Tampilkan postingan dengan label Ajaran Hindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ajaran Hindu. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Mei 2016

MENGENAL CETIK DAN PENGOBATANNYA







Siapa yang tidak pernah mendengar istilah "Cetik"? Sebagian besar masyarakat di Bali pernah mendengar istilah ini. Lalu apa sebenarnya yang disebut dengan cetik ini?

Cetik merupakan hasil dari ramuan berbagai jenis benda(benda mati/hidup) yang disertai dengan pemberian mantra-mantra tertentu. Seseorang yang terkena cetik, dapat mengalami berbagai penyakit pada tubuhnya, bahkan bisa mengalami kematian.

Dalam sastra agama disebutkan ada beberapa jenis cetik, yaitu :

1. Cetik Croncong Polo - Paling berbahaya (Menyerang Otak)

2. Cetik Gringsing - Dibuat dari kepeting (yuyu) gringsing

3. Cetik Gangsa - Dibuat dari kerikan gong gangsa + Medang

4. Cetik Buntek - Dibuat dari be (ikan) buntek

5. Cetik Jinten - Dibuat dari tulang manusia

6. Cetik Singar mangsi - Dibuat dari Lateng layar di laut

7. Cetik Badung - Dibuat dari air yang keluar dari orang meninggal

Untuk mengobati jenis cetik Croncong Polo, dalam

lontar usada sarana disebutkan harus memakai beberapa bahan yaitu: Keong Kraca, Madu Klupa, Air Jeruk dan Belerang Merah.Cara menggunakan obat tersebut adalah dengan meneteskannya kehidung.

Rabu, 24 Juli 2013

10 hurup suci (Dasa Aksara) sumber alam semesta

OM Swastiastu,

hurup-hurup suci yang merupakaran sumber dari alam semesta termasuk manusia adalah dasaaksara. mungkin sudah banyak yang sering mendengar kata Dasa Aksara ini, berikut ini akan diulas kembali Dasa Aksara tersebut..




Diceritakan dalam setiap tubuh manusia terdapat hurup – urup yang sangat disucikan, diceritakan pula bahwa Dewa - dewa dari hurup suci tersebut bersatu menjadi sang hyang ‘dasa aksara’. Dasa aksara merupakan sepuluh hurup utama dalam alam ini yang merupakan simbol dari penguasa alam jagat raya. Dari sepuluh hurup bersatu menjadi panca brahma(lima hurup suci untuk menciptakan dan menghancurkan), panca brahma menjadi tri aksara(tiga hurup), tri aksara menjadi eka aksara (satu hurup). Ini hurupnya: “OM”. Bila sudah hafal dengan pengucapan hurup suci tersebut agar selalu di ingat dan diresapi, karena ini merupakan sumber dari kekuatan alam semesta yang terletak di dalam tubuh kita (bhuana alit) ataupun dalam jagat raya ini (bhuana agung).


Begini caranya menyatukan ataupun menempatkan sang hyang dasa aksara dalam badan ini. Yang pertama sang hyang sandhi reka yang terletak dalam badan kita ini. Beliau bertapa-beryoga sehingga beliau menjelma menjadi sang hyang eka jala resi. Sang hyang eka jala rsi beryoga muncul sang hyang ketu dan sang hyang rau.

Sang hyang rau menciptakan kala (waktu), kegelapan, niat (jahat yang sangat banyak, sedangkan sang hyang ketu menciptakan tiga aksara yang sangat berguna, diantaranya wreasta (ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, ma, ga, ba, nga, pa, ja, ya, nya), beserta swalalita dan modre. Sehingga jumlah hurupnya adalah dua puluh hurup.
Aksara modre bersatu dengan sembilan hurup wreasta yaitu dari ha –wa, yang kemudian disebut dasa sita.
Aksara swalelita, bersatu dengan sembilan hurup wreasta lainnya yaitu dari la – nya, yang kemudian disebut ‘dasa sila’ dan ‘dasa bayu’.
Bertemu ketiga induk dari aksara suci tersebut; dasa sita, dasa sila, dasa bayu menjadi ‘dasa aksara’.

Kamis, 11 Juli 2013

Delapan Macam Karma / ASTA KARMA-PARINAMA



ASTA KARMA-PARINAMA

Secara garis besar ada delapan macam bentuk-bentuk karma dilihat dari sudut pandang akibat yang dihasilkannya, yaitu : 

1. Mohaniya Karma [karma yang mengaburkan kesadaran atma jnana] 

Karma ini akan mengaburkan kesadaran kita atau menghambat peningkatan kualitas kesadaran kita. Menjauhkan kita dari kesadaran akan realitas diri yang sejati [atma jnana].

Karma ini terbentuk melalui cara-cara seperti misalnya berikut ini :

- Terlalu banyak marah, terlalu sering membenci, melakukan penipuan, melakukan pemerasan, serakah, berperilaku kasar dan buruk, suka menyakiti, perselingkuhan dalam bentuk hubungan badan, pelecehan seksual, pemerkosaan, menggunakan narkoba, dsb-nya.
- Dengan terlalu larut dalam kenikmatan indriya-indriya yang bersifat duniawi.
- Dengan mencela, melecehkan, menyalahkan, menghina atau menunjukkan kebencian kepada orang-orang suci [yang asli], serta kepada figur-figur suci seperti dewa-dewi.
- Dengan menimbulkan halangan, kesulitan atau hambatan pada praktek-praktek religius.
- Dengan memanfaatkan ajaran-ajaran religius sebagai topeng untuk mewujudkan keinginan dan kepentingan pribadi, serta mengambil keuntungan dari situ.
- Dengan fanatisme beragama [tidak atau kurang toleran kepada keragaman religius].
- Dengan membenturkan satu ajaran agama dengan ajaran agama lainnya dengan tujuan konversi agama.
- Dengan melestarikan atau mengembangkan dan menyebarkan ajaran-ajaran religius salah dan palsu yang menjerumuskan orang ke dalam pandangan salah atau menyebarkan ajaran-ajaran religius disertai dengan kebohongan-kebohongan.
- Dengan tidak mempraktekkan ajaran-ajaran religius yang universal.

Karmaphala atau buah karma dari darsanavarniya karma akan membuat kita sulit untuk sadar dari jalan yang adharma, membuat kita sulit untuk meninggalkan cara-cara dan jalan hidup yang salah. Ini sebabnya ada sebagian orang yang lebih tertarik judi, korupsi atau selingkuh dibandingkan belajar dharma dan belajar meditasi. Ada orang yang lebih tertarik pergi dugem atau ke kafe dibandingkan pergi sembahyang ke pura-pura. Kalaupun dia pergi ke pura yang dia pikirkan adalah hal-hal keduniawian. Dsb-nya.

Efek lain dari karma ini adalah menyebabkan seseorang mengalami ilusi religius, sangat yakin dirinya melakukan hal yang baik, benar dan suci, padahal sesungguhnya yang dilakukannya adalah hal yang salah, menciptakan belenggu bagi banyak orang atau malah sebuah kejahatan. Misalnya dalam contoh yang paling ekstrim : rajin sembahyang, taat beragama, siap membela Tuhan dan bahkan melakukan pembunuhan, teror dan perang demi membela Tuhan. Atau mungkin yang terjadi sebaliknya, karma ini dapat menyebabkan seseorang merasa dirinya melakukan hal yang salah dan tidak baik, padahal sesungguhnya yang dilakukannya adalah sebuah jalan dharma yang membebaskan dirinya sendiri dan orang lain.

Beberapa contoh dari mohaniya karma, misalnya :

- Mithyatva karma : ini membuat seseorang tidak percaya dengan ajaran religius yang asli. Kalaupun dia berjodoh dengan sebuah ajaran religius, dia akan berjodoh dengan ajaran religius yang palsu. Dia akan percaya dan mengikuti guru atau pemimpin spiritual yang palsu serta sangat meyakini kebenaran ajaran yang salah tersebut.
- Samyagmithyatva karma : ini membuat seseorang memiliki dan mengikuti keyakinan campur-campur antara ajaran yang asli dan palsu. Atau tenggelam dalam kebingungan dan konflik pilihan.
- Samyaktva karma : ini membuat seseorang benar-benar berjodoh, tersambung [paham] dan mengikuti ajaran religius yang asli. Bebas dari racun ajaran dan pandangan yang salah.

Prana, Chakra dan Kundalini

Om Namah Shivaya.

Alam semesta ini tercipta karena interaksi dari Purusha dan Prakriti. Purusha adalah kesadaran murni yang mutlak, tanpa sifat, tidak dapat dijelaskan. Sedangkan Prakriti dalam bahasa manusia yang paling mendekati adalah energi.

Seluruh fenomena dan dimensi alam semesta pada pokok dasarnya adalah energi. Samudera energi yang maha luas dimana energi menjadi materi dan materi menjadi energi, sebagaimana dijelaskan di dalam Veda : “Aditer dakso ajayata, daksad uaditih pari” [ Rig Veda 2.72.4 ], artinya : dari aditi [materi] asalnya daksa [energi] dan dari daksa asalnya aditi. Ini teori yang sama dengan teori E=mc2 yang ditulis oleh Einstein.


Pranamaya Kosha

Dalam tubuh kita manusia terdapat lapisan badan yang disebut Pranamaya Kosha.

Pranamaya kosha adalah lapisan badan yang terbentuk dari energi prana, energi yang memberikan gerak kehidupan kepada badan fisik kita. Alam semesta ini diselimuti oleh samudera besar energi pemberi kehidupan yang disebut energi prana. Setiap organisme, mulai yang terkecil [mikroba] s/d yang terbesar, saat punarbhawa [kelahiran kembali], menarik ke dalam dirinya sendiri energi prana dari samudera energi prana alam semesta ini. Kekuatan hidup [prana] yang terdapat di dalam diri kita sebagai lapisan badan inilah yang disebut dengan pranamaya kosha.

Wujud dari pranamaya kosha adalah kemilau warna keemasan. Saat kematian datang, lapisan badan ini dengan sendirinya akan keluar dari badan dan kembali kepada samudera energi prana alam semesta.

Di dalam lapisan badan pranamaya kosha kita [tidak bisa kita lihat dengan mata biasa] terdapat jutaan dan jutaan noktah-noktah kecil [laksana debu] energi prana atau energi kehidupan yang berputar dan berpusat pada apa yang disebut sebagai chakra. Chakra dalam bahasa sansekerta berarti roda berputar, karena energi ini berputar searah jarum jam. Melalui jejaring saluran-saluran energi prana yang disebut nadi, setiap chakra ini terhubung satu sama lain dan mempengaruhi seluruh lapisan-lapisan tubuh kita.

Terkait jejaring energi prana dalam pranamaya kosha, ada hal-hal mendasar yang perlu dijelaskan terlebih dahulu, yaitu :

Nadi adalah jejaring saluran-saluran energi prana. Jumlahnya ada 72.000 nadi. Seluruh nadi bermula dari kanda, daerah diatas chakra muladhara. Diantaranya terdapat 14 nadi yang penting, tapi yang terpenting ada 3 yaitu Ida, Pingala dan Sushumna. Ida adalah saluran kiri, energi feminim yang dingin. Pingala adalah saluran kanan, saluran maskulin yang panas. Sushumna adalah saluran tengah.

Chakra adalah titik pusat-pusat energi prana yang berada sepanjang shusumna [letaknya pada poros tulang belakang]. Dalam lapisan tubuh prana kita terdapat ribuan chakra mikro, 114 chakra kecil dan 7 chakra utama yang terpenting. Ke-tujuh chakra ini masing-masing terkait erat dengan pikiran, emosi, kesehatan dan dinamika perilaku kita dalam kehidupan ini.

Granthi adalah tiga simpul energi penghalang yang terletak di sepanjang sushumna, yaitu : Brahma Granthi, Vishnu Granthi dan Rudra Granthi.

Kundalini adalah api energi berupa gulungan yang terletak pada chakra muladhara [chakra dasar], pada titik antara kemaluan dan anus.

 
Tiga nadi dan tujuh chakra utama

Ada ribuan chakra di dalam lapisan badan pranamaya kosha kita, akan tetapi yang disebut sebagai chakra utama ada tujuh. Masing-masing chakra ini berbentuk seperti bunga teratai dengan warna-warni yang berbeda, dan masing-masing mempunyai fungsi dan efek masing-masing. Ketujuh chakra tersebut adalah :

Manushya

Kehidupan kita sebagai mahluk

Pengalaman kita manusia sebagai mahluk disebabkan oleh belenggu prakriti, sehingga kita manusia “tidak sadar" atau tenggelam dalam ketidaktahuan [avidya]. Yang dimaksud dengan avidya adalah kita salah paham akan realitas diri yang sejati. Kita mengidentikkan diri sebagai “aku” atau seorang manusia, mengidentikkan diri sebagai sebagai pikiran dan perasaan kita, serta mengidentikkan diri sebagai sebagai badan fisik ini. Padahal sesungguhnya semua itu hanyalah bagian dari dinamika prakriti [seluruh fenomena dan dimensi alam semesta yang pada pokok dasarnya adalah energi].

Prakriti sebagai lapisan-lapisan badan yang membungkus kesadaran murni [purusha] membentuk dua type badan, yaitu : badan fisik dan badan pikiran. Badan fisik mudah kita ketahui. Tapi badan-badan pikiran kita berada pada alam yang lebih halus, tidak bisa kita lihat dan rasakan dengan indriya badan fisik kita, sehingga kita tidak memperhatikannya.

Termuat dalam Taittriya Upanishad, ada lima jenis bahan atau energi pembentuk yang membentuk lapisan-lapisan badan kita sebagai manusia, yang disebut dengan panca maya kosha, yaitu :


Susunan panca maya kosha

1. Annamaya Kosha – lapisan badan yang tersusun dari energi sari-sari makanan.
2. Pranamaya Kosha – lapisan badan yang tersusun dari energi prana, yaitu samudera besar energi pembentuk kehidupan yang ada di semua penjuru alam semesta.
3. Manomaya Kosha – lapisan badan yang tersusun dari energi pikiran biasa.
4. Vijnanamaya Kosha – lapisan badan yang tersusun dari energi pikiran yang halus dan sadar.
5. Anandamaya Kosha – lapisan badan yang tersusun dari energi alam semesta yang transenden.

Brahmande api asti yat kincit tat pinde asti sarvatho, apa yang ada di dalam semesta [bhuana agung] juga ada dalam diri kita [bhuana alit]. Sehingga sesungguhnya diri kita ini sangat kompleks, tidak sesederhana apa yang hanya bisa dilihat oleh mata biasa. Kosha dalam bahasa sansekerta berarti "lapisan". Sarira atau sharira dalam bahasa sansekerta berarti : "sesuatu yang gampang terurai” atau “sesuatu yang mudah lenyap” atau “sesuatu yang sifatnya sementara / tidak abadi".

Manusia terdiri dari lima lapisan badan [kosha atau sarira] disertai beberapa sub-lapisan badan yang menyelubungi purusha [kesadaran murni]. Lapisan-lapisan badan kita ini secara fisik tidak merupakan satu kesatuan, tapi saling terkait kuat dan terkunci dalam lapisan-lapisan, yang kalau diibaratkan persis seperti lapisan-lapisan bawang. Masing-masing bekerja dan berfungsi secara bersama-sama dalam kesadaran kita sehari-hari. Lapisan-lapisan badan ini adalah bagian dari manifestasi prakriti yang terkait dengan pengalaman subyektif kita sebagai mahluk atau sebagai "aku". Lapisan-lapisan badan ini adalah sebagai berikut :

Kamis, 04 Juli 2013

Sat = Yang tak berwujud




Sat = Yang tak berwujud

Untuk memudahkan manusia menuju Sat, maka dimunculkanlah Ong Kara. Dari Ong Kara muncullah Dwi Aksara yaitu Ang dan Ah. Dwi Aksara juga adalah perlambang Rwabhineda (Dualitas), Ang adalah Purusa (Bapa Akasha) dan Ah adalah Prakerti (Ibu Prtivi).

Pada tahapan berikutnya, dari Dwi Aksara ini muncullah Tri Aksara, yaitu Ang, Ung dan Mang. Dari banyak sumber pustaka, dikatakan bahwa AUM inilah yang mengawali sehingga muncullah OM. (Apakah ini petunjuk bahwa ONG itu lebih dulu/tua daripada OM?)

Pada tahapan berikutnya, dari Tri Aksara muncullah Panca Aksara, yaitu SANG, BANG, TANG, ANG, dan ING. Dari Panca Aksara kemudian muncullah Dasa Aksara, yaitu SANG, BANG, TANG, ANG, ING, NANG, MANG, SING, WANG, dan YANG.

Pada arah mata angin, Dasa Aksara terletak berurutan dari Timur = SANG, Selatan = BANG, Barat = TANG, Utara = ANG, dan tengah-tengah/poros/pusat = ING, kemudian Tenggara = Nang, Barat Daya = Mang, Barat Laut = SING, Timur Laut = WANG dan tengah-tengah/poros/pusat = YANG. Ada dua aksara yang menumpuk di tengah-tengah, yaitu ING dan YANG. (Apakah ini asal muasal YING dan YANG?)

Tapak Dara (+) adalah simbol penyatuan Rwabhineda (Dualitas), (|) dan segitiga yang puncaknya ke atas, mewakili Purusa/Bapa Akasha/Maskulin/Al/El/God/Phallus. Sedangkan (-) dan segitiga yang puncaknya ke bawah mewakili Prakerti/Ibu Prtivi/Feminim/Aloah/Eloah/Goddess/Uterus.

Hanya dengan melampaui Rwabhineda (dualitas), menyatukan/melihat dalam satu kesatuan yang utuh/keuTUHAN, maka pintu gerbang menuju Sat akan ditemukan. KeuTUHAN disini, bukan menjadikan satu, namun merangkum semuanya, menemukan intisari dari semua perbedaan yang ada tanpa menghilangkan atau menghapus perbedaan yang ada. Bukan juga merangkul semuanya dalam satu sistem tertentu, bukan juga untuk satu agama tertentu, tapi temukan dan kumpulkanlah semua serpihan kebenaran yang ada di setiap perbedaan yang membungkusnya. Inilah BHINEKA TUNGGAL IKA TAN HANNA DHARMA MANGRWA.

Memang pemahaman ini masih sulit diterima oleh mereka yang terjebak dalam dogma dan doktrin agama masing-masing. Pemahaman ini memang diperuntukkan bagi mereka yang akan dan sedang menapaki jalan spiritual. Dan bagi mereka yang telah melampaui jalan spiritualitas silahkan digunakan seperlunya.

Damai dan Cinta Kasih untuk semua... _/\_

Ah... Ang... Ong _/\_

Senin, 17 Juni 2013

GARIS HIDUP SESEORANG BERHHUBUNGAN DENGAN JUMLAH TANGGAL LAHIR

ANGKA TANGGAL LAHIR DAN GARIS HIDUP
Untuk mengetahui garis hidup Anda, Anda jumlahkan tanggal lahir Anda menjadi satu angka. kemudian Anda lihat makna seuai dengan angka yang sudah Anda peroleh.
Misalnya (Anda lahir 1 Januari 1995, jumlahkan 1+1+1+9+9+5 = 26 = 2+6=8), ini artinya garis hidup Anda 8. Silahkan disimak lebih detail

1. Garis Hidup 1

Misi hidupnya adalah untuk bisa selalu independen. Ada dua bagian dalam proses mencapai hal ini: pertama, Anda harus belajar untuk berdiri di atas kedua kaki dan tidak tergantung pada orang lain. Kemudian setelah Anda benar-benar bebas dan independen, belajarlah untuk menjadi pemimpin. Banyak jenderal, pemimpin perusahaan, dan politikus mempunyai angka "Garis Hidup" 1.

Orang-orang yang mempunyai angka garis hidup satu ini selalu mempunyai potensi yang hebat untuk menjadi pemimpin, tapi mereka bisa gagal bila menjadi pengikut. Banyak dari mereka yang menghabiskan sebagian besar berusaha melepaskan ketergantungan mereka pada orang lain, tapi ini justru menyisakan sedikit waktu bagi mereka untuk memperoleh kesenangan yang didapat dari keindependenan.

Orang dengan garis hidup 1 harus keluar dari lingkungan yang membuat mereka mudah untuk tergantung, dan sulit untuk independen. Mereka yang mempunyai angka garis hidup 1 penuh dengan inspirasi kreatif, dan memiliki antusiasme dan dorongan untuk mencapai banyak hal. Semangat dan potensi tersebut datang dari kedalaman kekuatan yang dimiliki. Baik fisik maupun karakter. Dengan kekuatan ini, muncul kegigihan dan kemampuan untuk memimpin.
Sebagai pemimpin alami, Anda mempunyai pengaruh untuk mengambil alih tiap situasi. Terlalu percaya diri dan tidak sabaran. Sangat orisinil, Anda berbakat sebagai seorang penemu atau inovator. Dalam tiap pekerjaan yang Anda pilih, sikap independen Anda akan terlihat. Anda memiliki keinginan-keinginan pribadi yang sangat kuat, dan Anda selalu merasa harus mengikuti keyakinan Anda sendiri. Jika seseorang dengan angka garis hidup 1 ini belum berevolusi dengan baik, dan menunjukkan sisi negatifnya, justru yang tampak adalah sisi karakternya yang tergantung pada orang. Jika berada pada titik terburuknya, energi angka 1 ini bisa membuatnya menjadi egois.

Rabu, 10 April 2013

PANCA SRADHA


Bila dijabarkan menurut katanya,panca dapat diartikan lima dan sradha dapat diartikan keimanan atau kepercayaan. Jadi Panca Sradha adalah lima dasar kepercayaan atau keyakinan Agama Hindu yang harus dipegang teguh dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat demi mencapai tujuan hidupnya di dunia dan sesudahnya.
Bagian-bagian Panca Sradha :
  • Percaya dengan adanya Ida Sang Hyang Widhi (Widhi Sradha)
  • Percaya dengan adanya Atma (Atma Sradha)
  • Percaya dengan adanya Karma Phala (Karmaphala Sradha)
  • Percaya dengan adanya Punarbhawa atau Samsara (Punarbhawa Sradha)
  • Percaya dengan adanya Moksa (Moksa Sradha)
Penjelasan Bagian Panca Sradha :
1. Widhi Sradha
Widhi Sradha adalah keyakinan atau kepercayaan tentang kebenaran adanya Ida Sang Hyang Widhi.
Keyakinan tentang kebenaran adanya Ida Sang Hyang Widhi dapat dilakukan melalui ajaran Tri Pramana yaitu Agama (Sabda) Pramana, Anumana Pramana, dan Pratyaksa Pramana.
Dalam ajaran Agama (Sabda) Pramana,seseorang meyakini keberadaan Tuhan melalui kesaksian atau sabda Beliau yang disampaikan melalui kitab suci Weda,yang dianugrahkan kepada para Maharsi, para Yogi dan para orang bijaksana.
Dalam Anumana Pramana, sesesorang meyakini keberadaan Tuhan melalui analisis yang logis dan sistematis terhadap apa yang ada di alam semesta ini,ajaran ini menekankan bahwa setiap yang ada di alam semesta ini beserta kejadian-kejadiannya adalah ciptaan dan kehendak Beliau,Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Sedangkan untuk Pratyaksa Pramana, seseorang meyakini keberadaan Tuhan karena seseorang tersebut dapat mengalami langsung, melihat Tuhan/ Manifestasinya tanpa media atau perantara. Hal ini dapat dialami bagi orang-orang yang memiliki tingkat kesucian yang tinggi,seperti para Maha Rsi.
Ajaran Widhi Sradha juga dapat diterapkan dalam ajaran Cadhu Sakti. Sang Hyang Widhi mempunyai empat sifat ke-Mahakuasaan yang disebut Cadhu Sakti yang terdiri dari :
1. Wibhu Sakti yaitu sifat Yang Maha Ada
2. Prabhu Sakti yaitu sifat Yang Maha Kuasa
3. Jnana Sakti yaitu sifat Yang Maha Tahu
4. Krya Sakti yaitu sifat Yang Maha Karya
Selain ajaran tersebut, keberadaan Sang Hyang Widhi juga dapat dijelaskan oleh keberadaan Dewa dan Awatara. Dewa dalam ajaran Hindu dapat diartikan sebagai sinar suci dari Sang Hyang Widhi, sedangkan Awatara dapat diartikan penjelmaan Tuhan/Dewa ke dunia dalam upaya untuk mencapai kemakmuran dan keselamatan dunia. Dalam kitab Reg Weda VIII. 57.2 dan kitab Brhadaranyaka Upanisad 111.9.1 dijelaskan bahwa seluruh Dewa itu berjumlah 33,menguasai Tri Bhuwana (Bhur,Bhuwah,Swah loka).Seluruh Dewa terdiri dari 8 Vasu (Astavasu), 11 Rudra (EkadasaRudra), 12 Aditya (Dwadasaditya),serta Indra dan Prajapati. Sedangkan untuk Awatara terdapat sepuluh awatara Wisnu yang terdiri dari : Matsya, Kurma, Waraha, Narasimha, Wamana, ParasuRama, Rama, Krishna,Buddha, dan Kalki Awatara.
Dalam ajaran Hindu, Brahman dapat diwujudkan dalam dua sifat yaitu Saguna Brahman (Apara Brahman) dan Nirguna Brahman (Para Brahman). Saguna Brahman adalah Tuhan Yang Maha Esa digambarkan sebagai pribadi dan dibayangkan dalam wujud yang Maha Agung oleh alam pikiran manusia secara empiris. Sedangkan Nirguna Brahman adalah Tuhan Yang Maha Esa dalam keadaan yang tidak terkondisikan dan tanpa sifat,tidak dapat dipikirkan karena ada di luar batas pikiran manusia.
Demikianlah beberapa pernyataan yang menekankan bahwa Ida Sang Hyang Widhi memang benar-benar ada dan kita sebagai umat Hindu wajib meyakini ajaran Widhi Sradha tersebut.

Minggu, 20 Januari 2013

Dasa Aksara




Dasa Aksara

Di Bali telah lama dikenal aksara atau huruf yang diperkirakan merupakan modifikasi dari huruf Jawa. Dan huruf Jawa ini mungkin berasal dari huruf Sansekerta. Diduga bahwa huruf ini dibawa oleh Raja Aji Saka yang dating ke Jawa pada tahun 78 Masehi. Sebab pada waktu itu mulai diterapkan Tahun Saka yang berbeda sekitar 78 tahun dengan tahun Masehi. Huruf yang diperkenalkan pada waktu itu sebenarnya bukan huruf tetapi suku kata, yang terdiri atas suku kata: Ha, na, ca, ra, ka, ga, ta, ma, nga, ba, sa, wa, la, pa, da, ja, ya, nya. Kedelapan belas aksara ini dapat dirangkaikan menjadi suatu kalimat untuk memudahkan menghapalkannya, yakni: Hana caraka gata mangaba sawala pada jayanya. Artinya: ada (dua orang) hamba berpengalaman membawa surat, sama perwiranya. Tetapi ada pula yang menulis aksara ini sebagai berikut: Hana caraka dhata sawala pada jayanya magabathanga. Artinya: Ada (dua) prajurit berkelahi, sama saktinya (akhirnya) keduanya menjadi mayat.


Kedelapan belas aksara ini merupakan wre-astra, yakni aksara yang tampak dan dapat diajarkan kepada siapa saja. Sedangkan aksara yang tidak tampak yang terdiri atas dua buah aksara disebut swalalita yaitu Ah dan Ang; merupakan aksara yang tidak boleh diajarkan kepada sembarang orang. Kedua aksara swalalita ini dilengkapi dengan pangangge sastra, yaitu kelengkapan aksara berupa ardha-candra berbentuk bulan sabit, windu yang melambangkan matahari berbentuk bulatan dan nada melambangkan bintang yang dilukis sebagai segi tiga. Ketiga pangangge sastra ini sering dipasangkan dengan aksara huruf hidup: a, i, u, e, o sehingga dibaca menjadi: ang, eng, ing, ong, dan ung. Suku kata ini disebut: ang-kara, eng-kara, ing-kara, ong-kara, dan ung-kara. Bentuk seperti ini disebut modre

Rabu, 27 Juni 2012

Tips menghapus Sad Ripu Bag. 6 : MOHA [Bingung / Putus Asa / Resah / Takut]


Rasa bingung, putus asa, resah atau takut merupakan reaksi bathin terhadap apa yang disebut oleh pikiran sebagai bahaya hidup ataupun juga ketidakpastian. Sebuah perkawinan yang membosankan, gangguan kesehatan yang kronis, pengangguran yang berkepanjangan, masalah keuangan, dll. Ketika tampaknya keadaan buruk yang kita alami, tidak akan pernah membaik. Akan tetapi kita harus sadar bahwa hidup ini memang demikian adanya. Dalam kehidupan semua orang melewati bahagia dan sengsara, pernah dipuji dan direndahkan, melewati sakit dan sehat, pernah sukses dan gagal, dll. Karena demikianlah kehidupan.

Dalam ajaran dharma, munculnya perasaan gelisah, bingung, bosan, putus asa, resah atau takut, itu tanda-tanda di dalam bathin kita masih ada banyak noda. Noda manapun kita tidak punya pilihan lain selain dibersihkan. Dalam bahasa kosmik, munculnya moha membawa pesan yang jelas bahwa kita telah jauh dari realitas diri yang sejati. Karena jika semua tindakan kita lakukan dengan bathin yang cukup bersih saja, maka benih-benih moha lenyap dengan sendirinya.

BAGAIMANA MENGATASI MOHA

1. Dayadvham dan Datta : Welas asih dan kebaikan.

Pada umumnya, dasar pertama penyebab moha adalah karena sikap mementingkan diri sendiri, baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Kita sangat kurang memiliki sifat kerelaan diri, untuk kebahagiaan mahluk lain. Sehingga mengembangkan sifat penuh welas asih dan kebaikan [tanpa syarat] adalah sarana terbaik untuk melenyapkan moha.

Tips menghapus Sad Ripu Bag. 5 : LOBHA [ketidakpuasan / serakah]

Orang yang serakah hidupnya resah, gelisah, sering mengeluh dan marah-marah. Ujung-ujungnya sengsara dan jauh dari paramashanti. Kalau mau kehidupan dan kematian yang damai dan bahagia, hendaknya keserakahan ini kita tiadakan dari dalam bathin.



AKAR PENYEBAB LOBHA [SERAKAH]

1. Tunduk kepada hawa nafsu keinginan.

Kita menjadi serakah karena tunduk kepada hawa nafsu keinginan. Keinginan liar, tidak pernah puas. Ketika sudah bisa punya sepeda motor, ingin punya mobil. Ketika sudah bisa punya rumah kecil, ingin punya rumah mewah. Yang sudah menikah, ingin punya istri atau suami yang ideal. Ketika bisa punya uang satu juta, ingin punya uang lima juta. Keinginan kita selalu tidak terpenuhi. Kita seperti berkejaran dengan bayangan sendiri. Kalau bayangan kita kejar, tentu kita tidak akan pernah ketemu.

2. Bathin yang diguncang oleh dualitas.

Kita mau hidup senang dan tidak mau hidup susah, mau yang menyenangkan dan tidak mau yang tidak menyenangkan, mau dihormati orang dan tidak mau tidak dianggap. Padahal tidak ada hidup yang seperti itu. Dalam kehidupan ini semua orang melewati bahagia dan sengsara, pernah dipuji dan direndahkan, melewati sakit dan sehat, pernah sukses dan gagal, dll. Karena demikianlah kehidupan, selalu ada Rwa Bhinneda.

Tips menghapus Sad Ripu Bag. 4 : MADA [mabuk / sombong / angkuh]



Ada berbagai jenis mabuk pikiran atau sombong [angkuh] ini, yaitu misalnya : Surupa [mabuk pikiran karena keunggulan tubuh fisik seperti : tampan, cantik, kuat], Dhana [mabuk pikiran karena keunggulan material, seperti : banyak uang, kaya, punya mobil baru, punya HP canggih, punya baju mewah], Guna [mabuk pikiran karena keunggulan pemikiran seperti : kecerdasan, kesucian, kebenaran agama], Kulina [mabuk pikiran karena identitas diri seperti : status sosial, garis keturunan / kasta, jabatan tinggi, jasa-jasa], Sura [mabuk pikiran karena makanan atau minuman yang mengganggu kesadaran seperti : minuman keras, narkoba], dll berbagai bentuk mabuk lainnya.

Tapi apapun bentuk mada [mabuk / sombong / angkuh] ini, adalah hal yang bisa menjadi batu penghalang menuju cahaya bathin yang terang. Dalam bathin manusia ada unsur bhuta kala [ashuri sampad] dan ada unsur dewa [daiwa sampad]. Nah, unsur mana yang lebih dominan kita sendiri yang memilih. Rendah hati menghidupkan unsur-unsur dewa dalam bathin kita, sombong dan menghina menghidupkan unsur-unsur ashura dalam bathin kita. Sekarang kita pilih sendiri : unsur mana yang mau dihidupkan ? Kalau unsur bhuta kala [ashuri sampad] yang kita hidupkan, jangankan setelah mati, sekarangpun kita akan bertemu neraka. Kalau unsur dewa [daiwa sampad] yang kita hidupkan, kita akan bertemu surga saat ini juga. Sehingga sudah selayaknya kita selalu bersikap rendah hati, agar kemudian kita bisa mulai berjalan menuju jalan yang terang.

BAGAIMANA MENGELOLA KESOMBONGAN YANG MUNCUL DALAM BATHIN

1. Selalu hati-hati dan waspada dengan segala hal yang bisa membuat ego [ahamkara] kita naik.

Orang yang punya kelebihan-kelebihan, dia sering dipuji dan dihormati. Salah satu yang musti kita waspadai dari dipuji dan dihormati : harga diri kita naik. Dan harga diri yang naik ini yang menjadi sumber kesombongan dan banyak keributan. Ketika harga diri ini naik dan kemudian tidak terpuaskan, kita mudah tersinggung dan suka bikin ribut. Orang-orang yang cenderung sering bikin ribut dan rusuh umumnya ciri-cirinya satu : memberikan harga tinggi terhadap dirinya. Setiap orang yang memberikan harga tinggi terhadap dirinya : dia akan gampang kecewa, dia mudah tersinggung atau bahkan marah-marah dan yang paling berbahaya : BIKIN RIBUT dan RUSUH.

Tips menghapus Sad Ripu Bag. 3 : KAMA [hawa nafsu / keinginan]



MENGELOLA HAWA NAFSU / KEINGINAN UNTUK STANDAR ORANG BIASA

Untuk orang biasa seperti kita [bukan orang suci : yogi, pertapa, pemangku, pandita], keinginan memiliki dua wajah yang berbeda :

1. Sebagai energi pendorong yang menggerakkan diri kita sehingga bisa mengalami kemajuan.
2. Sebagai jebakan / perangkap kehidupan.

Sebagai orang biasa [orang duniawi], bisa dimaklumi kalau kita didorong oleh banyak keinginan, terutama dalam kaitan melaksanakan svadharma [tugas kehidupan] kita sendiri. Yaitu sebagai suami / istri, sebagai orang tua, sebagai pelajar, sebagai anggota masyarakat sosial, dll. Dengan satu catatan : hindari keinginan itu tidak lagi berfungsi sebagai energi pendorong untuk hal yang baik dan mulia, tapi menjadi perangkap kehidupan.

Bagi orang biasa seperti kita, keinginan tidak selalu jelek atau buruk, asal kitalah yang mengendalikan keinginan itu dan bukan kita yang dikendalikan oleh keinginan. Misalnya : keinginan punya banyak uang bisa membuat kita bekerja tekun dan keras lalu menjadi kaya, tapi kalau sudah kita yang dikendalikan oleh keinginan : kita melakukan korupsi, mencuri atau menipu. Nafsu seks bisa membuat hubungan suami-istri menjadi indah dan harmonis, tapi kalau sudah kita yang dikendalikan oleh nafsu seks : kita selingkuh atau cari istri lagi. Keinginan untuk bermain atau bersenang-bersenang bisa membuat kita gembira, tapi kalau sudah kita yang dikendalikan oleh keinginan : tugas-tugas kita terabaikan, lalu semuanya jadi berantakan. Dll.

Hawa nafsu dan keinginan memiliki banyak wajah. Ada keinginan untuk memiliki uang dan benda materi, keinginan untuk memuaskan indriya [badan], keinginan untuk bersenang-senang, keinginan untuk memiliki kekuasaan, keinginan untuk dihormati orang, keinginan untuk dicintai, dll. Tapi apapun bentuk keinginan tersebut, kalau kita tidak berhati-hati, semuanya bisa menjeruskan kita ke dalam jurang kegelapan bathin. Coba perhatikan orang yang mengikuti hawa nafsu dan keinginannya habis-habisan. Seks yang se-enak-enaknya, makan yang se-enak-enaknya, ingin dihormati semua orang, dll. Hidupnya pasti berguncang, tidak tenang, gelisah.

Tips menghapus Sad Ripu Bag. 2 : KRODA [kemarahan / kebencian]



PEMAHAMAN YANG BENAR

Langkah penting pertama adalah belajar memahami situasi secara benar. Kalau cara memandangnya benar kita melangkahnya akan benar, kalau cara memandangnya salah kita melangkahnya juga salah. Kita akan melangkah menjadi baik, kalau cara memandang kita baik. Di bawah ini adalah cara memandang secara baik dan benar.

A. Mereka orang yang sedang melakukan kebaikan kepada kita

1. Kalau ketemu orang yang mencaci, menghina dan menyakiti kita, lihatlah mereka sebagai ORANG BAIK. Mereka menyediakan dirinya untuk menjadi guru dharma tertinggi untuk kita secara gratis. Karena orang yang mencaci, menghina dan menyakiti kita, mereka sesungguhnya sedang membuat kita menjadi sabar dan bijaksana. Tidak mungkin kita menjadi sabar dan bijaksana hanya dengan paham dan hafal buku suci. Tidak mungkin kita menjadi sabar dan bijaksana hanya dengan belajar dari satguru. Kesabaran dan kebijaksanaan paling mungkin diajarkan oleh orang yang mencaci dan menyakiti kita. Tapi dengan syarat, kita bisa diam dan tidak marah. Sebab kualitas bathin kita tidak mungkin bisa bertambah bersih kalau kita tidak pernah dicaci, dihina dan disakiti. Sehingga orang yang mencaci, menghina dan menyakiti kita bukanlah racun dalam kehidupan kita, tapi kekuatan kebaikan yang membukakan cahaya kesadaran di dalam diri kita.

2. Kalau ketemu orang yang mencaci, menghina dan menyakiti kita, lihatlah mereka sebagai ORANG BAIK. Sebab hanya untuk membuat kita menjadi sabar dan bijaksana, mereka rela menanggung karma buruk dari perbuatan mereka itu.

Kalau ”orang jahat” saja bisa kita lihat sebagai orang baik, tidak ada tempat di segala penjuru semesta ini yang tidak menghadirkan Hyang Widhi.

3. Kalau ketemu orang yang mencaci, menghina dan menyakiti kita, lihatlah mereka sebagai ORANG BAIK. Sebab mereka menyediakan barometer gratis untuk mengukur kualitas kebersihan bathin kita sendiri. Kalau kita belum bisa memancarkan cahaya welas asih dan kebaikan kepada orang-orang yang menyakiti kita, itu pertanda bathin kita belum sepenuhnya bersih. Karena jiwa yang bersih sempurna, dia bisa memancarkan kasih sayang bahkan kepada orang yang mencaci, menghina dan menyakiti.

Tips menghapus Sad Ripu Bag. 1 : MATSARYA [iri hati / dengki]



Iri hati adalah jenis kekotoran bathin yang paling gelap. Kalau dalam pikiran kita masih ada rasa iri hati, itu pertanda kekotoran bathin kita masih sangat pekat. Apalagi kalau sudah terkena "penyakit SMS" [susah melihat orang senang, senang melihat orang susah]. Dan kalau kita tidak mau kehidupan maupun kematian yang juga gelap, ini musti cepat-cepat kita bersihkan.

Mengapa disebut kekotoran bathin masih sangat pekat ? Coba bayangkan bila kita berhadapan dengan orang yang masih kuat iri hati-nya seperti ini -yang kekotoran bathin-nya masih sangat pekat-, kita dibuat serba salah. Kalau kita lebih rendah, dia akan menghina. Kalau kita sederajat, dia akan bersaing. Kalau kita lebih tinggi dia akan iri hati. Semua tindakan atau posisi kita menjadi serba salah. Sehingga hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah diam sempurna.

MENGELOLA IRI HATI / DENGKI UNTUK STANDAR ORANG BIASA

1. RASA IRI HATI ITU DILAWAN. Caranya macam-macam, misalnya rasa iri hati itu diperangi dengan ajaran agama, atau diperangi dengan takut hukum karma. Kalau cocok silahkan gunakan cara ini. Akan tetapi seringkali cara ini kurang efektif, karena cara ini menciptakan konflik baru di dalam bathin kita.

Kutipan dari Katha Upanishad : Kesadaran, pikiran dan indriya.

KATHA UPANISHAD - BAB I, BAGIAN 3 [Adhyaya I, Valli 3]



[Sloka 1]
ṛtam pibantau sukṛtasya loke guhᾱm praviṣṭau parame parᾱrdhe,
 chᾱyᾱ-tapau brahma-vido vadanti, pañcᾱgnayo ye ca tri-ṇᾱciketᾱḥ.

Seperti cahaya dan bayangan, ada dua kesadaran. Satu disini di bumi tunduk kepada hukum semesta karena keinginannya, yang satu lagi seolah tersembunyi di tempat rahasia yang tidak terbayangkan. Demikianlah kata orang bijak yang mengetahui Brahman, yang memelihara lima api dan tiga api naciketa.

[Sloka 2]
yas setur ījᾱnᾱnᾱm akṣaram brahma yat param, abhayam titīrṣatᾱm pᾱram nᾱciketaṁ śakemahi.

Kita selayaknya mengendalikan api naciketa. Karena ia ibarat jembatan bagi mereka yang melaksanakan jnana yajna, guna mencapai daratan yang lebih jauh, yang tidak terjangkau oleh rasa takut. Jembatan menuju Brahman, yang tidak terpengaruh oleh waktu dan tidak terbatas.

[Sloka 3]
ᾱtmᾱnaṁ rathinaṁ viddhi, śarīraṁ rathameva tu:
buddhiṁ tu sᾱradhiṁ viddhi, manaḥ pragraham eva ca.

Ketahuilah perumpamaan [kereta kuda] ini. Atman adalah apa yang tersembunyi di baik seluruh fenomena kereta kuda, badan fisik kita adalah kereta kuda, kesadaran adalah kusir kereta kuda dan pikiran adalah tali kekang yang mengendalikan arah kereta kuda tersebut.

[Sloka 4]
indriyᾱṇi hayᾱn ᾱhur viṣayᾱṁs teṣu gocarᾱn,
ᾱtmendriya-mano-yuktam bhoktety ᾱhur manīṣiṇaḥ.

Indriya-indriya adalah kuda-kuda dari kereta, obyek-obyek indriya adalah jalanan yang ditempuh. Apa yang dipersepsikan oleh badan fisik, indriya dan pikiran - orang bijak menyebutnya sebagai “sang aku” yang menikmati.

Selasa, 26 Juni 2012

Sifat penuh kebaikan [Datta]



Dunia ini penuh dengan konflik. Kemarahan, kebencian, kesalahpahaman, terorisme, perceraian, perampokan, persaingan, perkelahian, berebut kebenaran [ingin disebut paling benar dan paling suci] dan peperangan ada dimana-mana.

Para pemimpin yang diharapkan bisa mengurangi semua ini, ternyata sebagian besar malah memperumit keadaan dan kemudian memicu konflik-konflik baru. Agama yang disebut sebagai satu-satunya jalan keluar juga sama saja. Ia yang diharapkan bisa menjadi penyejuk dan peneduh, pada banyak kasus malah menjadi sumber pembenaran dari kesombongan, kebencian dan kekerasan.

Ini adalah pertanda, kita tidak punya banyak harapan keselamatan yang datang dari “luar” dan hanya punya satu sumber keselamatan, yaitu dari “dalam diri” kita sendiri. Dan salah satu tempat berlindung yang sejuk dan terang di dalam diri kita sendiri adalah : KEBAIKAN.

DASAR-DASAR SIFAT KEBAIKAN DI DALAM DIRI

Sifat-sifat kebaikan sebenarnya adalah salah satu sifat alamiah kita sendiri, dalam artian sudah ada di dalam diri kita sendiri. Hanya saja, karena faktor ahamkara [ego] dan sad ripu [enam kegelapan bathin] kita sering melupakannya.

Dalam setiap tahap di dalam hidup kita, selalu terdapat energi kebaikan. Di awal hidup kita, kita sudah disalurkan energi kebaikan. Dimulai dari dalam kandungan hingga dilahirkan, tidak henti-hentinya orang tua kita mencurahkan kasih sayang untuk kita. Di awal kehidupan –waktu masih bayi-, kita tidak berdaya dan sepenuhnya bergantung kepada kebaikan orang lain [orang tua kita]. Tanpa kebaikan orang tua kita, kita akan mati. Kelak di akhir kehidupan, lagi-lagi kita harus sepenuhnya bergantung kepada kebaikan orang lain [untuk dibuatkan upakara kremasi / pemakaman]. Dan bila diantara kelahiran dan kematian kita lupa mengisinya dengan kebaikan, itu berarti kita telah gagal membayar hutang karma kebaikan.

Sifat welas asih [Dayadhvam]



DASAR-DASAR SIFAT WELAS ASIH

Ada beberapa aspek dasar yang selayaknya diselami untuk menemukan dan memunculkan kedalaman sifat welas asih [dayadhvam] dalam bathin kita.

1. Sadarilah bahwa perjalanan hidup kita dipenuhi dengan welas asih dan kebaikan orang lain dan mahluk lain.

Dalam setiap tahap di dalam hidup kita, selalu terdapat energi welas asih dan kebaikan. Di awal hidup kita, kita sudah disalurkan energi kebaikan. Dimulai dari dalam kandungan hingga dilahirkan, tidak henti-hentinya orang tua kita mencurahkan kasih sayang untuk kita. Di awal kehidupan –waktu masih bayi-, kita tidak berdaya dan sepenuhnya bergantung kepada kebaikan orang lain [orang tua kita]. Tanpa kebaikan orang tua kita, kita akan mati. Kelak di akhir kehidupan, lagi-lagi kita harus sepenuhnya bergantung kepada kebaikan orang lain [untuk dibuatkan upakara kremasi / pemakaman].

Kita masih bisa hidup sampai saat anda membaca tulisan ini, juga karena kebaikan mahluk lain. Para binatang, mereka rela mengorbankan nyawanya hanya agar kita bisa makan enak [sate kambing, soto ayam, dll]. Para tumbuh-tumbuhan juga serupa, mereka rela menanggung rasa sakit hanya agar kita bisa makan dan bertahan hidup.

Hidup kita, seluruh eksistensi kita sebagai mahluk, dipenuhi oleh welas asih dan kebaikan orang lain dan mahluk lain. Sehingga dalam hidup kita tidak punya pilihan lain, selain hidup penuh welas asih kepada semua mahluk dalam setiap kesempatan yang ada.

Tiga pelindung kehidupan dan kematian.

5.2.1.
trayᾱḥ prᾱjᾱpatyᾱḥ prᾱjapatau pitari brahma-caryam ῡṣuḥ, devᾱ manuṣyᾱ asurᾱḥ, uṣitvᾱ brahmacaryaṁ devᾱ ῡcuh; bravītu no bhavᾱn iti; tebhyo haitad akṣaram uvᾱca; da iti, vyajñᾱsiṣṭᾱ iti; vyajñᾱsiṣma iti hocuḥ, dᾱmyata, iti na ᾱttheti, aum iti hovᾱca, vyajñᾱsiṣṭeti.
Trayᾱḥ prᾱjᾱpatyᾱḥ prᾱjapatau pitari brahma-caryam ῡṣuḥ, devᾱ manuṣyᾱ asurᾱḥ, uṣitvᾱ brahmacaryaṁ devᾱ ῡcuh; bravītu no bhavᾱn iti

5.2.2
atha hainam manuṣyᾱ ῡcuh: bravītu no bhavᾱn iti; tebhyo haitad evᾱkṣaram uvᾱca; da iti; vyajñᾱsiṣṭᾱ iti, vyajñᾱsiṣma iti hocuḥ, datta iti na ᾱttheti; aum iti hovᾱca vyajñᾱsiṣṭeti.

5.2.3
atha hainam asurᾱ ῡcuḥ, bravītu no bhavᾱn iti; tebhyo haitad evᾱkṣaram uvᾱca; da iti, vyajñᾱsiṣṭᾱ iti, vyajñᾱsiṣma iti hocuḥ, dayadhvam iti na ᾱttheti, aum iti hovᾱca vyajñᾱsiṣṭeti. tad etad evaiṣᾱ daivī vᾱg anuvadati stanayitnuḥda-da, da, iti, damyata, datta, dayadhvam iti. tad etat trayaṁ śikṣet, damam, dᾱnam, dayᾱm iti.

[Brhadaranyaka Upanishad 5.2.1 - 5.2.3]



TERJEMAHAN

5.2.1
Tiga kelompok mahluk, dewa-manusia-ashura, datang kepada Prajapati [pelindung kehidupan]. Dalam rangka menuntaskan evolusi bathin mereka, para dewa berkata : "beri kami petunjuk". Prajapati berkata : "DA. Apakah kalian mengerti ?" Para dewa menjawab : "Ya kami mengerti. Anda memberi petunjuk DAMYATA-menjaga jarak dengan seluruh kecenderungan [hawa nafsu dan keinginan] yang muncul dari badan dan pikiran-". Prajapati berkata : "Ya, kalian sudah mengerti".

5.2.2
Lalu para manusia ikut berkata : "beri kami petunjuk". Prajapati mengatakan hal yang sama : "DA. Apakah kalian mengerti ?" Para manusia menjawab : "Ya kami mengerti. Anda memberi petunjuk DATTA-penuh kebaikan-". Prajapati berkata : "Ya, kalian sudah mengerti".

5.2.3
Lalu para ashura juga berkata : "beri kami petunjuk". Prajapati mengatakan hal yang sama : "DA. Apakah kalian mengerti ?" Para ashura menjawab : "Ya kami mengerti. Anda memberi petunjuk DAYADHVAM-penuh welas asih-". Prajapati berkata : "Ya, kalian sudah mengerti". Tiga kata itu diulang-ulang oleh sang sabdha semesta : "Da, Da, Da". Karena untuk bisa terbebaskan, setiap mahluk harus mempraktekkan ketiga hal ini : jaga jarak dengan seluruh kecenderungan [hawa nafsu dan keinginan] yang muncul dari badan dan pikiran, penuh kebaikan dan penuh welas asih.

Rwa Bhinneda : Memeluk seluruh dualitas dalam kehidupan dengan damai

MEMELUK SELURUH DUALITAS DALAM KEHIDUPAN DENGAN DAMAI

Kebanyakan orang gagal memulai evolusi bathinnya di jalan dharma karena dia dalam hidupnya “menendang”. Mengeluh, tidak puas, marah, protes, menentang atau menyalahkan. Kita baru akan bisa memasuki gerbang dharma, kalau dimanapun kita berada, apapun yang terjadi, kita bisa melihat semuanya dengan positif dan penuh rasa syukur.

Umumnya dalam hidup orang mencari kebahagiaan dan menolak kesedihan-kesulitan. Kita mau dan ingin kelebihan tapi kekurangan kita tolak, kita mau bahagia tapi sengsara kita tolak, kesucian kita hormati kegelapan kita benci. Tentu saja ini tidak salah. Sayangnya sifatnya kebahagiaan seperti ini selalu sementara, sebab sudah hukum semesta setelah kebahagiaan datang akan disusul oleh kesedihan, kekecewaan atau kesulitan. Kebahagiaan yang lebih terang, sejuk dan tahan lama adalah, ketika bathin kita berhenti diguncang oleh dualitas kebahagiaan-kesedihan. Pergerakan bathin menuju kebebasan dari dualitas terjadi, ketika kita belajar mendidik diri menerima apapun dan siapapun sebagaimana adanya, tanpa menyalahkan siapa-siapa, termasuk menyalahkan diri kita sendiri. Itulah titik balik menuju "penyembuhan" bathin.

Karena cahaya dalam bathin baru bisa menyala ketika kita bisa menerima secara sama kelebihan dan kekurangan, bahagia dan sengsara, baik dan buruk, salah dan benar, suci dan gelap. Inilah yang dimaksud dalam teks-teks Hindu sebagai Dvandas dan yang dimaksud tetua kita di Bali sebagai Rwa Bhinneda. Dimana ada siang, disana ada malam. Dimana ada orang baik, disana ada orang jahat. Dimana ada sukses, disana ada gagal. Dimana ada kesucian, disana ada kegelapan. Dimana ada laki-laki tampan, disana ada laki-laki jelek. Gunung yg tinggi jurangnya juga dalam, dimana ada kelebihan disana ada kekurangan.