ada 7 buah mata air panas/tuju
tingkat, dan yg pertama dan kedua tlah di ketahui sebelumnya. Beliau juga
Berpesan kepada semua mahluk khususnya Manusia agar jagan serakah dan harus
menyatu dengan alam semesta dan berkenalan dengan penghuni atau maluk” lain
agar tak terjadi bencana alam. Dan ketika
dalam pengalian informasi berikutnya di ketahuilah nama pemilik lokasi tersebut
Bernama Ratu Niang Mas Berambut Panjang
( Nenek Dewi Putri ). Dan beliau mengatakan bahwa air yg terdapat dlm
mata air panas tsbt, bisa di gunakan apa saja, penyembuhan berbagai macam
penyakit, penghancur segala macam hama baik di ladang maupun d sawah dan masih
banyak lagi khasiat dari air trsbt. Dan beliau juga bepesan bagi orang” yg
inggin mengujungi tempat trsbt dengan niat dan Itikad baik. Niang Mas akan
menyambut dengan sangat baik tanpa memilih” dan menyamaratakan orang” yg mau
berkunjung ke tempat Niang Mas tsbt.Om Swastiastu, Om Awighnamastu Namo Siddham. Terlebih dahulu, kami haturkan pangaksama mohon maaf sebesar - besarnya ke hadapan Ida Hyang Parama Kawi - Tuhan Yang Maha Esa serta Batara - Batari junjungan dan leluhur semuanya. Agar supaya, tatkala menceriterakan keberadaan para leluhur yang telah pulang ke Nirwana, kami terlepas dari kutuk dan neraka.
Minggu, 14 Oktober 2012
Ekspedisi Part one
Awal perjalanan
Ekspedisi kali ini, di awali oleh mimpi dari Jro Mangku I WAYAN SIWI,
di tampakan oleh sebuah wujud pemandangan alam yg asri dan beliau di sarankan
agar segera mencari lokasi tersebut. Pada waktu UMANIS GALUNGAN kajeng umanis 30
agustus 2012 , anak beliau menelfon saya dan mengabarkan akan melakukan
perjalanan penjelajahan ke atas sebuah gunung, untuk mencari tempat yg di
mimpikan oleh sang ayah, Dan menawarkan saya agar ikut serta dlm perjalanan
tersebut. seketika itu juga saya menyangupinya dan segera berangkat ke rumah
beliau, ketika tiba disana saya bertemu dengan rekan” beliau yg lain dan
beberapa saat kemudian kami memulai perjalanan ekspedisi penjelajahan alam kali
ini, dari desa PURWOSARI kec.torue Kab.parimo Sulawesi tenggah, kami berangkat
menelusuri perkampungan dan perkebunan warga dan dlm perjanan kami bertemu
dengan seorang pemandu yg telah berjanji akan memandu kami ke tempat yg berada
dalam mimpi Jro mangku I waya siwi
trsbt. Pendakian pun di mulai menelusuri perkebunan warga di jajaran pegunungan
Topi Wajo / Gunung Bundar, medan yg curam dam lokasi jalan setapak membuat riuh
perjalanan, ketika sampai di akhir jln pekebunan tesebut, kami melanjutkan
perjlanan dengan bejalan kaki menelusuri sisa” perkebunan dan tibalah kami di atas
sebuah bukit dan di bawah bukit trsb terdapat sebuah sungai, tanda-tanda lokasi
yg terdapat dlm mimpi Jro Mangku I Wayan
Siwi telah nampak beliau mengatakan
tandanya tlah terlihat sebuah pohon cemara yg menjulang tinggi ke langit dan
sebuah pohon beringgin. Tapi yg jadi kendala adalah jalan menuju ke arah sungai
itu blm di ketahui karena kami berada tepat di atas bukit dan d beberapa bagian
bukit trsbt terdapat tebing yg curam mengarah ke arah sungai yg di maksud.
Beberapa waktu mencari jalan akhirnya ketemu jalan yg pas menuju sungai yg di
maksud, akhirnya kami menuruni perbukitan yg terjal dan penuh semak blukar, dan
sampailah kami di tepi sebuah sungai yg di maksud dlm mimpi Jro mangku suara LEDAKAN bebebatuan pun menyambut
kami sebagai pertanda ucapan slamat datang oleh tuan rumah/orang ”mahluk” yg
mendiami lokasi tsbt. Beberapa puluh meter di depan nampak terlihat pohon
cemara dan setibanya di poho cemara tsrbt, nampak terlihat air yg mengalir dari
bongkahan batu Besar yg di tutupi oleh semak,, ketika semak belukar tersebut di
bersihkan dan airnya di sentuh oleh Jro Mangku, tiba “ saja air yg mengalir
dari bongkahan batu tsbt menjadi lebih banyak dan mengeluarkan asap dan terasa
air tersebut menjadi hangat dan lama kelamaan menjadi PANAS. Ketika di lakukan
ritual dan mohon petunjuk untuk mengetahui Apa nama dan siapa Pemilik / Pengusa
tempat tersebut. KAKEK RAJA GUNUNG BUNDAR Mengatakan bahwa Tempat tersebut
bernama Air Panas Dopi-Dopi tingkat III,
ada 7 buah mata air panas/tuju
tingkat, dan yg pertama dan kedua tlah di ketahui sebelumnya. Beliau juga
Berpesan kepada semua mahluk khususnya Manusia agar jagan serakah dan harus
menyatu dengan alam semesta dan berkenalan dengan penghuni atau maluk” lain
agar tak terjadi bencana alam. Dan ketika
dalam pengalian informasi berikutnya di ketahuilah nama pemilik lokasi tersebut
Bernama Ratu Niang Mas Berambut Panjang
( Nenek Dewi Putri ). Dan beliau mengatakan bahwa air yg terdapat dlm
mata air panas tsbt, bisa di gunakan apa saja, penyembuhan berbagai macam
penyakit, penghancur segala macam hama baik di ladang maupun d sawah dan masih
banyak lagi khasiat dari air trsbt. Dan beliau juga bepesan bagi orang” yg
inggin mengujungi tempat trsbt dengan niat dan Itikad baik. Niang Mas akan
menyambut dengan sangat baik tanpa memilih” dan menyamaratakan orang” yg mau
berkunjung ke tempat Niang Mas tsbt.
ada 7 buah mata air panas/tuju
tingkat, dan yg pertama dan kedua tlah di ketahui sebelumnya. Beliau juga
Berpesan kepada semua mahluk khususnya Manusia agar jagan serakah dan harus
menyatu dengan alam semesta dan berkenalan dengan penghuni atau maluk” lain
agar tak terjadi bencana alam. Dan ketika
dalam pengalian informasi berikutnya di ketahuilah nama pemilik lokasi tersebut
Bernama Ratu Niang Mas Berambut Panjang
( Nenek Dewi Putri ). Dan beliau mengatakan bahwa air yg terdapat dlm
mata air panas tsbt, bisa di gunakan apa saja, penyembuhan berbagai macam
penyakit, penghancur segala macam hama baik di ladang maupun d sawah dan masih
banyak lagi khasiat dari air trsbt. Dan beliau juga bepesan bagi orang” yg
inggin mengujungi tempat trsbt dengan niat dan Itikad baik. Niang Mas akan
menyambut dengan sangat baik tanpa memilih” dan menyamaratakan orang” yg mau
berkunjung ke tempat Niang Mas tsbt.Selasa, 21 Agustus 2012
Barong : Simbol Penjaga Bali
Braahmaa
srjayate lokam
Visnave paalakaa sthitam.
Rudretve sanharas ceva
Tri Murthi naama evaca.
(Bhuwana Kosa. III.78).
Maksudnya:
Batara Siwa menciptakan alam ini dengan wujud Dewa Brahma, dengan wujud Dewa Wisnu menjaga alam ini. Dengan wujud Dewa Rudra beliau mempralina alam ini. Itulah Dewa Tri Murti, tiga wujud itu hanya beda nama.
Dalam ajaran Hindu, Tuhan itu Esa hal ini dinyatakan dalam kitab Rgveda maupun kitab-kitab Sastra Hindu lainnya. Tuhan Yang Maha Esa itu memiliki kemahakuasaan yang tiada terbatas. Manusia hanya terbatas kemampuannya memahami kemahakuasaan Tuhan yang tiada terbatas itu.
Misalnya Tuhan diyakini sebagai maha pencipta, maha pelindung dan maha
pemralina. Tiga kemahakuasaan Tuhan itulah dalam kitab Bhuwana Kosa yang
dikutip di atas disebut Brahma, Wisnu dan Rudra. Itulah yang disebut Tri Murti.
Beliau itu satu hanya beda fungsi dan sebutan atau nama saja. Rudra ini juga
disebut Iswara. Dalam Bhuwana Kosa tersebut Tuhan disebut Siwa. Sebagai
pemralina atau melenyapkan sesuatu yang patut dilenyapkan Tuhan Siwa disebut
Rudra atau Iswara.
Dalam Lontar Barong Swari ada dinyatakan bahwa di bumi ini manusia diserang oleh wabah yang sangat hebat. Dari utara bumi ini diserang oleh wabah yang disebut Gering Lumintu. Dari barat diserang oleh Gering Amancuh. Dari Selatan diserang oleh Gering Rug Bhuana. Dari timur diserang oleh Gering Utah Bayar. Serangan wabah ini membuat hidup manusia benar-benar sangat menderita. (Gering = wabah)
Untuk mengatasi wabah tersebut manusia melakukan langkah-langkah sekala dan niskala. Langkah niskala yang dilakukan oleh manusia dipimpin oleh para pandita dan pinanditanya memanjatkan permohonan pada Tuhan Siwa. Tujuan permohonan itu untuk mendapatkan kekuatan spiritual melawan wabah tersebut.
Tuhan Siwa mengutus Dewa Tri Murti turun ke dunia untuk menuntun manusia melenyapkan penderitaan dan kesedihan tersebut. Dewa Brahma turun menjadi Topeng Bang. Dewa Wisnu turun menjadi Topeng Telek. Sedangkan Dewa Iswara turun menjadi Barong. Dengan pementasan Topeng Bang, Topeng Telek dan Barong ini Dewa Tri Murti memotivasi rohani umat manusia untuk bangkit mendapatkan kegembiraan rohani.
Dari kegembiraan rohani inilah akan muncul gagasan-gagasan cemerlang untuk mengatasi serangan wabah yang disebut gering itu. Dalam Lontar
Visnave paalakaa sthitam.
Rudretve sanharas ceva
Tri Murthi naama evaca.
(Bhuwana Kosa. III.78).
Maksudnya:
Batara Siwa menciptakan alam ini dengan wujud Dewa Brahma, dengan wujud Dewa Wisnu menjaga alam ini. Dengan wujud Dewa Rudra beliau mempralina alam ini. Itulah Dewa Tri Murti, tiga wujud itu hanya beda nama.
Dalam ajaran Hindu, Tuhan itu Esa hal ini dinyatakan dalam kitab Rgveda maupun kitab-kitab Sastra Hindu lainnya. Tuhan Yang Maha Esa itu memiliki kemahakuasaan yang tiada terbatas. Manusia hanya terbatas kemampuannya memahami kemahakuasaan Tuhan yang tiada terbatas itu.
| Besakih : Personifikasi Tri Murti |
Dalam Lontar Barong Swari ada dinyatakan bahwa di bumi ini manusia diserang oleh wabah yang sangat hebat. Dari utara bumi ini diserang oleh wabah yang disebut Gering Lumintu. Dari barat diserang oleh Gering Amancuh. Dari Selatan diserang oleh Gering Rug Bhuana. Dari timur diserang oleh Gering Utah Bayar. Serangan wabah ini membuat hidup manusia benar-benar sangat menderita. (Gering = wabah)
Untuk mengatasi wabah tersebut manusia melakukan langkah-langkah sekala dan niskala. Langkah niskala yang dilakukan oleh manusia dipimpin oleh para pandita dan pinanditanya memanjatkan permohonan pada Tuhan Siwa. Tujuan permohonan itu untuk mendapatkan kekuatan spiritual melawan wabah tersebut.
Tuhan Siwa mengutus Dewa Tri Murti turun ke dunia untuk menuntun manusia melenyapkan penderitaan dan kesedihan tersebut. Dewa Brahma turun menjadi Topeng Bang. Dewa Wisnu turun menjadi Topeng Telek. Sedangkan Dewa Iswara turun menjadi Barong. Dengan pementasan Topeng Bang, Topeng Telek dan Barong ini Dewa Tri Murti memotivasi rohani umat manusia untuk bangkit mendapatkan kegembiraan rohani.
Dari kegembiraan rohani inilah akan muncul gagasan-gagasan cemerlang untuk mengatasi serangan wabah yang disebut gering itu. Dalam Lontar
| Barong, Penjaga Niskala |
Cerita ini adalah pesan ajaran tattwa agama Hindu yang dikemas dalam bentuk mitologi. Untuk mengatasi penderitaan masyarakat hendaknya ditempuh langkah yang bersifat sekala atau nyata dan yang bersifat niskala. Pementasan barong yang umumnya disertai dengan tari Topeng Bang, dan Telek sebagai media untuk membangkitkan vibrasi spiritual pada masyarakat. Vibrasi spiritual itu untuk membangun kejernihan rohani.
Rohani yang jernih itu sebagai langkah awal membangun pemikiran yang jernih. Dari pikiran yang jenih akan muncul wacana dan langkah nyata untuk memberantas penyakit yang datang dari berbagai penjuru. Penyakit yang harus diberantas adalah penyakit fisik dan nonfisik. Demikian pula penyakit yang muncul karena rusaknya lingkungan alam dan lingkungan sosial.
Mengatasi semuanya itu harus dimulai dari menguatkan daya spiritualitas. Daya spiritualitas itu datang dari kuatnya keyakinan umat pada Tuhan. Keyakinan dengan menguatkan daya spiritualitas itulah Tuhan akan menurunkan karunianya dalam wujud memberi kegembiraan rohani. Kegembiraan rohani itulah yang disimbolkan dengan pementasan barong lengkap dengan Topeng Bang dan Topeng Telek yang lemah lembut.
Kadang-kadang hanya ada barong yang Ngelawang mengelilingi desa. Lebih-lebih pada Sasih Kaenem (Bulan keenam dalam kalender Bali) banyak wabah terjadi. Saat itulah banyak desa pakraman barongnya Ngelawang. Barong ngelawang ini di masing-masing desa pakraman atau daerah tertentu tradisinya berbeda-beda. Tetapi, maknanya sama yaitu sebagai simbol untuk menghadirkan kekuatan suci Batara Iswara memotivasi umat menghilangkan segala sumber penyakit yang menyengsarakan masyarakat. Barong yang dinyatakan sebagai perwujudan Banas Pati Raja itu bermakna untuk memotivasi umat melindungi hutan. Hutan memiliki banyak fungsi dalam kehidupan ini.
| Ngelawang : menetralisir energi negatif |
Sabtu, 18 Agustus 2012
Tantrayana : Menguak Keyakinan Calonarang
Rakyat Indonesia yang
terdiri dari bermacam-macam suku, sejak dahulu memeluk agama yang berbeda-beda.
Tantrayana adalah suatu aliran atau sekte yang pada masa lampau pernah
cukup banyak pemeluknya dan berkembang luas di Indonesia; bahkan raja
Kertanegara dari kerajaan Singasari adalah seorang penganut yang taat dari
agama Budha Tantra.
Raja Kertanegara dari
kerajaan Singasari di Jawa Timur adalah seorang raja yang sangat taat
melaksanakan ajaran Tantrayana. Beliau hidup berpesta pora di dalam istana
bersama-sama dengan mentri-mentri dan para pendeta terkemuka. Bahkan ketika
Singasari diserbu oleh pasukan kerajaan Kediri pun mereka sedang mengadakan
pesta pora, tetapi upacara pesta pora, makan minum besar-besaran tersebut bukan
sebagai pesta biasa, melainkan raja bersama para mentri dan pendeta itu sedang
melakukan upacara-upacara Tantrayana (Soekmono, 1959 : 60).
Untuk mengungkapkan
perkembangan Tantrayana di Bali maka uraian tidak bisa lepas dari hubungan Bali
dengan Jawa Timur, yang dimulai dengan perkimpoian raja Dharma Udayana
Warmadewa di Bali dengan seorang putri raja Jawa Timur yang bernama Sri
Gunapriyadharmapatni. Beliau adalah putri Makutawangsawardhana,
sedangkan Makutawangsawardhana adalah cucu Raja Sindok. Pada masa
pemerintahan Raja Sindok di Jawa Timur Tantrayana telah berkembang.
![]() |
| Rangda |
Pada waktu itu telah disusun
kitab Sang Hyang Kamahayanikan yang menguraikan soal-soal ajaran dan ibadah
agama Budha Tantra. Kemungkinan bahwa Sri Gunapriyadharmapatni atau
Mahendradhatta pun telah terpengaruh oleh aliran itu di tempat asalnya di Jawa
timur, sebab di Bali jaman pemerintahan raja Dharma Udayana Warmadewa dan
Gunapriyadharmapatni merupakan jaman hidup suburnya perkembangan ilmu-ilmu
gaib.
Cerita Calon Arang yang
sangat terkenal di Bali dihubungkan dengan kehidupan Mahendradhatta. Di dalam
Lontar Calon arang ada diuraikan bagaimana memuja Hyang Bhairawi atau Dewi
Durga untuk mendatangkan wabah penyakit di dalam negeri Kerajaan Airlangga.
Calon arang dan muridnya menari-nari di atas mayat-mayat yang telah dihidupkan
kembali untuk persembahan Dewi Durga sebagai korban agar semua kehendaknya bisa
dikabulkan. Cara-cara seperti itu adalah hal yang biasa di dalam Tantrayana.
Permaisuri Mahendradhatta
mangkat lebih dahulu dari raja Udayana dan didharmakan di Burwan, Kutri,
Gianyar. Di tempat itu beliau diwujudkan dalam bentuk arca besar Durgamahisasuramardhini.
Arca itu merupakan Bhatari Durga yang sedang membunuh asura (setan) yang berada
pada badan seekor kerbau besar (Goris, 1048 : 6). Arca itu menguatkan dugaan
orang bahwa Mahendradhatta sebagai penganut ajaran-ajaran ilmu gaib dan Dewi Durgalah
yang menganugerahi kesaktian (Shastri, 1963 : 49). Kendatipun dalam cerita
calon arang banyak keadaan yang bercampur baur dan keliru, tapi mungkin ada
dasar-dasarnya yang benar bahwa Mahendradhatta dilukiskan sebagai Calon Arang
(Goris, 1948 : 7). Dengan demikian maka kemungkinan pada sekitar abad X
Tantrayana telah berkembang di Bali.
| Arca Durga Mahisasuramardhini di Kutri |
Kemudian pada sekitar abad
XIII di Jawa Timur memerintah raja Kertanegara sebagai raja terakhir kerajaan
Singasari. Raja ini terkenal dalam ilmu politik luar negerinya ingin meluaskan
daerah kekuasaannya ke Barat sampai ke Bali. Menurut kitab Negarakertagama raja
Kertagama pada tahun 1280 masehi membunuh orang jahat yang bernama Mahisa
Rangkah dan selanjutnya dikatakan bahwa pada tahun 1284 beliau telah menyerang
Bali dan rajanya ditawan (Krom, 1956 : 188). Hal itu tercantum dalam kitab
Negarakertagama di katakan sebagai berikut :
Leak Bali : Lebih Jauh Tentang Ilmu Pangleakan Bali...(Hati-Hati!)
Sama seperti halnya ilmu2 lain yang ada di jagat raya, di Bali juga terdapat 2 jenis ilmu yaitu ilmu putih (penengen) dan ilmu hitam (pangiwa). Ilmu hitam (pangiwa) sering juga disebut aji wegig/aji ugig.
Adapun cara untuk mendapatkan ilmu tersebut bisa dengan cara membeli
ataupun meminta (nunas) dan belajar di bawah pengawasan gurunya.
Berikut kira2 cara untuk memperoleh ilmu hitam / pengleakan tersebut:
Untuk mendapatkan ilmu tersebut, harus mengadakan upacara yang disebut madewasraya. Apabila ingin menggunakan pangiwa, supaya dapat sakti dan manjur, mujarab dan digjaya, terlebih dahulu harus menyucikan diri. Setelah itu tatkala malam diadakannya madewasraya dahulu di kayangan pangulun setra (pura yang ada di dekat kuburan), memohon Paduka Betari Durga, memohon berkah.
Adapun sarananya:
1. Daksina 1 buah
2. Uang kepeng sebanyak 17.000
3. Ketupat 2 kelan (1 kelan = 6 biji)
4. Arak & brem
5. Ketan hitam
6. Canang 11 biji
7. Canang tubungan, burat wangi lenga wangi, nyanyah (sangrai) gagringsingan, getih-getih (darah), dan biu mas (pisang kecil yang biasanya dipakai untuk membuat canang)
2. Uang kepeng sebanyak 17.000
3. Ketupat 2 kelan (1 kelan = 6 biji)
4. Arak & brem
5. Ketan hitam
6. Canang 11 biji
7. Canang tubungan, burat wangi lenga wangi, nyanyah (sangrai) gagringsingan, getih-getih (darah), dan biu mas (pisang kecil yang biasanya dipakai untuk membuat canang)
![]() |
| Daksina |
| Canang Burat Wangi |
Kemudian sarana ini dipersembahkan
secara niskala. Setelah itu bersila di depan paryangan, bersemadi dan
tidak lupa dengan dupa menyan astanggi, heningkan batin. Kemudian
ucapkan mantra:
"Om Ra Nini Batari Bagawati, turun ka Bali; ana wang mangkana; aminta kasih ring Paduka Batari, sira nunas turun ka mrecapada. Ana wang mangkana anunas kasaktian, manusa kabeh ring Bagawati, Sang Hyang Guru turun ka mrecapada. Ana wang manusa angawe Batara kabeh, turun ka Bali Sang Hyang Bagawati. Ana buta wilis, buta abang, ana buta jenar, ana buta ireng, ana buta amanca warna, mawak I Kalika, ya kautus antuk Batari Bagawati, teka welas asih ring awak sarinankune, pakulun Paduka Bagawati. Om Mam Am Om Mam, ana Paduka Batara Guru, teka welas asih, Bagawati manggih ring gedong kunci manik, teka welas asih ring awak sarinanku".
Apabila sudah berhasil mendapatkan ilmu tersebut, maka ada aturan yang harus dipatuhi. Orang yang memiliki ilmu tersebut akan digjaya tidak terkalahkan, tidak bisa diungguli, dan semua akan tunduk kepadanya. Apabila mampu merahasiakannya, maka dalam 100 kali kelahiran akan menemui kebahagiaan dan kebebasan tertinggi. Dan bila meninggal dapat kembali ke sorga Brahmaloka, Wisnuloka, dan Iswaraloka. Tetapi bila ketahuan, apalagi sampai suka membicarakan, menyebarluaskan, dan tidak mampu merahasiakannya, maka dalam 1000 kali kelahiran akan menemui hina, neraka, disoroti oleh masyarakat, dan sudah pasti terbenam dalam kawah neraka Si Tambra Goh Muka.
"Om Ra Nini Batari Bagawati, turun ka Bali; ana wang mangkana; aminta kasih ring Paduka Batari, sira nunas turun ka mrecapada. Ana wang mangkana anunas kasaktian, manusa kabeh ring Bagawati, Sang Hyang Guru turun ka mrecapada. Ana wang manusa angawe Batara kabeh, turun ka Bali Sang Hyang Bagawati. Ana buta wilis, buta abang, ana buta jenar, ana buta ireng, ana buta amanca warna, mawak I Kalika, ya kautus antuk Batari Bagawati, teka welas asih ring awak sarinankune, pakulun Paduka Bagawati. Om Mam Am Om Mam, ana Paduka Batara Guru, teka welas asih, Bagawati manggih ring gedong kunci manik, teka welas asih ring awak sarinanku".
Apabila sudah berhasil mendapatkan ilmu tersebut, maka ada aturan yang harus dipatuhi. Orang yang memiliki ilmu tersebut akan digjaya tidak terkalahkan, tidak bisa diungguli, dan semua akan tunduk kepadanya. Apabila mampu merahasiakannya, maka dalam 100 kali kelahiran akan menemui kebahagiaan dan kebebasan tertinggi. Dan bila meninggal dapat kembali ke sorga Brahmaloka, Wisnuloka, dan Iswaraloka. Tetapi bila ketahuan, apalagi sampai suka membicarakan, menyebarluaskan, dan tidak mampu merahasiakannya, maka dalam 1000 kali kelahiran akan menemui hina, neraka, disoroti oleh masyarakat, dan sudah pasti terbenam dalam kawah neraka Si Tambra Goh Muka.
| Sebuah pertunjukan calonarang di Bali |
Ilmu Pangiwa dapat dibagi menjadi 5 bagian yang merupakan cabangnya, yaitu:
1. Pengasren
2. Pangeger
3. Pangasih - asih
4. Penangkep
5. Pangleakan (aji wegig)
Baiklah, kita bahas dulu yang pertama.
1. Pengasren
Pengasren adalah cabang ilmu pangiwa yang mampu membuat pemakainya menjadi lebih cantik / tampan. Dengan ilmu ini, si pemakai bisa membuat si korban tergila2 bahkan lupa dengan segala2nya termasuk keluarga. Adapun kutipan mantranya:
"OM 3x, IH 3x, tumurun Bathari Durga, UM mamurti I Ratna Manggali, mamurti duhuring lela matangkep, Ngsuing 3x, tumurun Ida Bhatari Durga, UM 3x, EH 3x, ma, OM ngaji gunane Bhatari Durga, dan seterusnya.............
Biasanya para dukun melakukan ini yang kemudian disebarluaskan dengan cara dijual kepada para kliennya... cieeehhh klien... Hahahaha.... Berikut rerajahan yang biasanya dipakai untuk mempercantik / mempertampan diri:
| gbr 1 |
2. Pangeger
Sungguh sangat ambigu bagi orang yang mengetahui nama ilmu pangeger. Sebab dalam Lontar Usada Manak, nama ilmu pangeger adalah ilmu untuk memperlancar / mempercepat proses kelahiran. Di samping pangeger tersebut, ada juga ilmu yang disebut dengan panyeseh, dimana fungsi kedua ilmu ini adalah sama.
Di sini yang saya coba jelaskan adalah ilmu pangeger di cabang ilmu pangiwa (ilmu hitam), ilmu ini juga disebut dengan istilah panglenyeh.
Pangeger ini adalah cabang dari ilmu pangiwa yang mampu membuat
pemakainya laris, baik dalam kegiatan ekonomi atau terhadap dirinya
sendiri.... Kalo orang banyak sih bilang "pengelaris". Orang yang
menggunakan pangeger ataupun pangasren terlebih dahulu dimasukkan
ajaran ilmu pangiwa. Ibaratkan pangiwa adalah sebuah busur panah dan
pangeger & pangasren adalah anak panahnya.
Fungsi ilmu ini adalah untuk membuat si pemakai menjadi laris apalagi
jika disertai kata2 yang manis. Tingkah laku si pemakai sangat menawan
dengan senyumnya yang manis, bahkan terkadang tawanya pun sangat nyaring
dan indah didengar
Adapun cara untuk mendapatkan pangeger ini adalah dengan cara meminta / membeli kepada seorang dukun.
Mohon maaf, terus terang untuk mantra nya saya tidak punya.....
Mohon maaf, terus terang untuk mantra nya saya tidak punya.....
Langganan:
Postingan (Atom)


