Tampilkan postingan dengan label All About Hindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label All About Hindu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Agustus 2012

Barong : Simbol Penjaga Bali


Braahmaa srjayate lokam
Visnave paalakaa sthitam.
Rudretve sanharas ceva
Tri Murthi naama evaca.
(Bhuwana Kosa. III.78).


Maksudnya:
Batara Siwa menciptakan alam ini dengan wujud Dewa Brahma, dengan wujud Dewa Wisnu menjaga alam ini. Dengan wujud Dewa Rudra beliau mempralina alam ini. Itulah Dewa Tri Murti, tiga wujud itu hanya beda nama.

Dalam ajaran Hindu, Tuhan itu Esa hal ini dinyatakan dalam kitab Rgveda maupun kitab-kitab Sastra Hindu lainnya. Tuhan Yang Maha Esa itu memiliki kemahakuasaan yang tiada terbatas. Manusia hanya terbatas kemampuannya memahami kemahakuasaan Tuhan yang tiada terbatas itu.



http://farm1.staticflickr.com/181/454992251_8f25b73bbc_z.jpg
Besakih : Personifikasi Tri Murti
Misalnya Tuhan diyakini sebagai maha pencipta, maha pelindung dan maha pemralina. Tiga kemahakuasaan Tuhan itulah dalam kitab Bhuwana Kosa yang dikutip di atas disebut Brahma, Wisnu dan Rudra. Itulah yang disebut Tri Murti. Beliau itu satu hanya beda fungsi dan sebutan atau nama saja. Rudra ini juga disebut Iswara. Dalam Bhuwana Kosa tersebut Tuhan disebut Siwa. Sebagai pemralina atau melenyapkan sesuatu yang patut dilenyapkan Tuhan Siwa disebut Rudra atau Iswara.


Dalam Lontar Barong Swari ada dinyatakan bahwa di bumi ini manusia diserang oleh wabah yang sangat hebat. Dari utara bumi ini diserang oleh wabah yang disebut Gering Lumintu. Dari barat diserang oleh Gering Amancuh. Dari Selatan diserang oleh Gering Rug Bhuana. Dari timur diserang oleh Gering Utah Bayar. Serangan wabah ini membuat hidup manusia benar-benar sangat menderita. (Gering = wabah)

Untuk mengatasi wabah tersebut manusia melakukan langkah-langkah sekala dan niskala. Langkah niskala yang dilakukan oleh manusia dipimpin oleh para pandita dan pinanditanya memanjatkan permohonan pada Tuhan Siwa. Tujuan permohonan itu untuk mendapatkan kekuatan spiritual melawan wabah tersebut.

Tuhan Siwa mengutus Dewa Tri Murti turun ke dunia untuk menuntun manusia melenyapkan penderitaan dan kesedihan tersebut. Dewa Brahma turun menjadi Topeng Bang. Dewa Wisnu turun menjadi Topeng Telek. Sedangkan Dewa Iswara turun menjadi Barong. Dengan pementasan Topeng Bang, Topeng Telek dan Barong ini Dewa Tri Murti memotivasi rohani umat manusia untuk bangkit mendapatkan kegembiraan rohani.

Dari kegembiraan rohani inilah akan muncul gagasan-gagasan cemerlang untuk mengatasi serangan wabah yang disebut gering itu. Dalam Lontar
Babad Rangda dan Barong ada sedikit perbedaan mengenai simbol barong itu. Dalam babad tersebut barong itu dinyatakan sebagai perwujudan Banas Pati Raja. Banas Pati Raja itu artinya rajanya hutan atau pelindung hutan.

http://images.travelpod.com/users/katrinaoliver/1.1272994334.the-barong.jpg
Barong, Penjaga Niskala

Cerita ini adalah pesan ajaran tattwa agama Hindu yang dikemas dalam bentuk mitologi. Untuk mengatasi penderitaan masyarakat hendaknya ditempuh langkah yang bersifat sekala atau nyata dan yang bersifat niskala. Pementasan barong yang umumnya disertai dengan tari Topeng Bang, dan Telek sebagai media untuk membangkitkan vibrasi spiritual pada masyarakat. Vibrasi spiritual itu untuk membangun kejernihan rohani.

Rohani yang jernih itu sebagai langkah awal membangun pemikiran yang jernih. Dari pikiran yang jenih akan muncul wacana dan langkah nyata untuk memberantas penyakit yang datang dari berbagai penjuru. Penyakit yang harus diberantas adalah penyakit fisik dan nonfisik. Demikian pula penyakit yang muncul karena rusaknya lingkungan alam dan lingkungan sosial.

Mengatasi semuanya itu harus dimulai dari menguatkan daya spiritualitas. Daya spiritualitas itu datang dari kuatnya keyakinan umat pada Tuhan. Keyakinan dengan menguatkan daya spiritualitas itulah Tuhan akan menurunkan karunianya dalam wujud memberi kegembiraan rohani. Kegembiraan rohani itulah yang disimbolkan dengan pementasan barong lengkap dengan Topeng Bang dan Topeng Telek yang lemah lembut.

Kadang-kadang hanya ada barong yang Ngelawang mengelilingi desa. Lebih-lebih pada Sasih Kaenem (Bulan keenam dalam kalender Bali) banyak wabah terjadi. Saat itulah banyak desa pakraman barongnya Ngelawang. Barong ngelawang ini di masing-masing desa pakraman atau daerah tertentu tradisinya berbeda-beda. Tetapi, maknanya sama yaitu sebagai simbol untuk menghadirkan kekuatan suci Batara Iswara memotivasi umat menghilangkan segala sumber penyakit yang menyengsarakan masyarakat. Barong yang dinyatakan sebagai perwujudan Banas Pati Raja itu bermakna untuk memotivasi umat melindungi hutan. Hutan memiliki banyak fungsi dalam kehidupan ini.





http://distilleryimage8.s3.amazonaws.com/66be9fe4685b11e1989612313815112c_7.jpg
Ngelawang : menetralisir energi negatif
 Salah satu fungsinya sebagai penyerap air untuk dialirkan melalui danau dan sungai-sungai. Air adalah unsur terpenting dari kehidupan seluruh makhluk hidup di kolong langit ini. Barong ngelawang itu juga dimaksudkan untuk memotivasi kesadaran umat melindungi hutan. Tanpa hutan air akan menghilang ke laut dan juga menimbulkan banjir di kota. Akibatnya wabah pun merebak.

Kamis, 28 Juni 2012

MAKNA 108


 
Angka 108 merupakan angka keramat bagi pemeluk Hindu di mana:
1. 1+0+8 = 9 berkaitan dengan pangider-ider Dewata Nawa Sangga (sembilan Dewa yang menyangga bumi dari arah mata angin)
ARAH MATA ANGIN
BETHARA
Timur Iswara
Tenggara Mahesora
Selatan Brahma
Barat Daya Rudra
Barat Mahadewa
Barat Laut Sangkara
Utara Wisnu
Timur Laut Sambu
Tengah Siwa (Siwa-Sada Siwa-Parama Siwa)

2. Mitologi Sang Ratnakara, perampok dan pembunuh sadis yang hidup sekitar 3000 tahun Sebelum Masehi di India, sudah merampok dan membunuh 108 pendeta.
Suatu hari ia bertemu seorang pendeta, ketika hendak dibunuh, pendeta itu menghilang, demikian berkali-kali sehingga dia sadar bahwa itu bukan pendeta biasa; dia pun terduduk dan mohon ampun ke hadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa.
Turunlah Bethara Siwa yang tadi menyamar sebagai pendeta. Bethara Siwa mau memberi pengampunan bila Sang Ratnakara mau bertobat dan terlebih dahulu bertapa selama 100 tahun. Sang Ratnakara bersedia melaksanakan perintah, dan dia pun bertapa, sampai sekujur tubuhnya ditumbuhi lumut dan menjadi sarang semut.
Pada hari ke 100 tahun turunlah Bethara Brahma membangunkan tapa-nya dan memberi penugerahan, selanjutnya Bethara Wisnu memberikan pelajaran ke-dharma-an.
Lama kelamaan Sang Ratnakara di-Diksa sebagai Bhagawan Walmiki. Ketika Walmiki masuk sorga, salah satu pertimbangan-Nya adalah karma yang berupa dosa membunuh 108 pendeta sudah imbas dengan karma mulia yang dilaksanakannya setelah menjadi Wiku/ Bhagawan.
Ini dapat disimpulkan bahwa sejahat-jahatnya manusia, bila suatu ketika ia sadar dan bertobat serta menyerahkan dirinya secara utuh ke hadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa selamanya, maka Beliau akan mempertimbangkan antara dharma dan adharma karma manusia tersebut.

Rabu, 27 Juni 2012

Tata Cara Melukat

.
Trayas trimsad devatas
Jugupur apsu-antah
[Atharva Veda XIX.27.10]

- Tiga-puluh-tiga [jumlahnya] dewata ada dalam air suci di alam dan melindungi umat manusia.

PENJELASAN

Keseluruhan alam semesta ini adalah rangkaian samudera energi [Prakriti] yang maha luas. Rig Veda menyebutkan, “Aditer dakso ajayata, daksad uaditih pari” [dari materi asalnya energi dan dari energi asalnya materi]. Ini teori yang sama dengan teori E=mc2 yang ditulis oleh Einstein.  Pohon, batu, awan, gunung, dll, semuanya adalah serangkaian energi yang berwujud materi. Tubuh dan pikiran kita-pun juga serangkaian energi. Kita makan dan minum adalah manifestasi sederhana dari merubah materi [makanan dan minuman] menjadi energi.

Banyak orang yang bertanya-tanya mengapa perasaan mereka tidak tentram, gelisah, mudah marah, mudah mengantuk, mudah lelah, sakit kepala, mimpi-mimpi intens, sakit-sakitan, merasa kacau, dll. Ini semua disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan aliran energi dalam tubuh kita, dimana potensi energi untuk semua hal itu ada dalam diri kita. Sehingga kita perlu mencerai-beraikan energi-energi negatif yang menghambat di dalam diri kita melalui bantuan energi-energi alam semesta yang suci.

Melukat adalah salah satu ciri khas spiritualisme Hindu. Sebab melukat telah ada sejak jaman Veda, dimana dalam Veda sendiri tentang melukat ada dibahas dalam belasan sloka. Tapi dalam agama lain juga ada, seperti misalnya dalam tata cara Buddha di Tibet dan Kamboja.  Melukat adalah menerima pembersihan dan penyembuhan langsung dari Ibu pertiwi dan Bapak alam semesta. Medianya adalah air, karena air di alam berfungsi sebagai media penghantar dan sekaligus sumber vibrasi energi suci alam semesta yang sangat baik. Energi-energi negatif yang menghambat di dalam diri kita dicerai-beraikan, untuk kemudian diselaraskan dengan energi alam semesta yang suci. Fenomena ketidakseimbangan aliran energi ini sendiri bisa dideteksi sejak awal mula sekali, melalui kondisi kesehatan kita dan bagaimana riak-riak emosi dan perasaan kita sendiri.

Senin, 25 Juni 2012

Umat Hindu Bali Harus Militan Terhadap Agama dan Pulau-nya



Bali merupakan satu-satunya Majapahit Kecil yang masih tersisa di Nusantara (Indonesia). Tanpa Bali, nama Indonesia akan kurang dikenal oleh masyarakat dunia. Bahkan dalam lingkup internasional, masyarakat dunia lebih mengenal kata ‘Bali’ daripada kata ‘Indonesia’. Banyak masyarakat luar negeri, sebut saja masyarakat di Eropa yang tidak tahu ‘Negara Indonesia’, namun mengenal nama ‘Bali’. Dari sejumlah warga Eropa yang pernah Saya wawancara, awalnya mereka mengira Bali adalah sebuah Negara dengan budayanya yang  adi luhung yang mayoritas masyarakatnya memeluk agama Hindu. Namun setelah mereka berkunjung ke Bali, ternyata mereka baru menyadari bahwa Bali adalah sebuah provinsi dari sebuah Negara yang bernama Indonesia. Selain itu, diluar negeri nama ‘Indonesia’ menjadi popular karena ada kata ‘Bali’ yang mengikutinya sehingga tak sedikit dari masyarakat internasional mengira bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah pemeluk Hindu dengan budayanya yang adi luhung, dan lagi-lagi, setelah mereka berkunjung ke Bali, mereka menyadari lagi bahwa Bali adalah provinsi kecil yang unik namun indah, berkarisma, dan memiliki daya tarik yang luar biasa.
Bali merupakan salah satu tulang punggung dari NKRI. Bali adalah Majapahit terakhir yang masih ada. Kontribusi Bali terhadap NKRI sungguh besar. Bali mampu membuat nama Nusantara tetap muncul di ranah Internasional karena begitu masyarakat dunia mengingat Bali dan mencari tahu tentang Bali, berarti mereka telah mengingat Indonesia dan belajar dari Indonesia. Bali mampu membuat nama Indonesia tetap ada dalam kancah Internasional. Lantas apa yang membuat Bali mampu membawa nama Nusantara ke kancah Internasional? Kenapa Bali bisa memiliki daya tarik yang begitu besar? Jawabannya yaitu, karena masyarakat Bali mampu menjadi dirinya sendiri, masyarakat Bali mampu melestarikan warisan budaya nenek moyang mereka yang merupakan warisan-warisan budaya yang adi luhung  yang kaya akan nilai-nilai luhur yang tinggi, seperti ilmu pengethuan, filsafat, seni, sastra, arsitektur, dll.

Minggu, 17 Juni 2012

OM SWASTYASTU

OM SWASTYASTU
Hampir setiap agama memiliki slogan-slogan seperti itu (slogan di atas), tapi bagi agama Hindu tidak sekedar slogan. Proses kegiatan yang ada dalam agama Hindu adalah berdasarkan Kitab Suci Weda (Sastra Weda), yang mana didalamnya terkandung berbagai cabang Weda sesuai dengan fungsi dan tujuannya, baik yang kelihatannya bersifat material dan juga yang lebih tinggi yang bersifat rohani secara langsung. Namun demikian tujuan dari Weda itu adalah memberikan sarana kepada seluruh umat manusia agar mengerti tentang Tuhan, yang mana Tuhan, siapa diri kita dan bisa berbuat untuk memuaskan Tuhan. Karenanyalah untuk bisa mengerti tentang Weda dan tujuannya, Tuhan menurunkan orang-orang sucinya dalam suatu garis perguruan yang disebut sampradaya, seperti ayat dalam Padma Purana berikut :

sampradaya vihina ye mantras te nisphala matah
atah kalau bhavisyanti catvarah sampradayinah
sri, brahma, rudra, sankara vaisnawah ksiti-pavanah
catvaras te kalau bhavya hy utkale purusottama

“ Mantra dalam sloka apapun yang diterima tidak melalui silsilah Guru Kerohanian yang sah dan suci, maka hal itu adalah sia-sia belaka, oleh karena itu, empat pribadi yang maha mulia akan muncul untuk melanjutkan kembali garis perguruan yang hampir putus tersebut, pendiri sampradaya itu adalah Sri Mahalaksmi, Brahma, Rudra, Sanaka Maharsi, itulah yang akan menyelamatkan dunia. Para Acarya yang suci akan menghadirkan mereka di kota suci Purusottama. “

Jadi turunnya ajaran Weda adalah melalui jalur dari sampradaya ini dan tidak satupun ajaran Hindu yang lepas dari sampradaya-sampradaya ini, walaupun ada pengembangan selanjutnya, sehingga terbentuk atau tergabung dengan budaya lokal. Ke-semua sampradaya ini adalah garis perguruan Weda yang dikehendaki oleh Tuhan, karenanya Tuhan mengutus roh-roh yang agung yang merupakan teman intim dari Tuhan, seperti nama-nama yang dijelaskan di atas itu. Sehingga di dalam Hindu ada berbagai jenis garis perguruan yang disebut sampradaya yang merupakan kekayaan bagi Hindu itu sendiri yang dari jaman lampau semua sampradaya ini adalah rukun satu sama yang lain dan saling menghormati. Kitab Suci Weda adalah milik dari semua sampradaya itu. Inilah kelebihan daripada Hindu sehingga Hindu selalu menebar kesejahteraan dan kedamaian bagi setiap makhluk hidup. Satu contoh dimana umat Hindu selalu mengucapkan “Om Swastyastu”. Kata “Om Swastyastu” secara indah telah tertulis dalam Kitab Suci Weda bagian Bhagavata Purana, oleh Rsi Vyasa Deva yang adalah murid langsung Deva Rsi Narada. Deva Rsi Narada murid dan putra dari Dewa Brahma. Dewa Brahma menerima langsung ajaran dari kepribadian Tuhan. Demikianlah Srila Vyasa Deva yang begitu kaliber, bukan manusia biasa tapi beliau adalah seorang mahajana dan saktyavesa avatara, telah mencantumkan swastyastu dalam ayat berikut :

svasty astu visvasya khalah prasidatam
dhyayantu bhutani sivam mitho dhiya
manas ca bhadram bhajatad adhoksaje
avesyatam vo matir apy ahaituki
Artinya :
“ Semoga ada keberuntungan yang baik di seluruh alam semesta dan semoga semua orang-orang yang iri dipuaskan. Semoga semua makhluk hidup menjadi tenang dengan mempraktekkan bhakti yoga, karena dengan melaksanakan bhakti, mereka akan berpikir tentang kesejahteraan masing-masing yang lain. Dengan demikian marilah kita semua sibuk didalam pelayanan kepada Tuhan Yang Maha Tinggi, Sri Krishna dan senantiasa tetap khusuk berpikir tentang Beliau. “ (Bhagavata Purana, skanda 5 Bab 18 ayat 9).
(Adhoksaje adalah nama lain dari Sri Krishna).
 

Dari ayat ini, betapa agungnya dan mulianya Vyasa Deva. Demikian juga betapa agung dan mulianya kualifikasi yang akan dimiliki oleh umat Hindu ketika memberikan salam “Om Swastyastu”, karena kata-kata itu adalah berkat dan hadiah dari Srila Vyasa Deva yang telah menurunkan Kitab Suci Bhagavata Purana. Di dalam Bhagavata Purana ini dijelaskan semua sejarah kegiatan Tuhan yang ada di alam semesta ini. Dengan cara memberikan pelajaran melalui wacana dan contoh-contoh kegiatan daripada Tuhan, penyembah-penyembah Tuhan yang agung dan juga makhluk hidup yang menentang Tuhan. Jadi Bhagavata Purana adalah salah satu kunci yang utama Kitab Suci Weda. Seperti ayat berikut menjelaskan :
artho yam brahma-sutranam bharatartha-vinirnayah
gayatri-bhasya-rupo sav vedartha-paribrmhitah
Artinya :
“ Makna dari Vedanta Sutra disajikan dalam Bhagavata Purana, penjelasan yang penuh tentang Mahabharata juga ada, penjelasan tentang brahma gayatri juga ada, dan merupakan ekspansi sepenuhnya, dari semua pengetahuan Weda. “ ( Garuda Purana, dikutip dari Cc. M. 25.143 )

sarva-vedanta-saram iti srimad-bhagavatam isyate
tad-rasamrta-trptasya nanyatra syad ratih kvacit
Artinya :
“ Bhagavata Purana dinyatakan sebagai intisari dari filsafat Vedanta, orang yang merasakan kepuasan dari minuman kekekalannya, tidak pernah terikat dengan berbagai ajaran lainnya.“ (Bhagavata Purana, 12.13.15)

Jadi Bhagavata Purana adalah hadiah tiada taranya bagi umat Hindu, dan penulisnya Srila Vyasa Deva adalah kepribadian yang tiada tandingannya di masa kini maupun masa lampau dan masa yang akan datang, yang merupakan rekan Tuhan yang sangat intim, yang turun sebagai jivan mukta, dan saktyavesa avatara dari kerajaan Tuhan yang bernama Vaikuntha. Sejarah rohani Hindu ( itihasa ) khususnya Mahabharata dan Ramayana adalah darah dari munculnya budaya Hindu di berbagai belahan dunia di luar India, khususnya nusantara. Sejarah rohani Hindu Mahabharata ini, ditulis oleh Rsi Vyasa Deva agar di kemudian hari umat Hindu tahu bahwa agamanya adalah sejarah bukan cerita semata. Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Sri Krishna, telah merencanakan semua itu, sehingga ada Mahabharata. Tuhan ada di tengah-tengah Mahabharata, menyabdakan Bhagavad Gita. Betapa agungnya Mahabharata karena sentuhan tangan kasih Tuhan dan para penyembah Tuhan yang agung. Bahkan tidak bisa disamakan dengan para dewa. Bahkan Dewa Rsi Narada bersabda kepada Yudhistira: “Betapa beruntungnya kalian, wahai Para Pandawa bahkan lebih beruntung dari para dewa di surga, karena Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Sri Krishna, senantiasa mendampingimu“. Seluruh dunia memuji keagungan dan merindukan Mahabharata, karena Tuhan Sri Krishna yang amat menarik hadir di sana. Selain itu Hindu terkenal karena Mahabharata dan setiap tempat tirtha yatra yang utama selalu berhubungan dengan Mahabharata.
Budaya Hindu yang di nusantara tumbuh dan berkembang karena diawali oleh siraman dari Mahabharata. Garuda adalah tunggangan dari Sri Krishna sendiri, menjadi lambang dari Negara Indonesia. Namun demikian tolong dimengerti, tidak semua sejarah bisa dianggap itihasa seperti Mahabharata. Karena itihasa adalah sejarah kegiatan rohani dari Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa dan para penyembahnya yang agung, karenanya mari kita bersama-sama memperdalam ajaran Hindu agar tujuan sebagai umat Hindu dapat tercapai seperti tujuan agama Hindu, moksartham jagadhita ya ca iti dharma. Banyak sejarah India dari masa kolonial sampai saat ini tidak bisa disebut sebagai itihasa. Oleh sebab itu maaf, tidak semua sejarah bisa disebut itihasa. Bagi mereka yang tidak bisa menerima itihasa sebagai Kitab Suci, itu terserah kepada masing-masing individu. Setiap orang membawa karma masing-masing dan kita harus mempertanggung jawabkan diri kita dari kelahiran demi kelahiran. Yang pasti kita menjadi umat Hindu yang paling beruntung.
Lebih daripada itu keberuntungan bagi umat Hindu adalah juga persyaratan bagi sebyah agama di Indonesia di penuhi. Salah satunya adalah memiliki Nabhi maka tepat sekali pendahulu kita, memilih Srila Vyasadeva sebagai Nabhi Hindu karena memang beliaulah Maha Rsi di jaman Kaliyuga ini.Srila Vyasadeva turun sebagai Satyavesa Avatara yang khusus di utus dan diberikan sakti untuk mengumpulkan, menulis serta menjabarkan Kitab Suci Weda yang demikian rumit.Tanpa kehadiran beliau Kitab Suci Weda hanya merupakan sebuah cerita-cerita dari mulut ke mulut yang tidak bisa kita tunjukan sebagai sebuah persyaratan dari Agama.
Beliau bernama Krsna Dvaipayana , yang dapat menduduki posisi sebagai Vyasa artinya yang berhak sebagai otoritas utama dari Weda . Sehingga dari jaman yang lampau hari kelahiran beliau di peringati dan di rayakan dengan nama Guru Purnima,umat hindu di seluruh dunia merayakan sebagai wujud Rsi Yadnya yang paling utama,seperti Maulud Nabhi bagi Agama Islam.Untuk menduduki posisi Vyasa adalah bukan manusia biasa tetapi beliau yang turun dari dunia rohani yang merupakan utusan Tuhan untuk turun ke bumi ini.
Marilah kita bersatu-padu bergandengan tangan saling menghormati satu dengan yang lain. Kita memiliki PHDI sebagai lembaga dimana kita bisa berkumpul dan menyatakan diri sebagai umat Hindu, kita mesti junjung tinggi dan kita tempatkan sebagai lembaga yang terhormat. Mari setiap hari kita berperang melawan musuh-musuh yang ada dalam hati kita berupa: nafsu, kemarahan, kebingungan, kelobaan, kemabukan dan iri hati. Agar kesejahteraan lahir bathin selalu tercipta, bukan saja dikalangan umat Hindu, tapi di seluruh umat manusia. Semoga kami dan seluruh umat Hindu menjadi teladan bagi seluruh umat manusia di bumi ini, sehingga seluruh umat manusia tanpa terkecuali, demikian pula binatang dan tumbuh-tumbuhan merasakan damai, sejahtera dan aman dalam kasih Tuhan. Umat Hindu yang paling beruntung adalah dia yamg telah menebar kasih yang mengakibatkan rasa damai, sejahtera dan aman bagi seluruh umat manusia tanpa terkecuali, termasuk binatang dan tumbuh-tumbuhan. Tat Astu.
Om Santih Santih Santih Om.
Hari Om Tat Sat
skcon-indonesia Sri Sri Krishna Balarama Ashram