Awal perjalanan
Ekspedisi kali ini, di awali oleh mimpi dari Jro Mangku I WAYAN SIWI,
di tampakan oleh sebuah wujud pemandangan alam yg asri dan beliau di sarankan
agar segera mencari lokasi tersebut. Pada waktu UMANIS GALUNGAN kajeng umanis 30
agustus 2012 , anak beliau menelfon saya dan mengabarkan akan melakukan
perjalanan penjelajahan ke atas sebuah gunung, untuk mencari tempat yg di
mimpikan oleh sang ayah, Dan menawarkan saya agar ikut serta dlm perjalanan
tersebut. seketika itu juga saya menyangupinya dan segera berangkat ke rumah
beliau, ketika tiba disana saya bertemu dengan rekan” beliau yg lain dan
beberapa saat kemudian kami memulai perjalanan ekspedisi penjelajahan alam kali
ini, dari desa PURWOSARI kec.torue Kab.parimo Sulawesi tenggah, kami berangkat
menelusuri perkampungan dan perkebunan warga dan dlm perjanan kami bertemu
dengan seorang pemandu yg telah berjanji akan memandu kami ke tempat yg berada
dalam mimpi Jro mangku I waya siwi
trsbt. Pendakian pun di mulai menelusuri perkebunan warga di jajaran pegunungan
Topi Wajo / Gunung Bundar, medan yg curam dam lokasi jalan setapak membuat riuh
perjalanan, ketika sampai di akhir jln pekebunan tesebut, kami melanjutkan
perjlanan dengan bejalan kaki menelusuri sisa” perkebunan dan tibalah kami di atas
sebuah bukit dan di bawah bukit trsb terdapat sebuah sungai, tanda-tanda lokasi
yg terdapat dlm mimpi Jro Mangku I Wayan
Siwi telah nampak beliau mengatakan
tandanya tlah terlihat sebuah pohon cemara yg menjulang tinggi ke langit dan
sebuah pohon beringgin. Tapi yg jadi kendala adalah jalan menuju ke arah sungai
itu blm di ketahui karena kami berada tepat di atas bukit dan d beberapa bagian
bukit trsbt terdapat tebing yg curam mengarah ke arah sungai yg di maksud.
Beberapa waktu mencari jalan akhirnya ketemu jalan yg pas menuju sungai yg di
maksud, akhirnya kami menuruni perbukitan yg terjal dan penuh semak blukar, dan
sampailah kami di tepi sebuah sungai yg di maksud dlm mimpi Jro mangku suara LEDAKAN bebebatuan pun menyambut
kami sebagai pertanda ucapan slamat datang oleh tuan rumah/orang ”mahluk” yg
mendiami lokasi tsbt. Beberapa puluh meter di depan nampak terlihat pohon
cemara dan setibanya di poho cemara tsrbt, nampak terlihat air yg mengalir dari
bongkahan batu Besar yg di tutupi oleh semak,, ketika semak belukar tersebut di
bersihkan dan airnya di sentuh oleh Jro Mangku, tiba “ saja air yg mengalir
dari bongkahan batu tsbt menjadi lebih banyak dan mengeluarkan asap dan terasa
air tersebut menjadi hangat dan lama kelamaan menjadi PANAS. Ketika di lakukan
ritual dan mohon petunjuk untuk mengetahui Apa nama dan siapa Pemilik / Pengusa
tempat tersebut. KAKEK RAJA GUNUNG BUNDAR Mengatakan bahwa Tempat tersebut
bernama Air Panas Dopi-Dopi tingkat III, ada 7 buah mata air panas/tuju
tingkat, dan yg pertama dan kedua tlah di ketahui sebelumnya. Beliau juga
Berpesan kepada semua mahluk khususnya Manusia agar jagan serakah dan harus
menyatu dengan alam semesta dan berkenalan dengan penghuni atau maluk” lain
agar tak terjadi bencana alam. Dan ketika
dalam pengalian informasi berikutnya di ketahuilah nama pemilik lokasi tersebut
Bernama Ratu Niang Mas Berambut Panjang
( Nenek Dewi Putri ). Dan beliau mengatakan bahwa air yg terdapat dlm
mata air panas tsbt, bisa di gunakan apa saja, penyembuhan berbagai macam
penyakit, penghancur segala macam hama baik di ladang maupun d sawah dan masih
banyak lagi khasiat dari air trsbt. Dan beliau juga bepesan bagi orang” yg
inggin mengujungi tempat trsbt dengan niat dan Itikad baik. Niang Mas akan
menyambut dengan sangat baik tanpa memilih” dan menyamaratakan orang” yg mau
berkunjung ke tempat Niang Mas tsbt.
Angka 108 merupakan angka keramat bagi pemeluk Hindu di mana:
1. 1+0+8 = 9 berkaitan dengan pangider-ider Dewata Nawa Sangga (sembilan Dewa yang menyangga bumi dari arah mata angin)
ARAH MATA ANGIN |
BETHARA |
Timur | Iswara |
Tenggara | Mahesora |
Selatan | Brahma |
Barat Daya | Rudra |
Barat | Mahadewa |
Barat Laut | Sangkara |
Utara | Wisnu |
Timur Laut | Sambu |
Tengah | Siwa (Siwa-Sada Siwa-Parama Siwa) |
2.
Mitologi Sang Ratnakara, perampok dan pembunuh sadis yang hidup sekitar
3000 tahun Sebelum Masehi di India, sudah merampok dan membunuh 108
pendeta.
Suatu hari
ia bertemu seorang pendeta, ketika hendak dibunuh, pendeta itu
menghilang, demikian berkali-kali sehingga dia sadar bahwa itu bukan
pendeta biasa; dia pun terduduk dan mohon ampun ke hadapan Ida Sanghyang
Widhi Wasa.
Turunlah
Bethara Siwa yang tadi menyamar sebagai pendeta. Bethara Siwa mau
memberi pengampunan bila Sang Ratnakara mau bertobat dan terlebih dahulu
bertapa selama 100 tahun. Sang Ratnakara bersedia melaksanakan
perintah, dan dia pun bertapa, sampai sekujur tubuhnya ditumbuhi lumut
dan menjadi sarang semut.
Pada hari
ke 100 tahun turunlah Bethara Brahma membangunkan tapa-nya dan memberi
penugerahan, selanjutnya Bethara Wisnu memberikan pelajaran
ke-dharma-an.
Lama
kelamaan Sang Ratnakara di-Diksa sebagai Bhagawan Walmiki. Ketika
Walmiki masuk sorga, salah satu pertimbangan-Nya adalah karma yang
berupa dosa membunuh 108 pendeta sudah imbas dengan karma mulia yang
dilaksanakannya setelah menjadi Wiku/ Bhagawan.
Ini dapat
disimpulkan bahwa sejahat-jahatnya manusia, bila suatu ketika ia sadar
dan bertobat serta menyerahkan dirinya secara utuh ke hadapan Ida
Sanghyang Widhi Wasa selamanya, maka Beliau akan mempertimbangkan antara
dharma dan adharma karma manusia tersebut.