Selasa, 26 Juni 2012

Tips menyambut kematian secara terang dan indah



PENDAHULUAN

Kalau berbicara kematian, biasanya reaksi kita macam-macam, tapi yang paling banyak adalah reaksi takut atau ngeri. Padahal kematian itu sesuatu yang pasti. Siapapun kita : selebritis atau petani miskin, presiden atau pegawai rendahan, konglomerat atau pengemis, orang suci atau penjahat, dll, kita semua pasti mati. Tidak ada doa, mantram, yajna, yoga atau apapun juga yang bisa menghentikan kematian. Jangankan orang biasa seperti kita, para yogi, maha-siddha, jivan-mukta atau maharsi-pun tidak bisa menghentikan kematian.

Kita tidak pernah tahu kapan kita akan mati. Bisa 7 jam lagi, 7 hari lagi, 7 bulan lagi, 7 tahun lagi, 70 tahun lagi ? Kita tidak tahu. Walaupun demikian, kematian jangan dilihat sebagai ancaman menakutkan, tapi sebagai kesempatan yang sangat baik untuk memasuki wilayah kehidupan baru yang terang dan indah. Kematian datang bukan karena sakit, kematian datang bukan karena kesengajaan [dibunuh] orang lain, kematian datang bukan karena kecelakaan, dll, tapi kematian datang semata-mata karena WAKTUNYA SUDAH TIBA.

Karena kematian tidak bisa dihentikan oleh apapun, kita hanya punya satu pilihan : mempersiapkan kematian sejak jauh-jauh hari. Sebelum kita "pergi pulang ke tanah wayah" secara kacau, lebih baik kita siapkan sejak sekarang. Anda dan saya beruntung, karena sebelum "pergi pulang ke tanah wayah", sudah dapat ilmunya, sudah dapat rahasianya.

RAHASIA ALAM KEMATIAN

Faktor kunci di alam kematian adalah : kecenderungan bathin kita sendiri [vasana]. Alam kematian adalah lapisan-lapisan alam yang mayoritas dibentuk oleh mental. Kecenderungan bathin yang negatif akan membawa kita menuju wilayah-wilayah yang juga negatif, kecenderungan bathin yang positif akan membawa kita menuju wilayah-wilayah yang juga positif dan bathin yang sudah terbebaskan [jivan-mukti] akan membawa kita menuju moksha [pembebasan sempurna]. Mengapa demikian ? Karena tubuh dan lingkungan kita di alam kematian dibentuk oleh bahan-bahan divine energy yang sama dengan yang membentuk pikiran kita. Sehingga kita kemudian akan tinggal di salah satu lapisan-lapisan alam halus yang paling sesuai dengan kualitas dan kecenderungan pikiran kita sendiri.

Dan faktor paling menentukan dalam menyambut kematian adalah : bagaimana keadaan bathin kita di menit-menit dan detik-detik terakhir ketika kehidupan kita akan berakhir, itu yang akan sangat menentukan kita akan pergi kemana. Mereka yang takut, ragu, bingung, melawan, penuh keterikatan duniawi, apalagi dalam sifat kejam [tanpa welas asih], dalam kemarahan-kebencian, sangat mungkin nantinya pada prosesnya akan memasuki lapisan alam semesta bawah [bhur loka]. Menjadi bhuta kala, ashura, preta, setan, dll. Sebaliknya, kalau di menit-menit dan detik-detik terakhir ketika kehidupan berakhir, kita mengalami paramashanti [kedamaian sempurna], sangat mungkin setelah kematian kita langsung bergerak setidaknya sampai di lapisan alam semesta atas [svah loka] – boleh menyebutnya alam surga-. Lebih baik lagi kita bisa jadi dewa di tingkatan luhur [kesadaran kosmik]. Dan yang terbaik [kalau memungkinkan] kita bisa amor ring acintya, menyatu dengan “yang mahasuci yang maha tidak terpikirkan” [moksha].

Karena itu sangat penting diinformasikan kepada orang-orang yang akan meninggal, di menit-menit dan detik-detik terakhir ketika kehidupan akan berakhir, sangat penting mengalami menit-menit dan detik-detik terakhir yang shanti [damai].

Hukum Karma



Hindu mengajarkan bahwa di keseluruhan alam semesta ini berlaku dua hukum semesta, yaitu Hukum Karma [hukum yang mengatur mahluk, jalan hidup dan kehidupan] dan Hukum Rta [hukum alam, yang mengatur alam semesta, benda dan materi]. Kedua hukum ini saling berkaitan satu sama lain, akan tetapi dalam tulisan ini khusus yang akan dibahas adalah tentang Hukum Karma.

PENJELASAN TENTANG KARMA

Berbeda dengan sebagian agama yang mengajarkan tentang "Takdir Tuhan" -dimana kehidupan kita di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang ditentukan oleh takdir Tuhan-, agama-agama dharma [Hindu, Buddha dan Jain] mengajarkan yang berbeda, yaitu "Hukum Karma".

Kadang ada kesalahpahaman bahwa hukum karma sama dengan "nasib", bahkan "suratan takdir Tuhan" [berarti semuanya ditentukan Tuhan]. Perlu diketahui bahwa dalam hukum karma tidaklah demikian, "suratan takdir" ini ditulis sendiri oleh diri kita sendiri. Kitalah yang mendesain nasib kita, bukan oleh Brahman, Dewa-Dewi ataupun pihak lain. Dalam ajaran Hindu, Brahman atau Purusha memang diyakini sebagai penyebab utama, tetapi dalam hal ini Brahman sebenarnya hanya "pengamat / saksi abadi".

Karma berarti "perbuatan / tindakan". Hukum karma adalah hukum semesta sebab-akibat, dimana setiap tindakan kita akan membuahkan hasil tindakan atau buah karma [karma-phala]. Yang berarti apapun yang terjadi pada diri kita di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang, ditentukan sepenuhnya oleh tindakan diri kita sendiri. Tanpa ada intervensi dari Brahman, Dewa-Dewi ataupun pihak lain. Dan yang dimaksud dengan "tindakan" itu adalah pikiran, perkataan, dan perbuatan kita sendiri. Ketiganya ini yang akan berbuah atau membuahkan hasil. Oleh karena ada satu aksi, akan ada suatu reaksi. Hukum inilah yang mengatur kehidupan makrokosmos dan mikrokosmos, kehidupan semua mahluk di alam semesta.

Hukum karma sama sekali bukan tentang hukuman atau hadiah [pahala] dari Tuhan, tapi tentang tindakan kita sendiri beserta seluruh konsekuensinya. Kalau kita sombong, maka yang akan datang kepada kita adalah kebencian. Kalau kita penuh kebaikan, maka yang akan datang kepada kita adalah simpati dan pertolongan. Kalau kita menyakiti, maka kita akan disakiti. Kalau kita penuh kesabaran, maka yang akan datang kepada kita adalah simpati dan kasih sayang. Kalau kita banyak mengambil kebahagiaan orang, maka kita juga akan banyak mengambil penderitaan, dll.

Hukum inilah yang menjelaskan, mengapa dalam kelahiran saat ini ada yang lahir miskin atau kaya, ada yang lahir tampan / cantik atau jelek, ada yang lahir dengan kehidupan mudah atau kehidupan penuh dengan kesulitan, dll.

Senin, 25 Juni 2012

Manushya

MERENUNGKAN KEMBALI HIDUP INI

Lahir dan hidup sebagai manusia itu, bisa diibaratkan seperti seekor kelinci yang terjepit jerat pemburu di tengah hutan. Persoalan waktu sang pemburu datang dan kita ditembak. Dengan kata lain, sangat-sangat mendesak bagi kita sebagai manusia untuk segera ”sadar”, karena kita semua kelinci yang terjepit.

Coba kita renungkan kembali hidup ini : pagi-pagi mesra sama istri, siangnya istri ngomel-ngomel menyakitkan, malamnya kita kena sakit flu. Pagi-pagi pekerjaan kita dipuji-puji sama boss, siangnya klien complain, sorenya pas mau pulang ban kendaraan kita pecah. Dll-nya. Yang jelas setiap hari yang datang itu macam-macam, dengan berbagai dualitas kebahagiaan-kesengsaraan. Hanya persoalan waktu kita ”kena tembak”. Kita yang sudah menikah kemudian cari istri lagi, itu kena tembak. Kita tidak puas dengan gaji kemudian kita korupsi, itu kena tembak. Kita tidak puas dengan suami / istri kemudian minta cerai, itu kena tembak. Dll-nya. Kita akan menyakiti dan melukai baik diri kita sendiri maupun orang lain. Ujung-ujungnya kita sendiri akan terjerumus ke dalam jurang kegelapan dan kesengsaraan.

Kalau setuju dan yakin, bahwa hidup sebagai manusia itu ibarat kelinci yang terjepit dan salah-salah kita bisa kena tembak. Segeralah mengembangkan badan-badan pikiran kita. Karena hanya dengan begitu seluruh kesengsaraan bisa lenyap, kita bisa terbebaskan dan menemukan hakikat diri dalam kedamaian / kebahagiaan sejati.

Badan-badan pikiran kita berada di lapisan alam yang lebih halus, tidak bisa kita lihat dan rasakan dengan indriya kita, sehingga seringkali kita tidak memperhatikannya. Kita asik dan sibuk dalam keseharian kita di lapisan alam kasar ini, untuk sekedar bertahan hidup atau sebaliknya untuk menikmati hidup [bersenang-senang]. Munculah keterikatan kita yang kuat dengan kehidupan, dengan ahamkara [ke-aku-an], sibuk memenuhi berbagai keinginan kita, mengidentikkan diri dengan badan fisik kita, kita lupa mengembangkan badan-badan pikiran kita yang berada pada tataran lapisan [dimensi] alam yang lebih halus. Kita bahkan hilang ingatan tentang realitas siapa kita sebenarnya, realitas absolut.

Ketujuh lapisan badan ini tidak terpisahkan dan saling terkait satu sama lain. Bila kita mengabaikan dan tidak mengembangkan badan pikiran kita, eksistensi kita di lapisan alam-alam halus, yaitu badan pikiran kita menjadi suram dan cenderung rusak. Bahkan ketika semua keinginan dan kebutuhan materi kita terpenuhi kita masih saja tidak puas, terus mencari ”sesuatu yang hilang” yang tidak sepenuhnya kita mengerti, merasa hampa, takut atau tanpa arah tujuan. Bahkan ada stress, depresi, marah, benci, iri hati, rasa takut, rasa khawatir, rasa curiga, dll. Inilah sinyal-sinyal dari semesta bahwa kita telah mengabaikan badan pikiran kita.

Atma Jnana [mengenal / menyadari diri]

ATMAN

Nan yar [siapakah aku] ? Begitulah titik awal bagi para yogi di jalan Vedanta memulai evolusi bhatin mereka. Ini adalah titik berangkat evolusi bathin yang penting. Itu sebabnya di jalan Samkhya, Yoga dan Vedanta kita mengenal istilah Atma Jnana atau yang secara literal berarti pengetahuan atau mengetahui [jnana] tentang atman. Atma Jnana atau kesadaran murni adalah faktor kunci untuk merealisasi moksha [pembebasan dari realitas material].

Banyak yang menerjemahkan atman sebagai roh [soul]. Ini adalah terjemahan yang bias dan salah, sebab dalam Hinduism sejatinya tidak dikenal adanya roh seperti dalam pemahaman agama lain. Atman dalam Hindu adalah bagian kecil dari Brahman. “Brahman Atman Aikyam”, Brahman dan Atman itu sama adanya [tidak berbeda]. Laksana setetes air dalam samudera yang maha luas. Atman dalam diri [manifestasi sebagai mahluk] disebut : Jivatman [Jiva Atman]. Jiva berarti mahluk hidup. Kalau Atman identik dengan Brahman, Jiva lebih menunjukkan kepada mahluk hidup sebagai individu. Jadi Atman sama dengan Brahman, sedangkan Atman yang yang diliputi oleh realitas material [Prakriti] disebut Jivatman.