Selasa, 21 Agustus 2012

Barong : Simbol Penjaga Bali


Braahmaa srjayate lokam
Visnave paalakaa sthitam.
Rudretve sanharas ceva
Tri Murthi naama evaca.
(Bhuwana Kosa. III.78).


Maksudnya:
Batara Siwa menciptakan alam ini dengan wujud Dewa Brahma, dengan wujud Dewa Wisnu menjaga alam ini. Dengan wujud Dewa Rudra beliau mempralina alam ini. Itulah Dewa Tri Murti, tiga wujud itu hanya beda nama.

Dalam ajaran Hindu, Tuhan itu Esa hal ini dinyatakan dalam kitab Rgveda maupun kitab-kitab Sastra Hindu lainnya. Tuhan Yang Maha Esa itu memiliki kemahakuasaan yang tiada terbatas. Manusia hanya terbatas kemampuannya memahami kemahakuasaan Tuhan yang tiada terbatas itu.



http://farm1.staticflickr.com/181/454992251_8f25b73bbc_z.jpg
Besakih : Personifikasi Tri Murti
Misalnya Tuhan diyakini sebagai maha pencipta, maha pelindung dan maha pemralina. Tiga kemahakuasaan Tuhan itulah dalam kitab Bhuwana Kosa yang dikutip di atas disebut Brahma, Wisnu dan Rudra. Itulah yang disebut Tri Murti. Beliau itu satu hanya beda fungsi dan sebutan atau nama saja. Rudra ini juga disebut Iswara. Dalam Bhuwana Kosa tersebut Tuhan disebut Siwa. Sebagai pemralina atau melenyapkan sesuatu yang patut dilenyapkan Tuhan Siwa disebut Rudra atau Iswara.


Dalam Lontar Barong Swari ada dinyatakan bahwa di bumi ini manusia diserang oleh wabah yang sangat hebat. Dari utara bumi ini diserang oleh wabah yang disebut Gering Lumintu. Dari barat diserang oleh Gering Amancuh. Dari Selatan diserang oleh Gering Rug Bhuana. Dari timur diserang oleh Gering Utah Bayar. Serangan wabah ini membuat hidup manusia benar-benar sangat menderita. (Gering = wabah)

Untuk mengatasi wabah tersebut manusia melakukan langkah-langkah sekala dan niskala. Langkah niskala yang dilakukan oleh manusia dipimpin oleh para pandita dan pinanditanya memanjatkan permohonan pada Tuhan Siwa. Tujuan permohonan itu untuk mendapatkan kekuatan spiritual melawan wabah tersebut.

Tuhan Siwa mengutus Dewa Tri Murti turun ke dunia untuk menuntun manusia melenyapkan penderitaan dan kesedihan tersebut. Dewa Brahma turun menjadi Topeng Bang. Dewa Wisnu turun menjadi Topeng Telek. Sedangkan Dewa Iswara turun menjadi Barong. Dengan pementasan Topeng Bang, Topeng Telek dan Barong ini Dewa Tri Murti memotivasi rohani umat manusia untuk bangkit mendapatkan kegembiraan rohani.

Dari kegembiraan rohani inilah akan muncul gagasan-gagasan cemerlang untuk mengatasi serangan wabah yang disebut gering itu. Dalam Lontar
Babad Rangda dan Barong ada sedikit perbedaan mengenai simbol barong itu. Dalam babad tersebut barong itu dinyatakan sebagai perwujudan Banas Pati Raja. Banas Pati Raja itu artinya rajanya hutan atau pelindung hutan.

http://images.travelpod.com/users/katrinaoliver/1.1272994334.the-barong.jpg
Barong, Penjaga Niskala

Cerita ini adalah pesan ajaran tattwa agama Hindu yang dikemas dalam bentuk mitologi. Untuk mengatasi penderitaan masyarakat hendaknya ditempuh langkah yang bersifat sekala atau nyata dan yang bersifat niskala. Pementasan barong yang umumnya disertai dengan tari Topeng Bang, dan Telek sebagai media untuk membangkitkan vibrasi spiritual pada masyarakat. Vibrasi spiritual itu untuk membangun kejernihan rohani.

Rohani yang jernih itu sebagai langkah awal membangun pemikiran yang jernih. Dari pikiran yang jenih akan muncul wacana dan langkah nyata untuk memberantas penyakit yang datang dari berbagai penjuru. Penyakit yang harus diberantas adalah penyakit fisik dan nonfisik. Demikian pula penyakit yang muncul karena rusaknya lingkungan alam dan lingkungan sosial.

Mengatasi semuanya itu harus dimulai dari menguatkan daya spiritualitas. Daya spiritualitas itu datang dari kuatnya keyakinan umat pada Tuhan. Keyakinan dengan menguatkan daya spiritualitas itulah Tuhan akan menurunkan karunianya dalam wujud memberi kegembiraan rohani. Kegembiraan rohani itulah yang disimbolkan dengan pementasan barong lengkap dengan Topeng Bang dan Topeng Telek yang lemah lembut.

Kadang-kadang hanya ada barong yang Ngelawang mengelilingi desa. Lebih-lebih pada Sasih Kaenem (Bulan keenam dalam kalender Bali) banyak wabah terjadi. Saat itulah banyak desa pakraman barongnya Ngelawang. Barong ngelawang ini di masing-masing desa pakraman atau daerah tertentu tradisinya berbeda-beda. Tetapi, maknanya sama yaitu sebagai simbol untuk menghadirkan kekuatan suci Batara Iswara memotivasi umat menghilangkan segala sumber penyakit yang menyengsarakan masyarakat. Barong yang dinyatakan sebagai perwujudan Banas Pati Raja itu bermakna untuk memotivasi umat melindungi hutan. Hutan memiliki banyak fungsi dalam kehidupan ini.





http://distilleryimage8.s3.amazonaws.com/66be9fe4685b11e1989612313815112c_7.jpg
Ngelawang : menetralisir energi negatif
 Salah satu fungsinya sebagai penyerap air untuk dialirkan melalui danau dan sungai-sungai. Air adalah unsur terpenting dari kehidupan seluruh makhluk hidup di kolong langit ini. Barong ngelawang itu juga dimaksudkan untuk memotivasi kesadaran umat melindungi hutan. Tanpa hutan air akan menghilang ke laut dan juga menimbulkan banjir di kota. Akibatnya wabah pun merebak.

Sabtu, 18 Agustus 2012

Tantrayana : Menguak Keyakinan Calonarang

Rakyat Indonesia yang terdiri dari bermacam-macam suku, sejak dahulu memeluk agama yang berbeda-beda. Tantrayana adalah suatu aliran atau sekte yang pada masa lampau pernah cukup banyak pemeluknya dan berkembang luas di Indonesia; bahkan raja Kertanegara dari kerajaan Singasari adalah seorang penganut yang taat dari agama Budha Tantra.
Raja Kertanegara dari kerajaan Singasari di Jawa Timur adalah seorang raja yang sangat taat melaksanakan ajaran Tantrayana. Beliau hidup berpesta pora di dalam istana bersama-sama dengan mentri-mentri dan para pendeta terkemuka. Bahkan ketika Singasari diserbu oleh pasukan kerajaan Kediri pun mereka sedang mengadakan pesta pora, tetapi upacara pesta pora, makan minum besar-besaran tersebut bukan sebagai pesta biasa, melainkan raja bersama para mentri dan pendeta itu sedang melakukan upacara-upacara Tantrayana (Soekmono, 1959 : 60).
Untuk mengungkapkan perkembangan Tantrayana di Bali maka uraian tidak bisa lepas dari hubungan Bali dengan Jawa Timur, yang dimulai dengan perkimpoian raja Dharma Udayana Warmadewa di Bali dengan seorang putri raja Jawa Timur yang bernama Sri Gunapriyadharmapatni. Beliau adalah putri Makutawangsawardhana, sedangkan Makutawangsawardhana adalah cucu Raja Sindok. Pada masa pemerintahan Raja Sindok di Jawa Timur Tantrayana telah berkembang. 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUSSZfsM9dbJcGTxokiL5aVRQVZTvt8MlbWVNHqrr7zL4Et977m4cuT0GhDUgIahlRtylwZIVjtb2-gtU5vhG3bAEHYmjqbMhDz8cEC53-uzX5AKsB2tTi-REhg0UM6geV5Vzs5-N1hDwC/s1600/3524244659_f68fe1cd08_b.jpg
Rangda
Pada waktu itu telah disusun kitab Sang Hyang Kamahayanikan yang menguraikan soal-soal ajaran dan ibadah agama Budha Tantra. Kemungkinan bahwa Sri Gunapriyadharmapatni atau Mahendradhatta pun telah terpengaruh oleh aliran itu di tempat asalnya di Jawa timur, sebab di Bali jaman pemerintahan raja Dharma Udayana Warmadewa dan Gunapriyadharmapatni merupakan jaman hidup suburnya perkembangan ilmu-ilmu gaib. 

Cerita Calon Arang yang sangat terkenal di Bali dihubungkan dengan kehidupan Mahendradhatta. Di dalam Lontar Calon arang ada diuraikan bagaimana memuja Hyang Bhairawi atau Dewi Durga untuk mendatangkan wabah penyakit di dalam negeri Kerajaan Airlangga. Calon arang dan muridnya menari-nari di atas mayat-mayat yang telah dihidupkan kembali untuk persembahan Dewi Durga sebagai korban agar semua kehendaknya bisa dikabulkan. Cara-cara seperti itu adalah hal yang biasa di dalam Tantrayana.
Permaisuri Mahendradhatta mangkat lebih dahulu dari raja Udayana dan didharmakan di Burwan, Kutri, Gianyar. Di tempat itu beliau diwujudkan dalam bentuk arca besar Durgamahisasuramardhini. Arca itu merupakan Bhatari Durga yang sedang membunuh asura (setan) yang berada pada badan seekor kerbau besar (Goris, 1048 : 6). Arca itu menguatkan dugaan orang bahwa Mahendradhatta sebagai penganut ajaran-ajaran ilmu gaib dan Dewi Durgalah yang menganugerahi kesaktian (Shastri, 1963 : 49). Kendatipun dalam cerita calon arang banyak keadaan yang bercampur baur dan keliru, tapi mungkin ada dasar-dasarnya yang benar bahwa Mahendradhatta dilukiskan sebagai Calon Arang (Goris, 1948 : 7). Dengan demikian maka kemungkinan pada sekitar abad X Tantrayana telah berkembang di Bali.
http://www.berwisatadibali.com/wp-content/uploads/2012/01/archa+pura_durgha_kutri.jpg
Arca Durga Mahisasuramardhini di  Kutri
Kemudian pada sekitar abad XIII di Jawa Timur memerintah raja Kertanegara sebagai raja terakhir kerajaan Singasari. Raja ini terkenal dalam ilmu politik luar negerinya ingin meluaskan daerah kekuasaannya ke Barat sampai ke Bali. Menurut kitab Negarakertagama raja Kertagama pada tahun 1280 masehi membunuh orang jahat yang bernama Mahisa Rangkah dan selanjutnya dikatakan bahwa pada tahun 1284 beliau telah menyerang Bali dan rajanya ditawan (Krom, 1956 : 188). Hal itu tercantum dalam kitab Negarakertagama di katakan sebagai berikut :

Leak Bali : Lebih Jauh Tentang Ilmu Pangleakan Bali...(Hati-Hati!)


Sama seperti halnya ilmu2 lain yang ada di jagat raya, di Bali juga terdapat 2 jenis ilmu yaitu ilmu putih (penengen) dan ilmu hitam (pangiwa). Ilmu hitam (pangiwa) sering juga disebut aji wegig/aji ugig. Adapun cara untuk mendapatkan ilmu tersebut bisa dengan cara membeli ataupun meminta (nunas) dan belajar di bawah pengawasan gurunya. Berikut kira2 cara untuk memperoleh ilmu hitam / pengleakan tersebut:

Untuk mendapatkan ilmu tersebut, harus mengadakan upacara yang disebut madewasraya. Apabila ingin menggunakan pangiwa, supaya dapat sakti dan manjur, mujarab dan digjaya, terlebih dahulu harus menyucikan diri. Setelah itu tatkala malam diadakannya madewasraya dahulu di kayangan pangulun setra (pura yang ada di dekat kuburan), memohon Paduka Betari Durga, memohon berkah. 
 http://nanoxx.files.wordpress.com/2012/01/leak-bali-full.jpg 
Adapun sarananya:
1. Daksina 1 buah
2. Uang kepeng sebanyak 17.000
3. Ketupat 2 kelan (1 kelan = 6 biji)
4. Arak & brem
5. Ketan hitam
6. Canang 11 biji
7. Canang tubungan, burat wangi lenga wangi, nyanyah (sangrai) gagringsingan, getih-getih (darah), dan biu mas (pisang kecil yang biasanya dipakai untuk membuat canang)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhRaptt1xyqwpGsedOeAGtbPw0cj8BM2R8eXBo4SNTLc2J8bHpswX7BmdHe0K1Xgvco3lSMOn03bWyJT7T0b136I1yOBKCnomr8BEefb8-clSIJy7MBC4RVhTQkQMmj9owEe5ACL8sj0R4/s1600/Daksina3.jpg
Daksina
http://i127.photobucket.com/albums/p159/blackinjpn/burat.jpg
Canang Burat Wangi
Kemudian sarana ini dipersembahkan secara niskala. Setelah itu bersila di depan paryangan, bersemadi dan tidak lupa dengan dupa menyan astanggi, heningkan batin. Kemudian ucapkan mantra:

"Om Ra Nini Batari Bagawati, turun ka Bali; ana wang mangkana; aminta kasih ring Paduka Batari, sira nunas turun ka mrecapada. Ana wang mangkana anunas kasaktian, manusa kabeh ring Bagawati, Sang Hyang Guru turun ka mrecapada. Ana wang manusa angawe Batara kabeh, turun ka Bali Sang Hyang Bagawati. Ana buta wilis, buta abang, ana buta jenar, ana buta ireng, ana buta amanca warna, mawak I Kalika, ya kautus antuk Batari Bagawati, teka welas asih ring awak sarinankune, pakulun Paduka Bagawati. Om Mam Am Om Mam, ana Paduka Batara Guru, teka welas asih, Bagawati manggih ring gedong kunci manik, teka welas asih ring awak sarinanku".

Apabila sudah berhasil mendapatkan ilmu tersebut, maka ada aturan yang harus dipatuhi. Orang yang memiliki ilmu tersebut akan digjaya tidak terkalahkan, tidak bisa diungguli, dan semua akan tunduk kepadanya. Apabila mampu merahasiakannya, maka dalam 100 kali kelahiran akan menemui kebahagiaan dan kebebasan tertinggi. Dan bila meninggal dapat kembali ke sorga Brahmaloka, Wisnuloka, dan Iswaraloka. Tetapi bila ketahuan, apalagi sampai suka membicarakan, menyebarluaskan, dan tidak mampu merahasiakannya, maka dalam 1000 kali kelahiran akan menemui hina, neraka, disoroti oleh masyarakat, dan sudah pasti terbenam dalam kawah neraka Si Tambra Goh Muka.
http://i127.photobucket.com/albums/p159/blackinjpn/calonarang.jpg
Sebuah pertunjukan calonarang di Bali
Ilmu Pangiwa dapat dibagi menjadi 5 bagian yang merupakan cabangnya, yaitu:

1. Pengasren
2. Pangeger
3. Pangasih - asih
4. Penangkep
5. Pangleakan (aji wegig)


Baiklah, kita bahas dulu yang pertama.

1. Pengasren

Pengasren adalah cabang ilmu pangiwa yang mampu membuat pemakainya menjadi lebih cantik / tampan. Dengan ilmu ini, si pemakai bisa membuat si korban tergila2 bahkan lupa dengan segala2nya termasuk keluarga. Adapun kutipan mantranya:

"OM 3x, IH 3x, tumurun Bathari Durga, UM mamurti I Ratna Manggali, mamurti duhuring lela matangkep, Ngsuing 3x, tumurun Ida Bhatari Durga, UM 3x, EH 3x, ma, OM ngaji gunane Bhatari Durga, dan seterusnya.............


Biasanya para dukun melakukan ini yang kemudian disebarluaskan dengan cara dijual kepada para kliennya... cieeehhh klien... Hahahaha.... Berikut rerajahan yang biasanya dipakai untuk mempercantik / mempertampan diri:
http://img237.imagevenue.com/loc539/th_92138_pengasren_122_539lo.jpg
gbr 1

2. Pangeger

Sungguh sangat ambigu bagi orang yang mengetahui nama ilmu pangeger. Sebab dalam Lontar Usada Manak, nama ilmu pangeger adalah ilmu untuk memperlancar / mempercepat proses kelahiran. Di samping pangeger tersebut, ada juga ilmu yang disebut dengan panyeseh, dimana fungsi kedua ilmu ini adalah sama.
Di sini yang saya coba jelaskan adalah ilmu pangeger di cabang ilmu pangiwa (ilmu hitam), ilmu ini juga disebut dengan istilah panglenyeh. 
Pangeger ini adalah cabang dari ilmu pangiwa yang mampu membuat pemakainya laris, baik dalam kegiatan ekonomi atau terhadap dirinya sendiri.... Kalo orang banyak sih bilang "pengelaris". Orang yang menggunakan pangeger ataupun pangasren terlebih dahulu dimasukkan ajaran ilmu pangiwa. Ibaratkan pangiwa adalah sebuah busur panah dan pangeger & pangasren adalah anak panahnya.
Fungsi ilmu ini adalah untuk membuat si pemakai menjadi laris apalagi jika disertai kata2 yang manis. Tingkah laku si pemakai sangat menawan dengan senyumnya yang manis, bahkan terkadang tawanya pun sangat nyaring dan indah didengar 
Adapun cara untuk mendapatkan pangeger ini adalah dengan cara meminta / membeli kepada seorang dukun.
Mohon maaf, terus terang untuk mantra nya saya tidak punya..... 

CANANG SARI BALI.



Apa itu Canang Sari Bali ?.
Canang Sari adalah bentuk persembahan paling sederhana ,canangsari berupa wadah terbuat dari janur diisi bunga dan dupa sebagai sarana melakukan persembahyangan orang Bali . Canang sari itu sendiri bermakna : Sesajen ,dimana isinya mayoritas bunga -bungaan. Walaupun sederhana, Canang sari sangat populer dan dibutuhkan masyarakat Bali. Selain itu, Canang sari sangat indah dipandang mata dengan dupa dan cipratan air suci, ada aura sejuk yang dipancarkan dari canang sari .Canang sari dipergunakan untuk melengkapi persembahan lainnya atau dipergunakan pada hari-hari tertentu seperti: hari kliwon, bulan Purnama, bulan Tilem atau persembahyangan di tempat suci.

Dalam agama Hindu sarana persembahyangan dapat berupa bunga, air, buah ,daun, dan api. Dimana kemudian konsep persembahan ini dalam budaya Bali dipraktekkan dalam wujud seni. Salah satunya dalam aneka ragam bentuk sesajen, yaitu adalah Canang Sari.

Bentuk banten canang sari ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian bawah canangsari bisa berbentuk bulat ataupun segiempat seperti ceper atau taledan. Sering pula Canang Sari diberi hiasan "Trikona/plekir" pada pinggirnya. Pada bagian ini terdapat pelawa, porosan, tebu, kekiping (jajanan dari tepung beras), pisang dan beras kuning yang dialasi dengan tangkih. Dapat pula ditambah dengan burat wangi dan lengawangi seperti pada canang buratwangi. Di Canang sari barulah diisi berbagai macam bunga diatur seindah mungkin dialasi dengan sebuah "uras sari/sampian uras".

Canang sari dilengkapi dengan sesari berupa uang kertas, uang logam maupun uang kepeng. Perlengkapan seperti tebu, kekiping, dan pisang emas disebut "raka-raka". Raka-raka melambangkan Hyang Widyadhara-Widyadhari. Pisang emas melambangkan Mahadewa, secara umum semua pisang melambangkan Hyang Kumara, sedangkan tebu melambangkan Dewa Brahma.

Komponen canang sari :
- Daun janur sebagai alas;
- Porosan (sebentuk kecil daun janur kering yang berisi kapur putih);
- Seiris pisang;
- Seiris tebu:
- Boreh miik (sejenis bubuk berbau wangi);
- Kekiping (sejenis kue dari ketan yang kecil dan tipis);
- Di atasnya diletakkan bunga beraneka ragam (umumnya berupa warna : putih, kuning, merah, hijau);

Isi canang sari mengikuti aturan-aturan yang tertuang dalam lontar. Jadi, canang sari tidak diambil dari kitab Weda, namun isi Weda yang kemudian diterjemahkan ke dalam lontar yang ditulis oleh para leluhur di Bali.
Canang sari umum dipakai dalam persembahan sehari-hari. Sedangkan pada hari-hari besar keagamaan, canang sari hanya dipakai sebagai pelengkap saja. Pada hari-hari raya keagamaan , masyarakat Bali memakai sesajen yang lebih tinggi daripada canang sari.
Canang sari tidaklah mahal dan mudah didapat di pasar-pasar tradisional di Bali. Pada hari-hari raya besar, canang sari mengalami kenaikan harga karena banyak yang membutuhkan canang sari.
itulah sekilas informasi tentang Canangsari Bali ...