Tampilkan postingan dengan label Dewa Dewi Hindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dewa Dewi Hindu. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Juni 2012

Dewi Durga

Dewi Durga

Dewi Durga (Dewi Uma) disebutkan dalam Tri Murti adalah sakti dari Dewa Siwa. Sebagai Dewa, Pemujaan Dewi Durga adalah di Pura Prajapati.
Dewi Durga, dalam Sekte Bhairawa disebutkan sebagai dewa utama yang di puja di Pura Dalem yang disimbukan dengan Ratu Ayu (Rangda) yang memiliki nilai magis sehingga masyarakat penyungsungnya makin merasa dekat dengan rangda untuk mendapat kesucian serta kehidupan secara rohani.
Dalam mitologi Dewi Durga yang dikutip dari buku Gandamayu, Refleksi Mitologi dalam Kekinian, disebutkan sosok Dewi Durga adalah sebagai sang penguasa kegelapan dan penunggu setra Gandamayu yang diyakini sebagai setra paling angker di bumi, tak lain adalah perwujudan Dewi Uma yang dikutuk oleh suaminya, Dewa Siwa. 
Jatuhnya kutukan terhadap Dewi Uma oleh Dewa Siwa, didalilkan sebagai ujian kesetiaan sang dewi yang kala itu diperintahkan turun ke bumi mencari susu sapi putih demi mengobati suaminya, yang ternyata hanya berpura sakit. 
Ketika Dewi Uma dengan ketulusannya hendak menyembuhkan sang suami, Dewa Siwa menjelmakan dirinya sebagai pengembala sapi putih yang kemudian dijumpai Uma di hutan. 
Mengetahui kesulitan Dewi Uma yang tak kunjung menemukan sapi putih yang tengah menyusui, sang gembala pun memperdayai Dewi Uma untuk melakukan hal tak senonoh. 
Awalnya Dewi Uma menolak, namun demi kesembuhan Dewa Siwa, Dewi Uma pun menyanggupinya.

Sekembali ke kahyangan, bukan terimakasih yang diperoleh Dewi Uma, melainkan kutukan sang suami yang menuduhnya telah melanggar kesetiaan, berbuat tak senonoh dengan seorang gembala, yang padahal tak lain Dewa Siwa sendiri. 
Merasa dijebak oleh suaminya, Dewi Uma yang telah berwujud Dewi Durga pun meninggalkan istana para dewa dan tinggal di Setra Gandamayu.

Dewi Laksmi

Dewi Laksmi sebagai Dewi Kemakmuran

Di dalam sistem kalender Bali, hari ini adalah Buda Wage Klawu atau lebih dikenal dengan Hari Buda Cemeng Klawu. Pemujaan pada hari ini lebih banyak diperuntukkan untuk Dewi Laksmi. Kekayaan, kemakmuran, kemurnian, dan kedermawanan selalu dihubungkan dengan Dewi Laksmi. Dewi Laksmi adalah pasangan dari Dewa Vishnu.
Dalam agama Hindu, Dewi Laksmi adalah dewi kekayaan, kesuburan, kemakmuran, keberuntungan, kecantikan, keadilan, dan kebijaksanaan. Seperti yang dijelaskan dalam kitab-kitab Purana, Dewi Laksmi adalah Ibu dari alam semesta.
Dewi Laksmi disebut juga Dewi Uang. Beliau juga disebut "Widya", yang berarti pengetahuan, karena Beliau juga Dewi pengetahuan keagamaan. Beliau juga dihubungkan dengan setiap kebahagiaan yang terjadi di antara keluarga dan sahabat, perkawinan, anak-anak, kekayaan, dan kesehatan yang menjadikannya sebagai Dewi yang sangat terkenal di kalangan umat Hindu.
Pemujaan terdahap Dewi Laksmi sering dihubungkan dengan Bhatari Rambut Sedana. Beliau yang merupakan sinar suci Ida Sang Hyang Widhi yang memiliki paras yang sangat cantik. Beliau juga sangat murah hati kepada orang yang memujanya. Sinar Suci Beliau sebagai manifestasi Tuhan dalam Agama Budha disamakan dengan Dewi Kwam Im. Beliau murah rejeki dalam memberikan kesejahteraan bagi umat Hindu yang senantiasa melakukan Tapa Bratha, Rajin Sembahyang, Bertirta
Yatra, Rajin Melukat Ke Tempat Penyucian dan rajin melakukan berbagai Yadnya yang disertai hati yang tulus.

Ida Bhatari Rambut Sedana dalam
Pembagian Pura Kahyangan Jagat, Beliau berstana di Pura Goa Raja, Besakih. Pura Goa Raja memiliki keunikan yakni sebuah goa di pinggir sungai kecil bekas aliran lahar Gunung Agung saat meletus pada 1963 atau 45 tahun yang silam. Goa batu berukuran besar di kompleks Pura tersebut secara tradisi diyakini umat Hindu, hilirnya tembus ke Pura Goa Lawah di Kabupaten Klungkung dan hulunya tembus ke Gunung Agung, gunung tertinggi di Pulau Bali. Pura berfungsi sebagai titik sentral tempat pemujaan Hyang Widhi sebagai penganugerah kerahayuan (keselamatan) dan kesejahteraan umat manusia. Salah satu pelinggih, di Pura ini adalah tempat untuk memuja Ida Betara Rambut Sedana yang diyakni umat Hindu dapat memberikan kesejahteraan kepada umat manusia.

Perayaan Rairan/Hari Raya Suci/Piodalan Sri Rambut Sedana atau lazimnya sering disebut Rambut Sedana memiliki pengertian secara harfiah, “Sri” yang berarti uang, dan “Sedana” berarti uang atau dengan kata lain bagian dari nafkah yang perayaannya dilakukan di setiap rumah tangga dan Pura di lingkungan desa adat. Sehingga di Bali perayaan Ritual dan Piodalan Ida Bhatari Rambut Sedana tidak hanya dilaksanakan di Pura Goa Raja, namun di dapat juga dilaksanakan di Sanggah atau Merajan atau Pura tertentu di masing-masing Desa Pekraman di Bali sesuai Desa Kala Patra.



sumber :: http://ilovebaliku.blogspot.com

Kamis, 07 Juni 2012

Dewa Indra



Dalam ajaran agama Hindu, Dewa Indra adalah manifestasi Brahman yang bergelar sebagai Dewa cuaca dan Dalam ajaran agama Hindu, Dewa Indra  adalah manifestasi Brahman yang bergelar sebagai Dewa cuaca dan raja kahyangan.
Oleh orang-orang bijaksana, Dewa Indra diberi gelar Dewa petir, Dewa hujan, Dewa perang, raja surga, pemimpin para Dewa, dan banyak lagi sebutan untuk Dewa Indra sesuai dengan karakter yang dimilikinya. Beliau adalah Dewa yang memimpin delapan Wasu.
Dewa Indra juga terkenal dalam kitab-kitab Purana dan Itihasa. Dalam kitab-kitab tersebut posisinya lebih menonjol sebagai raja kahyangan dan pemimpin para Dewa. Dewa Indra juga disebut Dewa perang, karena Beliau dikenal sebagai Dewa yang menaklukkan tiga benteng musuh (Tri Puramtaka). Beliau memiliki senjata yang disebut Bajra. Kendaraan Beliau adalah seekor gajah yang bernama Airawata. Istri Beliau Dewi Sachi.
Dewa Indra muncul dalam kitab Mahabarata. Beliau menjemput Yudistira bersama seekor anjing, yang mencapai puncak gunung Mahameru untuk mencari Swargaloka.
Kadangkala Dewa Indra disamakan dengan Zeus dalam Mitologi Yunani. Dalam agama Buddha, beliau disamakan dengan Sakra.

Nama lain Dewa Indra

Dewa Indra memiliki nama lain sesuai dengan karakter dan berbagai pengalamannya. Nama lain tersebut juga mengandung suatu pujian. Nama lain Dewa Indra yakni:
  • Sakra (yang berkuasa)
  • Svargapati (raja surga)
  • Divapati (raja para Dewa)
  • Meghavahana (yang mengendarai awan)
  • Vasava (pemimpin para Wasu)

sumber :: http://puramedangkamulan.wordpress.com

Dewa Ganesha


Dewa Ganesha
Ganesa (Sansekerta गणेश ganeṣa dengarkan) adalah dewa ilmu pengetahuan. Dalam pewayangan disebut Batara Gana, merupakan salah satu putra Batara Guru (Siwa). Gana diwujudkan berkepala gajah dan berbadan manusia. Dalam pewayangan ia tinggal di kahyangan istananya disebut Glugu Tinatar.
Oleh orang-orang bijaksana, Ganesha diberi gelar Dewa pengetahuan, Dewa pelindung, Dewa penolak sesuatu yang buruk, Dewa keselamatan, dan lain sebagainya. Dalam ukiran-ukiran di candi, patung-patung dan lukisan, Beliau sering dilukiskan:
  • berkepala gajah
  • bertangan empat
  • berbadan gemuk
  • menunggangi tikus
Bermuka gajah melambangkan Dewa Ganesha sebagai perintang segala kesulitan, bagaikan gajah merintangi musuhnya dengan gading yang tajam dan belalai yang panjang. Bertangan empat melambangkan filsafat “empat jalan menuju kebahagiaan”. Berbadan gemuk sebagai lambang orang berbadan besar yang sanggup mengalahkan musuh-musuhnya. Dewa Ganesha menunggangi tikus sebab tikus melambangkan keragu-raguan dalam menghadapi suatu hal, maka dari itu Ganesha berusaha merintangi segala kesulitannya.
Ganesa juga dikenal  dengan nama Vinayaka, dewa yang paling terkenal secara universal dan dipuja di mana saja di dunia ini, popular sekali di dunia barat, karena merupakan  lambang ilmu-pengetahuan duniawi, spiritual dan sains, dan sekaligus menggambarkan manusia dengan segala peri-kemanusiaan, peri-kebinatangan dan peri kedewaannya secara utuh. Lambangnya hadir di agama Budha dalam bentuk Swastika merah, sebagai salib dalam  kepercayaan Nasrani,  dan dibalik oleh  kaum Zionis (menjadi lambang istri  Ganeshya yang bersifat iblis). Jangan sekali-sekali  memuja lambang  swastika  berwarna hitam secara terbalik, iblis cepat sekali datang menyesatkan anda.
Tidak ada suatu upacara apapun juga di dalam Hindhu Dharma yang dapat dimulai tanpa  memuja Dewa Ganeshya dulu, karena para dewa-dewi pernah melakukan kesalahan dalam menjaga kelestarian  jagat-raya ini, maka mandate sepenuhnya dari Yang Maha Esa diwakilkan seluruhnya kepada Ganeshya, termasuk orang-tuanya  harus tunduk kepada sabda Tuhan ini. Beliau juga adalah Vigneswara (penetralisir)  dan Vighnaraja (pengusir bala atau bencana). Namun bentuknya yang aneh sering  mengundang tanda tanya.
Sesungguhnya  berbagai mantram-mantram menyiratkan Ganeshya pada awal mulanya telah  hadir di Rig-Veda (2.33.1) dan (10.112.9), sebagai  konsep paling dini, yang kemudian lambat laun berkembang menjadi Ganeshya  masa kini. Ganapati-Brahmanaspati (konsep Rig-Veda) lambat laun mengalami evolusi spiritual dan menjadi Gajavadana-Ganeshya-Vighneswara. Di Rig-Veda  beliau  juga disebut  sebagai Brhaspati dan Vasaspati (wujud cahaya). Beliau sering  dilukiskan berwarna merah keemas-emasan dan  kampak perang kecil adalah  senjatanya yang paling ampuh, tanpa  karunia dan persetujuan  beliau semua ritus-ritus agama  menjadi sia-sia, beliau tidak menerima caru dalam bentuk daging atau makanan berjiwa, namun selalu dalam bentuk manis-manisan saja, seperti buah dan berbagai sesajen  buatan tangan sendiri. Beliau  selalu didampingi para gana (grup penyanyi dan penari),  beliau juga hadir sebagai penuntun para dewa selain manusia, dan senantiasa  menuntun kita  semua ibarat bundanya Durga dan Parwati ke arah kebajikan. Selain Subramaniyam, kakaknya yang amat terkenal  kesaktiannya, beliau juga  bersaudarakan para Marut (Marut-gana) yang pada saat ini kurang popular.

Dewi Durga



Durga adalah  dewa yang paling di puja di India dan berbagai pelosok dunia pada saat ini, beliau  terkenal dengan nama-nama Dewi, Dewi Ma, Dewi Mata, Durga Ma dan lain sebagainya. Seluruh Purana dan Dewi Bhavatham didedikasikan kepadanya, demikian juga halnya dengan karya shahstra suci  yang disebut Dewi Mahatmyam. Dewi Durga disebut juga sebagai  Dewi Durga  Saptasati atau Candi, dan hadir secara penuh  hormat di dalam karya suci yang disebut Markandeya Purana, kitab ini dianggap sangat sakral dan setiap sloka dianggap sebagai sebuah mantram, setiap mantram ini mampu menghasilkan  pengharapan, hasrat dan  permohonan kita.
Durga juga  bisa berarti “sulit untuk didekati”, karena beliau adalah personifikasi berbagai kesaktian dan gabungan kekuatan para dewa-dewi, namun sebagai bunda jagat-raya beliau adalah  ibu yang penuh kasih sayang yang tidak terhingga. India dan Indoesia penuh  dengan berbagai  candi demi pemujaan  yang pernah jaya-raya (di Indonesia), namun pada saat ini konsep  yang terkembang  di Indonesia adalah konsep salah-kaprah, Dewi Durga  dianggap dewinya  setan dedemit, semua ini adalah propaganda agama lain  yang pernah mengalahkan  kerajaan-kerajaan Hindu di masa oknum-oknum lalu, dengan menjelek-jelekkan peranan Dewi Durga yang sesungguhnya, padahal candi Prambanan dan Candi Sewu terang-terang didedikasikan kepada kebesaran Sang Pertiwi, Maheswari ini. Demikian juga konsep Ratu Kidul, laut selatan, adalah personifikasi Dewi Sri (berbaju hijau dan ungu, lambang Vishnu) yang sengaja diselewengkan oleh oknum-oknum agama lain dimasa lalu,  ternyata kaum Hindu sendiri banyak terkecoh dan termakan oleh isu-isu itu.
Batari Durga adalah penakluk para asura dan sekaligus bunda utama jagat-raya ini, beliau  adalah insti-sari Gayatri itu sendiri. Dengan  hilangnya pemujaan kepada Durga di Indonesia, maka  pemujaan kepada Ganeshya pun sirna,  dan perihal ini merupakan kehilangan  besar bagi Hindu  Jawa yang  pada saat artikel ini berada dalam posisi kebimbangan, mau memuja  secara Hindu Bali atau Hindu Jawa, mau berorientasi  ke India, rasanya  peninggalan leluhur  demikian agung tetapi  tidak  berjejak. Sebenarnya Hindu Jawa mungkin harus kembali ke filosofi agung Bhagavat-Gita, melalui pemujaan Vishnu, Shiwa, Durga dan Ganeshya, disertai Buddha, dengan demikian  kembali ke ajaran leluhur  yaitu gabungan Vaisnawa-Shiva-Buddha, ke Yang Maha Tunggal, Yang Maha Esa, yang sudah tersirat oleh  Pancasila, yang dicetuskan oleh Bung Karno dianggap titisan Raja Brajawijaya oleh Hindu-Jawa, dianggap titisan Prabu Siliwangi oleh penganut beliau di Jawa Barat dan dianggap wali kesebelas untuk Hindu dan Islam oleh pengamat alairan kepercayaan.

Dewi Sarasvatī



Sarasvatī adalah salah satu dari tiga dewi dalam agama Hindu, dua yang lainnya adalah Dewi Sri (Lakhsmi) dan Dewi Uma (Durga). Saraswati adalah sakti dari Dewa Brahma, Dewa Pencipta. Saraswati berasal dari akar kata sr yang berarti mengalir. Dalam Regweda V.75.3, Saraswati juga disebut sebagai Dewi Sungai, disamping Gangga, Yamuna, Susoma dan yang lainnya.
Saraswati adalah dewi yang dipuja dalam agama weda. Nama Saraswati tercantum dalam Rgweda dan juga dalam sastraPuranaIaadalah dewi ilmu pengetahuan dan seni. Saraswati juga dipuja sebagai dewi kebijaksanaan.
Dalam Wedanta, Saraswati di gambarkan sebagai kekuatan feminin dan aspek pengetahuan — shakti — dari Brahman. Sebagaimana pada jaman lampau, ia adalah dewi yang menguasai Ilmu Pengetahuan dan Seni.Parapenganut ajaran Wedanta meyakini, dengan menguasai ilmu pengetahuan dan seni, adalah salah satu jalan untuk mencapai moksa, pembebasan dari kelahiran kembali.
Saraswati adalah shakti  Sang Hyang Brahma, semenjak zaman permulaan beliau sudah dianggap bundanya alam semesta dan segala penciptaan ini, karena beliaulah yang mendapatkan  tugas khusus dari dari Sang Pencipta Brahma untuk mencipta dan merancang  semua ciptaan ini. Arti  kata Saraswati adalah “yang mengalir”; di Rig-Veda, beliau digambarkan sebagai sebuah sungai  yang senantiasa mengalir, beliau memberkahi kesuburan setiap kandungan wanita dan juga kesucian  bagi semua pemuja-pemujanya.Adabeberapa  sebutan lainnya  untuk beliau  ini seperti: Sarada (pemberi arti), Vagiswari (guru tutur-bahasa), Brahmi (istri sang Brahma), Mahavidua (ilmu yang  maha tinggi), dan lain sebagainya. Beliau  adalah personifikasi dari semua bentuk ilmu…… seni,  budaya, literatur, sains, dan berbagai keterampilan  seperti seni ukir, pahat, patung dan lain-laian nya. Setiap seniman diIndiaberwarna brahmana karena berada di bawah naungan Saraswati! Beliau  berkulit putih karena dasar ilmu pengetahuan, beliau adalah  putih, suci dan bersih. Kebodohan atau  kekurang-pengetahuan (avidya) berwarna hitam karena diliputi oleh kegelapan. Beliau dilambangkan duduk di atas bunga teratai, dengan berwahanakan  seekor angsa dengan  keempat tangannya, masing-masing beliau  memegang Vina (suling), Akshamala (tasbih), Pustaka (kitab buku). Tangan yang satunya bermain Vina dan  bermudra  memberkahi. Sering juga  beliau dilukiskan dengan Pasa (kwas), Ankusa (alat penyuntik, bunga Padma (teratai), Trisula, Sankha (alat tiup yang terbuat dari  lokan raksasa), cakra, kecapi, dan sebagainya. Kadang-kadang beliau  berwajah limadan bertangan delapan, juga bermata tiga, berleher biru; dalam aspek ini beliau disebut  sebagai Mahasaraswati yang penuh dengan unsur inti Durga (Parwati). Tunggangan beliau, sang angsa bernama Hamsa,  seperti tunggangan Dewa Brahma. Sering sekali seekor burung merak menjadi wahana beliau selain angsa tersebut.
Saraswati dan Simbol-simbolnya

Dewi Gayatri

Dewi Gayatri

Dewi Gayatri, Bersama Dewa Trimurti
Adalah ibu atau dewi yang dikenal sebagai penyebab awal dari segala sesuatu yang baik yang telah ada yang sedang ada maupun yang akan ada nanti nya. 
Gayatri di puja oleh ketiga serangkai sebagai ibu ketika Brahma, Wisnu dan Siwa masih kanak kanak, Dewi Gayatri menaruh mereka dalam akasa yang di gantung oleh rantai empat WEDA (kebijaksanaan) dan lagu nina bobo OM, ia menidurkan mereka. Melihat bahwa anak - anakNya yang memiliki guna itu tertidur, sang dewi lenyap dan setelah beberapa lama ketiga serangkai itu terbangun dan mulai menangis, mereka beranjak dewasa dan mengembara di akasa dengan daya dari guna, lalu mereka berfikir mencari ibuNya, mereka duduk bermeditasi untuk beberapa waktu lama nya, sehingga akibat dari api tapaNya yang menghanguskan alam semesta, sang ibu universal menjadi kasihan dan muncul di hadapan mereka, walaupun dia meresapi segalanya, namun guna lila dewataNya, Dia mewujudkan bentuk dewataNya, dia merupakan ibu yang sangat cantik dengan mengenakan sari merah, di lehernya mengenakan rangkaian bunga dan wajahNya seperti bulan purnama, Dia memiliki tiga mata dan di dahiNya tergambar bundaran pasta merah, Dia memiliki delapan lengan yang menggengam kembang padma, gada, kerang dan banyak senjata senjata surgawi lainnya yang berkilauan, dia juga memiliki genta pergelangan kaki dan cincin jari kaki, gelang dan bermacam2 cincin yang berkilauan permata serta perhiasan yang lain yang semuanya supra phisik (aprakerta). Dia datang menyongsong anak anaknya dan keringatNya berjatuhan dari mukaNya seperti mutiara. Kemudian Dia terburu buru mendatangi anak - anakNya serta memanggil mereka dengan nama nya masing masing sebagai brahma, wisnu dan siwa. Tiga serangkai itu menyongsong ibuNya yang menciumi serta membelainya berkali kali membimbingNya dan berkata;

Wahai anak anak dewata, Aku telah membuatmu sengsara dengan perpisahan ini, sebelumnya aku telah menemuiMu sebelumnya, cuma Aku menungguMu untuk memperoleh kekuatan penciptaan, pemeliharaan dan peleburan melalui tapa. Sehingga atma yang mengambil bagian peranan mereka dalam lila kosmis ini dapat melihat cita - cita pertapaan dan penebusan dosa seperti apa yang telah kamu perlihatkan bertiga. Aku selalu bersamamu, karena aku trasedental, baru saja kalian mewujudkan Aku di dalam diriMu, dengan anugrah atman berikut nya dapat memuja wujud tuhan Ku seebagai ibu gayatri, Aku akan berkenan dengan pemujaan mereka dan memberikan segala kemakmuran dan rasa bhakti, sekarang Aku telah berkenan dengan segala kepatuhanMu, sehingga Aku memberimu kekuatan penciptaan, pemeliharaan dan peleburan, biarlah brahma dengan sifat rajas (nafsu dan kegiatan) menciptakan; wisnu dengan sifat sattwa (ketenangan) memelihara dan merawat dan siwa dengan sifat tamas (peleburan) menyerapnya kembali dalam setiap kalpa.

Berdoa lah kepadaKu selama waktu kebingungan dan kesulitan guna mendapat kan bimbingan
Berkata demikian sang ibu pengasih dan penyayang,lenyap

Cerita di atas merupakan suatu uraian secara mythologis tentang gayatri devi; yang menunjukukan bahwa gayatri merupakan wedamata,atau ibu dari weda,yaitu sumber dari kebijak sanaan Tuhan. Dia adalah daya yg tak terpisahkan dari brahman atau kesadaran murni tinggi.

sumber :: http://ceritadewata.blogspot.com