Senin, 07 Januari 2013

Kisah Leak 15 - Sesapi Putih (Walet Putih)

Dalam tingkatan ilmu Leak, sesapi putih/walet putih merupakan salah satu tingkat tertinggi yang bisa dicapai oleh seseorang. Tingkatan ini membutuhkan waktu, ketekunan serta penugrahan dari Sesuhunan untuk bisa mencapainya.
Dengan menjelma menjadi sesapi putih, maka yang empunya ilmu tersebut bisa bepergian layaknya burung walet terbang tinggi di angkasa tanpa batas. Ilmu inipun bisa digunakan untuk proses penyembuhan penyakit kiriman dari manusa sakti.
Dalam kisah ini tidak akan membahas tentang bagaimana ilmu tersebut, tapi akan menceritakan kisah tentang seorang manusia yang sudah bisa menguasai ilmu tersebut.
Sebut saja namanya Oka (bukan nama sebenarnya) yang mempunyai hobby untuk terlibat pentas calonarang. Peran yang didapat Oka bukanlah peran sembarangan, tetapi peran sebagai Matah Gede. Matah Gede merupakan peran yang menggambarkan Walu Nateng Dirah sebelum berubah wujud, jadi masih dalam wujud manusia.
Untuk peran ini, Oka harus mempunyai bekal ilmu yang cukup, karena sering pada waktu pentas calonarang, terutama waktu ngundang leak, serangan datang bertubi-tubi ke arah Oka. Menurut Oka, kalau ilmu yang nyerang dia lebih rendah, maka serangan bisa diatasi dengan mudah. Lain halnya kalau yang menyerang Oka ilmunya lebih tinggi, maka Oka harus bertahan dengan segenap ilmu yang dimiliki.
Ketika didesak lebih lanjut bagaimana seandainya orang yang nyerang dia sangat tinggi ilmuya, jauh melampauinya, maka Oka dengan segan menceritakan suatu rahasia.
Sebenarnya kalau dia bepergian untuk pentas calonarang, dia tidaklah sendirian, tapi nun jauh diangkasa sana, Ibu dari Oka juga ikut bepergian mengawal sang anak dalam wujud sebagai sesapi putih. Bila si anak pentas di bawah, maka sang ibu dengan waspada akan selalu menjaga keselamatan si anak.
Pernah suatu ketika, si anak (Oka) mendapat serangan yang dahsyat, ketika baru mulai pentas sebagai matah gede, waktu acara ngundang leak dia agak kebablasan ngomongnya, Oka merasakan suatu pukulan yang mengantam dadanya. Dadanya kemudian menjadi sesak, dan tidak bisa bernafas, kemudian crew calonarang yang lain segera memapah dia masuk ke ruangan dibalik layar.
Dalam kondisi yang sangat kritis, apabila tidak mendapat pertolongan maka Oka dipastikan meninggal, tiba-tiba seekor sesapi putih terbang dan masuk ke dalam ruangan di balik layar dan segera hinggap mendekap dadanya Oka. Itulah perwujudan dari Ibunya Beliau yang segera memberi bantuan ketika situasi kritis terjadi.
Setelah dadanya didekap oleh sesapi putih, maka Oka seketika bisa bernafas kembali, sesapi putih tersebut segera terbang meninggalkan Oka, dan pertunjukan calonarang diteruskan kembali. Oka bercerita bahwa terjadi siat peteng yang luar biasa hebat pada malam itu. Dan syukurlah dia bisa mengatasi orang yang usil tersebut.
Saran Oka kepada para seniman calonarang bahwa para seniman harus punya bekal dan back up, siapa tahu ada serangan yang dahsyat jauh di atas kemampuan kita, dan dalam pentas hendaknya jangan sombong dan mengundang leak secara kebablasan.

sumber :: http://www.puragunungsalak.com/2012/08/kisah-leak-15-sesapi-putih-walet-putih.html

Kisah Leak 14 - Barong Landung


Barong Landung merupakan salah satu kepercayaan masyarakat Bali yang berbentuk mahluk yang sangat tinggi dan besar. Perwujudan ini merupakan hasil dari personifikasi Raja Jayapangus dan Permaisurinya yaitu Kang Cing Wei. Setelah melalui berbagai cobaan, oleh rakyat yang memujanya, pasangan raja dan ratu tersebut dipersonifikasikan sebagai Barong Landung untuk meghormati Beliau berdua.
Dalam tulisan ini tidak akan dibahas tentang asal usul Barong Landung tersebut, tapi lebih kepada pengalaman yang dimiliki oleh salah seorang tetua di desa yang pernah bertemu dengan Barong Landung secara tidak sengaja. Pengalaman ini terjadi jauh sebelum teknologi listrik mencapai desa tetua tersebut.
Sebut saja namanya Pan T, berprofesi seperti warga kebanyakan yaitu sebagai petani, jahil dan agaak cuek dengan situasi di sekitarnya. Sering pergi malam-malam untuk sekedar ngecek tanaman ataupun menonton pertunjukan di desa sebelah.
Rumah Pan T bisa dicapai dengan melalui sebuah gang, dimana gang tersebut secara sekala sangat sempit, tapi menurut orang tua, gaang tersebut merupakan jalan besar secara niskala. Tidak heran banyak anjing yang meraung-raung ketika tengah malam tiba, menambah suasana menjadi semakin seram karena penerangan listrik belum ada.
Suatu alam, Pan T menonton pertunjukan joged di desa sebelah, pertunjukkan itu sendiri sangat favorit dan berlangsung hingga lewat tengah malam. Kebetulan Pan T menonton sendirian dari desanya. Setelah pertunjukkan selesai maka bergeas Beliau pulang melewati jalan desa dan akhirnya harus melewati gang di depan rumahnya yang sempit tersebut.
Ketika melalui gang tersebut, tiba-tiba perutnya merasa mulas (kebelet), waktu itu belum ada yang namanya WC. Orang buang hajat biasanya mencari tegalan/teba yang terdekat. Dasar Pan T orang yang cuek, maka ketika perutnya tidak tertahan lagi, dia segera meloloskan sarungnya dan (maaf) mengambil posisi jongkok dengan (maaf) pantat menghadap ke gang tersebut.

Sedang asyiknya buang hajat, Pan T merasa ada orang mendekat karena tanah terasa bergetar, dia heran kok tanah sampai bergetar dan terdengar suara langkah semakin mendekat. Lolongan anjing ikut meramaikan susana malam itu.

Pan T yang pada dasarnya cuek tidak bermaksud menghentikan acara buang hajatnya malah penasaran dengan tanah yang bergetar, maka ketika suara langkah semakin mendekat, Pan T segera menengok ke belakang. Apa lacur, sepasang mahluk yang sangat besar dan tinggi, berwujud Barong Landung sedang lewat di belakangnya. Pan T panik, untuk melarikan diri tidak bisa, karena tiba-tiba kakinya lemas dan tidak bisa digerakkan.

Barong Landung tersebut menoleh ke arah Pan T seolah-olah menegur atas prilakunya yang buang hajat sembarangan. Pan T yang panik akhirnya rebah dan tidak sadarkan diri. Setelah sadar badannya penuh dengan kotorannra dia sendiri, rupanya posisi jatuhnya mengarah ke belakang sehingga badannya menimpa kotorannya.

Pan T segera pulang dan mandi, dengan masih gemeteran dia bercerita ke orang tuanya, orang tuanya mengingatkan bahwa gang tersebut adalah margi agung secara niskala, jadi jangan coba-coba untuk berbuat sesuatu yang kotor di sana. Pan T pun baru percaya akan tengetnya gang di depan rumahnya itu.


sumber ::http://www.puragunungsalak.com/2012/08/kisah-leak-14-barong-landung.html

Kisah Leak 13 - Banaspati Raja

Berikut merupakan kisah yang dituturkan sesepuh desa penulis yang terjadi waktu Beliau masih muda. Waktu itu belum ada listrik ataupun alat penerangan canggih lainnya.
Sesepuh tersebut, sebut saja namanya Nang R, mempunyai profesi sebagai petani yang rajin sekali pergi ke sawah tanpa mengenal waktu. Kadang-kadang Beliau menghabiskan malamnya di sawah hanya untuk menungguin tanamannya.
Untuk menuju ke areal persawahan, Beliau harus melewati jalanan yang sangat sepi, kuburan/setra Pura Dalem dan seterusnya. Situasi waktu masih sangat rimbun karena masih sangat banyak pepohonan besar yang tumbuh di daerah Beliau tinggal ketika itu.
Suatu hari Nang R seperti biasa pergi ke sawah untuk mengawasi tanamannya, waktu itu bulan menerangi bumi dengan sejuknya, setelah lewat tengah malam barulah Nang R sadar bahwa ada sesuatu yang harus dikerjakan di rumah. Dengan tidak memperhitungkan waktu, Beliau segera berkemas untuk pulang ke rumah.
Suasana yang sepi dan gelap hanya diterangi cahaya bulan tidak menghalangi gerak langkahnya untuk segera pulang. Pas sampai di jalan yang berdekatan dengan kuburan/setra, Beliau berhenti karena melihat ada sesuatu yang menghalangi/menutup jalan di depannya.
Dengan bantuan cahaya bulan, Beliau melakukan pengamatan, dan mendapatkan kenyataan yang mengherankan, karena sesuatu yang menghalangi jalan tersebut adalah mahluk hidup yang sedang tertidur terlentang.
Dengan rasa penasaran Nang R mendekati mahluk itu, dan Beliau menjadi bingung akan bentuk mahluk itu. Kalau diperhatikan, mahluk itu seperti Barong, Nang R heran, siapa yang meninggalkan Barong di tengah jalan malam-malam begini.
Diperhatikan lebih seksama, Nang R menjadi bingung karena mahluk ini memiliki (maaf) buah pelir yang sangat besar seperti sapi jantan. Kok barong bisa memiliki begituan ya, dengan ngak habis pikir dia terus mengamati mahluk tersebut.
Pada dasarnya Nang R memiliki sifat iseng dan usil, dengan santainya tanpa memikirkan resikonya, kemaluan dari mahluk tersebut disentil dengan jari tangannya. Yang terjadi sungguh sangat mengagetkan, mahluk tersebut tiba-tiba bersin, huaaasiiiitttt, dan udara yang keluar dari hidung mahluk tersebut membuat Nang R terpental jatuh dan tidak sadar diri. Setelah kesadarannya pulih, pelan-pelan dia mengamati keadaan sekitarnya, dia tersadar bahwa dia berada di debat bale banjar, dimana jarak antara tempat mahluk itu dengan bale banjar sekitar 2 km.
Bisa dibayangkan alangkah kuat nya semburan bersin mahluk tersebut, dan alangkah mujurnya Nang R sehingga Beliau masih selamat dari kemarahan mahluk tersebut. Ternyata, selain sebagai petani, Nang R juga sangat rajin sembahyang ke pura, sehingga Ida Sesuhunan menyelamatkan Nang R ketika berada dalam keadaan genting. Nang R penasaran akan mahluk tersebut, dan ketika ditanyakan ke orang yang lebih pintar, Beliau mendapat keterangan bahwa mahluk tersebut adalah Banaspati Raja, yang kebetulan bersemayam dan sedang istirahat di tempat tersebut.
Moral dari cerita ini adalah, jangan usil dan rajinlah sembahyang

Kisah Leak 12 - Celepuk (Burung Hantu)

Kisah ini dialami oleh seorang wanita paruh baya waktu dia masih muda sebut saja namanya Mbok M. Diceritakan bahwa berdekatan dengan hari raya Nyepi, si Mbok M sendirian berada dirumahnya, karena kedua orang tuanya sedang di sawah untuk menjaga tanaman, sedangkan kakaknya sedang merantau di tempat yang jauh.
Waktu itu belum ada listrik, jadi penerangan di rumah yang digunakan adalah lampu sentir, tetangganya si Mbok M yang merupakan orang kaya menggunakan lampu petromaks.
Mbok M ditugaskan oleh ibunya dalam rangka hari raya Nyepi untk membuat jajanan Bali yang akan dipakai bekal waktu Nyepi nanti.
Saking bersemangatnya, si Mbok M membuat jajanan dengan tidak memperhatikan waktu, saking asyiknya, dia tidak menyadari bahwa waktu sudah lewat tengah malam.
Keanehan baru dirasakan olehnya ketika udara semilir dingin menerpa wajahnya, dan lamat-lamat di Mbok  M mendengar ada suatu suara yang mengitari rumahnya. Dia dengan seksama mendengarkan suara tersebut, ternyata suara tersebut adalah suara burung hantu yang berbunyi " puk, puk, puk". 
Sebenarnya si Mbok M sudah terbiasa mendengar suara burung hantu, yang dirasakan aneh olehnya adalah suara tersebut mengitari rumahnya berkali-kali. 
Dengan sangat penasaran si Mbok M mencoba untuk mengintip lewat lubang yang kebetulan terdapat di dinding rumahnya. Rasa penasaranpun menjadi semakin besar tatkala suara burung hantu itu mendekat ke posisi dekat dinding tempat dia mengintip. 
Si Mbok M terperangah ketika melihat bahwa yang bersuara tersebut memang menyerupai burung hantu, tapi besarnya sebesar manusia dan bisa berjalan kaki selayaknya manusia, dengan menahan nafas si Mbok M akhirnya menunggu agar mahluk itu berlalu, dan kemudian dia berhenti membikin jajanan karena takut akan mahluk tersebut.

sumber ::http://www.puragunungsalak.com