pengetahuan yang sarat filosofi ini, yang dicetuskan sewaktu bangsa Barat belum mengenal peradaban dunia ini.
Sejauh ini belum ada seorangpun yang mampu menjabarkan siapa gerangan penulis ajaran Upanishad ini, dan juga berbagai Upanishad yang lainnya.  Para ahli hanya bisa menduga-duga bahwasanya nama depan resi penulis setiap Upanishad dipergunakan oleh para sishyanya, sebagai judul kitab-kitab Upanishad ini.  Sebagai contoh :  Kathaka diduga adalah pencetus Kathopanishad; Kena mungkin adalah penulis Kanopanishad dan seterusnya. Namun untuk Upanishad yang satu ini, dugaan tersebut bisa saja tidak berlaku, karena kata Mandukya dalam bahasa  Sansekerta berarti kodok, Upanishad ini bisa berarti ajaran Ajaran Sang Kodok (Katak). Konon ada seorang resi yang menyatakan, bahwasanya penulis Upanishad ini begitu merendahkan dirinya sehingga mengibaratkan dirinya sebagai seekor kodok yang terkungkung di dalam sebuah tempurung, dan merasakan  apa yang diajarkan ini masih jauh dari sempurna, jadi beliau tidak mau namanya dicantumkan.  Namun orang suci ini juga berkomentar bahwasanya seekor katak biasanya menyisihkan sekitar 9 atau 10 bulan setahunnya untuk berhibernasi di kolam atau genangan lumpur pekat, seakan-akan bermeditasi dalam suatu kesatuan kelompok, dan seakan-akan menjauhi seluruh keaktifan duniawi dan hanya terserap di alam hibernasinya saja, yang berkepanjangan namun hening ini. Pada musim hujan mereka keluar dari keheningan ini dan mulailah orkes katak yang mempesona itu. Orkes katak ini sudah tidak bisa dinikmati lagi oleh  manusia yang tinggal di kota-kota besar!
Bukankah para resi yang menyepikan diri mereka ke hutan dan gua (para Sanyasi) melakukan hal serupa juga? Dengan pakaian yang sangat minim, bahkan ada yang bertelanjang bulat; para resi  di India ini turun ke sungai Gangga setahun sekali pada hari raya Kumba Mela atau hari-hari khusus lainnya, untuk mengumandangkan ajaran kebenaran mereka.
Kata Upanishad ini sendiri bisa berarti : Upa + ni + shad yang berarti duduk didataran rendah (level yang ama). Maksudnya guru dan murid duduk di level yang sama di lapangan terbuka, yang satu menghadap ke yang lainnya.  Inilah sistim sekolah tertua di dunia dan masih dipraktekkan di Shantiniketan, sebuah universitas yang didirikan oleh Sri Rabindranath Tagore di tahun empat puluhan.
Kembali ke Mandukya Upanishad ini, konon menurut ajaran Muktiko Upanishad, adalah tepat untuk mengantarkan seseorang  ke arah pembebasan  duniawi yang disebut mukti atau moksha. Di dalam bahasa Sansekertanya dikatakan, “Mandukya ekam kevalan mumukshunam vimuktaye”.
Kedua-belas sloka mantra di Upanishad ini berbicara mengenai sebuah topik utama kehidupan yang tidak lekang dari segala jaman, dan masih merupakan misteri bagi dunia Barat yang serba sakit akibat kelebihan duniawi mereka.  Mandukya berbicara akan tiga tahap kehidupan manusia sehari-harinya disamping menyiratkan ajaran akan “Non-dualisme”. Juga yang terkenal dari ajaran ini adalah “Maha Vakya” yang merupakan ajaran untuk meditasi tingkat tinggi.
Menurut ajaran Sanathana Dharma, ada empat maha-vakya yang diperuntukkan bagi Vedanta Shadana yang masing-masing diambil dari setiap Veda. Contoh : Yang diambil dari Atharvana Veda yang terkenal adalah:
“Ayam Atma Brahma” yang berarti “Atman ini adalah Sang Brahman”.
Kata Aku (Atman) yang bersifat universal di atas juga hadir di Upanishad ini secara dominan.
Sekarang marilah membahas Karika , yang rumit dan panjang ini. Ada bab yang memuat 215 sloka, masing-masing disebut Agama Prakarana (bersifat skriptual) … bab 29. Kemudian Vaithathya Prakarana (Ilusi) … bab 38, kemudian Adwaita Prakarana (Non-dualisme, bab 48) dan Alatha Santi Prakarana (memenangkan kobaran api).
Agama Prakarana memuat 12 sloka inti Uphanisad ini, dengan tambahan Karika disana-sini sesuai dengan ajaran Sruthi.
Selanjutnya mari kita ikuti bagian yang satu ini: 

KENOPANISHAD

PERMULAAN
Shanti Mantra ke I 
 Semoga damai beserta kita dan menjauhkan kita semua dari kemurkaanNya.
Semoga beserta kita dan menjauhkan kita semua dari berbagai bencana alam.
Semoga damai beserta kita dan menjauhkan kita semua dari berbagai gangguan raga  kita.  
OM. Semoga Beliau melindungi kami berdua (sang guru dan sishya). Semoga Beliau berkenan agar kami menghayati Yang Maha Kuasa. 
¨       Semoga kami menghayati intisari sebenarnya dari berbagai ajaran-ajaran suci. Semoga usaha-usaha mempelajari ilmu pengetahuan ini berlangsung secara baik dan penuh dengan iman. Dan semoga kami berdua tidak saling salah mengerti satu dengan yang lain.
Semoga damai beserta kita dan menjauhkan kita semua dari berbagai gangguan raga kita.
Semoga damai beserta kita dan menjauhkan kita semua dari berbagai bencana alam
Semoga damai beserta kita dan menjauhkan kita dari kemurkaanNya. 
…………
 Shanti Mantra ke 2 
¨       Semoga organ-organ tubuhku, pembicaraanku, pranaku, mataku, telingaku, kekuatanku dan seluruh indriya-indriyasku bertumbuh dan berkembang secara baik dan penuh semangat. Semua ini adalah Brahman dari berbagai Upanishad. Semoga daku tidak sekali-kali mengingkari keberadaan Yang Maha Esa (Brahman).
¨       Semoga Brahman tidak membelokkan arahku. Semoga Brahman tidak menolakku. Sekali lagi semoga Sang Brahman tidak membelokkan arahku ! Semoga semua intisari suci yang dikumandangkan berbagai Upanishad hidup di dalam diriku ini, ! Semoga semua intisari suci yang dikumandangkan berbagai Upanishad hidup di dalam diriku agar daku dapat membahagiakan Sang Atman. Semoga mereka hidup di dalam diriku!
 
OM SANTIHI……….SANTIHI……….SANTIHI,

KATHOPANISHAD

BAB  -  I

 

BAGIAN  -  I

(Kisah mengenai Nachiketas dirumah kematian) 
1.                  Pada suatu saat diswargaloka, Usan, putra dari Vajasrava (Gautama), melaksanakan suatu upacara pengorbanan, dengan mengorbankan semua yang dimilikinya. Beliau berputrakan seorang anak laki-laki yang bernama Nachiketas.
2.                 Sewaktu berbagai hadiah pengorbanan dipersembahkan, kegalauan (akan masa depan ayahnya) mengusik hati sanubari Nachiketas, yang pada saat itu masih seorang bocah kecil, dan iapun berpikir.
Keterangan : Usan putra dari Vajasrava melangsungkan upacara pengorbanan yang disebut Viswajit dimana ia harus menyerahkan semua harta benda yang dimilikinya kepada para resi dan fakir miskin. Upacara ini biasanya dilakukan oleh para raja yang berhasil mengalahkan kerajaan lainnya. Upacara ini juga biasanya dilakukan oleh sang kepala rumah tangga, dalam hal ini sang orang tua yang bersiap-siap ke hutan dan berburu, sambil memasuki kehidupannya sebagai Sang Sanyasi.
Pembicaraan dengan sang cucu, Nachiketas, ini malahan penuh dengan shradha (iman), ia memahami arti upacara yang dilaksanakan oleh ayahnya, Usan.
3.                  Sapi-sapi ini telah meneguk air untuk yang terakhir kalinya, menyantap rerumputan untuk yang terakhir kalinya, telah kering seluruh susunya dan telah tua, kurus kering dan lemah. Sia-sia saja (tanpa kebahagiaan) loka-loka yang akan dicapai oleh seseorang yang menghaturkan daksina dengan cara ini demi sebuah yagna (upacara pengorbanan yang bersifat suci).
4.              Ia berkata kepada ayahnya, “Ayahanda, kepada siapa dikau akan mempersembahkan diriku ini?”, ia mengulangi pertanyaannya ini sampai tiga kali, sampai-sampai ayahnya teramat murka dan berkata, “Pada Kematian akan kupersembahkan dirimu”.
Keterangan : Nachiketas yang berkesadaran tinggi paham betul bahwa ayahnya telah melakukan yagna ini secara tidak murni, padahal upacara Viswajit ini bersifat teramat sakral dan merupakan penyerahan total terhadap yang Maha Kuasa akan kehidupan duniawi ini demi mempersiapkan jalan menuju ke Pencapaian Kebenaran. Anak kecil ini sadar bahwa karena ia milik ayahnya, maka seharusnya iapun dikorbankan. Maka ia bertanya dengan lugu sampai tiga kali, tetapi sang ayah yang merasa tersindir oleh anak ini malahan murka dan menyatakan bahwa putranya ini akan dipersembahkan kepada dewa kematian.

KAIVALYOPANISHAD


 

K A I V A L Y O P A N I S H A D
BAB I
“Kemudian Ashvalayana menghampiri Hyang Parameshti (Brahma Sang Pencipta) dan berkata :
Keterangan : Ashvalayana adalah seorang guru spritual yang terkenal dan disebut-sebut di Rig veda, berbagai mantram-mantramnya diterima dan dipergunakan oleh kaum Hindu (Sanatana Dharma) dari masa ke masa hingga kini.
Walaupun di zamannya itu beliau adalah seorang guru besar namun tetap saja beliau merasa kekurangan, maka dengan kesaktiannya dan kemampuannya ia menghampiri Sang Pencipta, yaitu Dewa Brahma dan memohon agar dibimbing ke arah Hyang Maha Purusha. Ashvalayana bukanlah insan sembarangan dan beliau telah menyiapkan dirinya dengan baik sebelum menghadap ke Hyang Brahma, dengan penuh viveka (kesadaran spritual) dan vairagya (jauh dari sifat dan berbagai hasrat duniawi) dan penuh dengan shad-sampati (yaitu enam sifat pengendalian diri) beliau juga telah mempersiapkan dirinya agar lepas dan bebas dari berbagai ikatan dan fenomena duniawi (mumukshattwam)…..dengan demikian beliau telah amat siap lahir dan batin dalam mendapatkan Brahma Vidya yang agung dan bersifat rahasia (terpendam secara spritual) ini.
 1.”Wahai Bhagawan, sudilah mengajariku ilmu pengetahuan tertinggi akan Sang Realitas (kebenaran hakiki), yang selama ini bersifat rahasia dan tersembunyi dari manusia, sebuah pengetahuan yang konon katanya di tangan seorang yang bijaksana sepenuh dosa apapun juga, dapat dipergunakannya untuk mencapai Hyang Maha Tinggi, Hyang Purusha.”  
Keterangan : Sebuah ajaran spritual yang bersifat terpendam dan dirahasiakan para guru tidak berarti tidak boleh dipelajari setiap insan manusia. Sebaliknya para resi guru  malahan mencari murid yang berbudhi tinggi berintuisi tajam agar dapat diturunkan berbagai Brahma Vidya  ini, dan sishya semacam itu sulit didapatkan, jadi sang ajaranpun makin hari makin terpendam dan dianggap rahasia, padahal sebenarnya sangat bersifat sakral. Disamping itu diperlukan sentuhan dan doa dari sang guru bagi muridnya agar ajaran tersebut dapat terserap oleh sang murid, dengan sentuhan atau pandangannya saja beliau akan mampu membuka cakrawala spritual sang murid dengan lebih luas sehingga tidak menimbulkan kesesatan dan malapetaka bagi sesamanya.
 2.”Kepadanya Leluhur Agung (Hyang Brahma) bersabda : Fahamilah berbagai bentuk iman, bhakti dan meditasi ini.”
Keterangan : Sewaktu seorang sishya menghampiri seorang guru yang agung penuh tata sopan santun, dan sang guru sadar bahwa dihadapannya hadir seorang sishya yang tepat dan memenuhi semua syarat-syarat spritual, maka adalah kewajibannya secara kodrati untuk mempersiapkan sishya ini ke jenjang spritual yang lebih tinggi dan menurunkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya penuh dengan tanggung jawab dan kasih sayang. Apalagi di karya agung ini terlibat dua orang guru, yang satu Hyang Brahma dan yang satu lagi seorang guru resi.
Dengan singkat tetapi tegas Hyang Brahma bersabda bahwa dasar dari pemahaman Brahma Vidya ini adalah : iman (Sradha), bhakti dan dhyana. Ketiga fungsi hati nurani ini kalau digabungkan dengan baik maka akan menimbulkan kekuatan spritual yang tinggi dan dasar yang kuat bagi seorang sishya. Hyang Brahma tidak menganjurkan berbagai upacara seperti mecaru atau hal-hal yang bersifat konsumtif tetapi hanya tiga buah teknik (upasana) yang terkesan sangat sederhana namun sulit untuk dilaksanakan oleh manusia-manusia super sibuk dan mereka-mereka yang sudah terbiasa dengan yang wah-wah dan serba megah karena merasa Tuhan atau para dewa akan bahagia dengan segala upacara dan sesajen yang serba mahal dan bertele-tele, padahal persepsi tersebut mungkin salah total.

ISAVASYOPANISHAD


 
ISAVASYA UPANISHAD
 (Vajasaneyi  Samhita Upanishad)
Om…..Shanti…..Shanti…..Shanti
Itu adalah keseluruhan; ini adalah keseluruhan; dari keseluruhan itu terwujudlah keseluruhan ini. Dari keseluruhan itu sewaktu keseluruhan ini dikurangi maka sisanya (tetap) saja berwujud keseluruhan itu.
Keterangan : Bagi pembaca yang masih awam, sabda pernyataan di atas ini pastilah amat membingungkan sang pikiran. Yang dimaksud dengan keseluruhan itu adalah Kemutlakan Yang Maha Esa  dengan seluruh manifestasi-manifestasinya yang termasuk Sang Atman (Sang Jati Diri) yang maha hadir di dalam diri kita sendiri, termasuk diseluruh ciptaanNya yang terhampar di jajaran jagat raya yang maha luas dan tak terbayangkan ini. Toh walaupun dikurangi semua yang kasat mata itu keseluruhan (kemutlakan) Yang Maha Esa tidak akan terkurangi sedikitpun. Demikian sabda dalam bentuk deklarasi atau pernyataan ini dimulailah karya Upanishad ini, semoga semuanya shanti dan semoga karya ini bermanfaat hendaknya bagi kita semua. Om Tat Sat.
 
I
Semua ini, bentuk apapun juga yang bergerak di Alam Semesta ini, termasuk Alam Semesta (Jagat Raya) ini, yang bergerak sendiri, hidup di dalam atau ditunjang atau terselimuti atau terbungkus oleh Yang Maha Esa. Pasrahkanlah (lepaskanlah) itu, dan seyogyanyalah dikau berbahagia. Jangan (sekali-kali) menghasratkan kekayaan (harta benda) orang lain.
Keterangan : Semua ini (edam sarvam) yang terlihat dan tak terlihat, yang terasa dan yang tidak terasa, yang terwujud dan yang tidak terwujud adalah Dia semata, berasal dariNya, diayomi olehNya dan kembali kepadaNya, seyogyanya seseorang yang sudah faham akan hal tersebut tidak tidak akan tergoda oleh bentuk (rupa) dunia materi dan isinya, karena sadar bahwa ia sendiri sebenarnya juga telah termasuk di dalamnya. Kemudian manusia ini berubah  menjadi bahagia secara spritual, ia menjadi tercukupi dalam segala hal. Ia adalah sebagian dari Sang Pencipta, jadi tidak perlu terlibat oleh dunia materi (Sang Maya), yang juga adalah ciptaan ilusiNya juga. Apapun yang berlebihan dan berkurang dari kita sebenarnya hanya ilusi saja, karena sebagai salah satu ciptaanNya dan berasal dariNya kita semua ini pada hakikatnya tetap saja utuh seperti Sang Pencipta itu sendiri. Tetapi secara materi duniawi setiap saat manusia yang penuh dengan kalkulasi yang berlandaskan untung dan rugi ini terjebak kedalam ilusi duniawi yang sudah berbentuk dan dibentuk oleh sekeliling kita semenjak kita dilahirkan di lingkungan tersebut. Padahal semua ini terbungkus oleh Yang Maha Esa (fenomena ini disebut Isa dalam bahasa Sansekerta, dalam bahasa Indonesia berubah menjadi Esa, Tuhan Yang Maha Esa).
Pada hakikatnya tubuh kita sehari-harinya memerlukan makanan, sandang dan lain sebagainya demi lestarinya raga itu sendiri. Sedangkan batin memerlukan masukan batin atau spritual dan pemikiran, dan ini adalah gejala logis dari sudut pandang duniawi. Tetapi di luar itu sang jiwa memerlukan Atman, Sang Jati Diri yang adalah asal-muasal dan tujuan kita. Jadi kalau aksi atau tindakan (karma) tubuh kita dipadu atau ditunjang oleh ilmu pengetahuan Ilahi, maka hasilnya akan mengantarkan kita kearah pengetahuan Jati Diri kita yang serba menakjubkan. Para resi pencetus ayat-ayat di atas langsung saja menyiratkan agar kita semua meniti proses pemasrahan diri secara duniawi demi tercapainya tujuan Ilahi. Dan kalau seseorang tidak sanggup menjalani pemasrahan ? Maka jalannya adalah jalan aksi (karma yoga), seperti yang tersirat di ayat-ayat berikut ini.

BHAGAVATA PURANA


Prakata
Sukhmani Sahib terdiri dari 24 Astapadi dan setiap Astapadi memuat 24 sloka, dan jumlah keseluruhan aksara yang terdapat di seluruhnya karya suci ini adalah 24.000 ribu aksara. Manusia Hindu percaya bahwa manusia setiap harinya bernafas 24.000 ribu kali, ini sudah termasuk kita tidur di malam hari. Oleh karena itu barang siapa dengan tulus mempelajari dan membaca keseluruhan Sukhmani satu kali saja sehari, maka jiwa-raga insan tersebut akan diberkahi di dunia ini. Dan barang siapa mempelajari dan membaca kitab suci ini 2 kali sehari, maka selain keselamatan di dunia ini, maka keselamatan di dunia lainpun akan terjamin.
Sebenarnya karya ini diajarkan oleh Guru Arjan Dev, yaitu guru ke lima dalam hierarki agama Sikh, tetapi seperti juga tradisi Sanatana Dharma, maka beliau mengatas-namakan karya ini atas nama Guru Nanik, guru pertama dan penemu ajaran Sikh. Ajaran ini dimaksud menyelamatkan manusia di era Kaliyuga yang ganas dan penuh dengan kegelapan yang mengerikan.
Mudah-mudahan selain pahala di atas para pembaca karya suci ini bisa mendapatkan misteri lain yang tersembunyi di ajaran ini, yang isinya penuh dengan bimbingan rohani yang menggetarkan kalbu.


BAB  I
 “Kehidupan Grhasta yang ideal”
Resi Sukadewa Goswami mengisahkan dialog antara Prabu Yudhistira dengan Resi Narada, kepada Prabu Parikesit. Dialog ini terjadi pada saat Prabu Yudhistira telah selesai menyelenggarakan Yagna terbesar di muka bumi ini yaitu yang dikenal dengan nama Aswa Medha. Konon walaupun upacara agung tersebut terselengara dengan baik sang raja yang teramat bijaksana ini selalu saja resah dengan kehidupannya sebagai seorang kepala rumah tangga. Pada saat seperti itu turunlah Resi Narada dari Kahyangan berkunjung kepada sang raja yang pada kesempatan yang langkah ini langsung saja memohon diajarkan mengenai kehidupan grhasta yang ideal untuk zaman Kali-Yuga ini, sang raja sadar bahwa anak cucunya dan masyarakat Hindhu Dharma selanjutnya di zaman-zaman mendatang ini akan berubah pola hidupnya karena kemajuan dan imbas Kali-Yuga, maka akan diperlukan pola pemujaan yang sederhana dan Satvik agar Hindhu Dharma dapat bertahan sesuai dengan ajaran Veda-Veda walaupun tidak harus seratus persen seperti ajaran Veda, karena dengan turunnya ajaran Bhagavat-Gita yang merupakan rangkuman dan intisari dari berbagai Purana, Upanishad dan Veda, maka sempurnalah Hindu Dharma dari segi ritual dan filosofi. Semenjak saat itu sebenarnya Hindu Dharma sudah dipersiapkan untuk menjadi agama modern sesuai dengan tuntutan zaman dan bukan dibebani dengan ritual-ritual yang memakan waktu dan biaya demi keserakahan segelintir kaum Brahmana yang salah jalan.
 
1.      ”Maharaja Yudhistira memohon kepada Resi Narada,“Wahai Resi nan agung, Wahai Prabhu, sudikah menjelaskan bagaimana caranya agar kami yang menjalankan kehidupan rumah tangga ini, yang tidak menyadari akan hakikat tujuan kehidupan ini, dapat mencapai kebebasan, selaras dengan sabda-sabda yang ada di berbagai Veda-Veda.”
Keterangan : Pada bab-bab sebelum ini sebenarnya Resi Narada telah menerangkan hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan dan kewajiban seorang Brahmachari, para pengikut Vanaprastha dan para sanyasi. Tetapi konon di zaman ini ketiga tipe insan-insan ini sudah langka di dunia ini, jadi dimanakah kita bisa menemukan insan-insan ideal yang menjalankan kehidupan Brahmachari yang sejati. Oleh sebab itu kami hanya mengulas bab tentang grhasta saja, yaitu mengenai kehidupan keluarga ideal sehari-harinya. Di dunia Barat kehidupan grhasata sudah mulai rapuh, nilai-nilai kekeluargaan telah hilang dan kita di Timur sedang mengikuti irama ini dengan pesat melalui berbagai kemajuan mass-media dan teknologi dengan mengorbankan semua nilai-nilai luhur warisan budaya dan dharma kita. Akibatnya baik di Barat mau pun di Timur manusia sedang berupaya mencari kembali nilai-nilai yang hilang ini, dan tidak ada yang lebih utama dari ajaran Sanatana Dharma ini yang telah berimbas secara langsung maupun tidak langsung ke ajaran-ajaran lainnya di dunia ini dari masa ke masa. Seyogyanya kita semua merasa bersyukur dan berterima kasih kepada semua resi dan manusia-manusia agung di atas ini yang berkenan untuk mengajarkan ajaran-ajaran yang adi-luhung ini kepada kita semua dengan penuh kesadaran akan hadirnya Kali-Yuga dan dampaknya terhadap umat manusia ini.
 
2.      Resi Narada bersabda  :
“Wahai raja yang kukasihi, mereka-mereka yang menjalankan peran sebagai kepala rumah tangga haruslah bekerja demi kehidupan mereka, dan sebaiknya dari pada menikmati hasil-hasil dari pekerjaan mereka, seharusnya mereka-mereka ini mempersembahkan hasil pekerjaan mereka kepada Kresna Vasudewa. Dan untuk memuaskan Vasudewa (Tuhan Yang Maha Esa) ini dapat dipelajari berbagai jalan yang sempurna melalui pendekatan dengan para bakta-bakta agung pemuja Yang Maha Kuasa ini.”
Keterangan : Ribuan tahun berlalu setelah sabda di atas diturunkan dan semenjak maupun sebelum itu sudah menjadi keharusan bagi pencari kebenaran untuk mencari seorang guru penuntun atau berasosiasi dengan para orang-orang suci demi mempelajari hakikat akan kehidupan ini. Bahkan Guru Nanak yang lahir sekitar 550 tahun yang lalu berulang-ulang menganjurkan hal ini kepada para pengikutnya agar mampu menghayati ilmu Vasudewapana yaitu ilmu pengetahuan tentang Yang Maha Kuasa dan segala manifestasi maupun misteri kehidupan yang diciptakanNya. Para resi dan bakta-bakta ini bisa lebih efektif mengajari kita semua dari pada upacara-upacara yang tidak ketahuan ujung pangkalnya. Sebenarnya itulah intisari Sanatana Dharma yaitu belajar satu dari yang lain secara berkesinambungan. Seandainya seseorang sehari-hari bergaul dengan para penjudi dan penggemar tajen, maka lambat laun iapun akan terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan buruk ini, dan seandainya ia bergaul dengan insan-insan yang satvik maka lambat laun ia pun akan berubah peri-lakunya menjadi satvik. Ini sudah menjadi salah satu dari hukum alam, cobalah dan anda akan mendapatkan jalan tersebut, kalau hanya membaca buku saja dan merasa sudah suci, maka sia-sialah pengharapan anda itu.

CANAKYA NITI SASTRA

DANA PUNIYA

Wahai para dermawan yang bijaksana, persembahkanlah dana puniyamu (bersedekahlah) kepada orang yang tepat dan pada waktu yang tepat, selain itu jangan. Air laut yang sampai pada permukaan awan menjadi manis, sesampai di bumi memberikan hidup kepada mahkluk-mahkluk yang bergerak (manusia,binatang, dll) dan kepada  mahkluk-mahkluk yamg tidak bergerak (rerumputan,tumbuhan,dll) dan akhirnya kembali lagi ke lautan dengan jumlah puluhan juta kali. (CNs.VIII.4)

Kedermawanan menghapuskan kemiskinan, perbuatan yang baik menghilangkan kemalangan, kecerdasan rohani menghapuskan kegelapan/kebodohan, dan rasa takut bisa dihilangkan dengan merenungkanya baik-baik. (CNs.V.11)

Pelajaran veda tanpa korban suci agni hotra (atau yadjna yang lainya) adalah sia-sia belaka. Korban suci tanpa disertai dana puniya tidaklah sempurna, tanpa disertai rasa bhakti semua ini tidaklah berhasil, oleh karena itu, hal yang paling penting adalah bhakti yaitu penyebab  dari segala keberhasilan. (CNs. VII)

Sifat-sifat yang baik adalah hiasan dari wajah, keluarga diharumkan pleh tingkah laku yang baik dan benar, ilmu pengetahuan dicemerlangkan oleh keberhasilan, dan hiasan dari kekayaan adalah dengan mendana-puniyakan. (CNs.VIII.15)

Keindahan wajah, tanpa sifat-sifat yang baik  tidak ada artinya, tingkah laku yang jahat menyebabkan keluarga hancur, tanpa kesuksesan ilmu pengetahuan menjadi sia-sia, kekayaan tidak ada gunanya dan akan mengalami kemusnahan kalau tidak dinikmati dengan cara mendana-puniyakan. (CNs.VII.16)

Orang baik-baik hendaknya senantiasa menyumbangkan makanan dan hartanya (kekayaan), semua itu jangan dikumpulkan,. Lihatlah, bahwa kemasyuran raja Karna, Maharaja Bali, dan Vikramaditya masih tetap dipuji-pujki hingga sekarang. Bahkan san lebah berpikir “oh , sialan,madu kita, yang sejak begitu lama kita kumpulkan, menahan diri untuk tidak dinikmatinya, tetapi sekarang  dalam sekejap telah diambil pleh manusia”. Demikianlah keluh kesah sang lebah sambil menghentakan kakinya ke tanah. (CNs.XI.18)

Yama Purana Tatwa

Om Awighnam Astu !
Iti Sastra Yama Purana Tatwa, ngaran, /Indik sakramaning wwang mati mapendhem, / Yan atahun, dwang tahun, tigang tahun, /Petang tahun, mwang salawase nora maprateka, /Yaning wawu satahun maprateka, /Tan hana wighnan Sang Hyang Hatma, /Nanghing wwange mati bener. /Yan Iiwaring satahun, atmanya matmahan dete, /Tonyan setre, manas ring desa – desa, /Anggawe gring, mangkana halanya, /Mwah wwang mati mapendhem yan hana mrateka, /Haywa ngarepang mrateka tawulaning wwangke ika, /Mwah hana pawarah Bhatara Yama, /Munggwing sastra ling Bhatara. “Uduh Sang Pandita ring janaloka, /Yan hana wwang mati samuruping ksithi dharani, /Aja sira mrateka marepang tawulane wwangke ika, /Phalanya tan prasiddha hilang ikang letuh ikang hatma, / Tan siddha kang prateka apan wwangke ika, /Mulih ring jroning garbhan Sang Hyang Ibu Prathiwi, /Waluya sampun mageseng, humawak tanah, /Saletuhing prathiwi rumaket ing wwangke ika, /Tka wenang Pandhita ngarccana hayu hatman sang kaprateka, /Mangke wnang Sang Pandhita nugraha ring manusa loka, /Anggen awak-awakan sang mati, /Siddha mulih hatmanya ring bhyoma siwa, /Amanggih hayu, mangde nirmala, / Telas saletuhing hatma, rawuhing wwangkenya, /Gawen manih pangawak sang mati, /Yaning wwangsa Brahmana, Ksatriya, Waisya, /Candana-rum inganggen pangawak sang mati, /Panjangnya salengkat ring samusti, /Wiarnya patang nari, mesi sastra Pancaksara, /Dasaksara, Ongkara mula, rwa ambheda, /Duluren upakara ring mati pakraman, /Ring desa wenang upakara, ika tan hana salah, /Mwah wwangke mapendhem ika, /Wnang gagah ring dina pabresihan-ira hesuk, /Tulang wangke ika, wasuh dening we kumkuman, /Mwang toyan kalungah nyuh sasih, /Tulang wwangke ika genahakna ring setra, /Gawene kuwu wehana dahar kasturi, /Manah pangawak adegan sang mati, /Hembanen ring setra, hulapin hatman sang mati, /Kinon mulih ring dununganya, duk kari hurip, /irika sang hatma kapratistha umawak Candana miik, /Tkaning dina patiwa-tiwanya, /Tunggalang geseng tulang wwangke ika, /Pareng ring awak-awakan sang mati, /Haywa mrateka tulang juga, /Sang mati mapendhem, /Hidhep amrateka I Bhute Cuwil, /Ngaran tulang wwangke ika, /Atmanya tan kna preteka, mangkana kojaring sastra, /Mwah yening wwang sudra mati matenem, /Majagawu nggen awak-awakan sang mati, /Kramanya tunggal kadi nguni, /Yan nora samangkana, kna upadrawa sang angentas, /De Sang Hyang Prajapati, /Mwang sang angarepin sawa, /Mwah sang pitara sang ingentas,  Wahu lumaris rawuh ring banjaran santun, /Katon dening widyadara-widyadari, /Atma rawuh merupa Cuwil, mahambu apek apengit, /Malayu watek apsara, duleg angambuning atma wawu rawuh, /Hinatur haturing Bhatara Guru, /”Atma letuh iki rawuh “. /Teher tinundung hingineban dwara wesi, /Atma ika, klinon munggwing jurang ajrem, /Masarira dete mangrik, /Angadakang gring marana ring bhumi, /Angrusak sadesa-desa, /Angrusak sang wiku, mwang sarwa pasu, /Amati-mati wwang, emanasi bhumi, /Anggawe gring tatan papegatan, /Ngebus gumigil, anglempuyeng, /Huyang, paling, tan wnang tinamban, /Mwah Sang Pandhita, /Tkening Sang Ratu ring Madhyaloka, /Haywa murug linging sastra iki, /Phalanya rusak ika sebhumi nira, /Muwah yan hana wwang mati salah pati, /Wwang mati gring ika agung, /Ring smasana juga prateka, tawulanya juga, /Nghing yan hana sengkernya, mangkana kajaring sastra, /
Muwah iti Uma Tatwa, pawarah Bhatari Uma Dewi, /Munggwing sastra, ri sedheng Bhatari Uma malingga, /Ring Kahyangan Dalem Panguluning Setra Agung, /Ling Bhatari Uma, “Ritatkala rawuh Kaliyuga Bhumi, /Gring sasab marana, makweh wwang mati, /Hana wangsa Brahmana, Ksatriya, Waisya, Sudra, / Mati kna gring, harep age amreteka, / Rawuh sangkalaning bhumi, sumurupaken ring prathiwi, /Yan mahyun mamreteka diglis, /Gawenan banten pajati karihin, /Wawu pinendhem, katur ring Hyang Bhatari Uma, /Mwang ring Sang Asedahan Setre, /Ring Penataran Dalem Panghulun Setre, /Ngaturang daksina 1, ajuman 3 sorah, den asangkep. /Nunas nugraha amrateka, kang sinambat, /Pukulan Bhatari Prathiwi, /Mwah Sang Asedahan Setra Agung, /Nghulun aminta nugraha ring Bhatari, /Rumaksa sawa iki saksana, /Nugraha nghulun age amreteka, /Tan panganti tahunan, nugraha atma ipun, /Tan amanggih papa narake, /Tekaning hana gawe mrateka, /Irika nghulun anebas ring Bhatari Prathiwi, /Mwah ring sira Asedahan Setra Agung, /Nghulun aminta nugraha ring Bhatari rumaksa sawe, /Mwah ring paduka Bhatari Dalem Panguluning Ksetra Agung, /Mwah ring Sang Sedahan Sma, haywa ta padha Bhatari, /Mweng watek Bhute rumakse setre midhanda, / Ong siddhi, siddhi pamastu ni nghulun”, Tlas, /Yan mangkana kramanya, /Phalanya rahayu Sang Hyang Atma, /Tkaning sang angentas, kasubhagan, /Mwah sang adrewe sawa, amanggih dirghayusa, /Yan nora samangkana, wenang pendhem anganti tahunan. /Mwah yaning wwang mati mapendhem, /Teher anganti tahunan, /Tan kawenang sakama-kama, alphayusa sang amreteka, /Hala kajaring sastra, /Yan wwang sudosa mati sakawangsanya, /Tka wenang nganti sengkernya dadi maprateka, /Yaning wwang ngulah pati, /Sengkernya 11 tahun, wenang prateka, /Yan dudu mangulah pati, matmahan sinangkala, /Kawase pjah, mapa lwirnya : sininghating kbo sapi, /Tiba mamenek, salwring mati kapangawan, /Padha 3 tahun sengkernya, /Yan lalung sengkernya, tan wenang hentasen, /Haywa murung linging sastra iki, /Rusak ikang bhumi, sang Prabu Pralaya, /Sang Pandihta sudosa,/

Minggu, 10 Juni 2012

Dhanur Veda, Ilmu Militer Veda

Dhanur Veda, Ilmu Militer Veda


Kalaripayattu merupakan salah satu seni bela diri yang diajarkan oleh Parasurama dan diyakini sebagai yang tertua di dunia. Seni bela diri Kalaripayattu diyakini disebarkan pada abad ke-6 oleh Daruma Bodhidarma, seorang pendeta Buddha ke daerah China. Dan dari China beladiri tersebut berkembang berkembang ke Korea dan Jepang.
Di India, Kalaripayattu mencapai masa kejayaannya pada perang 100 tahun antara Cholas, Cheras dan Pandyas pada awal abad pertama. Kondisi perang memperbaiki teknik dan ketrampilan bertarung dalam seni beladiri. Seni bela diri ini mencapai puncak berkembangnya pada apad 13 – 16, dan menjadi bagian dari pendidikan untuk pemuda. Pada akhirnya menjadi adat kebiasaan untuk mengirim pemuda di Kerala, yang berusia diatas 7 tahun untuk belajar Kalari.
Namun pada masa penjajahan Inggris, seni bela diri ini mengalami masa surut. Robert Richards, Principal Collector dari Malabar pada tanggal 20 februari 1804, menulis surat kepada Lord william Bentinct, presiden dan jenderal di benteng St George untuk meminta ijin menindak pada penduduk yang membawa senjata, untuk dihukum mati atau dibuang seumur hidup.
Pada masa Pemberontakan Pazhassi, pasukan inggris menggeledah semua rumah untuk menyita senjata, peralatan termasuk pedoman-pedoman ilmu bela diri mereka. Situasi yang sama berulang di Travancore pada masa pemberontakan yang dipimpin oleh Veluthampi, Dalawa dari Travancore.
Untunglah beberapa guru-guru kalari yang secara sembunyi-sembunyi tetap mengajarkan Kalari untuk mempertahankan tradisi sehingga seni bela diri ini masih dapat kita temukan di India selatan saat ini.

Ilmu bela diri Kalaripayattu hanyalah salah satu bagian dari Dhanur Veda, yaitu sebuah manuskrip kitab suci Veda yang mengajarkan teknik dan strategi bertemur. Dhanur Veda yang diturunkan oleh Maha Rsi Brighu merupakan bagian Upaveda dari Yajur Veda. Visnu Purana menjelaskan bahwa Dhanur Veda merupakan salah satu dari delapan belas cabang pengetahuan tradisional. Epos Mahabharata dan Ramayana juga menegaskan bahwa Dhanur Weda adalah sarana pendidikan dalam keprajuritan.  Di sisi lain, Dhanur Veda disebutkan sebagai sebuah sutra tersendiri dari Veda yang terdiri dari empat cabang (catuspada) dan sepuluh divisi (dasa vidha). Agni Purana juga memaparkan Dhanur Veda dalam  empat bab terpisah [Chakravarti, 1972:14].

Kronologi Pewahyuan dan Penulisan Veda


kronologi pewahyuan Veda

Menurut beberapa sumber, veda yang merupakan kitab suci ajaran Sanātana Dharma सनातन धर्म pertamakali diwahyukan kedunia kira2 155,52 Triliun Tahun SM. Yang pertama kali diturunkan melalui sabda, sehingga weda tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Vedasruti. Sabda suci ajaran – ajaran Veda (Vedasruti) terutama diterima oleh tujuh orang Rsi yang dikenal dengan sebutan Sapta Rsi. Adapun rsi tersebut diantaranya:
  1. Rsi Grtsamada
  2. Rsi Visvamitra
  3. Rsi Vamadewa
  4. Rsi Atri
  5. Rsi Bharadvaja
  6. Rsi Vasistha
  7. Rsi Kanva.

Catur Veda

Merupakan Veda paling pokok/utama (Veda Sruti) yang menggunakan bahasa Daivivak (bahasa para dewa) yaitu bahasa yang tidak digunakan lagi dalam kehidupan manusia saat ini. Bahasa Daivivak sering juga disebut bahasa Sansekerta Veda. Catur Veda (Rgveda, Yayurveda, Samaveda dan Atharvaveda) tersusun dari 20.378 mantra/sloka.
Kemudian, tersebutlah beberapa sloka yang mewajibkan para Maharsi tersebut untuk mengajarkan Veda ini untuk keselamatan dunia. Adapun salah satu dari sloka tersebut adalah:
“Dari Tuhan Yang maha Agung dan kepadanya umat manusia mempersembahkan berbagai yadnya dan daripada-Nya muncul Rgveda dan Samaveda. Daripada-Nya muncul Yayurveda dan Atharvaveda”Yayurveda 3.7.
“Bunga padma yang muncul dari bagian pusar Sri Visnu memuat konsep jasmani gabungan dari semua mahluk hidup. Brahma yang bermuka empat yang mengetahui keempat kitab suci Veda (catur veda), terwujud dari bunga padma tersebut”Brahma-samhita sloka 22.
yathemam vacam kalyanim avadani janebyah, Brahma rajanyabhyam sudraya caryaya, Ca svaya caranaya caYayurveda 26.2.
“hendaknya disampaikan sabda suci ini kepada seluruh umat manusia, cendikawan, rohaniawan, raja, pemerintah, masyarakat, para pedagang, petani, buruh, kepada orang – orangKu dan kepada orang asing sekalipun”
Setelah turunnya sloka tersebut, kira-kira 1,9 milyar tahun SM, barulah para Maharsi menuliskan semua wahyu yang diterimanya. Saat ini Wahyu Veda yang telah ditulis oleh para maharsi tersebut dikenal dengan nama Veda Smrti. Secara umum dapat dikatakan bahwa Veda Smrti merupakan penjelasan mendetail dari Veda Sruti dan juga terdiri dari bagian – bagian yang merupakan panduan dalam melagukan/mengucapkan mantra – mantra dalam Veda.

Sabtu, 09 Juni 2012

VEDA

VEDA

VEDA Tidak seperti kitab-kitab suci agama besar lainnya, yang secara nyata bisa kita lihat keberadaannya berupa sebuah kitab atau beberapa kitab, Kitab Suci Veda terdiri atas ribuan kitab, dengan ribuan dan bahkan jutaan ayat atau sloka. Segala bidang pengetahuan dibahas dalam Veda, mulai dari obat-obatan dan pertanian sampai uraian atau penjelasan tentang waktu di susunan planet atas dan bawah; dari teknik yoga dan meditasi sampai petunjuk-petunjuk kehidupan berkeluarga dan resep-resep hidangan vegetarian; dari penjelasan terperinci mengenai organisasi pemerintahan sampai petunjuk yang sangat lengkap mengenai pembangunan dan dekorasi kuil atau bangunan tempat tinggal. Veda memuat drama, sejarah, dan filosofi yang kompleks, demikian pula pelajaran etika sederhana, aturan militer, dan penggunaan alat-alat musik. Akan tetapi, hal terpenting bagi tradisi Vaishnava belakangan ini adalah bahwa kesusastraan Veda menjelaskan baik tentang rasa (hubungan dengan Tuhan, atau kebahagiaan besar yang bersumber dari hubungan nyata dengan Tuhan) maupun tentang bhakti (cinta kasih pelayanan suci) secara terperinci, sebagai sebuah sains.
  • Divisi Kesusastraan Veda
I. Sruti (tulisan-tulisan berdasarkan wahyu, atau dari yang    didengar)
  • Empat Veda Samhita: Rg, Sama, Yajur, dan Atharva
  • Kitab-kitab Brahmana
  • Kitab-kitab Aranyaka
  • Kitab-kitab Upanisad (yang berjumlah lebih dari 108 kitab terpisah)
II. Smrti (tradisi, atau dari yang diingat)
  • Itihasa (epos) seperti Ramayana dan Mahabharata (yang memuat Bhagavad-gita)
  • Purana (sejarah) seperti delapanbelas Maha-purana (Purana Besar) Enam Purana sattvika (untuk orang dalam sifat kebaikan) Bhagavata Purana (Srimad-Bhagavatam) Visnu Purana Naradiya Purana Garuda Purana Padma Purana Varaha Purana Enam Purana rajasika (untuk orang dalam sifat nafsu) Brahma Purana Brahmanda Purana Brahma-vaivarta Purana Markandeya Purana Bhavisya Purana Vamana Purana Enam Purana tamasika (untuk orang dalam sifat kebodohan) Matsya Purana Kurma Purana Linga Purana Siva Purana Skanda Purana Agni Purana
  • Delapanbelas Upapurana (Purana yang lebih kecil) dan sejumlah Purana Sthala (menurut wilayah)
  • Kitab-kitab setingkat Dharma-sutra: Manu-smrti, Vishnu-smrti, dsb.

kitab Veda

Kitab Weda

Cemohan yang paling banyak kita dengan sebagai penganut Hindu diluar tuduhan filosofis adalah bahwasanya umat Hindu sangat jarang memiliki kitab sucinya sendiri, Veda. Sangat berbeda dengan saudara-saudara kita yang Muslim dan Kristen yang dapat selalu menenteng kitab suci kemanapun mereka pergi. Selalu dapat membuka kitab suci dalam setiap diskusi, ceramah dan ibadah mereka. Hal yang tidak bisa dilakukan oleh umat Hindu, bahkan mungkin tidak akan pernah.
Kenapa tidak bisa demikian? Karena Veda tidak sesempit kitab suci mereka. Jika kitab suci mereka hanya terdiri dari ribuan ayat, sehingga dapat dituliskan dalam sebuah buku, maka tidak demikian dengan Veda yang terdiri dari jutaan sloka. Untuk membayangkan betapa luasnya Veda, mungkin anda dapat melihat lampiran pembagian Veda pada bagian akhir artikel ini.


Melihat Veda yang sangat luas seperti itu? Apa yang harus dilakukan sebagai umat Hindu? Apakah hanya dapat bangga dengan kitab sucinya yang sangat-sangat komplit tanpa pernah membacanya, bahkan tanpa pernah melihat secuil bagiannyapun?
Untuk mempelajari seluruh kitab suci Veda tentunya bukanlah perkara mudah. Umur manusia pada jaman kali ini sangat terbatas, rata-rata hanya di bawah 80 tahun. Dan itupun belum dipotong oleh tuntutan kesibukan material yang notabena harus dilakukan lebih dari 16 jam per hari. Lalu, berapa jam dalam hidup kita yang dapat kita manfaatkan secara efektif dalam mempelajari Veda? Yakinkah anda dapat membaca dan mengerti seluruh Veda dengan waktu yang singkat, ingatan yang terbatas dan berbagai macam ketidaksempurnaan itu?