Sabtu, 18 Agustus 2012

CANANG SARI BALI.



Apa itu Canang Sari Bali ?.
Canang Sari adalah bentuk persembahan paling sederhana ,canangsari berupa wadah terbuat dari janur diisi bunga dan dupa sebagai sarana melakukan persembahyangan orang Bali . Canang sari itu sendiri bermakna : Sesajen ,dimana isinya mayoritas bunga -bungaan. Walaupun sederhana, Canang sari sangat populer dan dibutuhkan masyarakat Bali. Selain itu, Canang sari sangat indah dipandang mata dengan dupa dan cipratan air suci, ada aura sejuk yang dipancarkan dari canang sari .Canang sari dipergunakan untuk melengkapi persembahan lainnya atau dipergunakan pada hari-hari tertentu seperti: hari kliwon, bulan Purnama, bulan Tilem atau persembahyangan di tempat suci.

Dalam agama Hindu sarana persembahyangan dapat berupa bunga, air, buah ,daun, dan api. Dimana kemudian konsep persembahan ini dalam budaya Bali dipraktekkan dalam wujud seni. Salah satunya dalam aneka ragam bentuk sesajen, yaitu adalah Canang Sari.

Bentuk banten canang sari ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian bawah canangsari bisa berbentuk bulat ataupun segiempat seperti ceper atau taledan. Sering pula Canang Sari diberi hiasan "Trikona/plekir" pada pinggirnya. Pada bagian ini terdapat pelawa, porosan, tebu, kekiping (jajanan dari tepung beras), pisang dan beras kuning yang dialasi dengan tangkih. Dapat pula ditambah dengan burat wangi dan lengawangi seperti pada canang buratwangi. Di Canang sari barulah diisi berbagai macam bunga diatur seindah mungkin dialasi dengan sebuah "uras sari/sampian uras".

Canang sari dilengkapi dengan sesari berupa uang kertas, uang logam maupun uang kepeng. Perlengkapan seperti tebu, kekiping, dan pisang emas disebut "raka-raka". Raka-raka melambangkan Hyang Widyadhara-Widyadhari. Pisang emas melambangkan Mahadewa, secara umum semua pisang melambangkan Hyang Kumara, sedangkan tebu melambangkan Dewa Brahma.

Komponen canang sari :
- Daun janur sebagai alas;
- Porosan (sebentuk kecil daun janur kering yang berisi kapur putih);
- Seiris pisang;
- Seiris tebu:
- Boreh miik (sejenis bubuk berbau wangi);
- Kekiping (sejenis kue dari ketan yang kecil dan tipis);
- Di atasnya diletakkan bunga beraneka ragam (umumnya berupa warna : putih, kuning, merah, hijau);

Isi canang sari mengikuti aturan-aturan yang tertuang dalam lontar. Jadi, canang sari tidak diambil dari kitab Weda, namun isi Weda yang kemudian diterjemahkan ke dalam lontar yang ditulis oleh para leluhur di Bali.
Canang sari umum dipakai dalam persembahan sehari-hari. Sedangkan pada hari-hari besar keagamaan, canang sari hanya dipakai sebagai pelengkap saja. Pada hari-hari raya keagamaan , masyarakat Bali memakai sesajen yang lebih tinggi daripada canang sari.
Canang sari tidaklah mahal dan mudah didapat di pasar-pasar tradisional di Bali. Pada hari-hari raya besar, canang sari mengalami kenaikan harga karena banyak yang membutuhkan canang sari.
itulah sekilas informasi tentang Canangsari Bali ...

Daksina – Makna Serta Cara Membuatnya

 
clip_image002
Daksina disebut Juga "YadnyaPatni" yang artinya istri atau sakti daripada yadnya. Daksina juga dipergunakan sebagai mana persembahan atau tanda terima kasih, selalu menyertai banten-banten yang agak besar dan sebagainya perwujudan atau pertapakan. Dalam lontar Yadnya Prakerti disebutkan bahwa Daksina melambangkan Hyang Guru/ Hyang Tunggal kedua nama tersebut adalah nama lain dari Dewa Siwa.
Unsur-unsur yang membentuk daksina, diurut dari isi terbawah hingga diatas yaitu:
  • Alas bedogan/srembeng/wakul/katung; terbuat dari janur/slepan yang bentuknya bulat dan sedikit panjang serta ada batas pinggirnya. Alas Bedogan ini lambang pertiwi unsur yang dapat dilihat dengan jelas.
  • Bedogan/ srembeng/wakul/katung/ srobong daksina; terbuat dari janur/slepan yang dibuta melinkar dan tinggi, seukuran dengan alas wakul. Bedogan bagian tengah ini adalah lambang Akasa yang tanpa tepi. Srembeng daksina juga merupakan lambang dari hukum Rta ( Hukum Abadi tuhan )
  • Tampak; dibuat dari dua potongan janur lalu dijahit sehinga membentuk tanda tambah. Tampak adalah lambang keseimbangan baik makrokosmos maupun mikrokosmos. tampak juga melambangkan swastika, yang artinya semoga dalam keadaan baik.
  • Beras; yang merupakan makanan pokok melambang dari hasil bumi yang menjadi sumber penghidupan manusia di dunia ini. Hyang Tri Murti (Brahma, Visnu, Siva)
  • Sirih temple / Porosan; terbuat dari daun sirih (hijau – wisnu), kapur (putih – siwa) dan pinang (merah – brahma) diikat sedemikian rupa sehingga menjadi satu, porosan adalah lambang pemujaan.
  • Kelapa; adalah buah serbaguna, yang juga simbol Pawitra (air keabadian/amertha) atau lambang alam semesta yang terdiri dari tujuh lapisan (sapta loka dan sapta patala) karena ternyata kelapa memiliki tujuh lapisan ke dalam dan tujuh lapisan ke luar. Air sebagai lambang Mahatala, Isi lembutnya lambang Talatala, isinya lambang tala, lapisan pada isinya lambang Antala, lapisan isi yang keras lambang sutala, lapisan tipis paling dalam lambang Nitala, batoknya lambang Patala. Sedangkan lambang Sapta Loka pada kelapa yaitu: Bulu batok kelapa sebagai lambang Bhur loka, Serat saluran sebagailambang Bhuvah loka, Serat serabut basah lambang svah loka, Serabut basah lambanag Maha loka, serabut kering lambang Jnana loka, kulit serat kering lambang Tapa loka, Kulit kering sebagai lamanag Satya loka Kelapa dikupas dibersihkan hingga kelihatan batoknya dengan maksud karena Bhuana Agung sthana Hyang Widhi tentunya harus bersih dari unsur-unsur gejolak indria yang mengikat dan serabut kelapa adalah lambang pe ngikat indria.
  • Telor Itik; dibungkus dengan ketupat telor, adalah lambang awal kehidupan/ getar-getar kehidupan , lambang Bhuana Alit yang menghuni bumi ini, karena pada telor terdiri dari tiga lapisan, yaitu Kuning Telor/Sari lambang Antah karana sarira, Putih Telor lambang Suksma Sarira, dan Kulit telor adalah lambang Sthula sarira. dipakai telur itik karena itik dianggap suci, bisa memilih makanan, sangat rukun dan dapat menyesuaikan hidupnya (di darat, air dan bahkan terbang bila perlu)
  • Pisang, Tebu dan Kojong; adalah simbol manusia yang menghuni bumi sebagai bagian dari ala mini. Idialnya manusia penghuni bumi ini hidup dengan Tri kaya Parisudhanya. Dalam tetandingan Pisang melambangkan jari, Tebu belambangkan tulang.
  • Buah Kemiri; adalah sibol Purusa / Kejiwaan / Laki-laki, dari segi warna putih (ketulusan)
  • Buah kluwek/Pangi; lambang pradhana / kebendaan / perempuan, dari segi warna merah (kekuatan). Dalam tetandingan melambangkan dagu.
  • Gegantusan; merupakan perpaduan dari isi daratan dan lautan, yang terbuat dari kacang-kacangan, bumbu-bumbuan, garam dan ikan teri yang dibungkus dengan kraras/daun pisang tua adalah lambang sad rasa dan lambang kemakmuran.
  • Papeselan yang terbuat dari lima jenis dedaunan yang diikat menjadi satu adalah lambang Panca Devata; daun duku lambang Isvara, daun manggis lambang Brahma, daun durian / langsat / ceroring lambang Mahadeva, daun salak / mangga lambang Visnu, daun nangka atau timbul lamban Siva. Papeselan juga merupakan lambang kerjasama (Tri Hita Karana).
  • Bija ratus adalah campuran dari 5 jenis biji-bijian, diantaranya; godem (hitam – wisnu), Jawa (putih – iswara), Jagung Nasi (merah – brahma), Jagung Biasa (kuning – mahadewa) dan Jali-jali (Brumbun – siwa). kesemuanya itu dibungkus dengan kraras (daun pisang tua).
  • Benang Tukelan; adalah alat pengikat simbol dari naga Anantabhoga dan naga Basuki dan naga Taksaka dalam proses pemutaran Mandara Giri di Kserarnava untuk mendapatkan Tirtha Amertha dan juga simbolis dari penghubung antara Jivatman yang tidak akan berakhir sampai terjadinya Pralina. Sebelum Pralina Atman yang berasal dari Paramatman akan terus menerus mengalami penjelmaan yang berulang-ulang sebelum mencapai Moksa. Dan semuanya akan kembali pada Hyang Widhi kalau sudah Pralina. dalam tetandingan dipergunakan sebagai lambing usus/perut.
  • Uang Kepeng; adalah alat penebus segala kekurangan sebagai sarining manah. uang juga lambang dari Deva Brahma yang merupakan inti kekuatan untuk menciptakan hidup dan sumber kehidupan.
  • Sesari; sebagai labang saripati dari karma atau pekerjaan (Dana Paramitha)
  • Sampyan Payasan; terbuat dari janur dibuat menyerupai segi tiga, lambang dari Tri Kona; Utpeti, Sthiti dan Pralina.
  • Sampyan pusung; terbuat dari janur dibentuk sehingga menyerupai pusungan rambut, sesunggunya tujuan akhir manusia adalah Brahman dan pusungan itu simbol pengerucutan dari indria-indria
Seperti dijelaskan dalam Lontar Yadnya Pelutaning , Daksina  adalah simbol salam kepada manifestasi Tuhan ( Ida Sanghyang Widhi Wasa ). Daksina juga berarti buah yadnya. Setelah upacara, daksina disajikan kepada pemimpin upacara untuk bersyukur. Sebagai simbol manifestasi, Daksina diisi dengan 13 unsur sebagaimana tercantum di bawah ini.

Kewangen

ESTETIKA SIMBOL UPAKARA “OMKARA”  DALAM BENTUK KEWANGEN
Agama Hindu merupakan agama yang ritualnya dihiasi dengan sarana atau
upakara. Ini bukan berarti upakara itu dihadirkan semata-mata untuk menghias
pelaksanaan ritual. Pelaksanaan ritual dengan jenis upakara tertentu memiliki makna
dan tujuan tertentu sesuai dengan jenis yadnya yang dilaksanakan. Sengaja atau tidak,
disadari atau tidak yang jelas kehadiran upakara dalam ritual Hindu di Bali tampak
indah atau mengandung estetika.
Upakara ritual agama Hindu di Bali kaya dengan jenis dan bentuk upakara.
Baik dari bentuk yang paling kecil dan sederhana, sampai yang paling besar dan
rumit. Sebagai contoh dalam pelakasanaan upacara keagamaan atau dalam
persembahyangan diperlukan beberapa sarana, seperti penjor, gebogan, daksina,
canang sari, dan sebagainya. Termasuk juga salah satunya berupa “kewangen”.
Kalau dikaitkan dengan huruf suci, kwangen merupakan sejenis upakara
simbol “Omkāra” (ý) (Niken Tambang Raras, 2006: 2). “Om” (ý) adalah huruf suci,
singkat dan mudah diingat. Demikian juga dalam bentuk upakaranya berupa
“kewangen” memiliki bentuk kecil, mungil, praktis, dan indah serta berbau harum.
Keharuman ”kewangen” ini adalah suatu tanda atau isyarat agar umat atau bhakta
senantiasa mengingat, mengucapkan, dan mengharumkan nama suci Tuhan.
Keberadaan “Kewangen” sangat penting dalam upacara persembahyangan karena
memiliki makna simbolik yang dipuja yaitu Tuhan Yang Mahaesa (Ida Sang Hyang
Widhi Wasa). Sebagai simbolik Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa), tentunya
“kewangen” dibuat dengan bentuk yang indah dari bahan-bahan yang indah juga dan
harum. Hal ini dapat dimaknai bahwa Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) adalah
indah, harum, dan suci sehingga menarik untuk dipuja dan dimuliakan.
Berdasarkan paparan di atas, penulis merasa tertarik untuk mengungkapkan
estetika “Omkāra” dalam bentuk “kewangen”, yaitu bagaimana bentuk estetika
“kewangen”?, unsur-unsur apa yang membentuk estetika “kewangen”?, dan
bagaimana hubungan bentuk, estetika dan fungsi “kewangen” dalam
persembahyangan?
Bentuk Kewangen
Sebagai simbol “Omkara” dalam bentuk upakara, “kewangen” memiliki
ukuran bentuk yang kecil, yaitu bagian bawah lancip dan bagian atas mekar seperti
bunga sedang kembang. Kewangen biasanya terdiri dari: kojong dari daun pisang,
pelawa, porosan silih asih, pis bolong, sampian kewangen dan bunga-bunga harum
yang ditusuk dengan biting. Semua bahan tersebut dipadukan atau disatukan. Porosan
sisih asih dan pelawa dimasukan ke dalam kojong. Selanjutnya sampian kewangen,
bunga-bunga harum, dan terakhir adalah pis bolong yang lobangnya diisi lidi yang
dilipat sehingga mudah ditancapkan. Adapun bentuk “kewangen” seperti yang
Nampak pada gambar berikut.
image
Gambar Bentuk Kewangen
Estetika Kewangen
Keindahan (estetika) hasil dari kreativitas manusia baik sengaja atau tidak,
pada prinsipnya adalah untuk memenuhi kepuasan bathin atau rohani bagi pembuat
karya itu sendiri dan bagi masyarakat penikmat. Kehidupan manusia dalam
kesehariannya selalu memerlukan keindahan untuk memenuhi kepuasan bathinnya,
baik yang diperoleh dari keindahan alami maupun keindahan karya manusia. Manusia
tidak dapat dipisahkan dengan keindahan (estetika), karena keindahan sebagai
penyeimbang logika manusia. Keindahan dan seni sebagai penghalus hidup manusia.
Tanpa keindahan (estetika), hidup manusia akan terasa kaku dan kehilangan nilai
rasa. Oleh karena itu kahadiran karya estetika sangat dibutuhkan manusia sebagai
penghalus rasa dalam kehidupannya.

Banten Pejati


Banten dalam agama Hindu adalah bahasa agama. Ajaran suci Veda sabda suci Tuhan itu disampaikan kepada umat dalam berbagai bahasa. Ada yang meggunakan bahasa tulis seperti dalam kitab Veda Samhita disampaikan dengan bahasa Sanskerta, ada disampaikan dengan bahasa lisan. Bahasa lisan ini sesuai dengan bahasa tulisnya.

clip_image003
Banten Pejati6
Setelah di Indonesia disampaikan dengan bahasa Jawa Kuno dan di Bali disampaikan dengan bahasa Bali. Disamping itu Veda juga disampaikan dengan bahasa Mona. Mona artinya diam namun banyak mengandung informasi tentang kebenaran Veda dan bahasa Mona itu adalah banten. Dalam “Lontar Yajña Prakrti” disebutkan:
“sahananing bebanten pinaka raganta tuwi, pinaka warna rupaning Ida Bhatara, pinaka anda bhuana”
artinya:
semua jenis banten (upakara) adalah merupakan simbol diri kita, lambang kemahakuasaan Hyang Widhi dan sebagai lambang Bhuana Agung (alam semesta).